Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 37 - 42

PART 37
Kualihkan pandanganku pada si pemilik genggaman itu. Jus... Justin? Bagaimana dia bisa tau jika hari ini aku akan menemui Joey?
Justin tersenyum ke arahku. Namun aku tak bergeming dan berusaha melepaskan genggamannya. Yeah, walaupun sebenarnya aku lega dan sedikit tenang karena ada Justin di sampingku. Heyyy... apa yang baru saja aku katakan? Arghhh... Caris... pikiranmu mulai tak fokus.
Justin melangkahkan kakinya mendekati kedai Joey yang saat itu belum dipadati pengunjung. Tentu saja masih dengan posisi dia mengenggam tanganku.
“Akhirnya kau datang juga, Gadis manis!” ujar Joey melihat kedatanganku sembari melirik ke arah Justin. “Dan kau datang bersama dengan kekasihmu?”
“He’s not my boy friend!” sanggahku cepat. “But he’s my...” aku tampak berpikir. “But he’s my cousin!”
“Owh... benarkah begitu?” kini Joey menatap ke arah tangan Justin yang masih menggenggam tanganku. Menyadari hal itu, aku langsung melepasnya. “Wait... sepertinya aku mengenal dirimu! Wajahmu tak asing bagiku.” Joey mengamati wajah Justin.
Dasar bodoh!!! Kenapa dia tak menyamar?
“Bukankah kau Justin Bieber?” tanya Joey.
“Ini uang yang kau minta!” aku melempar amplop bewarna coklat tebal ke atas meja mencoba mengalihkan topik pembicaraan Joey. “Sesuai permintaanmu, 1 juta dollar dan CASH!” ucapku sembari menekankan kata CASH. “Aku telah memenuhi permintaanmu. Kembalikan I-phone ku!” pintaku.
Joey mengeluarkan I- phone milikku dari dalam saku celananya dan memberikannya padaku.
“Dan jangan kau ganggu kehidupan Carol!” tambahku.
Joey hanya tersenyum kecut sembari menghitung uang yang ada di dalam amplop itu. “Aku suka karena kau menepati janjimu!” tangan Joey ingin menyentuh wajahku, tetapi, Justin menyangganya dan melepaskannya dengan kasar. “Wow... wow... rupanya sepupumu ini tak terima jika aku menyentuh wajahmu yang cantik itu!” errr... Joey benar- benar membuatku muak.
“You’re bitch!” umpatku kesal dan berlalu meninggalkan Joey. Justin mengikuti langkahku dari belakang.
Fiuhhh... aku membuang nafas lega karena berhasil menemui Joey. Setelah Joey mendapatkan uang yang dia inginkan, aku harap dia tak akan pernah lagi mengganggu Carol.
*****
 “Mo... mom!” Jaxon terus saja memanggilku dengan sebutan Mom. Apa yang ada dipikirannya? Bisa- bisanya dia memanggilku dengan sebutan Mom.
“Cupcake, bisakah kau menjaga Jaxon sebentar? Oma harus membantu Diana untuk menyiapkan acara malam ini,” oma membawa Jaxon ke kamarku.
“Acara? Acara apa?” tanyaku.
“Malam ini aku dan Diana akan mengadakan acara api unggun dan bakar ikan. Sekalian untuk menyambut kedatangan Carol di sini!” aku hanya memanggut- manggutkan kepala menanggapi penjelasan oma.
Sementara yang lain mempersiapkan segala sesuatunya di lantai bawah, aku menjaga dan bermain berdua bersama Jaxon di dalam kamar.
Sedari tadi aku mengamati tingkah Jaxon yang asyik memainkan bola basketku.
“Hey, bocah tampan!” aku mengusap puncak kepala Jaxon. “Kau benar- benar berbeda dengan saudara tertuamu itu. Kau tau, saudaramu itu sangat menyebalkan!”
Aku masih saja memandangi Jaxon dan terus mengajaknya berbicara. Walaupun aku tau jika Jaxon tak paham dengan apa yang kukatakan.
“Bocah tampan, kelak jika kau besar nanti, kau jangan tumbuh menjadi orang menyebalkan seperti saudara tertuamu itu ya! Kau harus menjadi pria yang baik, dengan begitu semua gadis pasti akan mengejarmu. Percayalah padaku!” bodoh... kenapa aku jadi aneh seperti ini? Jelas- jelas Jaxon tak mungkin memahami perkataanku. Buktinya saja dia masih khusyuk memainkan bola basket milikku.
Tok... tok... tok... terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Dengan gontai kubuka pintu kamarku. Dan...

PART 38
“Justin!” ucapku setengah kaget. “Ng... ng... sejak kapan kau ada di sini?” gawat... jika Justin mendengar apa yang baru saja aku katakan, aduhhh... betapa malunya diriku!
“Mrs. Laurent menyuruhku mengatakan padamu agar kau membeli beberapa bahan yang telah tertulis di atas kertas ini!” Justin menyodorkan selembar kertas yang berisi list bahan yang harus kubeli di supermarket.
“Suaramu sudah pulih?” aku baru menyadari jika suara Justin telah kembali.
“Begitulah!” jawabnya singkat. Lalu dia melongokan kepalanya ke dalam kamarku untuk melihat keberadaan Jaxon. “Hy, Jaxon!” sapanya yang membuat Jaxon menatapnya. “Jika besar nanti, jadilah pria yang baik agar semua gadis tergila- gila padamu!” lanjutnya sembari tersenyum penuh arti padaku.
Owhh Shit! Ternyata benar dugaanku, Justin mendengar semua perkataanku pada Jaxon. Aku hanya bisa mengumpat kesal dalam hati sambil terus memandangi punggung Justin yang berjalan meninggalkanku.
“Kau lihat, kelakuan saudaramu itu benar- benar menyebalkan!” aku berbalik dan kembali berbicara pada Jaxon yang menatap ke arahku. Dasar idiot...
*****

Tak butuh waktu lama bagiku menemukan semua bahan yang ada di daftar belanja. Setelah itu aku langsung membawanya ke kasir dan segera membayarnya. Aku pergi berbelanja ditemani oleh Carol.
Begitu ke luar dari supermarket, kurasakan tapak kaki seseorang mengikuti langkah kami. Sesaat aku berhenti dan membalikkan badan.
“Ada apa? Kau melupakan sesuatu untuk dibeli?” tanya Carol begitu melihat tingkahku.
“Tidakkah kau merasa seseorang sedang mengawasi dan membututi kita?” Carol hanya menggeleng pelan. Baiklah... mungkin ini hanya perasaanku saja.
Kami pun kembali meneruskan perjalanan. Namun tiba- tiba kurasakan seseorang menarik tubuhku dan membekap mulutku. Siapa dia? Berani- beraninya dia melakukan hal ini padaku? Dan apa ini? Aku mencium bau tak sedap pada sapu tangan yang membekap hidung dan mulutku. Aku meronta mencoba melepaskan bekapannya, namun semakin lama nafasku semakin sesak. Pandanganku pun kabur dan dalam hitungan detik semuanya terasa gelap.
*****
“Joey... kumohon lepaskan dia! Dia tidak ada sanggut pautnya dengan semua ini!” sayup- sayup kudengar suara Carol memohon bercampur dengan isak tangis.
Aku mengerjapkan mataku. Dimana ini? Aku tak mengenali tempat ini. Hey... apa yang terjadi denganku? Mengapa tangan dan kakiku diikat di kursi seperti ini?
“Stop merengek- rengek seperti anak kecil, Carol!!!” bentak Joey yang membuatku beralih menatapnya.
Kulihat keadaan Carol juga sama denganku. Tangan dan kakinya terikat pada sebuah kursi.
“Lihatlah, malaikat penolongmu sudah sadar rupanya!” Joey menghampiriku begitu mengetahui jika aku tersadar.
“Lepaskan kami, BAJINGANNN!!!” kataku dengan nada suara tinggi. “Jika tidak...”
“Jika tidak ku lepaskan, lalu kau akan melakukan apa? Dengar gadis manis, tak ada satu orang pun yang akan menolongmu saat ini,” Joey menyentuh pipiku.
Cuihhh... kuludahi wajah Joey. Dan ini cukup membuatnya emosi sehingga mengarahkan belatinya ke arah pipiku.

 PART 39
“Kau benar- benar membuatku kehilangan kesabaran, Gadis manis!” ucapnya.
“Jangan kau lukai dia!” sahut Carol. “Sebenarnya apa yang kau inginkan?”
“Aku hanya ingin kau melayaniku malam ini.” Kini Joey kembali menghampiri Carol. “Kau tau, saat ini aku sangat menginginkan dirimu, Carol!” Joey mulai menciumi leher Carol.
Arghhh... selama liburan ini aku selalu saja mendapatkan tontonan yang tak seharusnya anak seumurku menontonnya!!!
“Kau lebih memilih melayaniku sekarang juga, atau...” Joey tersenyum licik menatapku. “Atau kau menginginkan jika malaikat penolongmu yang akan melayaniku!”
“BITCHHH... JAGA PERKATAANMU!!!” Joey benar- benar membuatku naik pitam. “Carol... jangan kau hiraukan perkataanya!” ku lirik Carol tampak berpikir.
Carol menarik nafas dan,,, “Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta!”
Aku benar- benar terperanga mendengar jawaban yang ke luar dari mulut Carol. Ini tidak bisa dibiarkan. Joey tak boleh meniduri Carol untuk kesekian kalinya! Sudah cukup penderitaan Carol selama ini. Ayo Caris... pikirkan cara untuk membantu Carol!!!
“Sebaiknya kita melakukannya di tempat lain. Tak baik jika kita melakukan ini di depan gadis manis di bawah umur seperti dia,” Joey melepas ikatan tangan dan kaki Carol. Kemudian ia membawa Carol ke luar dari ruangan itu.
Aku mencoba meronta sekuat tenaga untuk melepas ikatan yang membelenggu tanganku. Alhasil, aku tak jua berhasil walaupun tanganku mulai memerah karena aliran darahku mulai terganggu dengan ikatan itu.
“Sialll... kenapa susah sekali melepasnya!” umpatku kesal. Tak lama, kurasakan sesuatu bergetar dalam saku celanaku. Ahaaaa... kenapa aku melupakan BB milikku? Dengan susah payah aku mencoba meraih BB di dalam saku belakang celanaku.
“Yesss... berhasil!” ku pandangi layar BB ku walaupun cukup susah juga harus mendongakkan wajahku ke belakang, ternyata Justin yang menelepon. Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mengangkatnya.
“My Baby... kau di mana? Kau tau, Mrs. Laurent daritadi cemas mencarimu? Kau baik- baik saja kan?” Justin melontarkan pertanyaan yang bertubi- tubi namun tak ku hiraukan. Karena pada kenyataannya, aku tak mendengar apa yang Justin katakan. Tak mungkin pula aku menloadspeaker panggilan Justin, karena itu akan membuat Joey menyadari keberadaan BB ku.
“HEYYY... PRIA BRENGSEKKK!!! KEMARILAHHHHHH!!!” aku berteriak memanggil Joey dan berharap Justin mendengar perkataanku.
“Kenapa kau berteriak?” tanya Joey yang muncul telanjang dada.
“AKU LAPARRRRR!!! BISAKAHHH KAU MEMESANKANKU MAKANAN SIAP SAJI SEBELUM BERCINTA DENGAN CAROL???”
“STOP IT! SUARAMU MEMBUAT TELINGAKU PECAH!!!” yessss... akhirnya dia masuk ke dalam perangkapku. Kulihat Joey menekan tombol dial pada Hand Phonenya untuk menghubungi seseorang.
“CEPATLAHHH... AKU SUDAH LAPAR! Jika kau tak memberiku makanan saat ini juga, maka aku akan terus berteriak!!!” ancamku.
“SHUT UP!!!” kurasa Joey mulai gerah dengan teriakanku. “HELLO, SIR! BISAKAH KAU MENGANTARKAN SEPORSI FRIED CHICKEN KE ALAMAT PERUMAHAN OKLAHOMA NO. 198 BLOK 40 (ngarang banget dah penulis!).” Joey tampak berapi- api memesan makanan untukku. “Sebentar lagi makananmu akan datang. Jangan berteriak lagi!” Joey kesal dengan sikapku.
BRAKKK... dia membanting pintu ruangan di mana aku di sekap.
Setelah memastikan jika Joey benar- benar sudah pergi, aku kembali melongokan wajahku ke belakang punggungku.
“Hey... Pria menyebalkan, kau masih di sana?” aku memastikan jika Justin masih tetap mendengar suaraku. “Tunggu apalagi, cepatlah kau ke sini dan segera telepon polisi!” kemudian aku langsung mengakhiri pembicaraan dengan Justin.
“Hallo... My Baby!!!” tut... tut... tut... terdengar suara panggilan terputus. “Dasar gadis aneh! Masa iya begini caranya jika seseorang membutuhkan pertolongan?” Justin masih menatap layar BBnya. “Masa bodoh dengan semuanya! Aku harus segera menemukan dan membebaskan My Baby dari pria keparat itu! Ryannn... Chazzzz... where are you???” Justin mencari keberadaan kedua sahabatnya.

PART 40
Kembali pada nasibku... aku masih memutar otak mencari sesuatu yang dapat melepaskan ikatan ini. Tangan dan kakiku mulai kaku karena ikatan yang lumayan kencang itu.
“Ini makananmu! Makanlah!” suruh Joey yang muncul tiba- tiba. Sementara aku masih saja diam. “Tunggu apa lagi, cepatlah makan!”
“Dasar bodoh! Kau pikir aku ini hewan apa makan dengan keadaan tangan dan kaki terikat seperti ini?”
Joey melirik tangan dan kakiku. Kemudian dia melepaskan tali yang mengikat tangan kananku. Ahhh... bajingan ini rupanya cukup cerdik juga. Dia sengaja tak membuka kedua ikatan pada tanganku. Dan sekarang aku makan saja harus dia jaga.
“Aku paling tidak suka jika seseorang menatapku saat aku sedang makan!!!” ucapku tanpa melirik sedikitpun ke arah Joey.
“Umphhh... kau tau, wajahmu itu benar- benar seperti malaikat!” uwekkk... Joey mulai mengeluarkan rayuan gombalnya.
“Maaf, aku tak tertarik dengan rayuan gombalmu itu!!” balasku dingin. Kemudian aku menyodorkan sisa makananku berupa tulang- berulang ke arah Joey. Dan kuambil tissue basah yang memang dibawakan oleh Joey.
“Sekarang kau tunggu di sini dan jangan membuat kegaduhan!” Joey beranjak dari duduknya.
“Di mana Carol?” tanyaku sebelum Joey benar- benar ke luar dari ruangan itu.
“Dia ada di kamar sebelah. Kau harus menunggunya selesai melayaniku, ok!” ucapnya seraya menepuk- nepuk pipiku dan tak lupa kembali mengikat tanganku seperti semula.
Tuhan... jangan biarkan Carol melakukan hal itu! Kirimkanlah bantuan untuk menyelematkan dan mengeluarkan kami dari tempat ini!
Psttt... pssttt... kudengar sebuah suara dari arah jendela.
“Siapa?” tanyaku memicingkan sebelah mataku.
“Suttt... kecilkan suaramu!” kulihat Justin dari luar jendela. Thanks God... karena telah mendengar dan mengabulkan do’aku!
Dengan susah payah Justin mencoba mendobrak jendela yang tampaknya sudah lama tak dibuka. Kemudian dia loncat ke dalam ruangan itu dan segera melepaskan ikatan pada kedua kaki dan tanganku.
“Sakit?” tanyanya masih memegangi kedua tanganku. Ya... memang saat itu kuakui tanganku sangat perih dan sakit karena ikatan yang Joey buat sangat erat sekali. Buktinya saja kedua tangan dan kakiku memerah akibat ikatan itu.
“Kita harus segera menemukan Carol sebelum bajingan itu menyentuhnya!” ajakku tanpa menghiraukan pertanyaan Justin. Justin mencoba memapah tubuhku, namun segera ku tepis. “Aku baik- baik saja, Mr. Bieb!”
Dengan pelan ku buka pintu ruang di mana aku disekap dan mulai mencari Carol.
“Sebenarnya kau tunggu apa lagi? Bukankah kita sudah sering melakukannya? Kenapa kali ini kau begitu gugup?” itu... itu suara bajingan itu! Kutempelkan daun telingaku pada pintu kamar sebelah perapian. “Cepat, tanggalkan pakaianmu!” lanjutnya.
Aku tak mempunyai banyak waktu lagi untuk menolong Carol. BRAKKK... spontan aku langsung mendobrak pintu kamar yang ternyata tak terkunci.
Joey dan Carol kaget melihat kehadiranku.
“Kau? Bagaimana bisa kau lolos?” tanya Joey. “Owh... pantas saja, rupanya sepupumu datang untuk menolongmu,” Joey menatap ke arah Justin yang muncul di belakangku. Kemudian Joey menarik Carol dan mengarahkan sebuah belati ke lehernya.
“Caris, larilah! Kau tak perlu memperdulikanku!” lirih Carol pasrah.
“Lepaskan dia, Joey!” aku terus mendekat ke arah Joey yang berada di sudut ruangan.
“Jangan mendekat! Jika kau mendekat aku tak segan menggoreskan belati ini pada lehernya!” ancam Joey.
“Owh... silahkan saja! Kurasa kau tak punya nyali besar untuk melakukannya,”langkahku semakin mendekati Joey dan Carol. Namun, sesaat Justin memegangi lenganku.
“Kau gila! Jika kau semakin mendekat, dia akan melukai Carol!” bisiknya dari belakang. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.
“Kau itu tak lebih dari seorang PECUNDANG, Joey! Kau dengar, PECUNDANG!” aku kembali mendekati Joey.
Ketika aku kurang beberapa langkah lagi, Joey tampak mendekatkan belatinya untuk menggores leher Carol. Seketika itu juga aku langsung memukul pergelangan tangan Joey dan berhasil melucuti belatinya. Ku tarik lengan Carol agar menjauh dari bajingan itu.
Joey tak tau jika di sekolah aku juga ikut ekstrakurikuler karate.
“See... kau lihat sendiri kan. Kau itu benar- benar seorang PECUNDANG!” sekali lagi aku menyebut Joey seorang pecundang.
Setelah mengatakan itu, aku bermaksud berbalik dan mengajak Carol dan Justin untuk meninggalkan tempat ini. Tapi...

PART 41
“CARISSS... AWASSS!!!” seru Carol yang melihat Joey mengarahkan belati dari belakangku.
Spontan aku berbalik dan mencoba menepis serangan belati Joey, tapi apa bisa dikata malah meleset. Aku tak berhasil melucuti kembali belati di tangan Joey, yang ku lakukan adalah membiarkan belati itu menggores telapak tangan kananku. Yeah, aku berhasil menghentikan Joey untuk tidak menusukku dengan cara menangkis belatinya yang super tajam dengan telapak tanganku sendiri. Darahpun mengalir dari telapak tanganku.
“Are You ok?” aku merasakan kekhwatiran dari pertanyaan Justin ini. Tapi aku tak merintih sedikit pun.
Tak puas melihatku hanya terluka dibagian telapak tangan saja, rupanya Joey masih ingin menusukku. Joey kembali mengarahkan belatinya ke arahku yang saat itu sedang lengah... dan akhirnyaaaa...........
Sreppp... Joey berhasil membuat belati miliknya mengenai sasaran yaitu perut. Tusukan itu tepat mengenai perut bagian kiri Justin. Seketika itu juga Justin langsung terkulai lemas dan terjerembab ke lantai. TIDAKKK... Justin tertusuk karena dia melindungiku.
“JUSTINNN!!!” tiba- tiba Ryan muncul dan langsung berlari menghampiri Justin yang tak berdaya di lantai.
“Sir, tolong tangkap pria brengsek itu!!!” kemudian Chaz muncul bersama para polisi.
Polisi segera menangkap Joey yang waktu itu sempat mencoba melarikan diri dari jendela kamar, tetapi tak berhasil karena polisi telah mengepung tempat itu.
Tak butuh lama mendatangkan ambulance. Ryan, Chaz, dan beberapa polisi membopong tubuh Justin untuk segera dilarikan ke Rumah Sakit. Sementara aku dan Carol dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
*****

Dua jam polisi menginvestigasiku dengan Carol. Selesai itu, kami langsung pergi ke Lorina Stratford Hospital (ngarang niy nama RSnya) untuk mengetahui kondisi Justin. Setelah bertanya pada receptionist dimana ruangan Justin dirawat, kami pun segera menuju ke ruangan itu.
Oh ya, apa kabar dengan luka pada telapak tanganku? Telapak tanganku telah diobati saat aku dan Carol diinterogasi di kantor polisi tadi.
Di depan ruangan VIP 118 yang terletak di lantai 4, tampak keluarga besar Bieber, Chaz, Ryan, dan oma cemas menunggu dokter yang tengah memeriksa Justin. Jazzy yang waktu itu berada dalam gendongan Mrs. Dale tampak menangis tersedu.
“Bagaimana keadaannya?” tanyaku pada semua orang di sana.
“Tusukan itu cukup dalam dan membuatnya mengeluarkan banyak darah sehingga dia harus dioperasi secepatnya,” ungkap Chaz.
Tuhan... ini semua salahku. Justin seperti ini karena dia ingin melindungiku. Sekarang apa yang harus ku perbuat?
Aku terduduk lesu di lantai dan ini membuat semua orang menatapku.
“Cupcake, what happend?” oma menghampiriku.
“Seandainya aku tak memintanya untuk mencariku, pasti saat ini dia baik- baik saja. Ini semua salahku!” lirihku.
Mrs. Pattie yang awalnya duduk beranjak menghampiriku. “Honey, ini bukan salahmu. Semua ini murni kecelakaan yang tak disengaja. Berhenti menyalahi dirimu sendiri, lebih baik kita berdoa agar operasi Justin berjalan lancar dan segera mendapat donor darah!” Mrs. Pattie mencoba menenangkanku.
Tak lama Justin dibawa menuju ruang operasi. Semua orang yang ada di sana turut berdoa agar operasi itu berjalan lancar dan berhasil. Masalah donor darah, Mr. Jeremy telah mendonorkan darahnya untuk Justin. Syukurlah donor darah dari Mr. Jeremy cukup untuk mengganti darah Justin yang banyak mengucur akibat tusukan itu.
Selama operasi berlangsung aku terus saja mondar- mandir mengitari sepanjang lorong ruang operasi. Entah kenapa hatiku tak tenang. Aku merasa bertanggung jawab atas semua musibah ini.
Dua jam lamanya, akhirnya dokter yang mengenakan pakaian serba hijau itu ke luar dari ruang operasi.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Mrs. Pattie.

PART 42
“Syukurlah Justin telah melewati masa kritisnya. Saat ini dia masih belum siuman. Mungkin nanti malam atau besok dia mulai siuman. Sekarang kami akan memindahkannya ke dalam ruang rawat!” jelas Dokter yang menangani operasi Justin.
Senyum lebar mulai terlihat pada wajah semua orang, kecuali diriku. Aku lega mendengar Justin melewati masa kritisnya, namun ini masih belum membuatku tenang.
Begitu Justin dipindahkan ke ruang rawat, tak semua orang boleh menjenguknya. Sehingga yang masuk ke dalam ruang rawat itu hanya Mrs. Pattie dan Mr. Jeremy.
*****

Malam ini aku putuskan untuk menginap di Rumah Sakit untuk menjaga Justin. Sementara keluarga besar Bieber aku sarankan untuk pulang agar besok pagi kembali lagi menjenguk Justin. Awalnya Mrs. Pattie menolak, namun setelahku bujuk akhirnya dia mau juga mengikuti saranku.
Di rumah sakit aku ditemani Chaz dan Ryan. Sementara Carol pulang ke rumah untuk menemani oma.
Begitu semua orang pulang, kami bertiga (aku, Chaz, dan Ryan) masuk ke dalam ruang rawat itu. Di dalam, tampak Justin terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. Melihat keadaan Justin membuatku merasa bersalah.
Ryan dan Chaz berdiri di samping kasur tempat Justin terbaring. Mereka membisikkan sesuatu pada Justin.
“Hey, Dude! Sadarlah! Jika kau terus- terusan berada di sini, aku jadi tak punya teman bermain basket lagi!” bisik Ryan.
“Ryan benar, kita berdua tak akan mempunyai saingan terberat dan terhebat lagi jika kau terus terbaring di kasur itu! Apa kau akan membiarkan aku dan Ryan ke luar sebagai pemenang begitu saja? Aku rasa tidak. Cepatlah siuman, Dude!” sahut Chaz.
Kemudian mereka berdua memeluk tubuh Justin secara bersamaan. Aku tersenyum melihat kekuatan persahabatan mereka.
“Hey, kurasa kau belum makan malam kan?” tanya Chaz padaku yang masih berdiri memperhatikan mereka bertiga. Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. “Kebetulan aku juga lapar. Ryan, ayo kita beli makanan!” ajak Chaz.
“Baiklah! Caris, kami berdua membeli makanan dulu. Tolong kau jaga sahabat kami ini ya!” pesan Ryan.
Seperginya mereka berdua, aku mendekati Justin yang terbaring dengan infus dan selang oksigen di hidungnya.
Justin, maaf! Maaf karena telah membuatmu menjadi seperti ini. Aku janji akan menebus semua kesalahanku ini. Cepatlah sadar, Mr. Bieb! Lirihku dalam hati.
*****

Ketika sang surya mulai menampakkan dirinya, saat itu pula Justin siuman. Perlahan Justin membuka kedua matanya.
“Selamat pagi!” sapa seorang perawat yang pagi itu akan mengecek keadaan Justin. “Syukurlah kau telah sadar, Justin!”
“Di mana ini?”
“Saat ini kau dirawat di rumah sakit akibat luka tusuk. Do you remember?” kata perawat itu menerangkan.
“Yeah, aku ingat ketika bajingan itu mengarahkan belatinya pada perutku.” Justin memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Chaz dan Ryan yang tengah tertidur pulas di sofa.
“Kau beruntung mempunyai keluarga, sahabat, dan kekasih seperti mereka!” lanjut perawat itu. “Sejak semalam kedua sahabat dan kekasihmu menjagamu,” kemudian perawat itu menunjuk ke arahku yang juga tertidur pulas di sofa lain.
Justin tersenyum menatapku dan kedua sahabatnya.
“Bisakah kau memapahku ke sana?” Justin memaksa untuk menghampiri sofa di mana aku dan kedua sahabatnya tertidur.
Awalnya sang perawat menolak karena Justin baru saja siuman dan tidak memungkinkan untuk banyak bergerak. Tapi, Justin memaksa sehingga perawat pun tak bisa menolaknya. Justin membawa dua selimut yang disediakan rumah sakit itu. Sementara sang perawat membantu memapah tubuh Justin dan membawa tabung infusnya.
Justin menyelimuti tubuh kedua sahabatnya terlebih dahulu. Kemudian dia menghampiriku dan duduk di sampingku. Justin meminta sang perawat untuk meninggalkannya.
“Kau yakin?” tanya perawat itu memastikan. Justin mengangguk mantap. Justinpun mengambil tabung infus yang berada di tangan perawat itu.
Seperginya perawat itu, Justin menyelimuti tubuhku dengan selimut yang dibawanya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mengelus pipiku lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar