PART 13
Keesokan harinya, aku menemani oma
mengunjungi WaterPark milik keluarga Hawkins yang letaknya tak jauh dari rumah.
Waterpark itu dulunya adalah taman bermain yang oma buatkan khusus untukku dan
Auris. Setelah kepindahan kami ke Jakarta, oma memilih menjadikan taman bermain
itu sebuah waterpark. Tidak hanya waterpark saja, di tempat wisata itu oma juga
menyediakan akomodasi lain, seperti rose garden dengan berbagai macam bunga
mawar di dalamnya, serta rumah makan Hawkins yang menyediakan fast food.
“Oma, kenapa kau tidak membangun sebuah
penginapan di waterpark ini?” tanyaku ketika kami berdua berada di rose garden.
“Tak etis jika aku mendirikan penginapan di
waterpark ini. Kau tau sendiri kan Cupcake, di sekitar sini banyak sekali tempat
penginapan.”
Aku hanya memanggutkan kepala menandakan jika
aku paham akan alasan oma.
Pandanganku beralih pada sebuah rumah pohon
yang berada di samping kebun mawar. Ku langkahkan kakiku menghampiri rumah
pohon yang masih berdiri tegar di atas batang pohon yang hampir rapuh. Rumah
pohon yang menyimpan banyak kenangan antara aku, Auris, dan mama.
Aku hanya tersenyum tipis melihat rumah pohon
yang tampaknya masih terawat.
“Mom… miss you!” kali ini aku benar- benar
tidak dapat membendung air mataku. Bulir- bulir air mata mulai jatuh membasahi
pipiku.
“Kenapa kau menangis?” sebuah suara yang
masih cadel mengangetkanku. Dengan cepat ku hapus air mataku dengan telapak
tangan. “Princess sepertimu tidak sepantasnya menangis,” ujar suara itu yang
ternyata adalah suara anak perempuan kecil mungil yang berdiri di hadapanku.
“Aku tidak menangis.” Kataku membohonginya
sembari berlutut mensejajarkan tinggi badanku dengannya. “Hanya saja tadi aku…”
“Don’t lie to me! Apa kau akan menggunakan
alasan jika beberapa debu membuat matamu perih? Itu sudah menjadi alasan umum!”
lanjutnya seakan mengerti dengan alasan yang akan kugunakan untuk
membohonginya.
“Kau sangat menggemaskan!” aku mencubit
pipinya yang lembut itu. “Heyyy… anak sekecil dirimu tidak baik berjalan
seorang diri. Di mana papa dan mamamu?” aku menengok ke kanan- ke kiri tak ada
seorang pun yang menjaga dan mengikutinya.
Kemudian terdengar sebuah teriakan. “Jazzy…
where are you???”
“That’s My Booo! Boooo… I’m here!!!” anak
kecil itu melambaikan tangannya ke arah seseorang yang tampak bingung
mencarinya.
“Jazzy… jangan sekali- kali menghilang
seperti ini! Kau tau aku dan yang lainnya cemas mencarimu!” kata seorang laki-
laki masih dengan nafas yang tersengal- sengal.
“I’m sorry, Booo!!!” jawab anak kecil yang
ternyata bernama Jazzy itu. “Aku tadi hanya ingin berjalan- jalan dan aku
tertarik begitu melihat rumah pohon ini. Sesampainya di sini, aku malah
melihat…” sebelum Jazzy melengkapi kalimatnya, aku segera memotongnya.
“Me… melihat bunga mawar ini.” Ujarku seraya
memberikan bunga mawar yang berada di dalam genggamanku ke arah Jazzy. Jazzy
menerima bunga itu dengan tatapan heran ke arahku. Aku hanya tersenyum sembari
mengerlingkan sebelah mataku kepada Jazzy seakan aku berkata jangan mengatakan
jika aku menangis kepada laki- laki itu. Untung saja tadi aku sempat memetik
setangkai mawar bewarna putih.
“Thanks Car, karena telah menjaga adikku!”
kata laki- laki itu yang ternyata adalah Justin.
Adikku? Ja… jadi Jazzy ini adiknya Justin?
Hmmm… sangat berbeda. Bagaimana bisa Jazzy yang sangat mungil dan menggemaskan
ini mempunyai kakak seperti Justin Bieber yang sangat menyebalkan?
“Kau mengenalnya?” tanya Jazzy lugu. Justin
hanya mengangguk sembari mengendong Jazzy ke dalam pelukannya.
Aku melihat Justin sangat mengkhawatirkan
sang adik. Aku rasa dia sangat menyayangi Jazzy.
“Itu Caris…!” suara oma mengejutkanku di saat
aku menatap kagum ke arah Justin dan Jazzy.
Dari kejauhan, oma menghampiriku bersama
dengan wanita masih muda dan beberapa pria di belakangnya.
“Kenalkan, ini Carista, cucuku!” oma
memperkenalkan diriku kepada wanita muda itu. “Caris, ini Pattie. Dia adalah
teman dekat papamu saat kami tinggal di Canada!”
“Hy Caris! Nice to meet you!” wanita itu
menjabat tanganku dengan lembut.
“Hy, Mrs. Pattie! Nice to meet you too!”
balasku.
“Oh ya, Pattie… di mana anakmu? Tadi kau
mengatakan jika kau ke sini bersama kedua anakmu. Di mana mereka?” oma
menanyakan keberadaan anak- anak Mrs. Pattie.
“Mrs. Laurent this is my children! This is my
son!” Mrs. Pattie menunjuk Justin. “And this is My daughter!” kemudian Mrs.
Pattie menunjuk ke arah Jazzy. “Justin… Jazzy… kenalkan, ini Mrs. Laurent.
Beliau adalah teman lama nenek kalian saat di Canada!”
Dengan ramah Justin dan Jazzy menyapa dan
menjabat tangan oma. “Hy, Mrs. Laurent!”
“Anak- anakmu sangat menggemaskan, Pattie!”
Menggemaskan??? Apa oma tidak salah menilai
Justin? Dia menggemaskan? Ahhh… yang benar saja! Aku berargumen sendiri di
dalam hati.
Akhirnya oma mengundang Justin dan
keluarganya untuk menginap beberapa hari di rumah. Oma ingin menghabiskan waktu
untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang kehidupan Mrs. Pattie. Mrs. Pattie
menyetujui undangan oma, karena memang saat ini Justin sedang tidak ada jadwal
manggung dikarenakan persiapan tour konsernya yang akan dimulai bulan depan.
Makanya, untuk saat ini dia free. Dan waktu kosong ini digunakan Mrs. Pattie
untuk mengajak Justin sekeluarga berlibur ke waterpark yang awalnya dia tidak
mengetahui jika waterpark itu milik oma.
PART 14
Rombongan keluarga Bieber yang terdiri dari
Mrs. Pattie, Justin, Jazzy, Kenny, Scooter, dan Carin (pacar Scooter) diterima
sangat baik oleh Papa dan Auris yang saat itu sudah sampai di rumah. Sebelumnya
mereka berdua memang sedang ke luar rumah. Entah pergi kemana.
Jelas saja diterima sangat baik, Mrs. Pattie
kan teman lama papaku, sementara Justin? Justin adalah idola kakakku. Aku
benar- benar muak melihat ekspresi Auris begitu mengetahui jika Justin dan
keluarganya akan menginap di rumah untuk beberapa hari ini.
“Grandma,,, Are you serious?” tanya Auris tak
percaya saat keluarga Bieber dan Keluargaku berkumpul di ruang tengah. Oma
hanya mengangguk pasti. “Awww… I’m so happy now!”
Tingkah Auris benar- benar sangat memalukan
buatku. Tetapi tidak untuk semuanya. Keluarga Bieber malah tersenyum melihat
tingkah Auris yang begitu histeris.
Aku memilih menunjukkan kamar Mrs. Pattie
yang terletak di lantai dasar dekat dengan ruang tengah. Di kamar itu Mrs.
Pattie akan tidur bersama Jazzy. Menurutku Jazzy masih terlalu kecil untuk
tidur di sebuah kamar seorang diri.
“Hari ini menunya apa. Mrs. Mitchie?” tanyaku
pada Mrs. Mitchie, juru masak keluarga Hawkins yang tengah sibuk menyiapkan
makanan.
“Hari ini menu special, Cupcake!” jawabnya
ringan.
“Hmmm… biar ku tebak, menu special yang
ditujukan untuk keluarga Bieber, right?” tebakku yang kemudian memilih membantu
Mrs. Mitchie meniriskan spaghetti. “Kenapa seisi rumah ini harus heboh hanya
karena keluarga Bieber menginap?”
“Apa menurutmu ini tidak heboh jika seorang
Justin Bieber bisa menginap di sini?” kali ini Mrs. Mitchie menatap heran ke
arahku.
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku bukan Auris
yang begitu memuja seorang Justin Bieber. Ini sesuatu yang biasa saja bagiku!”
“Caris… bisakah kau mengantarkan handuk ini
ke kamar Justin?” suruh Auris yang datang tiba- tiba.
“Kenapa bukan kau saja? Bukannya kau senang
bisa bertemu dengan idolamu itu?”
“Come on, Car! Help me, please! Aku sudah
tidak tahan untuk pergi ke toilet!” suara Auris melemah. Kulihat dia memegangi
perutnya. Aku mengerti maksudnya.
“Baiklah!” aku langsung merebut handuk di
tangan Auris.
“Kamar Justin terletak di lantai
tigaaaaaaaaaa…. “ suara Auris mulai menjauh dan tak terdengar lagi.
Aku berjalan gontai menuju lantai tiga. Malas
sekali aku menghampiri kamar Justin. Ketika sampai di lantai tiga, aku terdiam.
Aku baru menyadari jika Auris hanya memberikan clue jika kamar Justin berada di
lantai tiga. Auris tidak menjelaskan secara detail letak kamar Justin yang
sebenarnya. Aihhh… bodoh sekali aku ini! Kenapa baru menyadari hal ini?
Aku bingung harus memulai dari kamar yang
mana. Karena di lantai tiga terdapat lima buah kamar kosong yang memang
disediakan untuk para tamu. Lalu kulihat salah satu kamar dari kelima kamar
pintunya terbuka. Aku putuskan untuk mengecek kamar itu. Kali saja itu kamar
Justin.
“Justin… apakah kau di…” aku tidak meneruskan
kalimatku. “O… Ow…” ujarku nyengir ketika melihat siapa penghuni kamar itu. Aku
melihat Scoot dan Carin saat itu sedang melakoni adegan di mana anak seumurku
belum diperbolehkan menonton ataupun melakukannya (penulis harap, pembaca
jangan negative thinking dulu ya :’D). yaa… saat itu aku sedang mendapati Scoot
tengah berciuman dengan sang pacar, Carin. “Maaf, aku salah memasuki kamar ini!
Silahkan lanjutkan lagi!” jawabku polos dan langsung ke luar dari kamar itu.
“Bodoh… bodoh…! Caris… lihat apa yang kau
lakukan? Seharusnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam
kamar itu!” aku terus melontarkan umpatan terhadap diriku sendiri. Sampai-
sampai aku tidak tersadar jika ada seseorang berdiri di hadapanku. Karena aku
tidak melihatnya, aku pun menabrak orang itu.
BRUKKK… aku dan orang itu terjerembab ke
lantai bersamaan. Tubuhku tampak menindih tubuh orang itu. Dan parahnya, kini
bibirku dan bibir orang itu yang ternyata adalah seorang laki- laki tengah
beradu. Ya… secara tak sengaja kami melakoni adegan yang baru saja Scooter dan
pacarnya lakukan.
Menyadari hal ini, aku bergegas bangkit.
“Apa- apaan kau ini! Kau… kau… sengaja ingin
melakukan ini denganku ya!” ucapku ketika mengetahui siapa orang yang baru saja
ku tindihi.
“Apa yang kau katakan? Jelas- jelas kau yang
menabrakku dan kau juga yang menindih tubuhku? Apakah ini terlihat seperti aku
yang melakukannya?” jawab Justin tak terima. Justin… ya… baru saja aku
melakukan adegan dewasa itu bersama Justin.
“Ada apa ini?” tanya Scooter yang muncul
bersama Carin dari kamar sebelah. Hmphhh… nampaknya mereka telah selesai
melakukan adegan dewasa itu.
“Ng… Ng… tidak ada apa- apa kok. Aku hanya
mengantarkan handuk ini pada Justin.” Aku menutupi apa yang baru saja terjadi
antara aku dan Justin. God… semoga saja tidak ada satu orangpun yang melihat
kejadian memalukan itu. “Mmphh… kalau begitu aku kembali ke bawah dulu. Jika
kalian memerlukan sesuatu, beritahu saja aku dan Auris!” ucapku gelagapan.
*****
“SIALLL… dia telah mencuri first kiss ku!”
umpatku setelah sampai di dalam kamar. “Bagaimana ini bisa terjadi? Caris…
lihat apa yang kau lakukan? Kau melepaskan first kissmu begitu saja karena
kebodohanmu! Bahkan kau melakukan ini dengan laki- laki yang tak kau sukai!”
aku masih saja menyalahkan diriku sendiri.
Aku benar- benar tidak dapat menerima
kenyatan ini. Aku melakukan adegan dewasa itu sebelum aku genap berusia 17
tahun.
Aku mematutkan diriku di depan cermin.
“You’re stupid GIRL!” aku mengusap bibirku dengan telapak tanganku.
*****
Kakiku begitu berat sekali untuk berjalan dan
menemui semua penghuni rumah yang saat ini tengah sibuk dengan pesta kecil-
kecilan untuk menyambut keluarga Bieber. Langkahku sempat terhenti ketika aku
melihat Justin yang tengah duduk di salah satu kursi meja makan. Dia menatapku
sembari memamerkan senyum liciknya. Hmmm… Aku rasa ia sedang merencanakan
sesuatu.
Aku benar- benar tidak bersemangat untuk
menghabiskan makanan yang terhidang di hadapanku. Sedari tadi makanan itu hanya
ku koyak- koyak sampai tak beraturan.
“What happend, Cupcake? Are you sick?” papa
tampak cemas melihat tingkahku. Dengan cepat dia menempelkan telapak tangannya
ke atas dahiku. “Suhu badanmu tidak panas.”
“I’m not sick, Dad! Hanya saja saat ini aku
sedikit kenyang.” Ujarku yang sesekali melirik ke arah Justin. Ya… aku khawatir
jika Justin menceritakan kejadian memalukan tadi siang terhadap papa, oma, dan
yang lainnya.
PART 15
Selesai acara makan malam, aku dan Auris membantu
Mrs. Mitchie membersihkan sisa- sisa makanan yang berserakan di atas meja
makan. Setelah itu kami mencuci peralatan yang baru saja dipakai.
Krunyukkk… krunyukkk… krunyukkk… cacing di dalam perutku mulai berdemo. Ini
menandakan perutku perlu diisi sesuatu. Lalu kulihat masih tersisa satu porsi
spaghetti tergeletak begitu saja di atas meja dekat lemari es.
“Ini milikku!” ujar Auris yang secara
bersamaan juga memegangi piring yang berisi spaghetti.
“Jelas- jelas aku duluan yang menemukannya.
Singkirkan tanganmu dari piring ini. I’m very hungry now! Dan aku ingin memakan
makanan favoritku ini!” kataku tak mau kalah.
“Siapa suruh kau tidak memakan makananmu saat
makan malam tadi! Aku juga lapar setelah membereskan semuanya dan membantu Mrs.
Mitchie!”
Auris masih saja tidak mengikhlaskan sepiring
spaghetti itu untukku. Ahaaa… aku tau apa yang harus ku lakukan. “Justin…!!!
What are you doing here?” perkataanku ini benar- benar membuat Auris
mengalihkan pandangannya dari spaghetti itu. Lalu dengan cepat aku merebut
piring itu dan membawanya kabur melewati pintu dapur.
“Jusss… tin… di mana dia?” Auris masih
mencari keberadaan Justin. Dia pun kembali hendak menatapku. Namun sayang,
sepiring spaghettinya sudah ku bawa kabur. “CARISSS… kau manusia menyebalkan!
AWAS KAU!!!”
Dari kejauhan aku tertawa geli melihat
tingkah laku kakakku. Apa aku bilang… dengar nama Justin saja dia pasti hilang
konsentrasinya terhadap spaghetti ini.
“Spaghetti ini akan menjadi milikku jika kau
tidak dapat mengejarku!” tiba- tiba Justin muncul dan merebut sepiring spaghetti
itu dari tanganku. Ia berlari menjauhiku menuju taman belakang sembari
menjulurkan lidah ke arahku.
“Justinnnn… kembalikan spaghetti ku!!!” aku
berlari mengejar Justin. Makhluk satu itu benar- benar menyebalkan. Selalu saja
mengganggu hidupku.
Ku arahkan pandanganku untuk menelusuri
setiap sudut taman mencari keberadaan Justin. Dan akhirnya aku menemukannya
sedang duduk seorang diri di sebuah bangku dekat kolam air mancur buatan.
“Duduklah!” ujarnya ketika melihat
kedatanganku.
Aku hanya diam dan enggan melangkah satupun
untuk menghampirinya.
“Kau lebih memilih duduk di dekatku atau…”
perkataan Justin terpotong. “Atau aku akan menceritakan kejadian tadi siang
kepada papamu.” Lanjutnya sembari tersenyum licik ke arahku.
Aku benar- benar dibuat tak berkutik olehnya.
Dengan berat hati aku pun langsung duduk di sampingnya.
“Sudah kuduga, kau pasti menuruti perkataanku
jika ku singgung masalah tadi siang.” Aku masih terdiam. Sebenarnya aku masih
malu untuk bertemu dengan Justin setelah kejadian itu. “Ini spaghettimu!
Makanlah!” kemudian ia menyodorkan sepiring spaghetti itu kehadapanku.
“I’m not hungry, now!” jawabku datar dan tidak
mengindahkan spaghetti di hadapanku.
Krunyukkk… krunyukkk… krunyukkk… aihhh… lagi- lagi cacing di dalam perutku
berbunyi. Benar- benar tidak bisa diajak kompromi!
Justin tersenyum mendengar bunyi perutku yang
keroncongan. “Makanlah! Aku tau kau sangat lapar.”
Tanpa pikir panjang lagi aku langsung
mengambil garpu dan menyantap spaghetti itu dengan lahap. Sampai- sampai aku
tidak menyadari jika Justin masih menatap ke arahku.
“Kau memakan spaghetti itu terlalu lahap, My
Baby!” dengan lembut Justin menghapus sauce yang berada di dekat bibirku dengan
ibu jarinya.
Deghhh… nafasku terasa sesak ketika wajahku
dan Justin saling berdekatan. Jika dapat diperkirakan jaraknya + hanya 5
cm. Aku hanya bisa terdiam mematung menghadapi situasi itu.
“Aku… rasa aku sudah kenyang!” aku mengakhiri
situasi yang tak nyaman ini dan mendorong tubuh Justin agar menjauhi ku.
“Aku rasa kau tak perlu bersikap seperti ini
karena kejadian itu. Itu hanya sebuah kecelakaan. Dan itu wajar.”
“Wajar? Wajar menurutmu, tapi tidak untukku. Aku
melakukannya di saat umurku belum genap 17 tahun. Ini sangat- sangat tidak
wajar di negaraku. Kau tau, kau telah mencuri ciuman pertamaku. Karena kejadian
itu, sekarang bibirku tidak perawan lagi karena dicium olehmu!” perkataanku
kali ini benar- benar membuat Justin tertawa lepas.
“Hahahahahahaha…..”
“Kau... kenapa kau tertawa? Apa ini terlihat
lucu?” aku mendengus kesal.
“My Baby, Listen to me! Kejadian itu murni
kecelakaan yang tak disengaja. Dan aku pikir… bibirmu masih perawan kok!”
lanjut Justin masih dengan tawanya yang lepas.
Izzz… orang ini benar- benar menyebalkan. Aku
memilih masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Justin seorang diri di taman yang
masih sibuk tertawa.
*****
Malam ini imsomnia melanda diriku. Daritadi
aku hanya berguling- guling tak karuan di atas tempat tidur mencari posisi
nyaman untuk terlelap. Alhasil… setelah berjam- jam aku pun masih terjaga.
Tok… tok… tok… terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku
yang menuju ke arah balkon. Bayangan orang itu sangat jelas dapat ku lihat dari
gorden ungu transparan yang menutupi pintu itu.
“Siapa itu?” tanyaku dengan langkah pelan
menghampiri pintu itu. Namun, orang itu tak menjawab pertanyaanku.
Ku buka perlahan gorden yang menutupi pintu
yang terbuat dari kaca itu. Dan…
“Hy!!!” Justin melambaikan tangan ke arahku.
“Jus…
Justin!!! Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran kemudian memilih membuka
pintu dan segera menemui Justin di balkon kamarku. “Bagaimana bisa kau ada di
sini?” tanyaku penasaran. Ku alihkan pandanganku ke anak tangga yang masih
menempel di pembatas balkonku. “Kau benar- benar sudah gila! Bagaimana jika ada
yang tau keberadaanmu di sini?” aku tak berhenti nyerocos sembari mengamati
sekitar memastikan jika tidak ada orang
yang melihat keberadaan Justin.
“Kau sangat cerewet!” Justin menarik tanganku
dan mengajakku duduk di bangku yang terletak di balkon kamarku. “Aku hanya
mencari teman untuk menemaniku yang tak bisa tidur malam ini!” lanjutnya dengan
tatapan lurus ke atas langit.
“Jika kau mencari teman untuk menemanimu
begadang, silahkan cari orang lain, jangan aku!”
“Sutttt… kecilkan suaramu! Suaramu bisa
membuat semua penghuni rumah ini bangun.” Justin menempelkan jari telunjuknya
ke bibirnya sendiri dengan tatapan masih memandangi langit.
“Terserah kau saja! Jika kau memang masih
ingin di sini, silahkan! Aku akan melanjutkan mimpiku yang terganggu olehmu!”
aku bangkit dari dudukku, namun justin dengan sigap menarik tanganku sehingga
aku kembali lagi duduk di bangku itu.
“Kau harus menemaniku malam ini. Jika tidak…”
Aku mengerutkan keningku. “Apa?”
Kini Justin mengalihkan pandangannya ke
arahku. “Jika tidak aku terpaksa jujur terhadap papamu tentang kejadian siang
itu. Bagaimana?”
“Kau mengancamku?” tanyaku masih dengan
ekspresi datar. “Kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu?”
“Apakah aku terlihat seperti mengancammu? Aku
hanya ingin kau menemaniku di sini.” Kini Justin kembali menatap langit namun dengan
posisi tangannya menyilang dan menggandeng lenganku.
“Lepaskan tanganku!” aku mencoba mengontrol
suaraku.
Justin menggeleng. “Aku tidak akan
melepaskannya sebelum kau selesai menemaniku malam ini.”
Tidak ada gunanya berdebat dengan Justin di
saat seisi rumah sedang terlelap. Huft, manusia satu ini benar- benar membuat
hidupku rumit. Dari mana dia tau balkon kamarku???
PART 16
Aku dan Justin hanya duduk terdiam menatap ke
arah langit yang saat itu hanya ditemani dengan beberapa bintang.
“Sebenarnya apa yang kau lihat? Lihatlah,
tidak ada yang special di atas sana! Bulan hanya memancarkan sedikit sinarnya,
sementara bintang yang bermunculan pun sedikit.”
“Aku melihat satu bintang yang bersinar
sangat terang.” Jawab Justin.
“Kau aneh! Jelas- jelas bintang- bintang yang
bermunculan di atas sana tidak memancarkan sinarnya!”
“Bintang itu tidak ada di atas sana.”
“What do you mean?” aku terkejut setelah
mengetahui saat itu Justin tengah menatapku.
“Bintang yang ku maksud adalah kau!” kemudian
mata kami saling bertemu dan membuat kami saling bertatapan.
“Okay… I think is enough! Sebaiknya kau cepat
pergi dari sini!” aku mengakhiri situasi yang kubenci itu dengan menarik lengan
Justin agar segera beranjak dari duduknya.
Tapi sayangnya… PRAKKK… tak sengaja aku menyenggol
anak tangga yang tadi menempel pada pembatas balkon kamarku. Kini anak tangga
itu jatuh ke bawah dan menimbulkan kebisingan.
Karena hal itu, ku lihat lampu kamar sebelah
yang merupakan kamar Auris menyala. Dengan cepat ku tarik tangan Justin agar mengikuti
ku masuk ke dalam kamar.
Dari balik gorden ku intip Auris sedang ke
luar balkonnya untuk mengecek sumber suara tadi.
“Owhh… hanya anak tangga!” gumamnya setelah
melihat anak tangga di bawah. Kemudian dia masuk lagi ke dalam kamarnya.
“Kau harus segera ke luar dari kamarku!” aku
kembali menarik tangan Justin bermaksud mengeluarkannya dari pintu kamar.
Ahhhh… sial! Ternyata papa saat itu belum
tidur dan masih meneruskan pekerjaanya di ruang tengah.
“Lihatlah perbuatanmu! Jika papa mengerjakan
itu di ruang tengah, bagaimana bisa kau kembali ke kamarmu?” papa duduk di sofa
yang tepat berada di samping anak tangga menuju lantai tiga. Aku kembali
mengunci pintu kamar dan memutuskan untuk malam ini Justin tidur di kamarku.
“Kau bisa tidur di sofa atau di lantai. Ambilah!” aku menyodorkan sebuah bantal
dan selimut ke arahnya. “Jangan berisik dan jangan mengganggu tidurku!”
ucapanku hanya dibalas senyuman oleh Justin.
*****
Semilir angin dapat ku rasakan dari celah
jendela kamarku. Aku pikir pagi ini sangat cerah. Perlahan- lahan ku buka
mataku untuk menatap dunia.
“Aaaaaaaaaa…..!!!” teriakku histeris ketika
ku lihat Justin berbaring di sampingku.
“Cupcake… what’s going on? Are you ok?” suara
oma terdengar dari balik pintu kamarku.
“Nothing, Grandma! Barusan itu hanya ucapan
selamat pagiku pada dunia. Memang terkadang aku suka melakukan hal ini di
Indonesia.” Aku harus berbohong pada oma.
“Baiklah. Cepatlah ke luar, kami menunggumu
di ruang makan!” tap… tap… tap… suara kaki oma tampak menjauh dari kamarku.
“Apa yang kau lakukan di tempat tidurku?”
tanyaku setelah oma menjauhi pintu kamarku.
“Semalam aku kedinginan tidur di lantai,
makanya aku putuskan untuk tidur di sampingmu.” Jawab Justin santai.
Aku melirik tubuhku sendiri, memastikan jika
semalam Justin tidak berbuat macam- macam terhadapku.
“Tenang saja, semalam aku tidak menyentuhmu
seujung jaripun! Jadi kau masih perawan, kok! Jika aku ingin meniduri wanita,
ku rasa kau bukan wanita pertama yang harus ku tiduri karena kau bukan tipeku!”
PLETAKKK… aku mendaratkan telapak tanganku ke
lengan Justin. “Kau itu benar- benar pria yang menyebalkan! Kenapa kau selalu
mengganggu hidupku?”
“Auwww… hentikan Caris! Kau menyakitiku!”
Justin meringis kesakitan. Aku menghentikan hujan pukulan yang kubuat. “Kau ini
kenapa? Sudah ku katakan semalam aku tak menyentuhmu. Itu tandanya kau masih
perawan, bukan? Lalu kenapa kau memukul ku?” lanjutnya masih meringis
kesakitan.
“Kau ini… masih saja tidak menyadari
kesalahanmu! Cepat ke luar dari kamarku atau aku akan… “ aku mengambil sebuah
buku yang berada di atas meja di samping tempat tidurku.
“Ok… ok… aku ke luar! Letakkan buku itu, ok!”
Justin ke luar dari kamarku dengan tergesa- gesa.
*****
Setelah sarapan bersama- sama, oma mengajak
kami dan keluarga Bieber untuk menghabiskan waktu di Waterpark milik keluarga
Hawkins. Namun di tengah perjalan…
“Carisss!!!” suara seorang laki- laki yang ku
kenal menghentikan langkahku. Kemudian laki- laki itu menghampiriku dan
memelukku. “Miss you, Cary!!!”
“Nicky?” aku melepaskan pelukan itu.
“Benarkah ini dirimu?” laki- laki itu mengangguk. “Bagaimana bisa kau ada di
sini?” aku mulai tersenyum ketika mengetahui kedatangan sahabatku.
“Aku yang memberitahunya!” celah Auris.
“Sebenarnya aku ingin memberikan kejutan
untukkmu dengan cara tidak memberitahumu jika aku akan mengunjungimu di sini!”
Nicky menambahkan.
“Lebih baik kita melanjutkan obrolan ini di
waterpark, come on!” Auris menengahi.
Aku mengajak Nicky untuk turut bersama kami
ke waterpark milik oma. Sebelumnya aku memperkenalkan Nicky kepada semuanya.
“Kau benar- benar Justin Bieber kan?” itu
ekspresi Nicky ketika menyadari jika seorang Justin Bieber hadir di tengah-
tengah kami.
Nicky merupakan teman sekelasku. Cowok
keturunan Korea- Manado ini sudah cukup lama memendam perasaan terhadap
kakakku, Auris. Makanya, tak heran jika sedari dulu dia selalu saja mencoba
menarik perhatian Auris. Nicky mengunjungiku di Atlanta karena saat ini dia
sedang berlibur di rumah bibinya yang terletak di Dallas, Texas.
Kini
kami berada di dalam tempat wisata kolam ikan mas. Nah, di sini oma
membuat game agar suasana liburan keluarga Bieber berkesan.
“Dalam permainan ini kita memerlukan 3
kelompok yang terdiri dari dua orang.” Oma menjelaskan peraturannya. “Tim yang
paling banyak mendapatkan ikan mas dengan cara memancing itu merupakan tim yang
menang. Satu tim terdiri dari satu orang laki- laki dan satu orang perempuan.”
Oma ada- ada saja membuat peraturan. Hah
untung saja ada Nicky. Jadi ku rasa aku bisa satu tim dengannya.
PART 17
“Aku satu tim dengan Justin saja!” Auris
melingkarkan lengannya ke lengan Justin. Ku lihat raut wajah Nicky berubah
masam. Ya… ya… aku mengerti apa yang harus ku lakukan. Begini nich jika
mempunyai sahabat yang suka dengan saudara sendiri!
“Aku rasa akan timpang sekali jika kau satu
tim dengannya. Kalian kan sangat mahir dalam hal memancing. Sementara aku dan
Nicky bisa dikatakan tidak tau- menahu masalah dunia memancing. Bagaimana jika
kau satu tim dengan Nick?”
Auris tampak masih memikirkan perkataanku.
“Baiklah jika begitu!” lanjutnya dengan sedikit tak bersemangat. Ku lirik
Nicky, senyum mulai tersungging di wajahnya.
“Caris… you are my best friend! Thanks!”
bisik Nicky padaku.
“Sudah cukup lama kau membuang- buang waktu.
Sekarang saatnya kau nyatakan semuanya. Jangan kau lewatkan kesempatan ini,
ok!” aku berbalik berbisik kepada Nicky.
Akhirnya terpilih tiga tim. Untuk tim A
terdiri dari Aku dan Justin, tim B terdiri dari Scooter dan Carin, dan tim C
terdiri dari Auris dan Nicky. Lagi- lagi aku harus bersama Justin. Tapi kali ini
tidak menjadi masalah buatku karena aku melakukan ini demi bersatunya Nicky dan
Auris.
Kini ketiga tim telah menempati posisi dan
bersiap untuk melempar kail yang telah diberi umpan.
“Satu… Dua… Tiga… MULAI!!! Prittt…” Kenny
meniup sebuah peluit pertanda jika lomba pun di mulai.
BYURRR… ketika kail dari ketiga tim masuk ke
dalam kolam bersamaan dengan bunyi peluit yang ditiup oleh Kenny.
Ku lihat Nicky mulai merencanakan niatnya
untuk menyatakan perasaanya kepada Auris. Sesekali mereka berdua tampak bercanda.
“Kau menyukainya?” pertanyaan Justin
mengalihkan pandanganku.
“Siapa yang kau maksud? Nick?” Justin
mengangguk menjawab pertanyaanku. “Nicky adalah sahabatku sejak SMP. Aku sudah
menganggapnya seperti kakakku sendiri. Jadi tidak mungkin aku menyukainya.”
“Owhhh… syukurlah kalau begitu!” jawab Justin
refleks.
“Apa? Bisakah kau mengulangi perkataanmu?”
“Hahhh… tidak… aku barusan mengatakan jika
sebaiknya kau lebih berkonsentrasi kepada kail kita! Bukannya malah asyik
memandangi kemesraan mereka berdua!”
Tak lama stick pancing milk tim ku bergerak
ini menandakan umpan yang dipasang berhasil masuk ke dalam mulut sang ikan.
Susah payah aku dan Justin menarik tali pancing DAN…… yang kutemukan hanyalah sisa potongan tubuh
cacing yang kami gunakan sebagai umpan.
“Lihatlah, ini semua karena ulahmu!
Seandainya saja kau lebih berkonsentrasi, mungkin kita sudah mendapatkan ikan
itu!” Justin menyalahkanku.
“Can I asking something to you?” pertanyaan
ku membuat Justin penasaran. “Mengapa kau sangat menyebalkan?” lanjutku tegas.
“You must answer it!”
“Pertanyaan yang konyol dan tidak masuk akal.
Aku rasa aku merupakan salah satu orang yang menyenangkan yang ada di dunia.”
Jawabnya penuh percaya diri. “Apa kau pikir kau tidak menyebalkan?” Justin
balik bertanya padaku.
“Jangan pernah melimpahkan kesalahanmu
padaku! Kau bisa lihat sendiri kan semalam ulahmu benar- benar membuat geram.
Apa kau tidak menyadari kesalahanmu?”
“Jadi kau pikir semalam itu adalah salahku?
Coba kau pikir kembali, seandainya kau tidak menjatuhkan anak tangga itu,
mungkin semalam aku tidak akan tidur sekamar denganmu!” perkataan Justin kali
ini membuatku berpikir. “Ini semua bukan hanya kesalahanku saja, tetapi
kesalahanmu juga!”
“Yeee… dapat satu ekor lagi! Nick, Kau
hebat!” seru Auris senang. Kulihat kedua tim lawan mulai mengisi ember tim
mereka dengan ikan mas hasil pancingan mereka. Sementara dengan ember timku?
NIHIL… ember milik timku tak terisi dengan seekor ikan mas satupun.
“Interupsi!!! aku rasa lomba seperti ini
sangat membosankan dan hasil yang didapat pun tidak maksimal! Aku punya ide
lain untuk lomba ini!” aku mengacungkan tangan kananku layaknya orang yang akan
berdemo.
“Apa idemu itu, Cupcake?” tanya oma.
Aku berjalan mendekati tim lawan, tim B dan
tim C. Lalu ku rangkul pundak Auris dan Carin, dan… BYURRR… aku menceburkan
diri ke dalam kolam yang penuh ikan mas bersama Carin dan Auris.
Di dalam kolam Auris dan Carin loncat- lancat
tak karuan karena merasa geli akan hadirnya ikan mas di tengah- tengah mereka.
“Caris… ide yang bagus!!!” Scoot tampak
sepaham dengan ideku kemudian dia bersama Justin dan Nicky ikut menceburkan
diri juga.
“Nah, begini kan lebih baik!!!” oma
mengacungkan jempol ke arahku. Aku hanya tersenyum. Lalu ku hampiri Nicky yang
tengah sibuk menemani Auris yang ketakutan karena dikerubungi ikan mas.
“Pssttt… kemari!” aku meminta Nicky menghampiriku dan menjauh sebentar dari
Auris. “Kau ingin menyatakan perasaanmu pada kakakku kan?” tanyaku yang dijawab
dengan sebuah anggukan oleh Nicky. “Good! Jangan menangkan perlombaan ini!”
“Apa kau sadar dengan perkataanmu? Auris
sangat menginginkan jika timku menang.”
“Heyy… jika kau kalah kau akan mempunyai
banyak waktu untuk menyatakan perasaanmu pada Auris. Oma telah menyiapkan
hukuman untuk tim yang kalah, yaitu membakar ikan berdua dan menyiapkan makan
malam. Bukankah itu moment yang sangat romantis untukkmu?” kemudian Nicky
tersenyum.
“Thanks, Cary!” Nicky kembali menghampiri
Auris yang masih kewalahan. Begitu juga aku yang harus menghampiri dan membantu
Justin untuk menangkap ikan itu.
Ku lihat ember milik timku sudah cukup banyak
dengan ikan mas. Wowww… Justin tampak semangat sekali menangkap ikan mas di
dalam kolam. Tidak… ini tidak boleh terjadi. Aku tidak menginginkan jika timku
menang. Aku tak sudi jika memenangkan perlombaan ini bersama Justin.
“Hey… kau lihat ikan ini!” aku mengambil
seekor ikan mas di dalam ember milik timku. Kemudian Justin menghampiriku.
“Ikan ini tampaknya sedang sakit. Kasihan sekali jika harus dipanggang.” Aku
pun melepaskan ikan itu agar kembali ke dalam kolam. “Ini juga… dan… yang ini
juga… satu lagi…!” aku melepaskan beberapa ekor ikan mas yang terdampar di
dalam ember tim ku.
“Apa semua ikan itu menurutmu sedang sakit?
Kenapa kau tak melepaskan semua ikan di dalam ember itu? Aku sudah bersusah payah
mengambil ikan itu!” sungut Justin kesal karena kelakuanku.
Ckckck… aku benar- benar ingin tertawa
melihat ekspresi wajah Justin yang benar- benar sangat aneh.
“Tenang, Justin! Don’t panic, ok! Aku akan
membantumu mencari ikan yang masih sehat!” lalu kualihkan pandanganku untuk
menangkap ikan mas lagi.
PART 18
Tak terasa sejam pun berlalu. Ini tandanya
perlombaan telah usai.
“PRITTT…!” Kenny kembali meniupkan peluitnya.
“Sekarang letakkan ember dari masing- masing tim di atas meja.”
Kemudian dari tiap tim mengumpulkan ember
yang berisi ikan mas. Ember milik tim B tampak penuh. Lalu ku lirik ember milik
tim C, good… hasil yang mereka kumpulkan tidak banyak. Itu berarti Nicky
mengikuti ucapanku.
“Tim A mengumpulkan 8 ekor ikan mas,
sedangkan tim B mengumpulkan 17 ekor ikan mas…” Kenny mulai mengumumkan
hasilnya. “Dan tim C hanya mengumpulkan 4 ekor ikan mas. Pemenangnya adalah tim
B dan berhak menerima hadiah yaitu Scoot dan Carin akan mengunjungi dan makan
sepuasnya di toko cake milik Mrs. Hawkins. Kalian berdua juga bisa privat untuk
membuat cake di sana. Dan untuk tim C harus menerima hukuman, yaitu menyiapkan
makan malam untuk kita semua dibantu dengan juru masak rumah makan keluarga
Hawkins.”
Aku hanya senyum- senyum sendiri. Yeee…
selangkah lagi Nicky akan menyatakan perasaannya pada Auris. Fuihhh… untung
saja semalam aku sempat mendengar percakapan oma dan papa tentang perlombaan
ini. Maaf, Oma! hehehe…
“Heh… kenapa kau senyum- senyum sendiri?
Pemenangnya itu Scoot dan Carin. Bukan kita!” Justin menyikut lenganku.
“Kau pikir aku mau melakukan kunjungan gratis
itu hanya berdua denganmu? Tidak…!” jawabku sembari menjulurkan lidah ke arah
Justin dan bergegas menghampiri Scoot dan Carin untuk memberikan selamat atas
kemenangan mereka.
*****
Malamnya, semua berkumpul di rumah makan
milik oma. Sementara Auris dan Nicky tengah berada di taman belakang restaurant
sibuk memanggang ikan mas untuk makan malam kami semua.
Dari balik semak- semak ku intip mereka
berdua. Aku lebih memilih bersembunyi di antara semak- semak agar aku dapat
mendengar apa saja percakapan mereka.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Justin
yang sudah berada di sampingku. Lalu dengan cepat ku tarik dirinya agar
menunduk dan membekap mulutnya dengan telapak tanganku.
“Suttt!!!” aku menempelkan telunjuk jariku ke
bibirku sendiri. “Kecilkan suaramu!” pintaku. Lalu kulepaskan bekapan itu dari
Justin. “Jika tidak kau akan mengacaukan semuanya!” lanjutku yang kembali
mengamati gerak- gerik Auris dan Nicky.
Tangan Auris dan Nicky tampak beradu ketika
mereka akan mengambil sebuah piring.
“Ma… maaf!” ucap Nicky sedikit gugup.
“It’s ok, Nick!” respon Auris. “Nick, maafkan
aku ya! Karena aku tim kita jadi kalah.”Auris merasa bersalah atas kekalahan
timnya.
“Auris… ini bukan kesalahanmu! Hanya saja dewi
fortuna belum berpihak pada kita!” Nicky berusaha menenangkan Auris. Sejenak
mereka berdua saling memandang. “Mmmm… Auris, can I telling something to you?”
lanjut Nick sedikit gugup.
“Yeah… what?”
“Auris… dengarkan aku! Saat ini aku sedang
jatuh cinta.” Perkataan Nicky membuat Auris sangat antusias untuk
mengetahuinya.
“Really? Heyyy… ceritakan padaku siapa gadis
beruntung yang berhasil memikat hatimu?” pertanyaan Auris yang kedua membuatku
menepuk jidatku sendiri.
“Awww…” aku meringis. Justin hanya memandangku
heran. “Bodoh sekali anak itu! Masih tak menyadari jika gadis yang Nick maksud
adalah dirinya!”
“Suttt… berisik!” ujar Justin yang kemudian
kembali mengintip Auris dan Nicky.
“Ng… ng… gadis itu… sebenarnya gadis itu tak
jauh dariku!” Nicky masih bertele- tele.
“Benarkah gadis itu malam ini ada di sini? Who is she?”
“Dia… dia…”
“Ayolah, Nick! Jangan membuatku penasaran!”
Auris mulai tak sabar untuk mengetahuinya.
Keringat mulai bercucuran dari dahi Nicky.
“Gadis itu… adalah… dirimu!” akhirnya Nicky mengakui siapa gadis yang
dicintainya.
“Aku?” tanya Auris sambil menunjuk dirinya
sendiri. Nicky mengangguk. “Nick, don’t joke with me. It’s not funny!”
“Sejak awal masa SMP, aku sudah menyukaimu.
Cukup lama aku menyimpan perasaanku padamu. Baru sekarang aku mempunyai
keberanian untuk mengungkapkannya.”
“Kenapa kau menyukaiku?”
“Karena aku suka semua yang ada pada dirimu.
Aku suka disaat kau tengah asyik membaca buku di perpus. Aku suka disaat kau
berebut spaghetti dengan Caris. Aku suka melihat dirimu yang sedang kesal jika
Caris telat menjemputmu seusai bimbel. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu, Auris. Aku mencintaimu apa
adanya!” kemudian Nicky mengenggam kedua tangan Auris.
“Sebegitu tahunya kau akan semua yang ku
lakukan?” mata Auris mulai berkaca- kaca. “Kenapa kau tak mengatakannya sedari
dulu, Nick? Kenapa kau menyimpan perasaanmu begitu lama terhadapku?”
“Karena aku tidak mempunyai keberanian untuk
mengatakannya.” Kemudian Nicky menempelkan kedua telapak tangannya ke wajah
Auris. “Would you to be my girlfriend?” Nicky menatap wajah Auris penuh harap.
“Tentu saja, Nick!” Auris pun meneteskan air
matanya.
“Hey, jangan menangis di depanku! Aku tidak
suka jika My Princess yang satu ini menangis di depanku.” Nicky menyapu air
mata Auris dengan ibu jarinya. “I love you, Aurista!”
“I Love You too, Nick!” jawab Auris.
Kemudian Nicky mendekatkan wajahnya ke arah
Auris. Dekat… dan semakin dekat… aku kelabakan melihatnya.
“A… apa yang akan dilakukan Nicky terhadap
kakakku?” aku mulai panik.
“Sebentar lagi kau pasti akan mengetahuinya.”
Celetuk Justin sambil tersenyum.
Kini bibir Nicky menyentuh bibir kakakku. Tak
ku sangka ternyata Auris tak berontak sedikitpun.
“Ku rasa kau tidak pantas melihatnya!”
kemudian Justin melingkarkan lengan kirinya untuk menutup pandanganku dengan
telapak tangannya.
“Apa- apaan kau ini! Singkirkan tanganmu dari
pandanganku!” aku mencoba berontak tetapi Justin cukup kuat untukku kalahkan.
“Kau itu belum cukup umur untuk melihat
adegan itu!”
“Justin… aku sudah dewasa dan kini aku berumur
15 tahun! Jangan menganggapku anak kecil!”
“Owh… begitu! Baiklah!” Justin melepaskan
telapak tangannya yang menutupi kedua mataku. “Lihatlah, mereka berdua sangat
menikmatinya! Cool… I think Nicky is the best kisser!” aku tak menanggapi
perkataan Justin.
Aku lihat Auris dan Nick masih melakukan
adegan dewasa itu. Aku heran, kenapa Auris tak meronta sedikit pun. Sebenarnya
apa yang ada di otak mereka berdua hingga melakukan adegan itu cukup lama.
Lima menit kemudian… Nicky mulai melepaskan
bibirnya dari bibir Auris.
“Mmmm… sebaiknya kita membawa ikan mas ini ke
dalam sebelum semuanya menjadi dingin!” ku lihat wajah Nicky sumringan sekali.
Auris mengiyakan ajakan Nicky untuk masuk ke dalam restaurant. Mereka berdua
pun melangkah pergi.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam
restaurant, aku bangkit dari tempat persembunyianku. Namun, lagi- lagi Justin
menarik tanganku hingga aku jatuh ke dalam pelukannya.
“Benarkah kau sudah dewasa?” tanyanya masih
dengan posisi duduk sembari menopang tubuhku.
“Kau pikir aku ini anak kecil apa? Kau tidak
bisa lihat aku sebesar ini? Aku bukan anak kecil, Mr. Bieb!” tegasku.
“Jika kau memang sudah dewasa, itu berarti
kau boleh melakukan apa yang baru saja kakakmu lakukan. Bagaimana jika kita
mengulangi kecelakaan kemarin sekali lagi? Aku rasa kita akan melakukannya jauh
lebih baik dibandingkan kemarin, bahkan mungkin melebihi Nick dan Auris.”
“A… ap… apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti
maksud pembicaraanmu!” jawab ku sedikit gugup.
“Jika memang kau dewasa, kau pasti paham maksudku!”
Justin mulai mendekatkan wajahnya ke arahku.
“Menjauhlah dariku! Kau itu…” aku mendorong
tubuh Justin hingga terjerembab ke tanah.
“Bukankah kau yang mengatakannya sendiri jika
kau itu dewasa. Apa yang dilakukan Nicky dan Auris itu merupakan adegan dewasa.
Jadi apa salahnya kita mengulang kejadian kemarin siang, sekalian membuat
ciuman pertamamu lebih berkesan dan terasa lebih indah. Bukankah ini yang kau
inginkan?”
“Errrr… kau benar- benar membuatku geram!
Buang jauh- jauh pikiran kotormu itu!” aku berjalan menjauhi Justin.
“My Baby… kau tau, wajahmu sangat manis jika
kau sedang kesal! Ckckckck…” Justin tertawa melihat kepergianku bersama wajah
kusutku.
Awas kau Justin…! Pekikku dalam hati.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar