Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 13-18

PART 13
Keesokan harinya, aku menemani oma mengunjungi WaterPark milik keluarga Hawkins yang letaknya tak jauh dari rumah. Waterpark itu dulunya adalah taman bermain yang oma buatkan khusus untukku dan Auris. Setelah kepindahan kami ke Jakarta, oma memilih menjadikan taman bermain itu sebuah waterpark. Tidak hanya waterpark saja, di tempat wisata itu oma juga menyediakan akomodasi lain, seperti rose garden dengan berbagai macam bunga mawar di dalamnya, serta rumah makan Hawkins yang menyediakan fast food.
“Oma, kenapa kau tidak membangun sebuah penginapan di waterpark ini?” tanyaku ketika kami berdua berada di rose garden.
“Tak etis jika aku mendirikan penginapan di waterpark ini. Kau tau sendiri kan Cupcake, di sekitar sini banyak sekali tempat penginapan.”
Aku hanya memanggutkan kepala menandakan jika aku paham akan alasan oma.
Pandanganku beralih pada sebuah rumah pohon yang berada di samping kebun mawar. Ku langkahkan kakiku menghampiri rumah pohon yang masih berdiri tegar di atas batang pohon yang hampir rapuh. Rumah pohon yang menyimpan banyak kenangan antara aku, Auris, dan mama.
Aku hanya tersenyum tipis melihat rumah pohon yang tampaknya masih terawat.
“Mom… miss you!” kali ini aku benar- benar tidak dapat membendung air mataku. Bulir- bulir air mata mulai jatuh membasahi pipiku.
“Kenapa kau menangis?” sebuah suara yang masih cadel mengangetkanku. Dengan cepat ku hapus air mataku dengan telapak tangan. “Princess sepertimu tidak sepantasnya menangis,” ujar suara itu yang ternyata adalah suara anak perempuan kecil mungil yang berdiri di hadapanku.
“Aku tidak menangis.” Kataku membohonginya sembari berlutut mensejajarkan tinggi badanku dengannya. “Hanya saja tadi aku…”
“Don’t lie to me! Apa kau akan menggunakan alasan jika beberapa debu membuat matamu perih? Itu sudah menjadi alasan umum!” lanjutnya seakan mengerti dengan alasan yang akan kugunakan untuk membohonginya.
“Kau sangat menggemaskan!” aku mencubit pipinya yang lembut itu. “Heyyy… anak sekecil dirimu tidak baik berjalan seorang diri. Di mana papa dan mamamu?” aku menengok ke kanan- ke kiri tak ada seorang pun yang menjaga dan mengikutinya.
Kemudian terdengar sebuah teriakan. “Jazzy… where are you???”
“That’s My Booo! Boooo… I’m here!!!” anak kecil itu melambaikan tangannya ke arah seseorang yang tampak bingung mencarinya.
“Jazzy… jangan sekali- kali menghilang seperti ini! Kau tau aku dan yang lainnya cemas mencarimu!” kata seorang laki- laki masih dengan nafas yang tersengal- sengal.
“I’m sorry, Booo!!!” jawab anak kecil yang ternyata bernama Jazzy itu. “Aku tadi hanya ingin berjalan- jalan dan aku tertarik begitu melihat rumah pohon ini. Sesampainya di sini, aku malah melihat…” sebelum Jazzy melengkapi kalimatnya, aku segera memotongnya.
“Me… melihat bunga mawar ini.” Ujarku seraya memberikan bunga mawar yang berada di dalam genggamanku ke arah Jazzy. Jazzy menerima bunga itu dengan tatapan heran ke arahku. Aku hanya tersenyum sembari mengerlingkan sebelah mataku kepada Jazzy seakan aku berkata jangan mengatakan jika aku menangis kepada laki- laki itu. Untung saja tadi aku sempat memetik setangkai mawar bewarna putih.
“Thanks Car, karena telah menjaga adikku!” kata laki- laki itu yang ternyata adalah Justin.
Adikku? Ja… jadi Jazzy ini adiknya Justin? Hmmm… sangat berbeda. Bagaimana bisa Jazzy yang sangat mungil dan menggemaskan ini mempunyai kakak seperti Justin Bieber yang sangat menyebalkan?
“Kau mengenalnya?” tanya Jazzy lugu. Justin hanya mengangguk sembari mengendong Jazzy ke dalam pelukannya.
Aku melihat Justin sangat mengkhawatirkan sang adik. Aku rasa dia sangat menyayangi Jazzy.
“Itu Caris…!” suara oma mengejutkanku di saat aku menatap kagum ke arah Justin dan Jazzy.
Dari kejauhan, oma menghampiriku bersama dengan wanita masih muda dan beberapa pria di belakangnya.
“Kenalkan, ini Carista, cucuku!” oma memperkenalkan diriku kepada wanita muda itu. “Caris, ini Pattie. Dia adalah teman dekat papamu saat kami tinggal di Canada!”
“Hy Caris! Nice to meet you!” wanita itu menjabat tanganku dengan lembut.
“Hy, Mrs. Pattie! Nice to meet you too!” balasku.
“Oh ya, Pattie… di mana anakmu? Tadi kau mengatakan jika kau ke sini bersama kedua anakmu. Di mana mereka?” oma menanyakan keberadaan anak- anak Mrs. Pattie.
“Mrs. Laurent this is my children! This is my son!” Mrs. Pattie menunjuk Justin. “And this is My daughter!” kemudian Mrs. Pattie menunjuk ke arah Jazzy. “Justin… Jazzy… kenalkan, ini Mrs. Laurent. Beliau adalah teman lama nenek kalian saat di Canada!”
Dengan ramah Justin dan Jazzy menyapa dan menjabat tangan oma. “Hy, Mrs. Laurent!”
“Anak- anakmu sangat menggemaskan, Pattie!”
Menggemaskan??? Apa oma tidak salah menilai Justin? Dia menggemaskan? Ahhh… yang benar saja! Aku berargumen sendiri di dalam hati.
Akhirnya oma mengundang Justin dan keluarganya untuk menginap beberapa hari di rumah. Oma ingin menghabiskan waktu untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang kehidupan Mrs. Pattie. Mrs. Pattie menyetujui undangan oma, karena memang saat ini Justin sedang tidak ada jadwal manggung dikarenakan persiapan tour konsernya yang akan dimulai bulan depan. Makanya, untuk saat ini dia free. Dan waktu kosong ini digunakan Mrs. Pattie untuk mengajak Justin sekeluarga berlibur ke waterpark yang awalnya dia tidak mengetahui jika waterpark itu milik oma.

PART 14
Rombongan keluarga Bieber yang terdiri dari Mrs. Pattie, Justin, Jazzy, Kenny, Scooter, dan Carin (pacar Scooter) diterima sangat baik oleh Papa dan Auris yang saat itu sudah sampai di rumah. Sebelumnya mereka berdua memang sedang ke luar rumah. Entah pergi kemana.
Jelas saja diterima sangat baik, Mrs. Pattie kan teman lama papaku, sementara Justin? Justin adalah idola kakakku. Aku benar- benar muak melihat ekspresi Auris begitu mengetahui jika Justin dan keluarganya akan menginap di rumah untuk beberapa hari ini.
“Grandma,,, Are you serious?” tanya Auris tak percaya saat keluarga Bieber dan Keluargaku berkumpul di ruang tengah. Oma hanya mengangguk pasti. “Awww… I’m so happy now!”
Tingkah Auris benar- benar sangat memalukan buatku. Tetapi tidak untuk semuanya. Keluarga Bieber malah tersenyum melihat tingkah Auris yang begitu histeris.
Aku memilih menunjukkan kamar Mrs. Pattie yang terletak di lantai dasar dekat dengan ruang tengah. Di kamar itu Mrs. Pattie akan tidur bersama Jazzy. Menurutku Jazzy masih terlalu kecil untuk tidur di sebuah kamar seorang diri.
“Hari ini menunya apa. Mrs. Mitchie?” tanyaku pada Mrs. Mitchie, juru masak keluarga Hawkins yang tengah sibuk menyiapkan makanan.
“Hari ini menu special, Cupcake!” jawabnya ringan.
“Hmmm… biar ku tebak, menu special yang ditujukan untuk keluarga Bieber, right?” tebakku yang kemudian memilih membantu Mrs. Mitchie meniriskan spaghetti. “Kenapa seisi rumah ini harus heboh hanya karena keluarga Bieber menginap?”
“Apa menurutmu ini tidak heboh jika seorang Justin Bieber bisa menginap di sini?” kali ini Mrs. Mitchie menatap heran ke arahku.
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku bukan Auris yang begitu memuja seorang Justin Bieber. Ini sesuatu yang biasa saja bagiku!”
“Caris… bisakah kau mengantarkan handuk ini ke kamar Justin?” suruh Auris yang datang tiba- tiba.
“Kenapa bukan kau saja? Bukannya kau senang bisa bertemu dengan idolamu itu?”
“Come on, Car! Help me, please! Aku sudah tidak tahan untuk pergi ke toilet!” suara Auris melemah. Kulihat dia memegangi perutnya. Aku mengerti maksudnya.
“Baiklah!” aku langsung merebut handuk di tangan Auris.
“Kamar Justin terletak di lantai tigaaaaaaaaaa…. “ suara Auris mulai menjauh dan tak terdengar lagi.
Aku berjalan gontai menuju lantai tiga. Malas sekali aku menghampiri kamar Justin. Ketika sampai di lantai tiga, aku terdiam. Aku baru menyadari jika Auris hanya memberikan clue jika kamar Justin berada di lantai tiga. Auris tidak menjelaskan secara detail letak kamar Justin yang sebenarnya. Aihhh… bodoh sekali aku ini! Kenapa baru menyadari hal ini?
Aku bingung harus memulai dari kamar yang mana. Karena di lantai tiga terdapat lima buah kamar kosong yang memang disediakan untuk para tamu. Lalu kulihat salah satu kamar dari kelima kamar pintunya terbuka. Aku putuskan untuk mengecek kamar itu. Kali saja itu kamar Justin.
“Justin… apakah kau di…” aku tidak meneruskan kalimatku. “O… Ow…” ujarku nyengir ketika melihat siapa penghuni kamar itu. Aku melihat Scoot dan Carin saat itu sedang melakoni adegan di mana anak seumurku belum diperbolehkan menonton ataupun melakukannya (penulis harap, pembaca jangan negative thinking dulu ya :’D). yaa… saat itu aku sedang mendapati Scoot tengah berciuman dengan sang pacar, Carin. “Maaf, aku salah memasuki kamar ini! Silahkan lanjutkan lagi!” jawabku polos dan langsung ke luar dari kamar itu.
“Bodoh… bodoh…! Caris… lihat apa yang kau lakukan? Seharusnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar itu!” aku terus melontarkan umpatan terhadap diriku sendiri. Sampai- sampai aku tidak tersadar jika ada seseorang berdiri di hadapanku. Karena aku tidak melihatnya, aku pun menabrak orang itu.
BRUKKK… aku dan orang itu terjerembab ke lantai bersamaan. Tubuhku tampak menindih tubuh orang itu. Dan parahnya, kini bibirku dan bibir orang itu yang ternyata adalah seorang laki- laki tengah beradu. Ya… secara tak sengaja kami melakoni adegan yang baru saja Scooter dan pacarnya lakukan.
Menyadari hal ini, aku bergegas bangkit.
“Apa- apaan kau ini! Kau… kau… sengaja ingin melakukan ini denganku ya!” ucapku ketika mengetahui siapa orang yang baru saja ku tindihi.
“Apa yang kau katakan? Jelas- jelas kau yang menabrakku dan kau juga yang menindih tubuhku? Apakah ini terlihat seperti aku yang melakukannya?” jawab Justin tak terima. Justin… ya… baru saja aku melakukan adegan dewasa itu bersama Justin.
“Ada apa ini?” tanya Scooter yang muncul bersama Carin dari kamar sebelah. Hmphhh… nampaknya mereka telah selesai melakukan adegan dewasa itu.
“Ng… Ng… tidak ada apa- apa kok. Aku hanya mengantarkan handuk ini pada Justin.” Aku menutupi apa yang baru saja terjadi antara aku dan Justin. God… semoga saja tidak ada satu orangpun yang melihat kejadian memalukan itu. “Mmphh… kalau begitu aku kembali ke bawah dulu. Jika kalian memerlukan sesuatu, beritahu saja aku dan Auris!” ucapku gelagapan.
*****

“SIALLL… dia telah mencuri first kiss ku!” umpatku setelah sampai di dalam kamar. “Bagaimana ini bisa terjadi? Caris… lihat apa yang kau lakukan? Kau melepaskan first kissmu begitu saja karena kebodohanmu! Bahkan kau melakukan ini dengan laki- laki yang tak kau sukai!” aku masih saja menyalahkan diriku sendiri.
Aku benar- benar tidak dapat menerima kenyatan ini. Aku melakukan adegan dewasa itu sebelum aku genap berusia 17 tahun.
Aku mematutkan diriku di depan cermin. “You’re stupid GIRL!” aku mengusap bibirku dengan telapak tanganku.
*****

Kakiku begitu berat sekali untuk berjalan dan menemui semua penghuni rumah yang saat ini tengah sibuk dengan pesta kecil- kecilan untuk menyambut keluarga Bieber. Langkahku sempat terhenti ketika aku melihat Justin yang tengah duduk di salah satu kursi meja makan. Dia menatapku sembari memamerkan senyum liciknya. Hmmm… Aku rasa ia sedang merencanakan sesuatu.
Aku benar- benar tidak bersemangat untuk menghabiskan makanan yang terhidang di hadapanku. Sedari tadi makanan itu hanya ku koyak- koyak sampai tak beraturan.
“What happend, Cupcake? Are you sick?” papa tampak cemas melihat tingkahku. Dengan cepat dia menempelkan telapak tangannya ke atas dahiku. “Suhu badanmu tidak panas.”
“I’m not sick, Dad! Hanya saja saat ini aku sedikit kenyang.” Ujarku yang sesekali melirik ke arah Justin. Ya… aku khawatir jika Justin menceritakan kejadian memalukan tadi siang terhadap papa, oma, dan yang lainnya.

PART 15
Selesai acara makan malam, aku dan Auris membantu Mrs. Mitchie membersihkan sisa- sisa makanan yang berserakan di atas meja makan. Setelah itu kami mencuci peralatan yang baru saja dipakai.
Krunyukkk… krunyukkk… krunyukkk… cacing di dalam perutku mulai berdemo. Ini menandakan perutku perlu diisi sesuatu. Lalu kulihat masih tersisa satu porsi spaghetti tergeletak begitu saja di atas meja dekat lemari es.
“Ini milikku!” ujar Auris yang secara bersamaan juga memegangi piring yang berisi spaghetti.
“Jelas- jelas aku duluan yang menemukannya. Singkirkan tanganmu dari piring ini. I’m very hungry now! Dan aku ingin memakan makanan favoritku ini!” kataku tak mau kalah.
“Siapa suruh kau tidak memakan makananmu saat makan malam tadi! Aku juga lapar setelah membereskan semuanya dan membantu Mrs. Mitchie!”
Auris masih saja tidak mengikhlaskan sepiring spaghetti itu untukku. Ahaaa… aku tau apa yang harus ku lakukan. “Justin…!!! What are you doing here?” perkataanku ini benar- benar membuat Auris mengalihkan pandangannya dari spaghetti itu. Lalu dengan cepat aku merebut piring itu dan membawanya kabur melewati pintu dapur.
“Jusss… tin… di mana dia?” Auris masih mencari keberadaan Justin. Dia pun kembali hendak menatapku. Namun sayang, sepiring spaghettinya sudah ku bawa kabur. “CARISSS… kau manusia menyebalkan! AWAS KAU!!!”
Dari kejauhan aku tertawa geli melihat tingkah laku kakakku. Apa aku bilang… dengar nama Justin saja dia pasti hilang konsentrasinya terhadap spaghetti ini.
“Spaghetti ini akan menjadi milikku jika kau tidak dapat mengejarku!” tiba- tiba Justin muncul dan merebut sepiring spaghetti itu dari tanganku. Ia berlari menjauhiku menuju taman belakang sembari menjulurkan lidah ke arahku.
“Justinnnn… kembalikan spaghetti ku!!!” aku berlari mengejar Justin. Makhluk satu itu benar- benar menyebalkan. Selalu saja mengganggu hidupku.
Ku arahkan pandanganku untuk menelusuri setiap sudut taman mencari keberadaan Justin. Dan akhirnya aku menemukannya sedang duduk seorang diri di sebuah bangku dekat kolam air mancur buatan.
“Duduklah!” ujarnya ketika melihat kedatanganku.
Aku hanya diam dan enggan melangkah satupun untuk menghampirinya.
“Kau lebih memilih duduk di dekatku atau…” perkataan Justin terpotong. “Atau aku akan menceritakan kejadian tadi siang kepada papamu.” Lanjutnya sembari tersenyum licik ke arahku.
Aku benar- benar dibuat tak berkutik olehnya. Dengan berat hati aku pun langsung duduk di sampingnya.
“Sudah kuduga, kau pasti menuruti perkataanku jika ku singgung masalah tadi siang.” Aku masih terdiam. Sebenarnya aku masih malu untuk bertemu dengan Justin setelah kejadian itu. “Ini spaghettimu! Makanlah!” kemudian ia menyodorkan sepiring spaghetti itu kehadapanku.
“I’m not hungry, now!” jawabku datar dan tidak mengindahkan spaghetti di hadapanku.
Krunyukkk… krunyukkk… krunyukkk… aihhh… lagi- lagi cacing di dalam perutku berbunyi. Benar- benar tidak bisa diajak kompromi!
Justin tersenyum mendengar bunyi perutku yang keroncongan. “Makanlah! Aku tau kau sangat lapar.”
Tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengambil garpu dan menyantap spaghetti itu dengan lahap. Sampai- sampai aku tidak menyadari jika Justin masih menatap ke arahku.
“Kau memakan spaghetti itu terlalu lahap, My Baby!” dengan lembut Justin menghapus sauce yang berada di dekat bibirku dengan ibu jarinya.
Deghhh… nafasku terasa sesak ketika wajahku dan Justin saling berdekatan. Jika dapat diperkirakan jaraknya + hanya 5 cm. Aku hanya bisa terdiam mematung menghadapi situasi itu.
“Aku… rasa aku sudah kenyang!” aku mengakhiri situasi yang tak nyaman ini dan mendorong tubuh Justin agar menjauhi ku.
“Aku rasa kau tak perlu bersikap seperti ini karena kejadian itu. Itu hanya sebuah kecelakaan. Dan itu wajar.”
“Wajar? Wajar menurutmu, tapi tidak untukku. Aku melakukannya di saat umurku belum genap 17 tahun. Ini sangat- sangat tidak wajar di negaraku. Kau tau, kau telah mencuri ciuman pertamaku. Karena kejadian itu, sekarang bibirku tidak perawan lagi karena dicium olehmu!” perkataanku kali ini benar- benar membuat Justin tertawa lepas.
“Hahahahahahaha…..”
“Kau... kenapa kau tertawa? Apa ini terlihat lucu?” aku mendengus kesal.
“My Baby, Listen to me! Kejadian itu murni kecelakaan yang tak disengaja. Dan aku pikir… bibirmu masih perawan kok!” lanjut Justin masih dengan tawanya yang lepas.
Izzz… orang ini benar- benar menyebalkan. Aku memilih masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Justin seorang diri di taman yang masih sibuk tertawa.
*****

Malam ini imsomnia melanda diriku. Daritadi aku hanya berguling- guling tak karuan di atas tempat tidur mencari posisi nyaman untuk terlelap. Alhasil… setelah berjam- jam aku pun masih terjaga.
Tok… tok… tok… terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku yang menuju ke arah balkon. Bayangan orang itu sangat jelas dapat ku lihat dari gorden ungu transparan yang menutupi pintu itu.
“Siapa itu?” tanyaku dengan langkah pelan menghampiri pintu itu. Namun, orang itu tak menjawab pertanyaanku.
Ku buka perlahan gorden yang menutupi pintu yang terbuat dari kaca itu. Dan…
“Hy!!!” Justin melambaikan tangan ke arahku.
 “Jus… Justin!!! Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran kemudian memilih membuka pintu dan segera menemui Justin di balkon kamarku. “Bagaimana bisa kau ada di sini?” tanyaku penasaran. Ku alihkan pandanganku ke anak tangga yang masih menempel di pembatas balkonku. “Kau benar- benar sudah gila! Bagaimana jika ada yang tau keberadaanmu di sini?” aku tak berhenti nyerocos sembari mengamati sekitar memastikan jika tidak ada orang  yang melihat keberadaan Justin.
“Kau sangat cerewet!” Justin menarik tanganku dan mengajakku duduk di bangku yang terletak di balkon kamarku. “Aku hanya mencari teman untuk menemaniku yang tak bisa tidur malam ini!” lanjutnya dengan tatapan lurus ke atas langit.
“Jika kau mencari teman untuk menemanimu begadang, silahkan cari orang lain, jangan aku!”
“Sutttt… kecilkan suaramu! Suaramu bisa membuat semua penghuni rumah ini bangun.” Justin menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri dengan tatapan masih memandangi langit.
“Terserah kau saja! Jika kau memang masih ingin di sini, silahkan! Aku akan melanjutkan mimpiku yang terganggu olehmu!” aku bangkit dari dudukku, namun justin dengan sigap menarik tanganku sehingga aku kembali lagi duduk di bangku itu.
“Kau harus menemaniku malam ini. Jika tidak…”
Aku mengerutkan keningku. “Apa?”
Kini Justin mengalihkan pandangannya ke arahku. “Jika tidak aku terpaksa jujur terhadap papamu tentang kejadian siang itu. Bagaimana?”
“Kau mengancamku?” tanyaku masih dengan ekspresi datar. “Kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu?”
“Apakah aku terlihat seperti mengancammu? Aku hanya ingin kau menemaniku di sini.” Kini Justin kembali menatap langit namun dengan posisi tangannya menyilang dan menggandeng lenganku.
“Lepaskan tanganku!” aku mencoba mengontrol suaraku.
Justin menggeleng. “Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau selesai menemaniku malam ini.”
Tidak ada gunanya berdebat dengan Justin di saat seisi rumah sedang terlelap. Huft, manusia satu ini benar- benar membuat hidupku rumit. Dari mana dia tau balkon kamarku???

PART 16
Aku dan Justin hanya duduk terdiam menatap ke arah langit yang saat itu hanya ditemani dengan beberapa bintang.
“Sebenarnya apa yang kau lihat? Lihatlah, tidak ada yang special di atas sana! Bulan hanya memancarkan sedikit sinarnya, sementara bintang yang bermunculan pun sedikit.”
“Aku melihat satu bintang yang bersinar sangat terang.” Jawab Justin.
“Kau aneh! Jelas- jelas bintang- bintang yang bermunculan di atas sana tidak memancarkan sinarnya!”
“Bintang itu tidak ada di atas sana.”
“What do you mean?” aku terkejut setelah mengetahui saat itu Justin tengah menatapku.
“Bintang yang ku maksud adalah kau!” kemudian mata kami saling bertemu dan membuat kami saling bertatapan.
“Okay… I think is enough! Sebaiknya kau cepat pergi dari sini!” aku mengakhiri situasi yang kubenci itu dengan menarik lengan Justin agar segera beranjak dari duduknya.
Tapi sayangnya… PRAKKK… tak sengaja aku menyenggol anak tangga yang tadi menempel pada pembatas balkon kamarku. Kini anak tangga itu jatuh ke bawah dan menimbulkan kebisingan.
Karena hal itu, ku lihat lampu kamar sebelah yang merupakan kamar Auris menyala. Dengan cepat ku tarik tangan Justin agar mengikuti ku masuk ke dalam kamar.
Dari balik gorden ku intip Auris sedang ke luar balkonnya untuk mengecek sumber suara tadi.
“Owhh… hanya anak tangga!” gumamnya setelah melihat anak tangga di bawah. Kemudian dia masuk lagi ke dalam kamarnya.
“Kau harus segera ke luar dari kamarku!” aku kembali menarik tangan Justin bermaksud mengeluarkannya dari pintu kamar.
Ahhhh… sial! Ternyata papa saat itu belum tidur dan masih meneruskan pekerjaanya di ruang tengah.
“Lihatlah perbuatanmu! Jika papa mengerjakan itu di ruang tengah, bagaimana bisa kau kembali ke kamarmu?” papa duduk di sofa yang tepat berada di samping anak tangga menuju lantai tiga. Aku kembali mengunci pintu kamar dan memutuskan untuk malam ini Justin tidur di kamarku. “Kau bisa tidur di sofa atau di lantai. Ambilah!” aku menyodorkan sebuah bantal dan selimut ke arahnya. “Jangan berisik dan jangan mengganggu tidurku!” ucapanku hanya dibalas senyuman oleh Justin.
*****

Semilir angin dapat ku rasakan dari celah jendela kamarku. Aku pikir pagi ini sangat cerah. Perlahan- lahan ku buka mataku untuk menatap dunia.
“Aaaaaaaaaa…..!!!” teriakku histeris ketika ku lihat Justin berbaring di sampingku.
“Cupcake… what’s going on? Are you ok?” suara oma terdengar dari balik pintu kamarku.
“Nothing, Grandma! Barusan itu hanya ucapan selamat pagiku pada dunia. Memang terkadang aku suka melakukan hal ini di Indonesia.” Aku harus berbohong pada oma.
“Baiklah. Cepatlah ke luar, kami menunggumu di ruang makan!” tap… tap… tap… suara kaki oma tampak menjauh dari kamarku.
“Apa yang kau lakukan di tempat tidurku?” tanyaku setelah oma menjauhi pintu kamarku.
“Semalam aku kedinginan tidur di lantai, makanya aku putuskan untuk tidur di sampingmu.” Jawab Justin santai.
Aku melirik tubuhku sendiri, memastikan jika semalam Justin tidak berbuat macam- macam terhadapku.
“Tenang saja, semalam aku tidak menyentuhmu seujung jaripun! Jadi kau masih perawan, kok! Jika aku ingin meniduri wanita, ku rasa kau bukan wanita pertama yang harus ku tiduri karena kau bukan tipeku!”
PLETAKKK… aku mendaratkan telapak tanganku ke lengan Justin. “Kau itu benar- benar pria yang menyebalkan! Kenapa kau selalu mengganggu hidupku?”
“Auwww… hentikan Caris! Kau menyakitiku!” Justin meringis kesakitan. Aku menghentikan hujan pukulan yang kubuat. “Kau ini kenapa? Sudah ku katakan semalam aku tak menyentuhmu. Itu tandanya kau masih perawan, bukan? Lalu kenapa kau memukul ku?” lanjutnya masih meringis kesakitan.
“Kau ini… masih saja tidak menyadari kesalahanmu! Cepat ke luar dari kamarku atau aku akan… “ aku mengambil sebuah buku yang berada di atas meja di samping tempat tidurku.
“Ok… ok… aku ke luar! Letakkan buku itu, ok!” Justin ke luar dari kamarku dengan tergesa- gesa.
*****

Setelah sarapan bersama- sama, oma mengajak kami dan keluarga Bieber untuk menghabiskan waktu di Waterpark milik keluarga Hawkins. Namun di tengah perjalan…
“Carisss!!!” suara seorang laki- laki yang ku kenal menghentikan langkahku. Kemudian laki- laki itu menghampiriku dan memelukku. “Miss you, Cary!!!”
“Nicky?” aku melepaskan pelukan itu. “Benarkah ini dirimu?” laki- laki itu mengangguk. “Bagaimana bisa kau ada di sini?” aku mulai tersenyum ketika mengetahui kedatangan sahabatku.
“Aku yang memberitahunya!” celah Auris.
“Sebenarnya aku ingin memberikan kejutan untukkmu dengan cara tidak memberitahumu jika aku akan mengunjungimu di sini!” Nicky menambahkan.
“Lebih baik kita melanjutkan obrolan ini di waterpark, come on!” Auris menengahi.
Aku mengajak Nicky untuk turut bersama kami ke waterpark milik oma. Sebelumnya aku memperkenalkan Nicky kepada semuanya.
“Kau benar- benar Justin Bieber kan?” itu ekspresi Nicky ketika menyadari jika seorang Justin Bieber hadir di tengah- tengah kami.
Nicky merupakan teman sekelasku. Cowok keturunan Korea- Manado ini sudah cukup lama memendam perasaan terhadap kakakku, Auris. Makanya, tak heran jika sedari dulu dia selalu saja mencoba menarik perhatian Auris. Nicky mengunjungiku di Atlanta karena saat ini dia sedang berlibur di rumah bibinya yang terletak di Dallas, Texas.
Kini  kami berada di dalam tempat wisata kolam ikan mas. Nah, di sini oma membuat game agar suasana liburan keluarga Bieber berkesan.
“Dalam permainan ini kita memerlukan 3 kelompok yang terdiri dari dua orang.” Oma menjelaskan peraturannya. “Tim yang paling banyak mendapatkan ikan mas dengan cara memancing itu merupakan tim yang menang. Satu tim terdiri dari satu orang laki- laki dan satu orang perempuan.”
Oma ada- ada saja membuat peraturan. Hah untung saja ada Nicky. Jadi ku rasa aku bisa satu tim dengannya.

PART 17
“Aku satu tim dengan Justin saja!” Auris melingkarkan lengannya ke lengan Justin. Ku lihat raut wajah Nicky berubah masam. Ya… ya… aku mengerti apa yang harus ku lakukan. Begini nich jika mempunyai sahabat yang suka dengan saudara sendiri!
“Aku rasa akan timpang sekali jika kau satu tim dengannya. Kalian kan sangat mahir dalam hal memancing. Sementara aku dan Nicky bisa dikatakan tidak tau- menahu masalah dunia memancing. Bagaimana jika kau satu tim dengan Nick?”
Auris tampak masih memikirkan perkataanku. “Baiklah jika begitu!” lanjutnya dengan sedikit tak bersemangat. Ku lirik Nicky, senyum mulai tersungging di wajahnya.
“Caris… you are my best friend! Thanks!” bisik Nicky padaku.
“Sudah cukup lama kau membuang- buang waktu. Sekarang saatnya kau nyatakan semuanya. Jangan kau lewatkan kesempatan ini, ok!” aku berbalik berbisik kepada Nicky.
Akhirnya terpilih tiga tim. Untuk tim A terdiri dari Aku dan Justin, tim B terdiri dari Scooter dan Carin, dan tim C terdiri dari Auris dan Nicky. Lagi- lagi aku harus bersama Justin. Tapi kali ini tidak menjadi masalah buatku karena aku melakukan ini demi bersatunya Nicky dan Auris.
Kini ketiga tim telah menempati posisi dan bersiap untuk melempar kail yang telah diberi umpan.
“Satu… Dua… Tiga… MULAI!!! Prittt…” Kenny meniup sebuah peluit pertanda jika lomba pun di mulai.
BYURRR… ketika kail dari ketiga tim masuk ke dalam kolam bersamaan dengan bunyi peluit yang ditiup oleh Kenny.
Ku lihat Nicky mulai merencanakan niatnya untuk menyatakan perasaanya kepada Auris. Sesekali mereka berdua tampak bercanda.
“Kau menyukainya?” pertanyaan Justin mengalihkan pandanganku.
“Siapa yang kau maksud? Nick?” Justin mengangguk menjawab pertanyaanku. “Nicky adalah sahabatku sejak SMP. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Jadi tidak mungkin aku menyukainya.”
“Owhhh… syukurlah kalau begitu!” jawab Justin refleks.
“Apa? Bisakah kau mengulangi perkataanmu?”
“Hahhh… tidak… aku barusan mengatakan jika sebaiknya kau lebih berkonsentrasi kepada kail kita! Bukannya malah asyik memandangi kemesraan mereka berdua!”
Tak lama stick pancing milk tim ku bergerak ini menandakan umpan yang dipasang berhasil masuk ke dalam mulut sang ikan. Susah payah aku dan Justin menarik tali pancing DAN……  yang kutemukan hanyalah sisa potongan tubuh cacing yang kami gunakan sebagai umpan.
“Lihatlah, ini semua karena ulahmu! Seandainya saja kau lebih berkonsentrasi, mungkin kita sudah mendapatkan ikan itu!” Justin menyalahkanku.
“Can I asking something to you?” pertanyaan ku membuat Justin penasaran. “Mengapa kau sangat menyebalkan?” lanjutku tegas. “You must answer it!”
“Pertanyaan yang konyol dan tidak masuk akal. Aku rasa aku merupakan salah satu orang yang menyenangkan yang ada di dunia.” Jawabnya penuh percaya diri. “Apa kau pikir kau tidak menyebalkan?” Justin balik bertanya padaku.
“Jangan pernah melimpahkan kesalahanmu padaku! Kau bisa lihat sendiri kan semalam ulahmu benar- benar membuat geram. Apa kau tidak menyadari kesalahanmu?”
“Jadi kau pikir semalam itu adalah salahku? Coba kau pikir kembali, seandainya kau tidak menjatuhkan anak tangga itu, mungkin semalam aku tidak akan tidur sekamar denganmu!” perkataan Justin kali ini membuatku berpikir. “Ini semua bukan hanya kesalahanku saja, tetapi kesalahanmu juga!”
“Yeee… dapat satu ekor lagi! Nick, Kau hebat!” seru Auris senang. Kulihat kedua tim lawan mulai mengisi ember tim mereka dengan ikan mas hasil pancingan mereka. Sementara dengan ember timku? NIHIL… ember milik timku tak terisi dengan seekor ikan mas satupun.
“Interupsi!!! aku rasa lomba seperti ini sangat membosankan dan hasil yang didapat pun tidak maksimal! Aku punya ide lain untuk lomba ini!” aku mengacungkan tangan kananku layaknya orang yang akan berdemo.
“Apa idemu itu, Cupcake?” tanya oma.
Aku berjalan mendekati tim lawan, tim B dan tim C. Lalu ku rangkul pundak Auris dan Carin, dan… BYURRR… aku menceburkan diri ke dalam kolam yang penuh ikan mas bersama Carin dan Auris.
Di dalam kolam Auris dan Carin loncat- lancat tak karuan karena merasa geli akan hadirnya ikan mas di tengah- tengah mereka.
“Caris… ide yang bagus!!!” Scoot tampak sepaham dengan ideku kemudian dia bersama Justin dan Nicky ikut menceburkan diri juga.
“Nah, begini kan lebih baik!!!” oma mengacungkan jempol ke arahku. Aku hanya tersenyum. Lalu ku hampiri Nicky yang tengah sibuk menemani Auris yang ketakutan karena dikerubungi ikan mas. “Pssttt… kemari!” aku meminta Nicky menghampiriku dan menjauh sebentar dari Auris. “Kau ingin menyatakan perasaanmu pada kakakku kan?” tanyaku yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Nicky. “Good! Jangan menangkan perlombaan ini!”
“Apa kau sadar dengan perkataanmu? Auris sangat menginginkan jika timku menang.”
“Heyy… jika kau kalah kau akan mempunyai banyak waktu untuk menyatakan perasaanmu pada Auris. Oma telah menyiapkan hukuman untuk tim yang kalah, yaitu membakar ikan berdua dan menyiapkan makan malam. Bukankah itu moment yang sangat romantis untukkmu?” kemudian Nicky tersenyum.
“Thanks, Cary!” Nicky kembali menghampiri Auris yang masih kewalahan. Begitu juga aku yang harus menghampiri dan membantu Justin untuk menangkap ikan itu.
Ku lihat ember milik timku sudah cukup banyak dengan ikan mas. Wowww… Justin tampak semangat sekali menangkap ikan mas di dalam kolam. Tidak… ini tidak boleh terjadi. Aku tidak menginginkan jika timku menang. Aku tak sudi jika memenangkan perlombaan ini bersama Justin.
“Hey… kau lihat ikan ini!” aku mengambil seekor ikan mas di dalam ember milik timku. Kemudian Justin menghampiriku. “Ikan ini tampaknya sedang sakit. Kasihan sekali jika harus dipanggang.” Aku pun melepaskan ikan itu agar kembali ke dalam kolam. “Ini juga… dan… yang ini juga… satu lagi…!” aku melepaskan beberapa ekor ikan mas yang terdampar di dalam ember tim ku.
“Apa semua ikan itu menurutmu sedang sakit? Kenapa kau tak melepaskan semua ikan di dalam ember itu? Aku sudah bersusah payah mengambil ikan itu!” sungut Justin kesal karena kelakuanku.
Ckckck… aku benar- benar ingin tertawa melihat ekspresi wajah Justin yang benar- benar sangat aneh.
“Tenang, Justin! Don’t panic, ok! Aku akan membantumu mencari ikan yang masih sehat!” lalu kualihkan pandanganku untuk menangkap ikan mas lagi.

PART 18
Tak terasa sejam pun berlalu. Ini tandanya perlombaan telah usai.
“PRITTT…!” Kenny kembali meniupkan peluitnya. “Sekarang letakkan ember dari masing- masing tim di atas meja.”
Kemudian dari tiap tim mengumpulkan ember yang berisi ikan mas. Ember milik tim B tampak penuh. Lalu ku lirik ember milik tim C, good… hasil yang mereka kumpulkan tidak banyak. Itu berarti Nicky mengikuti ucapanku.
“Tim A mengumpulkan 8 ekor ikan mas, sedangkan tim B mengumpulkan 17 ekor ikan mas…” Kenny mulai mengumumkan hasilnya. “Dan tim C hanya mengumpulkan 4 ekor ikan mas. Pemenangnya adalah tim B dan berhak menerima hadiah yaitu Scoot dan Carin akan mengunjungi dan makan sepuasnya di toko cake milik Mrs. Hawkins. Kalian berdua juga bisa privat untuk membuat cake di sana. Dan untuk tim C harus menerima hukuman, yaitu menyiapkan makan malam untuk kita semua dibantu dengan juru masak rumah makan keluarga Hawkins.”
Aku hanya senyum- senyum sendiri. Yeee… selangkah lagi Nicky akan menyatakan perasaannya pada Auris. Fuihhh… untung saja semalam aku sempat mendengar percakapan oma dan papa tentang perlombaan ini. Maaf, Oma! hehehe…
“Heh… kenapa kau senyum- senyum sendiri? Pemenangnya itu Scoot dan Carin. Bukan kita!” Justin menyikut lenganku.
“Kau pikir aku mau melakukan kunjungan gratis itu hanya berdua denganmu? Tidak…!” jawabku sembari menjulurkan lidah ke arah Justin dan bergegas menghampiri Scoot dan Carin untuk memberikan selamat atas kemenangan mereka.
*****

Malamnya, semua berkumpul di rumah makan milik oma. Sementara Auris dan Nicky tengah berada di taman belakang restaurant sibuk memanggang ikan mas untuk makan malam kami semua.
Dari balik semak- semak ku intip mereka berdua. Aku lebih memilih bersembunyi di antara semak- semak agar aku dapat mendengar apa saja percakapan mereka.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Justin yang sudah berada di sampingku. Lalu dengan cepat ku tarik dirinya agar menunduk dan membekap mulutnya dengan telapak tanganku.
“Suttt!!!” aku menempelkan telunjuk jariku ke bibirku sendiri. “Kecilkan suaramu!” pintaku. Lalu kulepaskan bekapan itu dari Justin. “Jika tidak kau akan mengacaukan semuanya!” lanjutku yang kembali mengamati gerak- gerik Auris dan Nicky.
Tangan Auris dan Nicky tampak beradu ketika mereka akan mengambil sebuah piring.
“Ma… maaf!” ucap Nicky sedikit gugup.
“It’s ok, Nick!” respon Auris. “Nick, maafkan aku ya! Karena aku tim kita jadi kalah.”Auris merasa bersalah atas kekalahan timnya.
“Auris… ini bukan kesalahanmu! Hanya saja dewi fortuna belum berpihak pada kita!” Nicky berusaha menenangkan Auris. Sejenak mereka berdua saling memandang. “Mmmm… Auris, can I telling something to you?” lanjut Nick sedikit gugup.
“Yeah… what?”
“Auris… dengarkan aku! Saat ini aku sedang jatuh cinta.” Perkataan Nicky membuat Auris sangat antusias untuk mengetahuinya.
“Really? Heyyy… ceritakan padaku siapa gadis beruntung yang berhasil memikat hatimu?” pertanyaan Auris yang kedua membuatku menepuk jidatku sendiri.
“Awww…” aku meringis. Justin hanya memandangku heran. “Bodoh sekali anak itu! Masih tak menyadari jika gadis yang Nick maksud adalah dirinya!”
“Suttt… berisik!” ujar Justin yang kemudian kembali mengintip Auris dan Nicky.
“Ng… ng… gadis itu… sebenarnya gadis itu tak jauh dariku!” Nicky masih bertele- tele.
“Benarkah gadis itu malam ini ada  di sini? Who is she?”
“Dia… dia…”
“Ayolah, Nick! Jangan membuatku penasaran!” Auris mulai tak sabar untuk mengetahuinya.
Keringat mulai bercucuran dari dahi Nicky. “Gadis itu… adalah… dirimu!” akhirnya Nicky mengakui siapa gadis yang dicintainya.
“Aku?” tanya Auris sambil menunjuk dirinya sendiri. Nicky mengangguk. “Nick, don’t joke with me. It’s not funny!”
“Sejak awal masa SMP, aku sudah menyukaimu. Cukup lama aku menyimpan perasaanku padamu. Baru sekarang aku mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya.”
“Kenapa kau menyukaiku?”
“Karena aku suka semua yang ada pada dirimu. Aku suka disaat kau tengah asyik membaca buku di perpus. Aku suka disaat kau berebut spaghetti dengan Caris. Aku suka melihat dirimu yang sedang kesal jika Caris telat menjemputmu seusai bimbel. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu, Auris. Aku mencintaimu apa adanya!” kemudian Nicky mengenggam kedua tangan Auris.
“Sebegitu tahunya kau akan semua yang ku lakukan?” mata Auris mulai berkaca- kaca. “Kenapa kau tak mengatakannya sedari dulu, Nick? Kenapa kau menyimpan perasaanmu begitu lama terhadapku?”
“Karena aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya.” Kemudian Nicky menempelkan kedua telapak tangannya ke wajah Auris. “Would you to be my girlfriend?” Nicky menatap wajah Auris penuh harap.
“Tentu saja, Nick!” Auris pun meneteskan air matanya.
“Hey, jangan menangis di depanku! Aku tidak suka jika My Princess yang satu ini menangis di depanku.” Nicky menyapu air mata Auris dengan ibu jarinya. “I love you, Aurista!”
“I Love You too, Nick!” jawab Auris.
Kemudian Nicky mendekatkan wajahnya ke arah Auris. Dekat… dan semakin dekat… aku kelabakan melihatnya.
“A… apa yang akan dilakukan Nicky terhadap kakakku?” aku mulai panik.
“Sebentar lagi kau pasti akan mengetahuinya.” Celetuk Justin sambil tersenyum.
Kini bibir Nicky menyentuh bibir kakakku. Tak ku sangka ternyata Auris tak berontak sedikitpun.
“Ku rasa kau tidak pantas melihatnya!” kemudian Justin melingkarkan lengan kirinya untuk menutup pandanganku dengan telapak tangannya.
“Apa- apaan kau ini! Singkirkan tanganmu dari pandanganku!” aku mencoba berontak tetapi Justin cukup kuat untukku kalahkan.
“Kau itu belum cukup umur untuk melihat adegan itu!”
“Justin… aku sudah dewasa dan kini aku berumur 15 tahun! Jangan menganggapku anak kecil!”
“Owh… begitu! Baiklah!” Justin melepaskan telapak tangannya yang menutupi kedua mataku. “Lihatlah, mereka berdua sangat menikmatinya! Cool… I think Nicky is the best kisser!” aku tak menanggapi perkataan Justin.
Aku lihat Auris dan Nick masih melakukan adegan dewasa itu. Aku heran, kenapa Auris tak meronta sedikit pun. Sebenarnya apa yang ada di otak mereka berdua hingga melakukan adegan itu cukup lama.
Lima menit kemudian… Nicky mulai melepaskan bibirnya dari bibir Auris.
“Mmmm… sebaiknya kita membawa ikan mas ini ke dalam sebelum semuanya menjadi dingin!” ku lihat wajah Nicky sumringan sekali. Auris mengiyakan ajakan Nicky untuk masuk ke dalam restaurant. Mereka berdua pun melangkah pergi.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam restaurant, aku bangkit dari tempat persembunyianku. Namun, lagi- lagi Justin menarik tanganku hingga aku jatuh ke dalam pelukannya.
“Benarkah kau sudah dewasa?” tanyanya masih dengan posisi duduk sembari menopang tubuhku.
“Kau pikir aku ini anak kecil apa? Kau tidak bisa lihat aku sebesar ini? Aku bukan anak kecil, Mr. Bieb!” tegasku.
“Jika kau memang sudah dewasa, itu berarti kau boleh melakukan apa yang baru saja kakakmu lakukan. Bagaimana jika kita mengulangi kecelakaan kemarin sekali lagi? Aku rasa kita akan melakukannya jauh lebih baik dibandingkan kemarin, bahkan mungkin melebihi Nick dan Auris.”
“A… ap… apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti maksud pembicaraanmu!” jawab ku sedikit gugup.
“Jika memang kau dewasa, kau pasti paham maksudku!” Justin mulai mendekatkan wajahnya ke arahku.
“Menjauhlah dariku! Kau itu…” aku mendorong tubuh Justin hingga terjerembab ke tanah.
“Bukankah kau yang mengatakannya sendiri jika kau itu dewasa. Apa yang dilakukan Nicky dan Auris itu merupakan adegan dewasa. Jadi apa salahnya kita mengulang kejadian kemarin siang, sekalian membuat ciuman pertamamu lebih berkesan dan terasa lebih indah. Bukankah ini yang kau inginkan?”
“Errrr… kau benar- benar membuatku geram! Buang jauh- jauh pikiran kotormu itu!” aku berjalan menjauhi Justin.
“My Baby… kau tau, wajahmu sangat manis jika kau sedang kesal! Ckckckck…” Justin tertawa melihat kepergianku bersama wajah kusutku.
Awas kau Justin…! Pekikku dalam hati.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar