PART 7
Kemudian aku melihat sesosok anak kecil
melintas di hadapanku dan Drew. Anak laki- laki berumur sekitar 9 tahun dengan
baju kumal dan beberapa lembar majalah di dalam dekapannya saat itu berhenti
tepat di depan poster besar bergambar Justin Bieber. Entah mengapa kakiku
langsung saja melangkah menghampiri bocah itu. Drew mengikutiku dari belakang.
“Hy!” sapaku. “Kenapa kau berdiri di depan
poster ini?” pertanyaanku hanya di balas senyuman kecut darinya. “Kau
beliebers?” bocah itu hanya mengangguk pelan. “Lalu, mengapa kau tidak masuk ke
dalam gedung itu dan menemui idolamu?”
“Apa pantas bocah sepertiku masuk ke dalam
gedung itu hanya untuk mengatakan, Justin… aku penggemarmu! Aku rasa tidak.”
Anak kecil itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah poster itu. “Itu
seperti mimpi yang selamanya tak akan pernah terwujud bagiku!” lanjutnya lirih.
Aku benar- benar iba melihat keadaan anak
kecil itu. “Bagaimana jika malam ini kau benar- benar bisa masuk ke dalam
gedung itu?” ucapanku kali ini membuatnya menatap heran ke arahku.
“Bagaimana bisa? Uangpun aku tak punya untuk
membeli tiket yang harganya melambung itu.”
Kemudian aku menyodorkan selembar kertas
bewarna ungu bertuliskan “JB press conference ticket” ke hadapan anak itu.
Kulihat bola matanya berbinar- binar.
“Ini untukkmu! Masuklah! Aku rasa acaranya
belum mulai.”
“Kau serius? Aku sedang tidak bermimpi kan?”
anak itu masih tak percaya akan hadirnya tiket itu. “Tapi… apakah aku pantas
masuk ke dalam gedung itu? Kau lihat sendiri, penampilanku seperti ini!”
Hmphhh… aku mulai memandangi penampilan anak
itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ahaaa… aku tau apa yang harusku
lakukan.
“Come on, follow me!” aku mengajak anak itu
berjalan mengikutiku menuju tempat parkir di mana mobil papa berada.
Sesampainya di tempat parkir, kubuka bagasi
belakang, mengacak- acak isi yang ada di dalam sebuah koper kecil, dan… ketemu!
“I get it!” seruku setelah mendapati T- shirt
ungu milikku. “Pakai ini!” tanpa berpikir panjang anak itu langsung menanggalkan
pakaiannya dan menggantinya dengan T- shirt yang baruku berikan. “Not Bad!”
responku setelah melihat penampilan anak itu.
Untung saja aku ingat jika aku masih
meletakkan salah satu koperku di dalam bagasi mobil. T- shirtku tampak cocok
dikenakan oleh anak itu.
“Kenapa kau lakukan semua ini untukku? Dengan
cara apa aku harus membalas semuanya?” sahutnya lugu. “Bukankah kau juga salah
satu Beliebers? Bagaimana bisa kau mengikhlaskan tiket ini untukku?”
“Sudahlah, kau jangan terlalu banyak tanya.
Lebih baik sekarang kau masuk ke gedung itu!”
“Ini tanda terima kasihku kepadamu.
Terimalah!” anak itu menyodorkan salah satu majalah yang sedari tadi tertata
rapi di dalam dekapannya. Majalah bergambar Justin Bieber sebagai cover
depannya.
“Aku melakukan ini tulus. Lebih baik kau
masuk ke dalam membawa majalah ini, dan dapatkan tandatangan idolamu di sini!”
aku menunjuk cover depan majalah itu lalu ku taruh kembali majalah itu di atas
tumpukan dalam dekapannya. “Masuklah, temui idolamu!” suruhku.
Anak kecil itu langsung berlari menuju pintu
utama gedung Atlanta Centre. Tapi ternyata ia mendapatkan kendala. Salah satu
pihak keamanan gedung itu tidak mengijinkannya masuk. Tiket yang tadi ku
berikan disangka tiket palsu. Kejadian itu benar- benar membuatku geram. Kali
ini Drew tidak mengikuti langkahku yang menghampiri pihak keamanan itu.
“Kau mendapatkan tiket ini dari mana? Bocah
sepertimu tidak mungkin mempunyai tiket ini! Jangan- jangan kau mencuri tiket
ini dari salah satu pengunjung di sini?” pihak keamanan menginterogasinya. Anak
kecil itu hanya bisa tertunduk.
“Apa yang kau lakukan terhadap anak ini? Tak
sepantasnya kau menuduhnya seperti itu. Apa kau kira semua belieber yang bisa
bertemu dengan Justin hanyalah belieber yang berasal dari kalangan atas? Hah…
dangkal sekali pikiranmu itu!” dengan cepat aku merebut kembali tiket yang ada
di tangan pihak keamanan itu. “Apakah kau tidak bisa membedakan tiket ini asli
atau tidak? Tiket ini asli dan baru saja ku beli setelah cukup lama mengantri
di sana!” aku menunjuk tempat pembelian tiket gedung itu. “Silahkan cek kembali.
Tak ada untungnya aku berbohong masalah ini!”
Petugas itu mengamati kembali tiket itu.
“Tiket ini asli.” Jawabnya kemudian. “Kau boleh masuk, anak muda!” petugas itu
mengijinkannya masuk. Senyum mulai merekah menghiasi wajah anak itu.
“Thanks! Aku akan selalu mengingat
kebaikanmu!” ucapnya dan langsung berlari memasuki gedung itu.
PART 8
Aku tulus memberikan tiketku untukknya. Yaa…
setidaknya itu membantuku untuk tidak mengabiskan waktu di dalam sana. Aku
kembali ke tempat parkir mobil berniat menunggu Auris dan Mr. Jake di dalam
mobil.
“Kau sungguh baik sekali berkorban memberikan
tiket itu untuknya!” aku baru menyadari jika sedari tadi Drew menungguku di
tempat parkir.
“Kenapa kau masih di sini? Bukankah kau juga
ingin menghadiri acara yang membosankan itu?”
“Kenapa kau memberikan tiket itu secara cuma-
cuma? Mengapa kau sangat membenci seorang Justin Bieber?” Drew tidak
mengindahkan pertanyaanku.
“Kau ini kenapa selalu saja mempertanyakan
hal itu kepadaku?” sungutku kesal dan masih enggan untuk menatap dirinya.
“Aku hanya ingin tau saja jawabanmu! Apa
karena dia seorang superstar?”
“Dengar baik- baik… ini semua tida…akk…”
kalimatku terpotong ketika melihat sosok lain di hadapanku. “Di mana Drew?”
tanyaku kemudian ketika menyadari orang yang berdiri di hadapanku berubah. Dia
bukan Drew si kacamata hitam. Ini benar- benar aneh. “Kau… bukannya kau…”
“Yeah… I’m Justin. Actually, Drew is Me! Maaf
jika dari awal pertemuan aku tidak memberitahukan siapa aku sebenarnya.”
No… it’s crazy to me! Tidak mungkin seorang
Drew berubah menjadi Justin Bieber sang superstar.
“Siapapun dirimu, I don’t care with you!”
“Why you don’t care with me? Aku hanya ingin
berteman denganmu. Aku rasa kau gadis yang menyenangkan bila dijadikan sebagai
teman.”
“Jangan berlagak bak seorang cenayang di
hadapanku. Kau tidak tau siapa aku, dan kita tidak pernah kenal sebelumnya!”
“Justin!!!” seorang berkulit hitam dengan
tubuh tegap besar memanggil Justin dan berlari menghampiri kami. “Akhhh… kau
ini selalu saja menghilang. Cepatlah! Sudah waktunya.”
“Alright, Kenny. Aku mengerti tugasku.” Jawab
Justin lesu kemudian ia kembali menatapku.
“Aku rasa kau harus cepat masuk ke dalam
sebelum semua Belieber kecewa dan acara ini berlangsung tidak lama.” Ucapku membalas
tatapannya.
Justin hanya mengangguk pelan kemudian dia
bersama bodyguardnya masuk ke dalam gedung itu.
Sementara aku tetap stay di parkir mobil
menunggu Auris dan Mr. Jack. Masih tak percaya dengan kejadian malam ini.
Bagaimana bisa Drew berubah menjadi Justin Bieber? Mungkin saja. Karena bila
dilihat dari nama panjang Justin kan Justin Drew Bieber. Ahhh… tapi sudahlah,
kenapa harusku ambil pusing? Bukan urusanku.
*****
Kurebahkan tubuhku di atas kasur kamarku.
Hari ini sangat melelahkan bagiku.
“Aku mengganggumu?” suara oma berada di
ambang pintu kamarku. Aku hanya tersenyum. “Bagaimana hari pertamamu di
Atlanta? Cukup menyenangkan?”
“Menyenangkan bagi Auris, tidak untukku. Oma
tau sendiri kan aku tidak mengidolakan seorang Justin Bieber. Kenapa aku selalu
mengikuti Auris untuk pergi menontonnya? Jika aku mengetahui dari awal begini,
lebih baik ku habiskan liburanku di Indonesia. Menghabiskan waktu bersama
teman- temanku untuk menonton pertandingan NBL,” aku
meluapkan semua perasaanku kepada oma. Ya… aku lebih senang menghabiskan waktu
bercerita kepada oma dibandingkan papa. Papa terlalu sibuk untuk mendengarkan
semua cerita apalagi kekesalanku.
“I know, Cupcake. Tapi kau tidak boleh
begitu. Bagaimana pun kalian itu saudara kembar yang harus saling jaga.
Bukankah kau merindukanku? Jika kau menghabiskan waktu liburanmu di Indonesia,
bagaimana mungkin kau bertemu denganku?” perkataan oma sedikit menyadarkanku.
“Sudah larut, sebaiknya kau beristirahat! Besok pagi masih banyak bukan
rencanamu untuk mengelilingi kota ini?” oma mengecup keningku lembut dan segera
pergi dari hadapanku.
PART 9
Seperginya oma, BB yang berada di atas meja
riasku bordering.
Bip… bip… bip… panggilan masuk dari Ane.
Tanpa basa- basi lagi langsungku angkat.
“Carissss…… Miss You!!!” suara Ane memekakkan
telingaku.
“Tak perlu berlebihan, belum genap dua hari
kita tidak bertemu! Kau ada dimana? Ramai sekali di sekitarmu!”
“Coba tebak, sekarang aku berada di mana?”
akhhh… si Ane ingin bermain tebak- tebakan rupanya!
“Ane… mood ku tak bagus hari ini untuk
becanda.” Jawabku sedikit lesu.
“Okay,, I’m sorry, Car! Memangnya ada apa?
Tampaknya kau lesu sekali.” Temanku yang satu ini selalu mengerti jika aku
dalam masalah. Aku pun menceritakan semuanya pada Ane, kecuali tentang
identitas Drew yang asli. Ya, aku memilih bungkam dan tidak menceritakannya
kepada siapa- siapa. Eh… malah di ujung ceritaku, Ane membalas dengan tawa
terbahak- bahak.
“Heyyy… kenapa kau tertawa?”
“Kau lucu sekali, Caris! Hmphhh… jika aku
menjadi dirimu, aku pasti senang sekali karena bisa menonton Justin Bieber
secara langsung.”
“Sayangnya aku bukan dirimu yang juga
tergila- gila akan Justin Bieber!!!
Lebih baik kau sekarang ceritakan sebenarnya kau ada di mana?”
“Aku sekarang berada di SABUGA Bandung
menonton pertandingan NBL antara Garuda Flexy vs CLS Knights. Car, sumpah Deny
Sumargo keren sekali!” Ane meluapkan kesenangannya. “Oh ya Car, di depan
bangkuku ada Kelly Purwanto juga lho… sebelum pertandingan aku sempat foto
bareng dengannya.”
What the hell! Ane berhasil foto bersama
Kelly Purwanto? Pemain basket idolaku? God… what must I do? Bagaimanapun aku
juga ingin bertemu dengan Kelly Purwanto. Selama ini aku hanya bisa bertemu
dengan Kelly tapi belum memperoleh kesempatan untuk foto bersama. Hiksss…
menyedihkan sekali aku ini!
Aku menutup pembicaraanku dengan Ane by phone
dengan perasaan kesal, marah, sedih. Jangan salah paham dulu, aku tidak marah,
kesal, ataupun geram terhadap Ane. Tapi aku kesal, marah, dan sedih pada diriku
sendiri. Seandainya saja aku ada di sana, pasti aku juga bisa mendapatkan foto
bersama dengan pemain idolaku.
*****
“Cupcake, wake up!” suara papa menganggu
tidurku.
“Dad, ini masih terlalu pagi untukku!” aku
menarik kembali selimut hingga menutupi wajahku.
“Tidak terlalu pagi untuk sampai ke Texas.
Perjalanan menuju Texas akan macet sekali jika kau tidak bangun sekarang. Hari
ini ada pertandingan antara Lakers melawan All Star Hollywood. Apa kau ingin
melewatkan pertandingan ini?” ucapan papa kali ini langsung membuatku antusias
dan bangun dari tidurku.
“Really, Dad? I’m not a dreaming now?”
tanyaku sembari mengucek- kucek mataku. Papa hanya tersenyum ke arah ku.
“Bersiap- siaplah! Kau akan pergi ke Texas
bersama Mr. Jake. Papa menunggumu di bawah.” Papa mengusap- ngusap puncak
kepalaku dan segera pergi ke luar.
Aku pun segera pergi ke kamar mandi. Lima
menit kemudian aku ke luar dari kamar mandi dan segera membuka lemari bajuku.
Ku ambil kaos ungu dengan tali di pundak, dengan celana jeans putih selutut.
Untuk make- up, aku hanya memakai bedak tabur bayi dengan sedikit lipgloss pink
yang mewarnai bibirku.
“Aku siap!!!” seruku menuju ruang tengah
dengan tas dan sepatu cats ungu di tangan kananku, dan jaket putih di tangan
kiriku. Di ruang tengah sudah berkumpul papa, oma, serta Mr. Jake. Hanya Auris
yang tidak ikut berkumpul. Hah… pasti dia sekarang masih berada di alam
mimpinya.
Sebelum menuju Texas, aku dan Mr. Jake
menyempatkan diri untuk sarapan bersama papa dan oma.
PART 10
Sesampainya di Texas,
Aku tertegun melihat Sport Hall Texas yang
super duper keren.
“It’s amazing!” gumamku ketika melangkahkan
kaki memasuki lapangan indoor. Namun, pandanganku tertuju pada beberapa
penonton yang membawa poster dengan tulisan ‘I Love Justin Bieber…! You’re my
Ninja Purple’. “Apa yang mereka pikirkan? Ini bukan tempat si Bieber mengadakan
konser kan?” Mr. Jake hanya mengangkat bahu menandakan ketidaktahuannya.
Sudahlah, apa perduliku masalah itu. Yang
pasti hari ini aku akan menonton pemain favoritku. Yaa… siapa lagi kalau bukan
KOBE BRYANT. Cukup lama aku mengidolakan pemain Lakers bernomor punggung 6 itu.
Tak lama setelah itu, seseorang yang akan
memandu acara itu muncul di tengah lapangan. Ia pun segera memanggil pemain
dari Lakers. Tepuk tangan penonton bergemuruh ketika satu per satu para pemain
Lakers ke luar menuju ke tengah lapangan. Aku pun semakin menambah tenagaku
untuk bertepuk tangan ketika ku lihat pemain idolaku muncul. Itu benar- benar
Kobe Bryant. Dan aku masih tidak mempercayai hal ini.
Kini tiba giliran pemandu acara
memperkenalkan tim lawan yang akan bertanding dengan Lakers. Siapa lagi jika
bukan tim All Star Hollywood. Penonton sedikit tak terkendali ketika salah satu
pemain All Star disebut namanya.
“Justin Bieber!” suara pemandu acara membuat
para Belieber yang ada di dalam lapangan indoor ini histeris.
“Pantas saja ramai sekali! Rupanya dia
bertanding juga.” Gumamku melihat kehadiran Justin di tengah lapangan yang saat
itu juga mengenakan kaos tim bernomor punggung 6.
Pertandingan pun dimulai. Pertama, bola mulai
dikuasai oleh tim Lakers. Dengan pasti Kobe, pemain idolaku mendrible bola
melewati tim lawan, dan… berhasil melakukan lay up. 2 point untuk tim Lakers.
“Yeeee… that’s my hero!”pekikku saat melihat
Kobe berhasil menambah angka untuk timnya.
Berhasilnya Kobe manambah point, rupanya tak
membuat semangat tim lawan surut. Saat ini bola tampak berada dalam kekuasaan
Justin. Dia masih sibuk mencari celah untuk menembus pertahanan tim Lakers.
Pada batas garis three point, dia berancang- ancang melakukan tembakan dan…
HOPHHH… bola masuk ke dalam ring dengan mulus tanpa perlawanan.
“Not bad!” gumamku menilai style permainan
Justin. Memang, jika dilihat secara fisik, Justinlah yang paling kecil di
antara pemain yang lain. Tinggi badan yang ia miliki tak sebanding dengan
pemain lainnya. Tapi, harus ku akui, permainannya tidak terlalu buruk.
Pertandingan berlangsung selama 2 jam.
Setelah melalui jalan pertandingan yang cukup seru dan menegangkan, pada akhir
babak LA. Lakers berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 86 – 84. 86
untuk LA. Lakers dan 84 point untuk tim All Star Hollywood.
“Dan… gelar MVP pada pertandingan kali ini
adalah….” Suara pemandu acara kembali menarik perhatianku.
Kobe… Kobe… Kobe… aku pun melantunkan nama
idolaku dalam hati berharap dia menjadi MVP pada pertandingan kali ini.
“Jatuh pada Justin Bieber!” pemandu acara
kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong.
“JB… We proud of you!!!” teriakan Belieber
semakin bergema di dalam lapangan indoor itu.
“Sial! Kenapa dia?” sungutku kesal seakan tak
terima.
Dengan diumumkannya peraih MVP, berakhir pula
pertandingan. Aku dan Mr. Jack memilih untuk diam dahulu di gedung itu karena
jalan untuk ke luar gedung itu masih ramai dipadati Belieber yang berebut untuk
foto dan minta tandatangan sang idola.
“Kau tidak ikut mengantri seperti mereka?” tanya
Mr. Jake memandang ke arah kerumunan Belieber.
“For what? Aku bukan Auris, Mr. Jake.”
Cukup lama aku dan Mr. Jake berdiam diri
dalam lapangan menunggu kerumunan Belieber berkurang. Dan akhirnya, aku
berhasil ke luar dari gedung itu setelah Justin mengerjakan tugasnya dengan
cepat.
Di luar gedung, lagi- lagi penyakit beserku
kumat. Arghhh… benar- benar tak tau tempat nich penyakit. Aku segera berlari
menuju toilet wanita yang berada di samping gedung.
“Aku benar- benar tak percaya bisa foto bersama
dan memperoleh tandatangannya. Dia jauh lebih keren dibandingkan dengan foto dan posternya!” gumam salah
satu belieber yang juga ada di toilet itu.
Setelah aku amati, ternyata toilet itu penuh
akan Belieber yang sibuk menceritakan kejadian di dalam lapangan tadi. Huhhhh…
jika terus- terusan begini lama- lama aku bisa ngompol di celana. Aku
memutuskan ke luar dari toilet wanita itu dan mencari toilet lain.
Tak lama aku menemukan sebuah toilet. Hanya
saja toilet itu tidak ada tulisan dikhususkan untuk pria ataupun wanita.
Kupercepat langkahku menuju toilet itu, dan…
PART 11
“Heiii… apa- apaan ini!” seruku ketika
tanganku dan tangan seorang cowok beradu untuk membuka pintu toilet itu. “Aku
terlebih dahulu yang sampai di depan toilet ini!” lanjutku sinis setelah
mengetahui siapa cowok itu.
“Aku juga. Kita sampai bersamaan.”
“Justin Bieber, bisakah kau mengalah untuk
perempuan. Di mana- mana perempuan selalu diutamakan.”
Justin menggelengkan kepalanya. “Untuk
masalah panggilan alam seorangpun tidak akan ada yang mengalah. Come on Caris,
menyingkarlah dari pintu itu!”
“Tidak bisa! Aku juga mempunyai hak yang
sama. Aku juga tidak tahan!” aku tetap bersikeras untuk menang.
“Ok… ok… lebih baik kita main kertas, batu,
gunting. Siapa yang menang dia yang masuk terlebih dahulu.
Bagaimana?” usulan Justin kali ini aku setujui.
Kertas… batu… gunting… dan… Arghhhh… sial aku
kalah! Posisi telapak tangan Justin merentang menandakan kertas, sedangkan
posisi telapak tanganku mengepal menandakan batu.
“Aku menang!” Justin tersenyum puas dan
langsung masuk ke dalam toilet.
Tingkah kami saat itu benar- benar seperti
anak kecil hanya karena berebut toilet. Sungguh benar- benar memalukan.
“Justin… hurry up!!!” aku menggedor- gedor
pintu toilet. Keringat dingin bercucuran dari atas keningku.
“Lega…” begitu Justin ke luar dari toilet
itu, aku langsung menerobos dirinya. Justin hanya memandang heran ke arahku.
Dari dalam toilet aku masih mendengar suara
Justin. Itu artinya ia masih berdiri di depan toilet. Kenapa aku selalu bertemu
dengannya? Kenapa bukan Auris saja?
“Kau sudah selesai?” tanyanya ketika aku ke
luar dari dalam toilet. “Oh ya kenalkan, ini Kobe. Kobe, ini Caris, teman
baruku!” Justin mengenalkan aku pada seseorang.
Teman baruku? Sejak kapan aku berteman
dengannya? Deg… aku sempat tertegun sejenak melihat orang yang saat itu berdiri
di depanku.
“Ka…u… Kau Kobe Bryant pemain Lakers kan?”
tanyaku amburadul. Benar- benar memalukan aku ini. Bisa- bisanya bersikap bodoh
di depan pemain favoritku. Kobe hanya mengangguk mantap membalas pertanyaanku.
“Hey, Man… bolehkah aku dan Caris berfoto
bersamamu? Aku tak mau melewatkan kesempatan ini dengan sia- sia.” Justin
langsung menarik tanganku untuk turut dalam foto bersama itu. Dia segera
mengeluarkan BB miliknya.
Posisinya saat itu aku berada di tengah-
tengah Justin dan Kobe. Saat itu yang mengambil gambar adalah Kenny, bodyguard
pribadi Justin. Dan untuk foto kedua, hanya aku dan Kobe yang berfoto. Justin
lebih memilih sebagai pengambil foto saja.
“Thanks, Man! Kau telah meluangkan waktu
untuk foto bersama kami.” Ujar justin setelah selesai sesi pengambilan foto.
Hatiku berlompat- lompat tak karuan. Hanya
saja aku tidak menampakkan di depan Kobe dan Justin. Aku tidak mau menampakkan
histeriaku di depan idolaku. Karena aku bukan tipe penggemar yang harus
histeris sampai menangis berguling- guling jika bertemu dengan idolaku.
“Tidak menjadi masalah buatku, Man! Aku juga
senang bisa bertemu dengan penyanyi yang sekarang banyak digilai remaja
sepertimu!
Setelah berbincang- bincang cukup lama,
akhirnya Kobe pun pergi.
“Sekarang kita impas.” Perkataan Justin kali ini membuatku tak paham akan
maksudnya. “Yeah… kita impas. ” Justin balik menatapku. “Semalam
kau telah membantu penggemarku untuk menghadiri acara press conference. Dan
hari ini aku membantumu sehingga kau bisa berfoto bersama idolamu.”
Idolamu? Dari mana dia tau?
“Dari mana kau tau aku mengidolakannya?”
“Dari tatapan matamu!” Justin memposisikan
dirinya semakin dekat ke arahku. “Jangan berbohong padaku!” ujarnya tersenyum.
“Apa- apan kau ini, menjauhlah dariku!” aku
merasa risih dengan tingkah Justin. “Berhentilah bersikap layaknya seorang
cenayang yang bisa mengetahui kehidupan orang lain! You don’t know me! Jika
faktanya aku memang mengidolakannya, apa urusanmu? Permainan basketnya bagus
kok, dan aku pikir seharusnya yang menjadi MVP pada pertandingan ini adalah
dia.” Aku masih bersikap sinis padanya. Entah kenapa aku selalu bersikap jutek
dan sinis terhadapnya. Padahal jika dipikir- pikir, hari ini dia telah
melakukan kebaikan terhadapku.
“Itu menurutmu. Tapi kau harus terima
kenyataan jika MVP pertandingan kali ini adalah aku, My Baby!” ucapnya
tersenyum manis sembari menyentuh pipiku dan langsung pergi.
What!!! Berani- beraninya dia menyentuh
pipiku. My Baby? Apa maksudnya? Mengapa dia memanggilku dengan sebutan My
Baby?? Aku menghampiri Mr. Jack yang sedari tadi menunggu di tempat parkir
sambil ngedumel sendiri di dalam hati. Arghhh… benar- benar hari yang
menyebalkan!!! Sekaligus menyenangkan, hehehe…
*****
PART 12
Sore harinya di kediaman keluarga Hawkins…
“Grandma… where is my sister?” suara Auris
dapat kudengar walaupun saat ini aku berada di lapangan basket di samping
rumah. “Caris…!!!” Auris berhasil menemukan keberadaanku. “Coba kau tebak,
barusan aku bertemu siapa saat aku makan di Mc. Donald?”
“Aku tau siapa yang kau maksud itu!” aku
masih saja fokus mendrible bola basket di tanganku.
Merasa tak dhiraukan, Auris merebut bola
basket yang ada dalam kuasaku. “Kau menyebalkan! Harusnya kau tanya padaku,
siapa orang yang ku maksud. Bukan malah menjawab, aku tau siapa yang kau
maksud!”
“Kau ini selalu mengangguku! Cepat katakan,
siapa orang yang kau maksud?” dengan sigap aku langsung merebut kembali bola
basket milikku.
“Kau tau, barusan aku bertemu dengan Justin
Bieber di Mc. Donald. Eits… jangan kau kira aku yang menghampirinya terlebih
dahulu! Yang ada dialah yang menghampiriku. Ahhhh… senangnya diriku!!!” Auris
tampak gembira sekali.
“Owh…” aku meng- o.
“Owh…??? Kau meresponku hanya dengan Owhhh???
Caris… ini sebuah keajaiban buatku!” sungutnya kesal mendengar responku.
“Lalu aku harus bagaimana? Ikut berjingkrak-
jingkrak karena kau bertemu dengan idolamu? Tadi aku sudah mengatakan jika aku tau
siapa yang kau maksud. Jadi aku tidak kaget begitu kau menyebut namanya.”
“Terserah kau sajalah! Yang pasti hari ini
aku senang bertemu dengan My Justy!” tingkah Auris membuatku mengeleng-
gelengkan kepala. Anak ini benar- benar berlebihan. “Oh ya, tapi saat tadi ia
menghampiriku, dia sempat menyapaku dengan sebutan Carista. Untung saja aku
langsung menjelaskan yang sebenarnya jika aku dan kau adalah saudara kembar. Heran…
dari mana dia tau namamu? Tapi, it’s okay… yang penting tadi aku sempat
bertukar pin BB dengannya!” Auris masih saja nyerocos menceritakan kejadian
itu. “Tadi dia juga menanyakan pin BB milikmu.”
Ucapan Auris kali ini menarik perhatianku.
“Lalu?” tanyaku penasaran.
“Ya… lalu ku berikan pin BB mu!” jawabnya
ringan. “Siapa tau saja dia akan menghubungimu di saat dia tidak dapat
menghubungiku.” Iuhhh… Pe- De sekali kakakku yang satu ini.
And now… Justin telah memiliki pin BB ku.
Caris… selamat datang dalam mimpi buruk!!! Bodoh sekali Auris memberikan pin BB
ku terhadap Justin tanpa sepengetahuanku.
*****
Selesai makan malam bersama oma, papa, dan
Auris, aku memilih menghabiskan waktu di dalam kamar. Kubuka laptop, mencoba
mengecek berbagai jejaring social milikku. Ya… malam itu aku membuka akun
Facebook dan Twitter ku.
“Hah… nothing special!” ucapku setelah
melihat kedua akun jejaring socialku.
Kemudian aku memilih logout dan menutup
laptop milikku. Tak lama, BB yang berada di samping laptop ku bergetar.
Menandakan ada BBM masuk.
From : xxxxxxxxxx
Night, My Baby!!!
Isi BBM itu membuatku mengerutkan keningku.
Siapa dia? Nomornya tak ada dalam list contact di BB milikku. Dengan cepat ku
mainkan jemariku untuk membalas BBM itu.
From : Caris
To : xxxxxxxxxx
Who are you?
Beberapa menit kemudian BB milikku kembali
bergetar. Tapi kali ini aku menerima kiriman dua buah foto. Foto saat aku
berada di antara Justin dan Kobe. Dan foto berdua antara aku dan Kobe. Ya… itu
foto tadi pagi yang baru saja diambil.
From : xxxxxxxxxx
To : My Baby
Kau sudah terima fotonya? Kalau
kau sudah menerima fotonya, artinya aku tidak mempunyai hutang lagi terhadapmu
:’)
From ; Caris
To : xxxxxxxxxx
I think, I know who you are!
Mengapa kau terus saja memanggilku
dengan sebutan My Baby?
Aku rasa aku tau siapa si pengirim misterius
ini. Justin… ini pasti dia!
From : Justin
To : My Baby
Excellent! Finally you know me,
My Baby. I call you with my baby because I think your face is like Baby :’)
“Apa yang ada di pikirannya? Bisa- bisanya
dia menyamakan aku dengan bayi!” aku mendengus kesal membaca BBM Justin.
From : Caris
To : Justin
Kau benar- benar menyebalkan!
From : Justin
To : My Baby
:’)
Aku tidak membalas lagi BBM Justin. Aarghhh…
cowok satu ini sangat menyebalkan bagiku! Tapi dilain sisi aku harus berterima
kasih atas kebaikannya karena telah mengirimi fotoku bersama Kobe.
Sebelum tidur, ku buka lagi BB milikku, ku
lihat lagi fotoku bersama Kobe yang baru saja dikirimi oleh Justin. Senangnya…
akhirnya aku bisa bertemu dan foto bersama pemain idolaku.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar