Sabtu, 19 Oktober 2013

“From The Rain I Shelter You” (Oneshoot)



Tittle     :  “From The Rain I Shelter You”
Cast       :  Justin Drew Bieber a.k.a Him Self
Lily Collins a.k.a Annabeth Gale Parker
Logan Lerman a.k.a Luke Parker


CHAPTER 1

Toronto, Ontario
Deraian air hujan dari langit memaksaku untuk tetap berdiam diri di sebuah bangunan tua yang menjadi tempat wisata di kota Toronto. Baiklah, sejenak tak ada salahnya mengalah pada hujan. Berdiam diri beberapa menit di dalam Casti Casa Loma tak ada salahnya. Jarum jam di pergelangan tanganku masih menunjukkan 02.00 A.M. kurang dua jam lagi untukku menemui keluargaku. Yeah, hari ini aku sengaja membuat janji dengan dad-mom dan Luke untuk makan bersama di sebuah restoran yang terbilang kerap keluarga kami kunjungi. Sudah tiga tahun lamanya aku meninggalkan kota ini. Sejak kelulusanku dari senior high school, dad mengirimku untuk melanjutkan sekolah di Oxford University. Hal pertama yang kulakukan begitu sampai di kota ini adalah mengunjungi Kastil Casa Loma-kastil yang dibangun oleh seorang suami yang begitu mencintai istrinya.

Suatu saat aku ingin memiliki suami yang membuatkan sebuah kastil untukku. Ummm... maukah kau membangun sebuah kastil untukku?

Apa yang kau harapkan dari pria yang hanya hidup dengan satu ginjal sepertiku, huh?

Lagi. Aku kembali mengingat perkataan pria itu. Pria yang selama ini kusukai. Pria yang mungkin saja kini sudah hidup mapan dengan segala kelebihannya. Itulah yang menjadi alsanku mengunjungi kastil ini. Tiga tahun yang lalu, aku selalu memaksanya untuk mengikuti kemari. Ha, terdengar gila memang karena keagresifanku yang selalu memaksanya untuk mengikuti kemauanku.

Oh ayolah Justin, aku hanya ingin kau menemaniku ke dalam pesta sekolah itu. Salahkah?

Berhenti mengikutiku, Annabeth! Aku tak ada waktu untuk pergi ke acara itu.

Justin Drew Bieber. Akankahku bertemu denganmu lagi? Hah... sungguh miris diriku. Mengharapkan sosok pria yang mungkin sampai detik ini tak akan pernah menerimaku. Berada di kastil ini membuat memoriku akan Justin berputar bak sebuah role film dalam sebuah bioskop.

----------------------------------------------------------

Author POV

Toronto, 3 Tahun yang Lalu...
Seorang gadis dengan wajah lusuh dan panik, melebarkan langkahnya menuju sebuah gedung olahraga. Deraian air hujan tak menyurutkan niat gadis itu untuk tetap berlari. Gadis itu menerobos air hujan untuk tetap sampai ke gedung olahraga itu. suara riuhan penonton dalam gedung olahraga itu membuat dirinya semakin panik. Hingga akhirnya...

DUGHHH... tubuhnya terjerembab ke tanah. Membuat permukaan kulit di lututnya tergeser pada aspal jalan.

“Damn it!” umpatnya sembari terus berusaha bangkit. Berusaha tetap berlari agar tidak telat untuk pertandingan basket sekolahnya. Sayangnya semua usahanya sia-sia. Kakinya sedikit terkilir hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya. “Oh ayolah, kaki sialan! Bersahabatlah sedikit padaku. Hari ini penentuan tim basket untuk masuk babak semifinal. Aku harus bertanding hari ini!” gerutu gadis itu. kesal akan musibah yang dialami kakinya.

“Apa kau sudah gila?” gadis yang masih mengumpat kesal itu mendongakkan kepalanya. Dilihatnya seorang pemuda dengan sebuah payung hitam di tangannya. Pemuda yang, well menurutnya sedikit tampan dengan aksen dingin pada wajahnya. “Lututmu terluka. Apa berpengaruh jika kau terus mencelanya, huh?”

Lantas, pemuda itu membantu memapah gadis itu menuju klinik sekolah. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengobati luka goresan pada lutut gadis itu.

“Mau kemana? Luka dilututmu belum sembuh.” Mulut pemuda itu terbuka begitu melihat gadis yang ditolongnya bersiap bangkit dari bangkar klinik.

“Luka ini tak sebanding dengan pertandingan basket yang harus kulakukan.” Dengan kilat, disabetnya tas ransel miliknya. “Dan oh, siapa namamu?” gadis itu berbalik begitu berada di ambang pintu klinik.

“Justin. Justin Bieber.”

“Well, nama yang bagus, Dude! Terima kasih sudah menolongku! Dan...” gadis itu menggantungkan kalimatnya. “Aku suka ekspresi itu. ekspresi dingin yang maskulin.” Apakah itu sebuah pujian untuk ketampanan pemuda itu? “Aku Annabeth Parker. Senang bertemu denganmu, Justin!” senyuman manis yang diberikan gadis itu menghilang setelah dirinya kembali beranjak menuju gedung olahraga.

-------------------------------------------------------

Annabeth berjalan seorang diri di koridor sekolah seusai latihan basket di lapangan indoor sekolah. Senja mulai datang kala itu. Langkahnya mendadak berhenti mendengar dentuman bola basket yang memantul indah. Gadis itu melihat sosok pemuda yang kemarin ditemuinya. Bukankah itu Justin Barber? Desisnya. Sesaat gadis itu mengamati permainan bola basket Justin. not bad! Beth menghampiri Justin begitu melihat tubuh atletis itu lingkung dan hampir terjerembab ke bawah.

“Kau baik-baik saja?” Beth menyentuh lengan Justin. setidaknya itu bisa menopang tubuh Justin. sayangnya pria itu tak menjawab.

Edward cidera parah dibagian kakinya. Mr. Bones kebingungan mencari penggantinya. Setidaknya yang menggantikan Edward harus memiliki kemampuan yang sama. Jika tidak, tim basket sekolah kategori male tak akan berhasil hingga babak final.

Annabeth mengingat kalimat Sidney saat jam istirahat tadi. Sesaat matanya tertuju pada Justin. Iapun melontarkan ajakan agar Justin mau bergabung dengan tim basket sekolah.

“Tidak. Aku tak punya waktu untuk itu.” Justin terus menolak walaupun Annabeth terus merengek untuk menerima tawarannya. “Berhenti mengikuti, Beth!”

“Aku akan terus mengikutimu sampai kau meneriwa tawaran itu.” balas Annabeth keras kepala. Gadis itu terus mengikuti langkah kaki Justin. Tak dihiraukannya jarak yang dilaluinya hanya dengan jalan kaki.

Langkahnya terhenti tepat disebuah rumah sederhana dengan taman yang tertata rapi di depannya.

“Aku membutuhkan uang itu, Patt! Berikan padaku!” mata Annabeth mengerjap terkejut mendengar suara barito yang super maksimal itu.

“Jangan, Jack! Uang itu untuk membayar uang sekolah Justin dan Jazmyn.” Balas suara halus yang sedikit sesenggukan itu.

Selanjutnya, terdengar suara pecah belah berhamburan ke lantai. Bersamaan dengan itu, tampak seorang pria membuka asal pintu rumah.

“Jangan pernah menyakiti mom lagi, ASHOLE!!!” seru Justin melihat sosok pria bertubuh kekar dihadapannya. Detik berikutnya, kepalan tangannya mendarat sempurna pada wajah pria itu. ughhh... itu sedikit sakit. tampak tetesan darah dari sudut bibir pria itu. Tak dihiraukannya pria yang mengerang kesakitan itu. “Mom, kau tak apa?” Justin meregup tubuh wanita yang masih tampak muda itu. sementara Annabeth, membantu seorang gadis cilik yang terduduk terisak disudut ruangan itu.

[[ SKIP ]]

“Bagaimana keadaan mereka?” Beth seketika beranjak dari ruang tunggu.

Justin mencengkram pergelangan Annabeth kuat. Dan menarik gadis itu untuk keluar dari gedung rumah sakit. “Kau harus pulang, Beth!” diberhentikan sebuah taxi di depan gedung.

“Tap-tapi aku ingin-”

“Mereka keluargaku. Bukan menjadi urusanmu. Sir, tolong antar kemana alamat rumah nona ini!” Justin menutup pintu taxi. Membiarkan Annabeth penasaran akan keadaan Mom dan Adiknya.

-----------------------------------------------------------

“Sid, kau kenal pemuda itu?” Annabeth menunjuk Justin yang tengah menikmati makan siangnya di sudut kantin sekolah.

“Ah ya, siapa yang tak kenal dengan Justin Bieber. Malaikat tampan yang sebeku es. Banyak gadis yang mendekatinya, sayangnya pria itu begitu menutup dirinya.” Balas Sidney sembari menatap Justin. ahya, Justin memang terlihat sedikit tertutup.

-------------------------------------------------------------

Cause everything starts from something
But something would be nothing
Nothing if your heart didn’t dream with me

Annabeth kembali menghentikan langkahnya. Aneh. Jam sekolah telah usai dua jam yang lalu. Bagaimana mungkin masih ada anak manusia di ruang musik? Bulu halus di lengannya sempat merinding. Mengingingat ini mulai memasuki senja. Dan dirinya, baru berlatih basket seorang diri di dalam lapangan indoor. Dengan takut, gadis itu mendekatkan kakinya ke ruang musik.

Where would I be, if you didn’t believe
Believe…

Mata coklat mahoninya terbuka pada kebukaan maksimal mendapati sosok pria yang sedang duduk di depan sebuah piano klasik.

Justin Barber. Gadis ini kembali menemukan Justin dari sisi lain. Sebegitukah tertutupnya pria ini hingga orang lain tak menyadari betapa besar talenta yang dimilikinya. Terlihat Justin memejamkan matanya mencoba menghayati setiap alunan bait yang keluar dari mulutnya. Dan disaat Justin mengakhiri lagunya...

“Woaaa...lagu yang indah, Barber!” tepukan tangan Annabeth sedikit mengejutkan Justin.

“Sejak kapan kau di sini?”

“Sejak kau menyanyikan lagu itu.” jawab Annabeth tersenyum. “Apa itu lagumu?”

“Bukan urusanmu.”

“Hah, selalu saja! hey Barber, adakah orang lain yang mengetahui semua bakatmu ini? Kenapa kau tak menunjukkannya?” Justin masih terdiam enggan menjawab pertanyaan Annabeth.

“Berhenti mengurusi hidupku, Stupid Girl!” sahutnya dan segera berlalu meninggalkan Annabeth di dalam ruang musik.

“Apa tadi yang dia katakan? Stupid Girl? Good... terdengar tak bersahabat untukku!” tambah Annabeth berbicara seorang diri.

-----------------------------------------------------------

Annabeth berjalan tergesa-gesa. Hampir keseluruhan bajunya basah kuyup akibat hujan yang turun di kota Toronto sore itu. seperti biasa, gadis itu baru saja menyelesaikan latihan basketnya. Langkahnya tak akan tergesa seperti sekarang jika saja dadnya tak menelepon dan memintanya untuk pergi ke restaurant yang kerap keluarga mereka kunjungi. Sore ini, dadnya ingin makan bersama keluarga Parker karena Luke, kakak sulungnya baru saja tiba dari London.

“Oh dimana aku meletakkannya? Crapp... kenapa harus lupa akan plester luka yang kubawa?” karena begitu fokus, gadis itu tak menyadari jika sebuah tembok kokoh tengah berada di hadapannya. “Awww...” pekiknya begitu keningnya memar akibat hantaman tembok itu. “Kerja yang bagus, Beth! Sekarang kau menciptakan luka memar yang baru.” Annabeth merutuk pada dirinya sendiri.

“Kurasa kau harus menyediakan plester luka lebih banyak lagi, Stupid Girl! Karena semua luka di tubuhmu itu begitu ekstrim untuk gadis sepertimu.” Justin, entah darimana pria ini muncul. Diberikannya sekotak plester luka pada Annabeth.

“Hey Barber... terima kasih!” seru Annabeth seiring dengan punggung Justin yang menghilang dari hadapannya.

Selesai semua luka memar di kening dan lengannya tertutupi, Annabeth menemui keluarganya. Selama di restaurant, dad, mom, maupun kakaknya tak henti menanyakan penyebab luka memarnya. Segala rentetan itu berhenti tepat setelah seorang pelayan mengantarkan menu pesanan keluarga Parker.

“Justin? apa yang kau lakukan di sini?” kedua alis Annabeth bertaut melihat sosk Justin yang mengenakan setelan kemeja rapi.

“Hy Annabeth!” Justin tersenyum tulus. Well, senyuman yang sudah sepantasnya pelayan di rumah makan itu berikan pada pelanggannya. “Aku kerja part time di sini.”

“Oh rupanya kau teman Annabeth. Bagaimana jika kau bergabung bersama kami, Buddy?” ajak Luke ramah.

“Ah terima kasih, tuan! Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Permisi!” Justin beranjak setelah memungkukkan separuh badannya untuk memberikan rasa hormat pada pelanggannya itu.

Sementara Annabeth, masih tertegun menatap punggung Justin yang semakin menjauh. Ia tak pernah menyangka jika seorang Justin Barber bekerja keras sejauh ini.

“Ekhem... dad-mom, sepertinya ada yang begitu memperhatikan pemuda itu.” suara barito Luke menampar lamunan Annabeth untuk kembali pada alam sadarnya. “Baby Girl, kau menyukainya kan?”

Menyukainya? Kata itu terlintas di benak Annabeth. Well, tentu saja gadis itu menyukai kegigihan Justin selama ini. Ditambah tiap harinya gadis ini menemukan fakta baru tentang pemuda itu. Tapi suka yang dimaksud belum menjurus kepada hal yang dinamakan cinta.

---------------------------------------------------------

Seperti biasa, menjelang semifinal pertandingan basket, Anabeth semakin giat berlatih. Kali ini dia sengaja tak latihan di lapangan indoor. Langkahnya begitu bersemangat menuju lapangan outdorr yang terletak di sudut sekolah.

“Membutuhkan lawan yang tangguh, Barber?” ujar Annabeth yang langsung begitu saja merebut bola basket di tangan Justin. didriblenya bola basket itu, dan HOPHHH... masuk dengan sempurna ke dalam ring begitu Annabeth melakukan gerakan lay-up.

Awalnya Justin hanya berdiam diri saja. enggan melawan dan mengikuti permainan Annabeth. Sayangnya lontaran kata yang sedikit meremehan dari bibir mungil gadis itu, membuatnya gemas dan berniat melawannya. Dengan gesit, Justin mulai merebut bola itu dan menunjukkan kemampuannya.

Pertandingan basket antar keduanya berlangsung seru. Akhirnya, permainan terpaksa harus berakhir disaat Lengan mulus milik Annabeth harus kembali mengalami luka. Luka yang ditimbulkan oleh sayata paku tajam yang berada pada tiang ring. Kali ini, darah mengucur lebih banyak. Dengan cekatan, Justin mengambil handuk miliknya, dan menyapukan handuk yang sudah dibaluri air dingin itu untuk membekukan sel darah merah. Berharap trombosit pada diri Annabeth dapat menutup luka dengan cepat. Beth hanya bisa meringis mendapat perlakuan dari Justin.

“Seorang pemain basket dapat dikatakan handal jika bisa menjaga dirinya dari luka ataupun cidera pada tubuhnya. Kau belum masuk ke dalam kategori itu, Stupid Girl!”

“Kenapa kau terus saja memanggilku dengan sebutan Stupid Girl, Barber?”

“Karena kau tak bisa menjaga dirimu sendiri. Dan tolong ralat, namaku Bieber. Bukan Barber. Kau akan mengusik ketenangan mendiang dadku jika kau terus memanggilku dengan sebutan itu.” Annabeth telah membuka mulutnya. Bermaksud membalas ucapan Justin. sayangnya ia harus kembali mengatupkan bibirnya disaat I-phone milik Justin berdering. “Ah ya Mom, ada apa?” wajah Justin terlihat sedikit serius. “Baiklah, aku akan segera pulang.” Sesaat, nafasnya memburu. Sedikit terlihat lebih panik. “Sampai dirumah, bersihkan lukamu dengan alkohol. Dan jangan lupa perban lukamu dengan kain perban!” selesai menasehati Annabeth, Justin segera berlari meningglkannya.

Annabeth penasaran akan apa yang terjadi pada Justin. sesuatu pasti sedang terjadi pada keluarganya. Justin tak akan sepanik ini jika bukan menyangkut keluarganya, terlebih momnya.

----------------------------------------------------

Setelah melewati antrian yang panjang, akhirnya Annabeth selesai menjalani pemeriksaan. Setibanya dirumah, Luke langsung membawa adik semata wayangnya itu ke rumah sakit. cemas akan luka baru pada tubuh adiknya.

“Kau tunggu di sini! Aku akan menemui dokter.” Annabeth menurut saja. Tak berani membantah perintah kakaknya.

Sesaat pikirannya menerawang. Senyuman mengembang pada dirinya mengingat setiap pertemuannya dengan Justin selalu saja bertepatan dengan dirinya yang mendapati luka baru pada tubuhnya. Justin. pria itu benar-benar bagaikan sosok malaikat penyelamat baginya. Entah hanya kebetulan atau apa, pria itu selalu muncul dan mengobati lukanya setiap dirinya mengalami cidera. Dan itu... sungguh romantis pikirnya.

“Jaga dirimu baik-baik, Justin! jika terjadi sesuatu, segera hubungi diriku.” Kedua bola mata coklat mahoni Annabeth menemukan sosok pria yang baru saja dipikirkannya. Pria itu baru saja keluar dari ruang dokter yang terletak di sudut lorong rumah sakit. pria itu sedikit pucat.

“Bar... eh maksudku, Bieber!” serunya. Membuat Justin menolehkan kepala padanya. “Apa yang terjadi? Kau terlihat sedikit pucat. Tidak... tidak... bukan sedikit. Tapi memang pucat.”

“Aku harus segera pulang, Beth!”

“Bagaimana jika aku dan Luke mengantarmu? Bukankah aku tau jalan menuju rumahmu?”

“Tak perlu. Aku tak langsung pulang ke rumah.” Selalu saja seperti itu. lagi-lagi Justin meninggalkan Anabeth dengan segudang pertanyaan di benaknya.

----------------------------------------------------------

Annabeth memutuskan mengunjungi rumah Justin setelah tak menemui pria itu tiga hari di sekolah. Sebelumnya, gadis itu juga sempat mencari Justin di rumah makan tempat Justin bekerja part-time. Sayangnya, petugas setempat mengatakan jika sudah dua hari ini Justin tak masuk kerja. Pintu rumah Justin terbuka jauh sebelum Annabeth mengetuknya. Sayup-sayup terdengar percakapan penghuni rumah itu.

“Mom...”

“Justin, jawab pertanyaanku. Darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar semua uang sekolah Jazzy dan semua hutang-hutang ayahmu?”

“Itu uang hasil kerjaku, Mom. Apakah kau tak mempercayaiku? Dan ralat, dia bukan ayahku, Mom! Ayahku sudah mati.”

“Kau bohong, Justin! bagaimana mungkin kau mengumpulkan uang sebanyak itu hanya dalam satu bulan? kau baru bekerja di rumah makan itu sebulan yang lalu, Justin.” terdengar isak tangis dari suara seorang Pattie Mallete, ibunda Justin.

“Mom... aku-”

“Lalu mengapa Ginjalmu hanya tersisa satu? Ini buktinya!” Pattie menyodorkan secarik kertas berisikan data-data mengenai hasil tes lab anaknya. “Tiga hari yang lalu, saat kau tak sadarkan diri, mom membawamu ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu. Hingga akhirnya dokter mengatakan-” Pattie tak meneruskan kalimatnya. Disekanya buliran air mata di pipinya. “Dokter mengatakan jika kau hanya memiliki satu ginjal. Apa yang terjadi padamu, Justin? jangan katakan padaku jika kau...” Pattie tak sanggup meneruskan kalimatnya. Air matanya kini tak terbendung lagi.

“Maafkan aku, Mom!” sekilas Annabeth melihat Justin merengkuh sang ibu dalam dekapannya.

“Ja-jadi benar kau menjual ginjalmu?”

“Maafkan aku, Mom! Aku tak ada pilihan lain.”

Degh. Kaki Annabeth begitu lemas mendengar realita itu. sebegitu besar pengorbanan seorang Justin pada keluarganya. Gadis ini benar-benar terharu sekarang. Bahkan dia tak sadar jika kantong yang berisikan buah-buahan di dalamnya telah jatuh ke lantai. Menimbulkan gedebum yang keras dan membuat si pemilik rumah sadar akan kehadirannya.

“Kau?” okay, Justin sedikit shock melihat sosok Annabeth. “Sejak kapan kau di sini? Dan apa yang kau lakukan di rumahku?” Justin meringis begitu mendapatkan pukulan kecil dari Momnya.

“Bersikap baiklah jika seseorang mengunjungimu, Justin!” Pattie kembali menyeka sisa-sisa air matanya. Dihampirinya Annabeth yang masih sibuk memunguti buah-buahan yang berhamburan itu.

“Ng... maaf jika aku mengganggu. Aku hanya ingin menjenguk Justin. sudah tiga hari ini dia tak menunjukkan dirinya di sekolah.” Sedikit tergagap Annabeth melontarkan kalimat itu.

Disaat ibu Justin mempersilahkannya masuk ke dalam rumah, Annabeth malah menolaknya. Gadis itu memutuskan untuk pergi dari kediaman keluarga Bieber itu. gadis itu melupakan janjinya yang telah lebih dulu dibuat dengan Luke.

“Tampaknya gadis itu menaruh perhatian khusus untukmu.” Lirik Pattie pada putra sulungnya.

“Dia hanya gadis bodoh yang ceroboh dan membiarkan seluruh tubuhnya dipenuhi luka-luka memar, Mom.”

“Aku menyukai gadis itu. sepertinya dia membawa pengaruh baik untukmu.”

----------------------------------------------------------
Berkali-kali Annabeth mendesah lesu. Sungguh tak menyangka jika Justin saat ini hanya hidup dengan satu ginjal dalam tubuhnya. Apakah dia akan baik-baik saja? pertanyaan itu terus saja berputar di pikirannya. Gadis itu sungguh mencemaskan Justin sekarang.

“Arghh!” langkahnya terhenti begitu mendengar erangan dari suara yang dikenalnya. Langkahnya melebar melihat luka gesekan pada lutut Justin. dengan cekatan, gadis itu merogoh sakunya dan mendapati sebuah plester luka di sana.

“Setidaknya predikat bodoh dan ceroboh itu tak melekat padaku untuk hari ini.” Annabeth memamerkan barisan gigi putihnya.

“Annabeth, masalah kemarin itu semua-”

“Aku tau. Aku janji tak akan menceritakan hal itu pada siapapun.” Annabeth mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Justin.

“Baiklah. Aku pegang janjimu.”

“Annabeth!” suara bass milik Mr. Bones sedikit mengejutkan mereka berdua. “Oh rupanya kau telah mengenal pengganti Edward. Itu lebih baik.”

“Apa maksudmu, Mr. Bones?” sepertinya ada yang tak beres. Dilihatnya sosok Sidney, teman dekatnya muncul bersama Mr. Bones, pelatih tim basket sekolah.

“Aku merekomendasikan Justin sebagai pengganti Edward, Beth. Kau tau bukan pertandingan final sudah di depan mata. Beberapa hari yang lalu, aku sempat melihatnya bermain basket. Permainannya bagus.” Terang Sidney.

Annabeth menggeleng pelan. Tidak untuk saat ini. Justin tak boleh bermain basket. Pria itu tak boleh kelelahan mengingat dirinya sekarang hanya hidup dengan satu ginjal. “Ti-tidak. Permainannya masih di bawah Edward, Mr. Bones. Mungkin Sidney hanya melihatnya sekilas. Tapi, aku tau permainannya. Dia-” ditatapnya Justin. Annabeth menelan ludahnya sendiri melihat tatapan tajam Justin. “Dia tak lebih baik dibandingkan denganku. Yeah, gerakan diffend dan semuanya dia masih harus belajar.” Dusta Annabeth agar Mr. Bones mengurungkan niatnya untuk merekrut Justin.

“Tapi aku akan belajar dan berusaha agar tim basket sekolah dapat memenangkan pertandingan. Kapan aku bisa bergabung untuk latihan bersama tim, Mr. Bones?” tak diduga, ternyata Justin langsung menerima tawaran sang pelatih.

“Besok sepulang sekolah, kami menunggumu di lapangan basket.” Justin hanya megiyakan.

Seperginya pelatih dan Sidney, “Kau gila, Justin! bagaimana bisa kau melakukan itu sementara dirimu-”

“Berhenti mencemaskanku, Beth! Aku masih normal walaupun hanya mempunyai satu ginjal. Akan kubuktikan itu saat pertandingan.” Justin tersenyum. Honestly, Annabeth baru pertama ini melihat Justin tersenyum. Mendadak tubuh gadis itu membeku menatap senyuman itu. itu semakin membuat Justin begitu menarik baginya. “Apa?” senyuman itu hilang seiring dengan tatapan aneh Justin.

“Ng... tidak. Senang melihatmu tersenyum seperti itu. kau tau, kau lebih terlihat tampan jika tersenyum. Perbanyaklah tersenyum. Dengan begitu, kurasa julukan malaikat berhati beku itu akan hilang padamu.”

“Apa?”

“Yeah, malaikat berhati beku. Taukah kau?” Justin hanya menggeleng. Well, pria itu bingung dengan penuturan Annabeth. “Hah, sudahlah lupakan saja." tangan Annabeth mengibas di depannya. “Tapi senyumanmu sungguh sempurna, Justin. sejujurnya itu semakin membuatku menyukaimu.”

“Ap-apa?” kalimat terakhir Annabeth benar-benar membuat Justin terkejut.

“Yeah, menyukaimu. Kau sering sekali membantuku, ada di saat aku membutuhkan plester luka, entah itu disengaja atau tidak. Bagaimana mungkin aku tak menyukaimu, Justin. ditambah lagi, perlahan aku mulai mengenal dan mengetahui hal tentangmu. Tak dapat dipungkiri jika aku menyukaimu.” Benarkah Annabeth secepat itu jatuh cinta pada Justin.

“Seharusnya kau berpikir seribu kali sebelum mengucapkan kalimat itu, Beth! Apa yang kau sukai dari pria dengan satu ginjal sepertiku? I’m nothing.”

“Kata suka itu relatif, Justin. untuk saat ini mungkin saja rasa sukaku padamu hanya sebatas kagum. Belum mengarah pada cinta. Tapi di masa depan, tak dipungkiri jika rasa sukaku akan berkembang untukmu.” Apa? Gadis ini berceloteh akan perasaannya seakan tak ada beban. Taukah dia jika Justin merasa sedikit beku mendengar penuturan isi hatinya?

“Perkataanmu mulai tak masuk akal, Beth. Mana mungkin kau menyukai pria macam diriku. Berhenti membicarakan hal itu. itu hanya kekaguman sesaatmu. Kau belum mengenalku sepenuhnya. Jika kau tau siapa aku sebenarnya, mungkin saja kau akan menarik kembali ucapanmu tadi.” Justin beranjak dari duduknya. Seperti biasa, pria itu kembali meninggalkan Annabeth seorang diri di lapangan.

----------------------------------------------------------

“Hey, sebenarnya kau akan mengajakku kemana, Beth?” Justin terus bertanya kesal karena Annabeth tak kunjung menjawab. Sepulang latihan basket, Annabeth asal menarik lengan Justin. “Untuk apa kau mengajakku ke tempat ini?” kepalanya menoleh menghadap Annabeth. Kini mereka berdua telah berada di dalam sebuah kafe berasitektur klasik. “Dengar, aku tak mempunyai uang yang cukup untuk-”

“Kali ini aku yang membayar makananmu. Ayo!” potong Annabeth kelewat cepat. Annabeth langsung memesan menu makanannya tanpa bertanya akan menu yang Justin inginkan.

Menit-menit berikutnya, menu makanan yang dipesan datang. Seporsi salad buah dengan sedikit mayonase, satu slice sadwich, dan segelas orange juice terpampang dihadapan Justin. “Makanan apa ini?”

“Aku telah memesankan semua makanan itu untukmu. Jadi, kau harus mengabiskan semua makanan itu untukmu. Makanan itu sungguh sehat untuk kerja ekstra yang dilakukan ginjalmu.” Annabeth mulai melahap fish chowder pesanannya. Sekilas, Justin meneguk ludahnya melihat menu pesanan Annabeth. “Berhenti memperhatikan menu makananku, Justin. mulai sekarang kau harus menjaga pola makanmu. Bukankah kau akan menghadapi pertandingan minggu depan?”

----------------------------------------------------------





“Sedang melamun, huh?” Luke Parker, anak sulung keluarga Parker menghampiri Annabeth yang tengah berdiam diri di taman samping rumahnya. “Siapa yang sedang kau pikirkan, Baby Girl?” Annabeth mendesah. Sesekali matanya terpejam. Tak pernah Luke melihat adiknya serisau ini.

“Luke, ingatkah dengan pria yang kita temui di restaurant minggu lalu?” Justin. yeah, pasti pria yang dismaksud Annabeth adalah Justin. Luke mengangguk paham. “Kurasa... aku-” oh ayolah Annabeth! Jangan buat kakakmu mati penasaran akan kalimatmu. “Aku menyukainya.” Suara Annabeth terdengar semakin mengecil saat mengutarakan kalimat terakhirnya.

“Whohoo... ternyata Baby Girl-ku sudah mengenal apa yang dinamakan cinta! Senang mendengarnya. Kurasa kau harus mengatakannya.”

“Aku sudah mengatakannya.”

“Benarkah? Lalu?”

Nothing.” Annabeth kembali mendesah. “Bukan itu masalahnya, Luke! Aku sama sekali tak memikirkan apa Justin juga mempunyai perasaan yang sama padaku.”

“Lalu?”

“Kurasa kau harus membantuku.” Setiap kalimat Annabeth malam ini sukses membuat Luke bingung.

“Oh hell Annabeth! Bisakah kau tak membuatku bingung dengan maksud perkataanmu? Katakan saja, apa yang kau butuhkan?”

“Luke, bantu dia untuk menerima beasiswa di Julliard. Kumohon, hanya kau yang dapat membujuk dad untuk membantunya sekolah di universitas itu. dia sungguh memiliki bakat yang luar biasa, Luke!”

Honestly Beth, kenapa kau seyakin ini?”

Annabeth kembali membuka mulutnya. Kini bibirnya berceloteh tentang semua bakat Justin yang pernah dilihatnya. Gadis ini memiliki keyakinan kuat jika suatu hari nanti Justin akan menjadi seseorang yang hebat. Seseorang yang dielu-elukan orang di dunia. Seseorang yang akan membawa kebahagiaan bagi keluarga kecilnya –Pattie dan Jazzy. Luke hanya mendengarkan dengan seksama. Tak pernah pria ini melihat Annabeth seantusias ini untuk membantu seseorang.

“Kumohon Luke! Jangan biarkan dia menderita lagi. Pengorbanannya selama ini sudah melampaui batas. Bebaskan dia dari cengkraman ayah tirinya!” mata Annabeth sedikit berkaca-kaca. Dan Luke tak menyukai itu.

“Hey... hey... stop it! Aku tak suka melihatmu rapuh seperti ini. Baby Girl-ku adalah gadis yang kuat.” Diregupnya tubuh mungil Annabeth ke dalam pelukannya. “Secepatnya akan kubicarakan masalah ini dengan dad. Kurasa dad mempunyai rekan di Julliard dibidang musik.”

“Terima kasih, Luke!” Annabeth mempererat pelukannya. Semakin meneggelamkan wajahnya ke dada bidang Luke. “Satu lagi. Kumohon jangan ceritakan padanya jika aku dibalik semuanya. Aku tak ingin dia tau hal itu.”

“Bukankah itu bagus jika dia tau semuanya? Dengan begitu Justin akan tau kalau kau telah berjuang untuknya.”

Annabeth menggeleng keras. “Itu sama sekali bukan diriku, Luke. Aku akan membuat Justin menyukaiku dengan caraku sendiri.”

----------------------------------------------------------

... “Ugh... selalu saja begitu! Bukankah lebih baik aku duduk manis di dalam kelas dan mengerjakan semuanya? Kenapa hukumannya harus mengerjakan di luar kelas, huh? Sungguh kuno!” Annabeth menggerutu seorang diri di depan loker miliknya. Aneh, bukankah ini awal jam pelajaran dimulai. Kenapa gadis ini berada di luar kelas? “Aku bisa mengerjakan soal-soal itu dalam hitungan menit. Akankah madam Levine tak tau hal itu? huh!!!” Brukkk... pintu loker itu tertutup dengan kasarnya akibat dorongan tangan Annabeth.

“Kenapa tak masuk ke dalam kelas?” suara bass Justin mengejutkan Annabeth.

“Kau... sukses membuatku terkejut! Dan kau sendiri, kenapa tak masuk kelas?”

“Aku? Mr. Grim absen hari ini. Dia hanya memberi tugas. Kau harus lebih giat lagi memutar ingatanmu tentang semua tugas sekolah yang harus kau kerjakan.” Justin mengacak asal poni Annabeth yang awalnya tertata rapi. Langkah pria itu kembali melebar meninggalkan Annabeth.

“Hey... mau kemana?” tak ada respon dari Justin. “Aku ikut!!!” seru Annabeth menyusul langkah Justin. tubuh gadis itu terus berjalan di belakang tubuh tegap Justin. mendadak langkahnya melambat seiring dengan tempat yang akan dituju Justin.

“Masih ingin mengikuti, Miss. Parker?” tanya Justin dengan satu sudut alis yang terangkat.

Tampak Annabeth masih berpikir. Bagaimana tidak, jika tempat yang akan dikunjungi Justin adalah perpustakaan. Ya, sejak menginjakkan kaki di sekolah ini, entah setan apa yang merasuki gadis itu, Annabeth sama sekali anti dengan yang namanya perpustakaan. Hanya tiga kali... oh tidak, empat kali. Tidak... tidak... tepatnya lima kali gadis ini menginjakkan kakinya di perpustakaan.

“Siapa takut. Aku akan tetap mengikutimu, Barber!” kini malah Annabeth yang berjalan terlebih dulu memasuki perpustakaan.

Not Barber, but Bieber!”

“Wah, senang melihatmu Annabeth! Sebuah kehormatan Miss. Parker mengunjungi perpustakaan.” Sambut Madam Rose, penjaga perpustakaan.

“Kuanggap itu sebagai pujian, Mam!”  balas Annabeth sembari mengerlingkan satu kelopak matanya.

[[ SKIP ]]

Here we go!” Annabeth menyodorkan sebuah kotak makanan berukuran sedang kehadapan Justin. saat itu, Justin tengah sibuk membaca buku di sudut kantin sekolah. “Ini sebagai bayarannya karena tadi kau telah menemaniku melewati hukuman kuno itu.” gadis itu kembali menyodorkan sebotol air mineral kehadapan Justin.

Justin membuka kotak makanan itu. “Salad?”

Absolutely yes, Justin. bukankah kau harus menjaga pola makanmu? Dalam waktu dekat ini, kurasa makanan dengan kadar lemak dan kolesterol yang tinggi tak baik untukmu.”

“Tapi Beth, aku sungguh-”

“A-a... kau tak boleh menolaknya. Mulai detik ini, aku akan selalu membawakan salad untukmu. Aku yang akan mengontrol pola makanmu selama tak ada mommu.”

“Memangnya sejak kapan kau menjadi mom kedua untukku, huh?” terdengar nada sedikit kesal dari suara Justin.

“Sejak saat ini.” Balas Annabeth kelewat cepat. “Lekas habiskan makanan itu Justin! aku akan pergi menghampiri Sidney.”

Gila! Justin tak habis pikir, kenapa Annabeth melakukan sejauh ini untuknya. Gadis itu sungguh berlebihan pikirnya.

----------------------------------------------------------

Sepulang sekolah, Justin tak melihat wujud dari seorang Annabeth. Padahal, hari ini tim basket sedang latihan. Annabeth benar-benar tak datang latihan hari ini. Hingga waktu yang ditentukan untuk latihan bagi tim female usai, Annabeth masih tak terlihat di lapangan. Aneh, biasanya gadis itu tak pernah absen dari latihan basket.

Well done, Dane! Sekarang berikan bola itu pada Justin. yeah, begitu yang kumaksud. Lakukan three point, Justin!” suara Mr. Bones tak pernah lelah membrikan arahan untuk tim basket didikannya. “Justin!” serunya begitu melihat Justin terjatuh. “Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, Mr. Bones. Aku butuh waktu beberapa menit untuk menutup lukaku.” Justin berjalan ke tepi lapangan. Sepanjang jalan, banyak gadis dari tim female yang menawarinya untuk mengobati lukanya. Sayangnya pria ini sama sekali tak mengubrisnya. Dia malah memilih duduk di samping lapangan seorang diri. Mencari plester luka yang kerap dibawanya. Oh sial, dimana plester luka yang kerap dibawanya? Justin kembali mengaduk-aduk isi tasnya. Holly shit... persediaan plester luka miliknya benar-benar tidak ada.

Dipandangi luka gesekan itu. luka gesekan ini mengingatkan pada... Annabeth Parker. Creepy! Pasti pikirannya sudah tak waras sekarang. Kenapa tiba-tiba ia memikirkan gadis ini? Kenapa harus nama Annabeth yang terlintas? Bukankah ini mengejutkan baginya? Memang saat ini gadis itu tak datang latihan. Tapi bukan suatu alasan untuk memikirkannya kan?

[[ SKIP ]]

Latihan telah selesai. Justin memilih pulang paling akhir. Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Oh, satu jam lagi waktunya untuk kerja part time. Sayup-sayup terdengar suara seseorang di ujung lorong. Matanya menyipit begitu mengenali sosok itu. Annabeth? Darimana saja dia hingga absen dari latihan basket?

“... bukankah aku sudah menyelesaikan semua soal itu dengan baik? Lantas kenapa wanita itu masih menyuruhku untuk menjelaskan satu persatu dihadapannya? Sebegitu bodohkah aku dipikirannya? Urghhh!!!” pandangan Annabeth masih terfokus ke bawah. Tak menyadari jika di sudut lorong lain, Justin tengah berdiri 180 derajat dengannya. “Dan lihatlah, bukankah aku memang bisa menyelesaikan semua soal-soal menyebalkan itu. soal-soal itu sama saja dengan soal-soal saat elementary scholl. Really have a bad day!” Annabeth menghentakkan kaki kirinya. Gadis ini terlihat seperti anak kecil sekarang. “Tidakkah peraturan hukuman seperti itu harus diubah? Holly shit, itu sungguh sangat-sangat-sangat kuno!” kedua bola mata Annabeth masih terfokus pada lantai koridor sekolah. Masih tak menyadari jika jaraknya dengan Justin kini semakin dekat. “Gara-gara soal sialan itu aku jadi tak bisa mengikuti latihan. Tidak taukah jika latihan ini begitu penting untuk-... AWWW!” seketika celotehan Annabeth berganti dengan ringisan. Bagaimana tidak, gadis ini benar-benar tak memperhatikan kehadiran Justin. hingga tubuhnya terpaksa menabrak tubuh Justin. ditambah wajahya yang menatap pada pundak kanan Justin.

“Dasar ceroboh!” cemoh Justin. “Mungkin saja keningmu akan kembali memar jika yang ada dihadapanmu saat ini adalah tembok. Sampai kapan kau berhenti melukai dirimu sendiri, huh?” Annabeth hanya mengerjap. Masih mencoba menstabilkan kekesalannya.

“Ba-baiklah... baiklah. Aku minta maaf.” Ujar Beth dengan nada yang sedikit naik-turun. Terlihat jelas mencoba mentabilkan emosinya. “Apakah latihan sudah berakhir?” pandangan Justin menajam. Tidakkah Annabeth tau, senja telah tiba. Tentu saja latihan telah berakhir. “Umm... ah ya, kurasa aku mengetahui jawabannya.” Telapak tangannya terangkat. Menandakan jika dia paham dengan jawaban dari tatapan aneh Justin. “Oh gosh... aku harus menemui pelatih. Justin, aku pergi! Sampai bertemu esok!” hah, lagi-lagi Annabeth melupakan sesuatu.

“Perhatikan langkahmu, Beth!

----------------------------------------------------------

“Ayo Justin! kami mendukungmu!” seruan para gadis yang memenuhi stadium tempat pertandingan final basket berlangsung menggema. Annabeth hanya memutar bola matanya sarkastis mendengar seruan yang berlebihan itu. hatinya cemas alih-alih khawatir terjadi sesuatu buruk pada Justin. pandangannya begitu terfokus pada pemuda bernomor pungung 6 yang tengah beraksi di tengah lapangan. Tak dihiraukan pertandingan untuk tim female yang sebentar lagi juga akan bertanding.

Bola mata Annabeth melebar pada kebukaan sempurna begitu melihat tubuh Justin terhantam keras pada lantai lapangan. Ya, Justin baru saja terjatuh. Gelengan kepala Annabeth semakin keras melihat Justin tengah menyentuh bagian perutnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ginjalnya?

“Mr. Bones, kau harus membiarkan Justin keluar dari lapangan. Jika dibiarkan, ini akan menyakitinya.” Annabeth menghampiri bagian base camp tim male sekolahnya.

“Hey, Justin, kau akan digantikan oleh Dave!” seru pelatih. Sayangnya Justin menolak. Ia masih ingin meneruskan pertandingan.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Justin berjuang untuk membawa kemenangan bagi tim sekolahnya. Di menit-menit terakhir, Justin beberapa kali kembali terjatuh, hingga di detik terakhir, iapun juga terjatuh. Ia terjatuh tepat setelah melakukan tembakan three point. Jatuhnya Justin membuat tim basket kategori male sekolahnya memenangkan pertandingan. Annabeth segera menghampiri Justin. memapahnya ke tepi lapangan.

“Dasar keras kepala! Kenapa memilih melanjutkan pertandingan? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan ginjalmu, huh?” gerutunya pada Justin.

“Tak perlu cerewet, Beth! Sekarang antar aku ke bagian kesehatan!” lengan Justin tersampir sempurna melingkari leher Annabeth.

“Hanya dengan kata ‘minta tolong’, aku akan membawamu ke petugas kesehatan!”

“Ah, baiklah. Annabeth, kumohon bawa aku ke petugas kesehatan. Bisakah kau?” selesai Justin menuruti perkataannya, Annabeth lantas tersenyum dan kembali memapah tubuh Justin. Sedikit terhuyung dan tertatih, gadis itu membawa Justin ke petugas kesehatan. Sementara yang lain masih bersuka cita di tengah lapangan atas kemenangan tim. Tubuh Justin langsung dibaringkan disebuah bangkar saat sampai diruang kesehatan. “Tetaplah disini hingga pertandingan selesai, Justin. Aku harus kembali ke lapangan.” Annabeth mengusap lembut punggung tangan Justin. langkahnya terhenti begitu tangan Justin mencengkram kuat pergelangan tangannya.

“Tunjukkan pada semua permainan terbaikmu, Beth. Kau harus membawa kemenangan bagi timmu. Lakukan semua itu untukku.” Samar memang, tapi Annabeth dapat mendefinisikan jika Justin tengah tersenyum untuknya. Kepalanya mengangguk mantap mendengar semua perkataan Justin. “Dan... perhatikan langkahmu, Beth! Pemain yang handal tak akan membiarkan cidera pada tubuhnya.”

Lakukan semuanya untukku.

Setiap kalimat yang Justin katakan barusan, masih melekat jelas diingatan Annabeth. Terang saja gadis itu tak akan melupakannya.

Pemain yang handal tak akan membiarkan cidera pada tubuhnya.

----------------------------------------------------------

“Bisakah kau menanyakan kesanggupanku akan mengikutimu apa tidak?” Justin membuka suaranya. Kesal akan sikap Annabeth selalu tanpa ijin mengajaknya kemana gadis itu mau. “Dan inilah tempat yang kumaksud!” kedua tangan Annabeth membentang seakan sedang memperesentasikan sebuah produk baru pada customers. Gadis itu mengajak Justin ke sebuah kastil yang berdiri kokoh di atas bukit.

“Untuk apa kau membawaku kemari?”

“Tak ada. Hanya ingin membawamu untuk menyegarkan pikiran. Apakah kau tak pernah tau tempat ini sebelumnya?”

“Kau begitu meremehkanku, Stupid Girl! Aku adalah penduduk asli Toronto. Terang saja aku paham tentang Castil Casa Loma. Dulu mendiang ayahku kerap mengajakku kemari bersama mom dan juga Jazzy.”

Annabeth memang mengajak Justin menuju sebuah kastil megah yang diberi nama Casa Loma. Dalam bahasa Spanyol, Casa Loma memiliki arti ‘rumah yang berada di atas bukit’. Kastil megah ini dibangun pada tahun 1900-an oleh Sir Henry Pellatt, seorang pengusaha perusahaan listrik di kota Toronto. Pengusaha ini membangun kastil megah ini juga untuk memenuhi permintaan sang istri yang begitu mendambakan sebuah kastil impian yang begitu megah dan indah.

“Hah, selalu saja. oh ayolah Justin, ini bukan sekolah, jadi kau tak perlu memasuki ruangan ini.” Telapak tangan Annabeth berusaha mendorong tubuh tegap Justin untuk keluar dari ruang perpustakaan. Dari setiap ruangan yang ada dalam kastil, perpustakaan-lah yang begitu menarik perhatian dan menjadi tempat favorit Justin. tentu saja menarik perhatian. Bagaimana tidak, di dalam perpustakaan itu, Justin akan menemukan 10.000 buku lebih yang begitu langka dan tidak ditemukannya di perpustakaan sekolah.

“Sssttt... berhenti, Beth! Sikapmu akan mengganggu pengunjung yang lain.” Justin membalikkan tubuhnya. Kembali memasuki perpustakaan. “Lihatlah, buku-buku ini tak ada di perpustakaan manapun.” Justin mulai mengamati satu persatu buku yang tertata rapi di dalam sebuah lemari. “Nah ini dia!” tangan Justin terulur mengambil satu buku dan bersiap membuka halaman pertama.

“Tunggu! Jangan katakan jika kau akan membacanya.”

“Pintar. Aku memang akan membacanya.”

“Apa? Ti-tidak Justin. itu akan memakan waktu yang lama. Masih banyak ruangan yang lebih bagus dibandingkan tempat ini.”

“Jika kau tak ingin mati kebosanan di sini, kau pergi saja.” dengan santainya Justin merapikan posisi duduknya. Bersiapkan kembali fokus pada buku yang sudah dalam genggamannya.

“Kau itu... hashhh... baiklah aku pergi!” dengan perasaan gondok, gadis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar ke luar dari perpustakaan kastil.

“Pastikan kau tak terjatuh dan menabrak tembok di depanmu, Beth!” Pandangan Justis sekilas menyipit, memandangi punggung Annabeth yang mulai menghilang. Aneh, kenapa gadis itu begitu anti pada perpustakaan.

[[  SKIP  ]]

Tak terasa dua jam telah berlalu. Justin memilih mengakhiri aktivitas membacanya. Sudah 13 buku tebal ia rampungkan. Hah, tak ada salahnya jika dia meneruskan acara membacanya dilain waktu. Pandangannya berpendar ke setiap sudut Kastil. Berharap menemukan sosok gadis berambut coklat sebahu yang dicarinya. Hah, gadis itu pasti tengah berkeliling mengitari seluruh sudut ruangan pada kastil. Justin memilih mengakhiri pencariannya. Memutuskan menunggu Annabeth di flower garden kastil ini yang terletak tepat di depan kastil.

“... apa aku melakukannya dengan baik, Mam?” Justin langsung mengenali siapa pemilik suara itu. gadis berambut coklat yang dicarinya, kini tengah bercengkrama dan tertawa lebar dengan seorang wanita paruh baya di kebun bunga.

“Kau melakukannya dengan baik, Beth! Semoga bunga mawar yang kau tanam akan berujung pada seseorang yang kau cintai.”

“Ah, kuharap juga begitu. Dan oh, itu Justin!” tangan Annabeth melambaik pada sosok Justin yang tengah memperhatikannya dari radius 1 km dari tempatnya. “Justin, ini madam Isabel, wanita yang merawat bunga-bunga di kebun ini.” Justin menjabat uluran tangan madam Isabel dengan santun.

“Oh, inikah pria yang akan menerima bunga mawar yang kau tanam barusan?” tebak Madam Isabel. Membuat rona pada wajah Annabeth memerah.

“Honestly, yeah aku menyukainya. Tapi-” ditatapnya Justin lamat-lamat. Sesaat bola matanya menemukan sepasang bola mata karamel milik Justin. “... aku tak yakin apakah dia yang akan menerima bunga mawar itu.” lanjutnya diikuti dengan sebuah senyuman manis.

Teduh. Satu kata yang mewakili perasaan Justin saat menemukan sepasang bola mata bewarna kayu plum itu. tatapan itu menyiratkan akan sebuah ketulusan. Apakah Annabeth sungguh-sungguh dengan perkataannya? Perkataan yang berkali-kali menyebutkan jika gadis itu telah menyukai dirinya.

“Kau benar gadis muda. Tak ada yang bisa menebak pria mana yang akan dikirimkan Tuhan untukkmu. Tapi, tak ada salahnya berusaha. Kemarilah, panjatkan permohonanmu agar pria ini yang akan menerima bunga mawar ini kelak. Orang-orang di sini mempercayai jika siapapun yang menanam bunga mawar di kebun ini, dan dia melakukan sebuah permohonan yang tulus, maka permohonannya akan didengar oleh Tuhan.”

“Benarkah?” Annabeth terlihat antusias sekarang. Segera dilipatkanya kedua tangannya. Bersimpuh tepat di depan tanah yang sudah ditanami benih bunga mawar olehnya. Menggumamkan sebuah permohonan dengan mata terpejam.

“Semoga Tuhan mendengar permohonan tulusmu, Young lady!” sahut Madam Isabel bertepatan dengan kedua kelopak mata Annabeth yang terbuka. “Ingat dengan baik lahan deret keberapa yang menjadi tempat penanaman benih mawarmu, Beth! Aku harus kembali bekerja.” Madam Isabel meninggalkan sepasang anak manusia itu setelah mendapatkan sebuah pelukan hangat dari Annabeth.

“Stupid Girl! Itu benar-benar tak masuk akal.” Gumam Justin sembari menatap sebuah patung yang berdiri di tengah kebun bunga kastil.

“Biarkan saja. Tak ada salahnya mencoba.” Annabeth menjulurkan lidahnya. “Justin...” Annabeth menggumamkan nama Justin. Kini pendangannya mengikuti arah paandangan Justin yang tengah menatap sebuah patung. Patung pahatan yang melukiskan wajah si pemilik kastil ini, Sir Hnery Pellatt.

“Hmmm?” gumam Justin masih menatap takjub akan patung pemilik kastil ini.

“Suatu saat aku ingin memiliki suami yang membuatkan sebuah kastil untukku. Ummm... maukah kau membangun sebuah kastil untukku?” hebat. Pandangan Justin dengan cepat langsung terarah pada Annabeth. Sekilas tatapan tak percaya menyelimuti permukaan bola mata hazel pria itu. tak percaya akan apa yang baru saja dikatakan Annabeth. Namun, pria ini cepat berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang sedikit terkejut mendengar penuturan Annabeth. Lekas dialihkan pandangannya dari Annabeth. Kembali mendapati patung Sir Henry sebagai objeknya.

“Apa yang kau harapkan dari pria yang hanya hidup dengan satu ginjal sepertiku, huh?” pandangan Justin masih terpusat ke depan. Enggan menatap gadis di sampingnya.

Banyak Justin. Kepercayaan. Berharap kau akan memberikan kepercayaan padaku agar kau terbuka padaku. Dengan begitu, aku akan tau bagaimana cara agar kau merasa nyaman dengan keberadaanku. Hingga akhirnya, kau mulai mempercayakan hatimu untukku. Annabeth hanya tertunduk. Menggumamkan sederet kalimat tanpa Justin mendengarnya.

“Kusarankan, lebih baik kau pikirkan baik-baik sebelum mengatakan menyukaiku. Kau tak pernah menyukaiku, Beth. Kau hanya iba padaku. Kau iba dengan segala fakta dan masalah yang membelit hidupku. Kau hanya iba padaku, Beth. Tak lebih.” Semua kalimat Justin penuh penekanan.

----------------------------------------------------------




“Oh ayolah Justin, aku hanya ingin kau menemaniku ke dalam pesta sekolah itu. Salahkah?” langkah Annabeth semakin cepat seiring dengan langkah kaki Justin yang semakin melebar menjauhinya. Gadis ini pantang menyerah walaupun Justin acuh padanya.

“Berhenti mengikutiku, Annabeth! Aku tak ada waktu untuk pergi ke acara itu.” tubuh tegap itu berbalik menatap Annabeth yang mengikutinya hingga sampai di depan pintu tempat kerjanya. “Aku masih harus melanjutkan pekerjaanku. Sebaiknya kau pulang dan mencari orang lain untuk menemanimu.”

“Tapi kan, kau juga turut dalam kemenangan tim basket sekolah. Bagaimana mungkin kau tak datang ke pesta itu?” rajuk Annabeth dengan tampang polosnya.

“Aku harus bekerja, Beth! Pulanglah!” ucap Justin tegas. Tanpa berkata apapun, pria itu kembali meninggalkan Annabeth seorang diri di depan pintu rumah makan tempatnya bekerja.

“Fuihhh... selalu saja begitu. Baiklah Annabeth, saatnya beraksi!” tapak kaki jenjang Annabeth memasuki rumah makan tempat Justin bekerja. Gadis itu tidak untuk mengikuti Justin, melainkan berbelok menuju ruangan sang manager. Dengan santun, diketuknya pintu kayu bewarna coklat. Sesaat, gadis itu tengah duduk di depan manager rumah makan sembari melontarkan negoisasi. Diakhir percakapan, senyum simpul menghiasi wajah manis si anak bungsu dari keluarga Parker.

Menit berikutnya, suara ketukan dari arah luar ruangan manager rumah makan terdengar.

“Maaf Mr. Phill, ap-apa kau-” seorang pria berbola mata karamel setengah terkejut melihat sosok Annabeth. “Ummm... maksusdku, apa kau ingin bertemu denganku?” lanjutnya ragu-ragu.

“Ya, Justin. sekarang juga, kau boleh meninggalkan pekerjaanmu. Besok, kembalilah bekerja. Bukankah hari ini adalah upacara penyerahan juara terhadap tim basket sekolahmu?” Mr. Phill, pria berambut blonde dengan gampangnya memberikan ijin kepada Justin Bieber, yang notabene terbilang baru di rumah makan ini.

“Ta-tapi Sir, aku-”

“Jangan membuang waktu, Justin. Miss. Parker telah lama menunggumu. Lebih baik kau pergi sekarang juga sebelum terlambat.” Merasa mengantongi restu dari manager tempat Justin bekerja, Annabeth beranjak dan segera melingkarkan tangannya ke lengan Justin. gadis itu menarik pria bermata hazel itu untuk keluar dari ruangan manager selesai berpamitan dengan Mr. Phill.

Annabeth memutuskan mengantar Justin pulang dengan menegendarai taxi. Selama perjalanan menuju kediaman keluarga Bieber, Justin hanya diam sembari melempar pandangannya ke luar jendela mobil. Tak dihiraukannya gadis yang tengah duduk di sampingnya.

“Dua jam lagi pesta kemenangan akan dimulai. Hah, pasti semua orang mengharapkan kedatanganmu.” Annabeth membuka percakapan. Sayangnya, Justin masih diam. Tak merespon perkataannya. Annabeth mendesah kecil. Menekan bibir mungilnya ke dalam garis bibirnya. “Kau marah?”

Pertanyaan Annabeth sukses membuat Justin menolehkan kepalanya. “Menurutmu?” kedua alis Justin bertaut. Ekpresi dingin dan datar masih menyelimuti wajahnya.

“Ah, baiklah... baiklah. Kurasa aku tau jawabannya.” Annabeth mengibaskan-ngibaskan telapak tangannya dihadapan Justin. “Maaf jika terkesan memaksamu. Terpaksa harus melakukan ini. Kau kan juga ikut andil dalam kemenangan tim basket sekolah.”

“Tapi Beth, aku harus bekerja. Memangnya pesta kemenangan itu akan mendatangkan uang dan menghidupi keluargaku, huh?”

“Umm...masalah itu, aku sudah memikirkannya. Percaya padaku, upahmu tak akan berkurang karena hari ini kau ijin tak bekerja part time.” Annabeth memberikan senyuman tulusnya. Dan senyuman itu sukses membuat Justin tertegun sejenak. Senyuman itu sedikit memberikan keteduhan dalam hatinya. “Justin...” suara lembut gadis si pemilik senyuman tulus itu menyadarkan Justin. “Sudah sampai. Satu jam lagi aku akan menjemputmu. Tunjukkan penampilan terbaikmu. Kurasa malam ini kau akan menjadi orang yang paling dicari di pesta nanti.” Sesaat Annabet mengerlingkan kelopak matanya. Sedikit membuat Justin terkejut dengan sikapnya. Tingkah Annabeth Parker sungguh tak dapat ditebak.

----------------------------------------------------------

Pesta untuk kemenangan tim basket sekolah berlangsung di sebuah klub ternama di kota Toronto. Sejak Justin menapakkan kaki di klub itu, jerit histeris dari setiap wanita menyeruak menyebut namanya. Rasanya, prediksi Annabeth tepat. Prediksi tentang Justin yang akan menjadi orang yang paling dicari di pesta ini, itu prediksi yang tak meleset. Buktinya, sejak tadi beberapa wanita dalam klub itu saling berebut untuk berdansa dengan Justin. juastin yang malam itu hanya mengenakan kemeja putih bermotif garis vertikal hitam memberikan kesan maskulin tersendiri bagi Annabeth. Annabeth begitu menyukai penampilan Justin. Sederhana, tapi mengesankan. Oh tidak, mungkin saja Annabeth menyukai setiap penampilan Justin. karena gadis itu tengah menyukai pria yang selalu ada untuk membalut lukanya dengan plester luka.

Catch you, Beth! Sekarang giliranku bertanya padamu.” Sidney berhambur gembira saat permainan yang tengah berlangsung berpihak padanya. Arah botol vodka yang diputarnya kini mengarah tepat dihadapan Annabeth. “Sejauh ini siapa pria yang berhasil mencuri perhatianmu? Bukankah kau pernah mengatakan padaku jika kau telah menyukai seorang pria. Ya walaupun rasa sukamu belum bisa dikatakan menjurus dengan hal yang namanya cinta.” Pertanyaan sekaligus pernyataan Sidney membuat yang lainnya bersorak dan tak sabar menunggu jawaban Annabeth. Annabeth sesekali memegangi keningnya yang terasa pening. Maklum saja, gadis itu hampir menghabiskan satu botol vodka. Bisa dikatakan Annabeth tengah di bawah pengaruh alkohol sekarang. Namun, gadis itu masih sadar dan paham akan pertanyaan Sidney. Sesaat, diliriknya Justin yang tengah menatap datar ke arahnya.

“Beth... waktunya menjawab!”

“Haruskah?” pertanyaan Beth mengundang decak kesal dari teman-temannya.

“Yeah, tentu saja, Beth!”

“Ba-baiklah. Aku akan menjawab.” Sesaat dikulumnya bibirnya hingga membentuk kerucut. “Saat ini aku menyukai...” Beth menggantungkan kalimatnya. Diliriknya kembali sosok Justin yang masih menatapi dirinya. “Justin Bieber.” Well, jawaban Beth membuat semua orang di klub itu sedikit terkejut. Tak terlebih para gadis yang sedari tadi berebut untuk mencuri perhatian Justin. “Ah ya, aku tau kalian semua pasti terkejut. Jangan tanyakan alasannya padaku. Aku sendiripun tak dapat menjelaskan alasannya.” Sesekali Annabeth cegukan. Gadis ini terlalu banyak meminum vodka. Mendengar jawaban Annabeth membuat Justin sedikit kikuk. Gosh... seharusnya gadis itu tak mengutarakan semuanya di sini.

“Ikut aku!” dengan cepat, Justin menarik asal tangan Annabeth untuk keluar dari klub itu. membiarkan semua mata tertuju padanya. Justin mencoba menopang tubuh Annabeth agar tidak terjerembab ke tanah. “Kau terlalu banyak meminum vodka, Beth. Lihatlah, dirimu sungguh menyedihkan sekarang.” Justin mendudukkan Annabeth di sebuah bangku taman kota yang tak jauh dari klub tempat pesta kemenangan mereka. “Dan apa baru saja yang kau katakan? Hah, pengaruh alkohol sungguh hebat hingga membuat dirimu tak sadar akan apa yang baru saja kau katakan.”

“Justin... aku-” belum sempat meneruskan kalimatnya, Beth terlebih dulu memuntahkan semua isi perutnya.

Stupid Girl! Kurasa kau juga peminum yang buruk.” Sebuah sapu tangan bewarna biru gelap disodorkan Justin untuk menghapus sisa-sisa muntahan Beth pada bibir mungilnya. “Jika tak terbiasa, kenapa kau meminum vodka, huh?” Justin membantu Beth yang masih memuntahkan isi perutnya. Disampirkannya rambut panjang Beth ke beakang punggung agar tak ternoda. Selesai dengan itu semua, Justin menyampirkan jaketnya ke tubuh Annabeth yang masih tergolek lemas.

“Aku sadar dengan apa yang kukatakan tadi, Justin. Aku-” mata Beth mulai terpejam. Kepalanya jatuh tepat di pundak Justin yang tengah duduk di sampingnya. “Aku benar-benar menyukaimu, Barber!” senyap. Selesai dengan kalimat itu, Annabeth tak berceloteh. Gadis itu memilih memejamkan matanya di pundak hangat Justin.

----------------------------------------------------------
Jam makan siang digunakan Annabeth untuk mencari Justin. gadis ini berniat mengembalikan sapu tangan yang semalam sudah digunakannya. Langkahnya terhenti disaat melihat sosok yang dicarinya tengah berdiri di depan papan mading sekolah. Justin Bieber, tampak serius mengamati selembar kertas yang tertempel pada papan mading.

“Tertarik mengikutinya, huh?” selembar penguguman untuk mengikuti audisi di Julliard University telah terpampang di papan besar itu. “Kurasa tak ada salahnya mencoba.” Annabeth kembali menampakkan wajah polosnya. “Sudah saatnya kau menunjukkan bakatmu, Mr. Bieber!” imbuhnya sembari menatap ke arah Justin.

“Kenapa kau yakin sekali?”

“Karena aku tau bakat-bakatmu.” Jawab Annabeth kelewat cepat. “Sepintar apapun kau menyembunyikan bakatmu, kurasa lambat laun orang lain akan mengetahuinya. Berhenti menutup diri, bisakah kau?” Bukannya menjawab, Justin malah meninggalkan Annabeth. “Hey, kau belum menjawab pertanyaannku!”

“Berhenti mencampuri kehidupanku, Beth! Bisakah kau?”

“Tidak.” Tandas Beth. “Kau bilang ingin membahagiakan keluargamu. Kurasa ini saatnya. Seharusnya kau tunjukkan pada keluargamu siapa dirimu sebenarnya. Kau adalah Justin Bieber yang ditakdirkan memiliki segudang bakat yang tertutup. Dan itu semua karena ulahmu!” kening Justin berkerut mendengar alasan Beth. “Karena ulahmu yang berusaha untuk terus menutupi bakatmu lah yang menjadikan semua orang tak mengenal siapa dirimu.”

“Aku tak butuh itu.” Justin kembali melanjutkan langkahnya. Sayangnya, tangan mungil Beth terlebih dulu mencengkram tangannya. Membuat pria itu menatap datar pada Annabeth. “Katakan apa maumu, sekarang?” nada suara Justin sarat akan penekanan.

“Mauku?” masih dengan ekspresi tak bersalah, Annabeth merogoh saku celananya. “Awalnya aku hanya ingin mengembalikan ini padamu!” diletakkannya sapu tangan bewarna biru tua yang semalam digunakannya. “Terima kasih atas pinjamannya.” Beth melepaskan cengkraman tangannya. “Tapi, sekarang aku menginginkan hal lain.” Imbuhnya. “Aku hanya berharap jika nantinya seorang Justin Bieber bisa mengikuti audisi itu. ah tapi sepertinya tak mungkin. I know who you are. Jika kau mengatakan TIDAK, sepertinya itu akan berlaku untuk selamanya.” Beth berjalan dan menempatkan posisinya tepat dihadapan Justin. “Hah, selamat menenggelamkan dirimu kembali, Barber. Kurasa jika tak dimulai dari dirimu sendiri, percuma saja walaupun aku bersikukuh meyakinkanmu untuk menunjukkan bakatmu.”

----------------------------------------------------------

“Sore!” suara lembut itu menyeruak begitu Justin mulai memasuki pantry rumah makan tempatnya bekerja.

“Beth? Apa yang kau lakukan di sini?” arah pandang Justin menyipit. “Dan kenapa kau menggunakan baju itu?” heran melihat Annabeth mengenakan baju yang sama dengan baju yang dipakainya.

“Aku? Tentu saja untuk bekerja, Barber. Memangnya untuk apa lagi aku berada di sini?” Annabeth sibuk menyiapkan menu makanan yang dipesan oleh pengunjung. "Bukankah sudah kukatakan jika kau tak akan kehilangan upahmu karena kemarin kau ijin bekerja?” senyum Beth kembali merekah. “Segera lakukan pekerjaanmu, Barber jika kau tak ingin kehilangan upahmu hari ini.” Beth beranjak dengan ampan berisi menu pesanan pengunjung.

Stupid girl! Jadi ini yang dimaksud aku tak akan kehilangan upah? Kenapa dia melakukan sejauh seperti ini?

----------------------------------------------------------

“Kau memanggilku, Sir?” tanya Justin sopan begitu memasuki ruangan Professor Payne.

“Ah ya, masuklah Bieber!” Payne Blacworm, pria yang menduduki profesi sebagai kepala sekolah mempersilahkan Justin. tanpa basa-basi, Professor Payne mengutarakan maksudnya. “Aku melihatmu di ruang musik beberapa hari yang lalu. Dan aku berniat agar kau bisa mengikuti audisi di Julliard University.”

“Aku masih belum ada niatan untuk mengikutinya, Sir!”

“Tapi kau memiliki bakat sesuai kriteria universitas itu, Justin. setidaknya kau dapat mewakili sekolah ini.”

“Akan aku pertimbangkan, Sir!”

----------------------------------------------------------

“Untuk apa kau mengajakku ke sini lagi?” gerutu Justin setelah tau Annabeth kembali membawanya ke Castil Casa Loma.

“Tentu saja untuk melihat perkembangan benih mawar yang kutanam beberapa minggu yang lalu. Aku sangat berharap jika nantinya kaulah pria yang akan menerima bunga mawar itu.” jawab Annabeth ringan. “Woaaa... lihatlah Justin, sudah sedikit tumbuh!” seru Annabeth histeris.

Justin terus menatapi gadis di depannya. Senang melihat Annabeth sedemikian rupa bahagianya akan benih mawar yang ditanamnya. “Ng... Beth!” bibir seksi pria itu lantas angkat bicara. “Kurasa aku akan mengikuti audisi itu.” Annabeth menolehkan kepalanya. Tatapannya seakan meminta penjelasan lebih dari Justin. “Aku akan mengikuti audisi yang diadakan Juilliard University.”

Kedua bola mata Annabeth terbuka pada kebukaan maksimal. Detik berikutnya, gadis itu berhambur memeluk tubuh tegap Justin. “Aku senang mendengarnya. Sudah ku katakan, ini saatnya kau menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, Barber.” Pelukan Beth semakin erat.

“Baiklah... baiklah... bersikaplah biasa. Aku tak dapat bernafas, Beth!” Justin melepas pelukan Annabeth. “Terima kasih karena telah yakin padaku.” Untuk pertama kalinya, senyuman lebar nan tulus itu mengembang pada wajah tampannya. “Tapi dalam beberapa hari ini aku harus mempersiapkan diri sebelum bulan depan aku akan terbang ke New York.”

“Hey, kenapa wajahmu lesu seperti itu?”

“Tentunya aku harus menghabiskan waktu banyak untuk mempersiapkan audisi itu.”

“Bukankah seorang Justin Bieber pantang menyerah, huh?”

“Yeah. Untuk itu, bisakah kau tak menggangguku terlebih dulu selama aku mempersiapkan diriku?”

Ingin rasanya Annabeth menanyakan alasan Justin mengapa ia harus menjauhinya selama Justin mempersiapkan audisi itu. tapi niat itu diurungkannya. Apapun alasan Justin, sudah sepantasnya jika dia memberikan waktu pada Justin untuk fokus pada audisi itu. “Tentu saja. akan kulakukan apa saja agar kau bisa memenangkan audisi itu.”

----------------------------------------------------------

Sejak percakapan terakhirnya dengan Justin di Castil Casa Loma, Annabeth berusaha untuk terus berpegang pada janjinya. Janji untuk sementara ini tak mengganggu Justin. setiap bertemu Justin, gadis ini berusaha agar terus menghindari pria itu. ia sungguh tak ingin memecah konsentrasi Justin.

Salad bagus untuk kesehatanmu. Sungguh tak bermaksud mengganggumu. Tapi, kupikir tak ada salahnya membantumu untuk tetap menjaga pola makanmu. Huh, ketahuilah Barber, kurasa aku mulai merindukanmu. “Annabeth”

Justin menghembuskan nafasnya membaca note kecil yang tertempel di atas sebuah kotak makanan berisikan salad.

Selalu saja seperti ini. Bisakah gadis ini tak memberikan perhatian penuh untukku? Jika seperti ini, akan semakin sulit bagiku untuk terbiasa jauh dari dirinya.

----------------------------------------------------------

Sebulan penuh Annabeth tak bertegur sapa dengan Justin. walaupun bertatap muka, mereka hanya saling tatap dan melemparkan senyum. Dan tiba waktunya bagi Justin untuk pergi ke New York. Bahkan hingga keberangkatan Justinpun, Beth tak menyusul pria itu ke bandara hanya untuk mengucapkan salam perpisahan. Gadis itu tak ingin mengingkari janjinya sendiri pada Justin.

“Arghhh!!!” erangan yang histeris keluar dari bibir mungil seorang Annabeth Parker. Ditatapnya luka gesekan pada lututnya. Melihat sedikit darah yang keluar, membuat mata gadis itu memanas. Entah kenapa luka dilututnya mengingatkannya pada Justin Bieber. “Sial! Tak seharusnya seperti ini!” gadis itu merutuki dirinya sendiri. Perlahan bulir air mata keluar dari sudut matanya. Sedikit tersaruk, Beth memaksakan dirinya menuju samping lapangan. Tangannya mengaduk isi tasnya. “Idiot! Mulailah tak menggantungkan hidupmu pada Justin, Beth.” Serunya terisak. Gadis ini merutuki kembali dirinya saat menyadari jika tak ada plester luka di dalam tasnya.

“Kau merindukannya?” suara bass putra sulung keluarga Parker mengejutkan Annabeth yang tengah terisak di pinggir lapangan. “Kenapa harus menyesali kepergiannya? Bukankah ini semua yang kau inginkan, hmm?” Luke Parker, membawa adiknya ke dalam pelukannya. “Aku tau ini berat untukmu. Tapi kau harus bisa menerimanya, Baby Girl. Dia harus memenagnkan audisi untuk mewujudkan mimpinya.” Telapak tangan Luke bergerilya di sepanjang rambut coklat Annabeth. “Dengar, jika Tuhan telah menakdirkan kalian untuk bersatu, sampai kapanpun kalian pasti akan dipertemukan kembali.” Direngkuhnya kedua pipi mulus Annabeth. Perlahan ibu jari Luke menyeka sisa-sisa air mata di kedua sudut mata Annabeth.

----------------------------------------------------------

Back to ‘ANNABETH POV’

Toronto, Ontario

“Ow crapp, kau tau senyumannya begitu memukau. Apalagi suaranya. Ughhh... itu benar-benar membuatku jatuh cinta pada Justin Bieber.” Sayup-sayup kudengar penuturan beberapa gadis yang juga berdiri di luar pintu masuk kastil ini. Sesaat kupejamkan mataku. Kembali mengingat satu nama itu.

Justin Barber.

Kedua sudut bibirku terangkat mengingat nama itu. nama yang hingga detik ini begitu kuharapkan. Nama yang telah membuatku bangga akan pencapaiannya saat ini. Bagaimana tidak, Justin Bieber kini menjadi penyanyi bersuara emas. Pendidikan musik di Juilliard hanya ditempuh dalam kurun 1,5 tahun. Bukankah itu membanggakan. Getaran I-phone pada tas kecilku membuyarkan lamunanku akan Justin.

“Ah ya Luke, sebentar lagi aku akan ke sana.” Yang benar saja, aku telah melewatkan waktu dua jam untuk merenungi tentang Justin. dua jam saja kurasa masih belum cukup bagiku untuk berhenti dan mengakhiri semua kenanganku akan pria yang selama ini masih kuharapkan. Ah, tapi untuk sekarang aku memang tak bisa berharap lebih untuk bertemu dengannya. Kabarnya, Justin sedang melakukan tour concertnya. Kemungkinan pria itu berada di Negara yang berbeda denganku.

Sedikit tergesa, ku langkahkan kakiku untuk beranjak dari pintu masuk kastil. Membelah rinai air hujan yang masih setia menyelimuti kota Toronto. Diluar prediksi, heels yang kugunakan tersandung batu dan membuatku untuk seperseribu kalinya terjerembab ke tanah. Membiarkan permukaan kulit lututku tergesek pada aspal jalanan. Dan itu... sungguh sakit. alhasil, tubuhku basah akan guyuran air hujan.

“Oh ayolah, bukan saatnya untuk tak dapat menggerakkan kaki!” kupaksakan untuk bangkit, sayangnya kakiku terkilir dan tak dapat menopang tubuhku. Detik berikutnya, kurasakan air hujan tak lagi menghujani tubuhku. Kudongakkan kepalaku. Rupanya telah berdiri sosok budiman yang rela menutupi tubuhku dengan payung putih di tangannya.

Stupid Girl! Sampai kapan kau akan membiarkan tubuhmu terluka seperti ini, huh?” mataku tertegun menatap sosok pria yang sekarang tengah membungkukkan badannya. Kedua lengannya dengan sigap membopong tubuhku ke dalam pelukannya. Aroma maskulin tercium dari penciumanku. Dan bodohnya, aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Bibirku pun terasa kelu hanya sekedar mengucapkan kalimat sapa untuknya.

Justin Bieber. Pria yang sudah tiga tahun ini kurindukan tengah membopong tubuhku ke arah kafe yang letaknya tak jauh dari Castil Casa Loma. Mataku beberapa kali mengerjapkan. Memastikan jika penglihatanku tak salah akan sosok pria yang kini duduk di sampingku. Disampirkannya jaket yang sedikit basah pada tubuhku. Tangannya memberikan isyarat kepada pelayan kafe untuk membawakan segelas air dingin. Perlahan, pria itu membersihkan luka di lututku. Ditutupnya luka itu dengan kain kasa kecil dan plester luka yang diperoleh dari saku celananya.

Selesai membalut lukaku, pria itu mengalihkan padangannya padaku. “Sampai kapan kau akan menatapku seperti ini?”

“Ak-aku...” Holly Shit, kenapa susah sekali mengatakan sesuatu padanya! Oh ayolah Beth, bukankah selama 3 tahun kau merindukannya?

Tak lama, datanglah seorang pelayan kafe membawakan dua porsi salad dan sandwich serta dua gelas orange juice. Senyumnya mengembang seiring hadirnya menu-menu itu di atas meja yang tengah kami duduki. “Bukankah menu ini begitu sehat untuk tubuh? Tak ad salahnya kan aku memintamu untuk memakan menu yang begitu menyehatkan bagi tubuh?” dilahapnya potongan sadwich pertama di hadapannya. “Aku ingin kau merasakan menu makanan yang dulu selalu kau siapkan untukku. Aku-”

Belum selesai kalimat Justin, aku langsung berhambur memeluk tubuh tegapnya. Buliran air mata terjun dari kedua sudut mataku seiring dengan pelukanku yang semakin erat ditubuh Justin. aku semakin terisak disaat merasakan Justin juga membalas pelukanku. “Ak- aku merindukanmu, Barber!” ujarku sedikit terbata. “Kupikir kau sudah melupakanku.” Imbuhku masih terisak.

“Bagaimana mungkin aku melupakanmu, Stupid Girl! Gadis bodoh yang selalu terluka dan membutuhkan persediaan plester lukaku. Gadis bodoh yang salama ini mendukungku untuk meraih mimpiku. Gadis bodoh yang diam-diam berjuang untuk memperkenalkan diriku pada orang lain. Gadis bodoh yang dengan gigihnya membantuku untuk membuka diri. Bagaimana bisa aku melupakan itu semua, huh?” baiklah, baru kali ini aku melihat kedua mata hazel itu berkaca-kaca. Apakah Justin akan menangis sebentar lagi? “Bahkan selama ini aku selalu menyempatkan diri mengunjungi kota ini hanya untuk melihatmu, Stupid Girl!” telapak tangan Justin menyeka air mata yang mengalir di pipiku.

Aihhh... aku sungguh kehabisan kata-kata untuk menjawab semua perkataan Justin. “Dan dapat kau bayangkan bagaimana senangnya diriku saat Luke memberiku kabar akan kedatanganmu hari ini dari London. Aku tak ingin melewatkan waktu untuk bertemu dengan gadis yang berada di balik kesuksesanku saat ini. Kau adalah salah satu selain mom dan Jazzy yang menjadi alasanku untuk terus meraih mimpiku. Kau adalah salah satu yang menjadi alasan dibalik kesuksesanku. Kau adalah...” Justin menggantungkan kalimatnya. “Kau adalah perisaiku untuk berteduh dibalik badai hujan yang datang. Kau adalah perisai yang dapat meneduhkanku dari semua masalah kuhadapi, Annabeth Parker!”

Benarkah ini Justin Bieber? Seakan diriku tak percaya jika seorang Justin Bieber mengatakan semua ini padaku.

“Bisakah kau terus menjadi perisaiku yang selalu ada untuk meneduhkanku dari badai hujan yang datang?” aku kembali berhambur memeluknya. Tak ada parameter satupun yang dapat mengukur kebahagiaanku saat ini. “Beth, kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Tentu saja akan kulakukan, Stupid boy! Kau pikir selama tiga tahun ini apa yang kuharapkan selain ingin bertemu denganmu?”

“Stupid boy?”

“Yeah, seharusnya kau tak menanyakan pertanyaan bodoh itu Justin. bahkan kaupun tau akan apa jawabanku.” Aku sedikit terkekeh melihat ekpresi beku Justin akan sebutan yang kulontarkan. Disaat aku akan membuka kembali kedua bibirku, tiba-tiba saja kurasakan sesuatu yang lembab membungkam bibirku. Kubuka kedua mataku. Gosh... mimpi apa aku semalam! Bagaimana mungkin seorang Justin Bieber menciumku di depan umum seperti ini?

“Merasa ketagihan akan perlakuanku eh, Stupid Girl?” dan perlakuan Justin, sukses membuat kedua pipiku merona. Tak dihiraukan semua mata tertuju pada kami.

Aku mengerucutkan bibir lembabku yang baru saja merasakan bibir seksi seorang Justin Bieber. “Umm... kurasa permohonanku dikabulkan oleh Tuhan. Akhirnya Tuhan menjawab semua permohonanku beberapa tahun yang lalu. Kurasa kau memang pria yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menerima bunga mawar yang kutanam di kebun depan kastil.” Justin tersenyum mendengar celotehanku. “Dan sekarang, waktunya memetik hasil tanamku!” kugenggam erat pergelangan tangan Justin. tak kuhiraukan gerimis yang masih turun menyelimuti kota Toronto.

Sesampainya di kebun, lagi-lagi kakiku tersandung. “Beth, bisakah kau lebih memperhatikan langkahmu lagi, huh?” ujar Justin sedikit cemas. “Kau baru saja membuat luka baru pada lututmu. Akankah kau membuatnya lagi, huh?” sedikit senang akan perhatian yang diberikan Justin.

“Tentu saja. apapun akan kulakukan untukmu, Barber!”

“Bieber, not Barber!” pandangannya menyipit seiring dengan seringaian usil yang kuberikan.

“Dan kurasa aku benar-benar menyukaimu, Bieber. Suka yang benar-benar mengarah pada hal yang dinamakan cinta.” Well, nada suaraku terdengar sedikit serius mengatakan ini.

“Kurasa tak ada salahnya membalas cinta seorang gadis yang tulus sepertimu.” Justin merapatkan tubuhnya padaku. Dilingkarkannya lengan di sekitar punggungku. Dipetiknya bunga mawar merah hasil tanamku. “Bukankah aku akan menjadi salah satu pria beruntung karena memiliki gadis setulus sepertimu, huh?” diberikannya setangkai bunga mawar itu padaku. Uh... benar-benar romantis bukan? “Dan kurasa aku benar-benar menyukaimu, Stupid Girl. Suka yang benar-benar mengarah pada hal yang dinamakan cinta.” Sesaat dikecupnya keningku.

Inilah akhir dari penantianku. Tak perlu menjadi sempurna untuk mencintai seseorang. Hanya dengan ketulusanlah maka kau akan mendapatkan cinta itu. menjadi perisai bagi seorang yang kita cintai merupakan kekuatan yang sungguh luar biasa.


--- THE END ---



2 komentar:

  1. hmmmmm,,
    meskipun aku beda aliran sama si Cie Bieb ini, aku selalu suka dengan gaya bahasa yang di tuangkan dalam setiap tulisan JD ini. hampir keseluruhan memakai aksen dan budaya ke barat-baratan. yaah,, mungkin karena tokoh yang dimunculkan memang dr golongan barat.

    but, dont forget your culture guys!
    masukkan sedikit-sedikit laah..
    ;)

    sssssttt,,
    anggap gk kenal yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. masukan yg super sekali dr mbak Sholihah ini ;) terima kasih udh nyempetin memberi masukan utk cerita saya yg masih abal2 ini :* big hug for u ;)

      okay...insyallah diusahain menulis sesuai kultur ketimuran saya ;) tp ttp, saya pribadi tak melupakan kultur saya kok mbak Aniy ;)

      Hapus