Minggu, 13 Oktober 2013

" I Really Love You" PART 43 - 48

PART 43
“Thanks, My Baby!” bisiknya yang masih mengamatiku tengah tertidur pulas.
Kurasakan hembusan nafas seseorang menerpa wajahku. Perlahan- lahan kubuka mataku, dan menguceknya dengan tangan kananku yang masih diperban.
“Morning, My baby!” sapa Justin diikuti dengan senyuman. Namun, senyumnya hilang saat melihat telapak tanganku yang diperban. “Bagaimana keadaan tanganmu? Ini tidak akan membuatnya infeksi kan?” tanyanya.
 “Bodoh... seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu!” jawabku datar. Sulit sekali aku bersikap manis pada Justin. Padahal dia telah menyelematkan nyawaku. “Ternyata kau itu bodoh, Mr. Bieb! Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu hanya untuk menolongku? Kau tau, tindakanmu semalam dapat membuatmu kehilangan nyawamu. Apa kau tidak takut?” lho... kenapa aku jadi memarahinya? Seharusnya kan aku minta maaf dan berterima kasih padanya.
“Aku akan lebih takut lagi jika harus melihatmu terluka, My Baby! Semalam aku sudah cukup takut melihat telapak tanganmu terluka,” Justin menyentuh telapak tanganku lembut. “Aku khawatir padamu!” lanjutnya sembari menatap mataku dalam.
“Tak seharusnya kau mengkhawatirkanku, Mr. Bieb. Karena aku bukan siapa- siapamu.”
Justin semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku, “Jika memang saat ini kau bukan siapa- siapaku, maka mulai hari ini jadilah gadisku!”
Gadisku? Apa maksudnya? Aku hanya menatap Justin bingung.
“Jadilah gadisku sehingga aku tak salah untuk mengkhawatirkanmu,” Justin memperjelas maksudnya.
“Ehmmm...” kulihat Ryan menggeliyat pertanda dia akan bangun dari tidurnya.
Dengan pelan kudorong wajah Justin untuk menjauh.
“Jus... Justin?” tanya Ryan dengan suara sedikit serak. “Benarkah kau Justin?” pertanyaan Ryan dijawab anggukan oleh Justin. “Chaz... bangunlah! Lihat, sahabat kita telah siuman!” Ryan menguncang- guncangkan tubuh Chaz yang tidur di sampingnya.
Chazpun terbangun kemudian kedua sahabat itu menghampiri dan memeluk Justin.
“Heyy... kalian terlalu erat memelukku! Aku susah bernafas tau!” seru Justin.
“Maaf,,, maaf! Kami terlalu senang melihat kau telah siuman.” Ujar Chaz.
Setelah itu aku hanya menatap ketiga sahabat itu bercengkrama. Sesekali aku tertawa kecil melihat banyolan yang dilontarkan Chaz dan Ryan untuk menghibur Justin. Sungguh aku kagum akan kekuatan persahabatan mereka bertiga.
*****

Setiap hari aku pergi bolak- balik rumah sakit hanya untuk memastikan keadaan Justin dan juga merawatnya. Sangat lelah sekali sebenarnya jika tiap hari aku harus merawat Justin sekaligus masih bertanggung jawab untuk tetap memberikan Jazzy ilmu. Tidak mungkin juga aku mengajak Jazzy untuk belajar di rumah sakit karena anak sekecil Jazzy belum mempunyai imun yang cukup kebal untuk berada di tempat itu. Tapi tak apa, ini kulakukan untuk membalas apa yang telah Justin lakukan untukku. Karena bagaimanapun Justin terluka karenaku.
Kini genap sudah seminggu Justin dirawat di rumah sakit. Dan hari ini, Justin sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Keluarga besar Bieber sangat senang dan berniat membuat pesta kecil- kecilan untuk menyambut kepulangan Justin.
Sementara keluarga besar Bieber tengah sibuk mempersiapkan pesta kepulangan Justin, aku, Chaz, Ryan, dan Carol menuju rumah sakit untuk menjemput Justin.
“Where is my family?” tanya Justin heran karena tak ada satupun keluarga yang menjemputnya.
“Ada beberapa kepentingan yang harus diurus secepatnya oleh keluargamu. Sudahlah, mereka akan langsung menemui begitu selesai menyelesaikan kepentingan itu!” Ryan merangkul bahu Justin dan membantu memapahnya menuju mobil Chaz.
Sesampainya dikediaman keluarga Dale, Justin bingung melihat kondisi rumah yang sunyi senyap seakan tak berpenghuni. Dia berpikir jika keluarganya tak lagi memperdulikannya.
Ryan memapah Justin untuk masuk ke dalam rumah sang kakek. Begitu Justin membuka pintu rumah...

PART 44
“SURPRISE!!!” serempak semua keluarga Bieber mengagetkan Justin seraya menghamburkan beberapa kertas ke arahnya. Justin tersenyum bahagia melihat kejutan yang diberikan oleh keluarganya.
“Selamat datang kembali ke rumah ini, My Son!” Mrs. Pattie merentangkan kedua lengannya. Dengan cepat Justin memeluk sang ibu. Kemudian semua anggota keluarga bergiliran memeluk Justin.
“Who is she, Mom?” tanya Justin saat melihat perempuan bertubuh tinggi semampai mengenakan pakaian serba putih (eits,,, serba putih bukan berarti si mbak kunti yakkk :’D).
 “Oh ya, kenalkan dia Hillary Biell. Dia adalah suster pribadi yang dikirim oleh Usher dan Scoot untuk merawatmu. Mereka begitu cemas begitu mendengarmu dirawat di rumah sakit,” Mrs. Pattie memperkenalkan suster yang akan merawat Justin.
Fiuhhh... lega rasanya mendengar hal itu. Ini berarti bebanku berkurang. Dengan adanya suster itu akan membantuku untuk segera membuat Justin pulih dan menebus semua rasa bersalahku.
Pesta kejutan yang dibuat oleh keluarga Bieber untuk menyambut kepulangan Justin berlangsung lancar. Semua orang begitu menikmati pesta itu.
“E... ehmm... maaf!” ujar Ryan gugup ketika bertabrakan dengan Carol saat di dapur. Sesaat tatapan mereka berdua beradu.
Aku yang saat itu hendak mengambil beberapa makanan di dalam kulkas menatap heran ke arah mereka berdua. Ada apa antara mereka berdua?
“Ehh… ehemmm…” aku berdeham mencoba menyadarkan mereka berdua yang saat itu masih dalam keadaan saling berpandangan.
Sontak mereka berdua kaget begitu menyadari keberadaanku. Aku hanya tersenyum simpul melihat tingkah mereka berdua.
“Umphhh… Hy, Caris! Kau mau pancake?” tanya Ryan berbasa- basi seraya menawarkan pancake yang dipegangnya. Aku hanya menggeleng masih dengan senyum simpul di wajahku. “Ow… owh… baiklah! Kalau begitu aku pergi dulu ya!” ujarnya bergegas meninggalkanku dan Carol.
Aku terkekeh di dalam hati melihat sikap Ryan yang benar- benar salah tingkah karena kepergok olehku saat bertabrakan dengan Carol.
“Kau menyukainya?” tanyaku singkat pada Carol.
“Ng… ng… kau ini bisa saja. Mana mungkin aku menyukainya sementara kami berdua baru saja kenal,” Carol mencoba menutupi perasaanya. Aihhh… dia pikir bisa membohongiku apa?
“Sudahlah, kau tak perlu berbohong padaku! Aku bisa melihat itu dari cara kau menatapnya,” ujarku sok tau.
“Caris… kau ini apa- apaan sich?” kini wajah Carol mulai memerah. “Aku akan mengantarkan makanan ini dulu pada para undangan!” Carol beranjak meninggalkanku sembari membawa nampan yang berisi pancake untuk para tamu.
Carol… Carol… kau itu tak bisa berbohong padaku. Aku tau jika kau mempunyai perasaan terhadap Ryan. Kita lihat saja nanti.
Tak lama setelah kepergian Carol, Justin berjalan menuju dapur.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya yang membuyarkan lamunanku.
“Tak ada. Hanya saja aku ingin berada di sini. Aku bosan karena di luar sana sangat ramai,” jawabku. “Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?” aku balik menatap wajah Justin yang masih pucat pasi.
“Tumben sekali kau menanyakan hal itu padaku? Biasanya kau selalu saja bersikap dingin dan tak mau tau tentangku,” Justin membalas tatapanku.
Ketika aku akan merespon perkataan Justin, tiba- tiba suster pribadi Justin datang menghampiri dengan wajah cemas.
“Rupanya kau ada di sini, Justin. Kau tau, aku sangat cemas mencarimu. Aku takut jika terjadi sesuatu padamu!” kata Lary, suster pribadi Justin. Aku pikir kekhawatirannya tak beralasan.
“I’m fine, Lary! Terima kasih karena kau telah mencemaskanku.” Justin tersenyum pada Lary. Mendapatkan senyuman dari Justin, membuat wajah Lary tersipu malu.
Inilah yang membuat wanita tampak lemah dihadapan pria. Baru saja mendapat senyuman, rasanya mendapat hadiah plus- plus. Apalagi senyuman itu dari seorang superstar seperti Justin.
Aku masih sibuk memandang ke arah Lary hingga tak menyadari jika sedari tadi Justin menatapku.
“Ehemm…” Justin berdeham. Dan itu membuatku tersadar.
“Justin, ini saatnya kau minum obat,” Lary menghampiri Justin seraya membawakan obat berupa kapsul dan tablet. Tanpa disuruh lagi justin sudah langsung menelan beberapa obat- obatan itu.
“Thanks, Lary!” lagi- lagi Justin tersenyum manis ke arah Lary. Setelah itu, Lary pergi meninggalkan kami berdua.
“Kau cemburu?” pertanyaan Justin membuatku mengerutkan kening. “Benarkah kau cemburu?” Justin mengulangi pertanyaannya.
“Aku?” aku menunjuk diriku sendiri dengan jari telunjuk. “Cemburu?”
“Yaph, aku rasa kau cemburu karena aku telah memberikan senyuman termanisku untuknya!” jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Tak ada gunanya aku cemburu akan sikapmu padanya!” sergahku dan beranjak ingin pergi meninggalkan Justin.
Tapi,,,

PART 45
Tapi,,,

dengan cepat Justin menarik tanganku sehingga aku masuk ke dalam pelukannya. Kemudian Justin melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku.
“Benarkah kau tak cemburu? Lalu kenapa tadi kau menatapnya dengan tajam?” Justin semakin mempererat lingkaran lengannya yang melilit pingangku. Ini tentu saja membuat tubuhku semakin masuk ke dalam pelukannya dan wajahku semakin dekat dengan wajahnya. Aku benci pria ini.
“Sudah aku bilang tak ada gunanya cemburu akan sikapmu dengannya.” Aku berusaha melepaskan lingkaran lengan Justin. “Lepaskan aku!” lanjutku serius.
“Kenapa harus dilepas? Bukankah kau sekarang telah menjadi gadisku?” Justin mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum.
“Hey, pria menyebalkan, sejak kapan aku menyetujui untuk menjadi gadismu itu?” Justin membuatku kesal. “Lepaskan aku sekarang juga atau…” aku tak meneruskan kata- kataku.
“Atau?”
“Atau kau akan menerima akibatnya!” aku menatap sinis ke arah Justin.
“Bisakah kau bersikap manis kepadaku untuk hari ini saja?”
“Aku bilang lepaskan!” ucapku serius. Namun, Justin tetap tak bergeming masih menatapku dalam. Baiklah… terpaksa aku harus melakukannya!
Dengan cepat aku menginjak kaki kiri Justin.
“Auwww…” rintihnya. “Kenapa kau menginjak kakiku?” seketika itu pula dia melepaskan lingkaran lengannya.
“Aku tak pernah main- main dengan kata- kataku, Mr. Bieb! Itu akibatnya karena kau tak mengindahkan perkataanku!” aku berjalan meninggalkan Justin yang masih meringis kesakitan. “Oh ya satu lagi, aku tegaskan sekali lagi aku tak perduli dengan semua yang akan kau lakukan pada suster pribadimu itu!!!” sesaat aku membalikkan badan dan kemudian kembali melanjutkan langkahku untuk meninggalkannya.
“I don’t believe it…!!! Akan ku buktikan jika kau itu sebenarnya perduli padaku, My baby!” ucapnya sedikit berteriak.
30 menit kemudian…
Kurasakan BB milikku bergetar di dalam saku celana hotpansku. Kuamati layar BBku yang tertulis Mr. Bieb incoming call. Izzz… masih berani juga dia meneleponku! Aku memilih mengangkat telepon Justin di samping kediaman Keluarga Dale, karena di dalam saat itu sangat ramai.
“Ada apa lagi???” tanyaku ketus ketika sampai di luar rumah keluarga Dale.
“My Ba… Baby… uphh… uphhh… hel… help me!” jawab Justin tak jelas.
“Hey… suaramu tak jelas! What do you mean?”
“Tol… tolong aku! Uphhh… aku tenggelam di star lake. Tib… tiba- tiba saja kakiku kram. Ak… aku tak dapat berenang.” Bleppp… bleppp… bleppp… suara riakan air yang masuk ke dalam mulutnya dapatku dengar. Tapi, ini tak langsung membuatku percaya akan kata- katanya.
“Salahmu sendiri! Siapa suruh kau berenang ke star lake sementara kau baru saja ke luar dari rumah sakit. Jangan ganggu aku, hubungi saja suster pribadimu itu!”
“Ak… aku tak punya cukup waktu lagi untuk menghubunginya. Hanya kau… yang bisa mem… bleppp… bleppp!!!” Justin tak meneruskan perkatannya. Dia memutuskan sambungan telepon begitu saja.
“Mr. Bieb!!! Hallo… hallo…!” tut… tut… tut… sambungan telah terputus. “Sial!!!”
Aku memasukkan kembali BBku ke dalam saku celana. Aku tak perduli dengan apa yang terjadi pada Justin. Lagian kan saat ini dia mempunyai suster pribadi. Seharusnya dia menghubungi si Lary, bukan aku!
Kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah dan menikmati kembali pestanya. Tapi, entah kenapa tiba- tiba langkahku berat dan malah memikirkan nasib Justin.
Kenapa aku enggan untuk menolongnya? Jika terjadi sesuatu padanya, bukankah aku juga yang repot. Dan Justin belum sembuh sepenuhnya dari luka tusukan itu.
Bergegasku langkahkan kakiku menuju Star Lake. Aku benar- benar takut terjadi sesuatu padanya. Akupun berlari agar cepat sampai ke danau itu.
Hoshh… hoshh… nafasku tak beraturan begitu sampai di Star Lake. Kuamati genangan air danau untuk mencari keberadaan Justin.
“Bieb… where are you???” tanyaku masih dengan nafas tersenggal- senggal dan mengamati danau. tapi tetap saja tak ada tanda- tanda keberadaan Justin.
Jangan- jangan dia…. Ahhh… tak mungkin dia tenggelam.
“Hey Mr. Bieb… it’s not funny! Don’t joke with meee!!!” aku sedikit berteriak agar Justin mendengar suaraku.
Tak lama kurasakan tangan seseorang mendekap perutku erat. Spontan aku langsung menoleh ke belakang.
“Ka… kau???” tanyaku sedikit bingung. “Bukankah tadi kau mengatakan jika kau…”
“Tenggelam?” belum sempat aku meneruskan kalimatku, Justin telah meneruskan potongan kalimatku terlebih dahulu. “Aku tak menyangka jika kau perduli dan sekhawatir ini padaku!” ucapnya tersenyum dan menenggelamkan kepalanya dalam pundakku. Justin semakin mempererat lingkaran lengannya untuk melilit perutku.
“Kau membohongiku?”
“Yeay, aku melakukan ini untuk membuktikan jika kau perduli padaku!” Justin memejamkan matanya tanpa enggan menatapku.
“Lalu, bagaimana dengan suara riakan air yang masuk ke dalam mulutmu sehingga membuatku benar- benar percaya jika kau tenggelam?” Justin hanya menunjukkan sebotol air mineral untuk menjawab pertanyaanku. “Kau benar- benar menyebalkan!” aku melepaskan pelukan Justin kasar dan berlalu.
Namun seperti biasa, Justin mencegahku. Dia berlari mengejar langkahku dan berdiri menghadang langkahku sembari merentangkan kedua tangannya.
“Mau kemana?” tanyanya.
“Aku mau pulang. Tak ada gunanya di sini!”
“Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja!” dan HOPHHH… Justin mengangkat tubuhku dan membuatku duduk di atas dahan salah satu pohon terbesar di danau itu. Tak lama dia juga menyusul dan duduk di sampingku.
Aku tertegun begitu melihat Justin mengeluarkan sebuah belati dari saku celananya.
“Kau… kau mau apa dengan belati itu?” tanyaku sedikit gelagapan. Justin hanya diam dan semakin mendekatkan belati itu padaku.
Ap… apa yang akan dia lakukan padaku? Jujur, melihat tingkahnya membuatku sedikit takut. Apakah iya dia akan balas dendam? Balas dendam yang menyebabkan dia terkena luka tusuk oleh Joey karena menyelematkanku. Aku hanya bisa pasrah. Baiklah, jika memang ini dapat membuat semuanya impas aku terima. Aku terima jika dia balik menusuk dan membiarkanku merasakan sakitnya tusukan itu.
Kupejamkan mataku sembari menunggu Justin mendaratkan sebuah tusukan pada perutku. Kini kurasakan nafasnya menerpa wajahku. Dia sudah dekat dan sebentar lagi pasti akan segera…

PART 46
“Kenapa kau memejamkan mata?” pertanyaan Justin membuatku kembali membuka mataku.
Kulihat tangan Justin mendaratkan belati itu pada batang pohon dan membuat posisiku terkurung dan terhimpit antara dirinya dan batang pohon.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apakah kau berpikir aku akan mencelakaimu?” Justin seakan- akan sudah dapat menebak apa yang ada di pikiranku.
“Jauhkan wajah menyebalkanmu itu dariku!” ucapku mencoba menutupi rasa ketakutanku tanpa berpaling padanya.
“Kenapa? Apa kau gugup?” Justin tak menghiraukan ucapanku. Kini tangannya mulai mengukir sesuatu di batang pohon itu. “Apa kau tak pernah berkencan sebelumnya? Atau jangan- jangan belum ada seorang pria yang mengungkapkan perasaan padamu?”
“Maksudmu?”
“Yeay aku hanya sekedar bertanya saja. Selama ini kau selalu dingin terhadapku. Apa kau tak pernah dekat dengan seorang pria sebelumnya?” Justin masih terus saja mengukir sesuatu pada batang pohon.
“Itu bukan urusanmu, Bieb!” jawabku singkat dan enggan menatap Justin.
“Selesai!!!” serunya kemudian. Kulihat dua buah nama ‘Justin’ – ‘Caris’ terukir di batang pohon itu. Kedua nama itu berada dalam satu buah gambar ukiran love yang cukup besar.
“I can’t believe you’re carving our name into the tree!” ujarku masih mengamati ukiran nama kami berdua. “Mengapa kau mengukirnya?” kini aku beralih menatap Justin.
“Aku hanya ingin membuat kenangan saja. Suatu saat ketika melihat tulisan ini, kita akan mengingat jika kita pernah duduk berdua di dahan ini.”
Perkataan Justin memaksaku tersenyum kecut. “Yakin sekali dirimu jika aku akan mengunjungi kota ini lagi! Begitu kembali ke Indonesia aku tak akan pernah lagi mengunjungi kota ini, Mr. Bieb!”
“Why not? Kau lupa jika kota ini adalah kota kelahiran omamu? Jadi kemungkinan kau bisa kapan saja kembali ke sini,” lanjut Justin yakin.
“Ya… ya… ya… kita lihat saja nanti!” aku kembali mengamati ukiran itu. “Lalu kenapa kau mengukir nama kita di dalam gambar love seperti ini?” tanyaku seraya menunjuk ukiran love pada batang pohon itu.
“Kau ingat percakapan saat kita melihat sunset bersama Jazzy waktu itu? Aku pernah mengatakan jika suatu saat nanti aku akan membawa gadis yang kusukai dan akan ku nyatakan perasaanku terhadapnya di danau ini. Dan sekarang aku akan melakukannya,” jelas Justin.
Perkataan Justin benar- benar membuatku bingung dan tak paham.
“My Baby, listen to me!” Justin mengamit kedua tanganku dan menggenggamnya. Ini membuatku menatap heran ke arahnya. “Saat pertama kali kita bertemu di bandara, aku merasakan sesuatu yang tak wajar pada diriku.”
Aku mengernyitkan dahi seakan bertanya apa maksud dari perkataan Justin.
“Pertemuan itu membuatku selalu memikirkanmu dan berniat mencarimu. Sampai pada akhirnya aku bertemu denganmu di pertemuan- pertemuan berikutnya dan aku sekeluarga menginap di kediaman Mrs. Laurent. Dari sanalah aku menyadari tentang apa yang aku rasakan selama ini,” Justin tampak menghela nafas panjang. “Aku menyukaimu, My Baby!” lanjutnya. “Selama ini entah kenapa aku selalu merasa khawatir jika kau berada dalam masalah, aku ketakutan saat melihatmu terluka, dan  aku tersenyum melihatmu senang. I like you more than a lot,” dia kembali mengungkapkan isi hatinya sembari menatapku dalam.
Yang bisa aku lakukan saat itu hanya diam. Aku benar- benar bingung harus menjawab apa. Yeah lebih tepatnya aku memang tak mempunyai jawaban untuk merespon ungkapan hati seorang Justin Drew Bieber.
“Aku rasa aku telah mendapatkan jawabannya!” simpulnya kemudian melihat aku tak bergeming sedikitpun.
Syukurlah jika memang dia dapat menangkap apa yang ada dibenakku.
“Diam tandanya iya,” dia tersenyum menatapku. Diam tandanya iya? Apa maksudnya? “Jika kau diam berarti kau juga menyukaiku.” Lanjutnya. Dengan cepat dia mendaratkan sebuah ciuman di keningku dan segera berlari meninggalkanku.
Mataku membulat begitu mengetahui Justin kembali menciumku tanpa permisi. Aku pun segera turun dari dahan pohon dan berlari untuk mengejarnya. Dan…

PART 47
BRUKKK… Justin terjatuh telungkup di atas genangan lumpur. Sekarang semua badan bagian depannya, termasuk wajahnya berlumuran lumpur. Ckckckck… aku hampir saja tak bisa menahan tawa. Tapi untung saja aku bisa sehingga aku hanya menarik ujung bibirku membentuk senyuman simpul. Namun itu tak kutampakkan di hadapannya. Aku sengaja melengos ke arah kiri.
Justin berjalan menghampiriku masih dengan noda lumpur di bajunya.
“Kenapa kau menyembunyikan senyuman itu dariku?” dia mengamit daguku dan kembali memalingkan wajahku untuk menatapnya. “Senyummu itu terlalu indah untuk dilewatkan, My Baby!” kini dia meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pipiku. Aku merasakan sesuatu yang basah dan lembek dari tangan Justin. Sesaat dia tersenyum puas begitu melepaskan kedua telapak tangannya.
Aku menyentuh pipi sebelah kiriku, benar saja dugaanku Justin sengaja menyentuhku agar kotoran lumpur itu juga melekat padaku.
Dia terkekeh seraya berlalu melihatku masih tertegun mengamati kotoran lumpur di tanganku yang baru saja ku amit dari pipiku.
“Justin…. rupanya kau mau bermain- main denganku!!!” aku berusaha mengejar langkah kaki Justin. Tak lupa pula ku ambil beberapa lumpur yang tergenang dan segera kuarahkan ke badan Justin.
PLAKKK… lumpur itu mengenai sasaran tepat di punggung Justin.
“See…” ucapku tersenyum puas. Namun ini tak membuat Justin kapok. Dia kembali menghampiriku dan melumuriku wajahku dengan lumpur. Dia juga memelukku paksa agar sebagian kotoran lumpur yang melekat dibadannya juga melekat di badanku.
Ku dorong tubuhnya sehingga terjerembab ke dalam genangan lumpur. Sekarang penampilannya benar- benar buruk karena tertutupi oleh lumpur. Tapi itu tak membuatnya menyerah, dia balik menarik tanganku sehingga aku juga turut terjerembab ke dalam genangan lumpur itu.
Di dalam genangan lumpur itu aku dan Justin benar- benar melakukan perang lumpur. Aku menghujaninya dengan serangan lumpur yang kubuat. Begitu juga sebaliknya. Sampai pada akhirnya tak sengaja dia mendorong tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku. Iuhhh… menjijikkan sekali aku terjatuh di atas genangan lumpur.
Justin semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku meletakkan kedua tanganku di bahunya untuk menahan agar dia tak semakin dekat. Tetapi tenaganya cukup kuat untukku kalahkan. Tetap saja dia semakin mendekatkan wajahnya. Kini aku bisa menatap warna kedua bola matanya yang hazel.
Disaat hidung mancungnya menyentuh hidungku, dia memejamkan matanya dan segera mengapit bibir bagian atasku. Mataku membulat penuh. Aku benar- benar tak percaya dia mengulangi kissing seperti ini. Herannya aku masih terpaku tak bergeming sedikitpun dan tak membalas ciumannya.
Otakku benar- benar tak bekerja dengan baik hari ini. Semua anggota tubuhku terasa kaku untuk melawan serangan bibir Justin yang terus saja melumat bibir atasku.
Tak lama Justin melepaskan bibirnya dari bibirku. Namun, aku masih saja diam dan hanya menatap ke arahnya.
“My Baby, are you ok?” tanyanya masih dengan wajahnya yang berada tepat di atas wajahku.
Spontan aku tersadar. Ap… apa yang baru saja terjadi? Tak mungkin aku membiarkannya menciumku begitu saja kan? Hey… sebenarnya ada apa denganku??? Kenapa aku membiarkannya menciumku LAGI? Kini otakku dipenuhi berbagai macam pertanyaan.
Segera ku beranjak dari genangan lumpur itu dan berjalan menjauhi Justin. lihatlah Caris… sekarang kau benar- benar mempermalukan dirimu sendiri di depan pria menyebalkan itu! Seharusnya kau tak diam saja ketika Justin menciummu!
“My Baby……… kau akan pergi kemana?” Justin terus saja memanggil namaku. Namun tak ku hiraukan. Aku tak kuat menanggung malu akibat kebodohanku sendiri.
*****

PART 48
Malam harinya…
Aku berjalan gontai sembari mendrible bola spaldingsku menuju rumah. Baru saja aku bermain basket di taman kota ditemani oleh Carol.
Begitu sampai di rumah, aku mengurungkan niat untuk masuk ke dalam karena melihat seseorang yang tengah mengobrol bersama oma di ruang tamu.
“Ada apa?” tanya Carol heran. Aku hanya menggeleng kebingungan. “Lalu kenapa kau tak masuk ke dalam rumah?” lanjutnya. Mendadak keringat dingin mengucur dari keningku. Aku bingung dengan apa yang terjadi padaku. Aku benar- benar tak siap untuk bertemu dengan orang itu.
Tiba- tiba saja…
Cekrekkkk… seseorang membuka pintu rumah dari dalam. Melihat posisiku yang saat itu masih memegangi daun pintu, membuatku sedikit terpeleset. Untung saja aku tak sempat terjatuh.
“Cupcake… Carol!!!” ujar oma begitu melihat kami berdua berada di depan pintu. “Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa kalian tidak masuk ke dalam?”
Pertanyaan oma ini membuatku menggaruk kepala yang sebenarnya tak gatal. “Ng… kami berdua hanya ingin menikmati udara segar saja, Grandma!” ucapku berbohong. Carol tampak kebingungan mendengar jawabanku yang tak sesuai dengan kenyataan.
Kulirik pria yang berdiri di sebelah oma. Dia hanya bisa tersenyum manis ke arahku.
“Oh ya Cupcake, besok siang Justin akan mengajakmu ke suatu acara. Barusan dia sudah meminta ijin kepadaku!” sahut oma dan ini benar- benar membuatku terlonjak kaget.
“Kemana?” tanyaku masih enggan menatap Justin.
 “Ke acara perayaan apartemen baru temanku di pusat kota,” jawab Justin singkat.
Justin akan mengajakku ke perayaan apartemen baru temannya setelah kejadian tadi siang? Ini gila…
“Umphhh… besok aku itu… aku itu ada acara dengan Carol. Haa… iya… aku baru ingat! Benar, kan Carol?” aku mencari- cari alasan agar aku tak pergi bersama Justin. ku kedipkan sebelah mataku ke arah Carol pertanda agar Carol mengiyakan perkataanku.
Carol tersenyum melihat tingkahku. “Sudahlah Caris, acara menontonnya kita batalkan dan dilanjutkan dilain waktu,” aku melotot ke arah Carol mendengar responnya. “Kau tenang saja Just, besok dia akan tampil cantik kok!” lanjut Carol sembari tersenyum ke arah Justin. “Oh ya oma, sebaiknya aku antar oma ke dalam. Karena udara malam tidak baik untuk kesehatan!” lalu Carol langsung menuntun oma masuk ke dalam rumah.
Ap… apa??? Shit…! Carol rupanya tak bisa diajak kompromi. Sekarang apa yang harusku lakukan?
“Hy!” sapa Justin setelah oma dan Carol masuk ke dalam rumah. “Bagaimana keadaan bibirmu?” ledeknya.
Haha… kurasa dia merasa menang atas kejadian tadi. Lihat saja lain kali aku tak akan pernah membiarkannya menciumku lagi.
“Aku tak ada waktu untuk meladeni pria menyebalkan sepertimu! Lebih baik kau pulang saja!” sahutku ketus. Aku melangkah sembari membuka daun pintu rumah.
“Wait…!” cegah Justin yang berhasil menghentikan langkahku.
“Apa lagi???” aku masih saja ketus padanya.
“Ku harap besok kau akan tampil secantik mungkin layaknya seorang putri!” ucapnya tersenyum dan segera berlari menuju rumah keluarga Dale.
“Hey… kau pikir aku akan pergi bersamamu??? Tak akan pernah!!!” ujarku sedikit berteriak. “Aku tak mau menemani ke acara temanmu ituuu!!!”
Brakkk… ku tutup pintu rumah dengan keras. Pria itu benar- benar menyebalkan. Seenaknya saja dia mengajakku untuk menemaninya setelah apa yang tadi siang dia lakukan padaku!
Sesampainya di lantai atas, kulihat Carol tengah berdiri di depan pintu kamarku.
“Kenapa kau tak membantuku?” tanyaku padanya yang berdiri sembari melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. “Kenapa kau malah menyetujui jika aku pergi bersama pria menyebalkan itu?”
“Karena aku tak ingin sepasang anak manusia tak bersatu hanya karena keegoisan dari satu pihak,” jawabnya.
“Jadi maksudmu aku egois, begitu?”
“Nah, itu kau sadar!” sahutnya membenarkan apa yang baru ku simpulkan. “Tak seharusnya kau bersikap egois atas perasaannya.” Aku mengernyitkan kening. “Cobalah kau memahami perasaanya terhadapmu!”
“Tap… tapi aku tak menyukainya,” potongku sebelum Carol akan mengeluarkan kata- kata lagi dari mulutnya.
“Setidaknya kau memberinya kesempatan untuk menunjukkan sebesar apa rasa cintanya terhadapmu. Aku bisa merasakan begitu besar cintanya terhadapmu!” Carol mencoba meyakinkanku.
“Dari mana kau tau?” tanyaku polos. Yeay… selama ini aku memang tak cukup ahli dalam masalah percintaan. Karena itu hanya membuang- buang waktuku saja. Dari pada waktu kugunakan untuk bercumbu seperti remaja sekarang pada umumnya, lebih baik kugunakan saja waktuku untuk berlatih basket.
“Masa kau tak dapat menangkap sesuatu dari perlakuan Justin selama ini terhadapmu?” aku hanya menggeleng lemah. Carol menepuk jidatnya melihat hal itu. “Ow… Gosh… rupanya kau perlu bimbingan khusus dalam masalah percintaan.”
“Cukup, Carol! Aku tak mau mendengarnya lagi! Aku malas jika harus berhadapan dengan masalah percintaan!” aku berjalan malas ke arah tempat tidurku dan segera merebahkan tubuhku.
“Tidakkah kau melihat kepanikan dan ketakutan yang begitu besar pada diri Justin saat melihatmu terluka oleh belati milik Joey malam itu?” kini Carol memilih duduk di bibir kasurku. “Tidakkah kau juga melihat ketulusannya saat merelakan dirinya tertusuk demi melindungimu dari tusukan belati Joey malam itu?” aihhh… apa- apaan si Carol! Kenapa dia semangat sekali meyakinkan aku tentang perasaan Justin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar