PART 43
“Thanks, My Baby!” bisiknya yang masih mengamatiku tengah tertidur pulas.
Kurasakan hembusan nafas seseorang menerpa wajahku. Perlahan- lahan kubuka
mataku, dan menguceknya dengan tangan kananku yang masih diperban.
“Morning, My baby!” sapa Justin diikuti dengan senyuman. Namun, senyumnya
hilang saat melihat telapak tanganku yang diperban. “Bagaimana keadaan
tanganmu? Ini tidak akan membuatnya infeksi kan?” tanyanya.
“Bodoh... seharusnya aku yang
menanyakan hal itu padamu!” jawabku datar. Sulit sekali aku bersikap manis pada
Justin. Padahal dia telah menyelematkan nyawaku. “Ternyata kau itu bodoh, Mr.
Bieb! Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu hanya untuk menolongku? Kau tau,
tindakanmu semalam dapat membuatmu kehilangan nyawamu. Apa kau tidak takut?”
lho... kenapa aku jadi memarahinya? Seharusnya kan aku minta maaf dan berterima
kasih padanya.
“Aku akan lebih takut lagi jika harus melihatmu terluka, My Baby! Semalam
aku sudah cukup takut melihat telapak tanganmu terluka,” Justin menyentuh
telapak tanganku lembut. “Aku khawatir padamu!” lanjutnya sembari menatap
mataku dalam.
“Tak seharusnya kau mengkhawatirkanku, Mr. Bieb. Karena aku bukan siapa-
siapamu.”
Justin semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku, “Jika memang saat ini kau bukan
siapa- siapaku, maka mulai hari ini jadilah gadisku!”
Gadisku? Apa maksudnya? Aku hanya menatap Justin bingung.
“Jadilah gadisku sehingga aku tak salah untuk mengkhawatirkanmu,” Justin
memperjelas maksudnya.
“Ehmmm...” kulihat Ryan menggeliyat pertanda dia akan bangun dari tidurnya.
Dengan pelan kudorong wajah Justin untuk menjauh.
“Jus... Justin?” tanya Ryan dengan suara sedikit serak. “Benarkah kau
Justin?” pertanyaan Ryan dijawab anggukan oleh Justin. “Chaz... bangunlah!
Lihat, sahabat kita telah siuman!” Ryan menguncang- guncangkan tubuh Chaz yang
tidur di sampingnya.
Chazpun terbangun kemudian kedua sahabat itu menghampiri dan memeluk
Justin.
“Heyy... kalian terlalu erat memelukku! Aku susah bernafas tau!” seru
Justin.
“Maaf,,, maaf! Kami terlalu senang melihat kau telah siuman.” Ujar Chaz.
Setelah itu aku hanya menatap ketiga sahabat itu bercengkrama. Sesekali aku
tertawa kecil melihat banyolan yang dilontarkan Chaz dan Ryan untuk menghibur
Justin. Sungguh aku kagum akan kekuatan persahabatan mereka bertiga.
*****
Setiap hari aku pergi bolak- balik rumah sakit hanya untuk memastikan
keadaan Justin dan juga merawatnya. Sangat lelah sekali sebenarnya jika tiap
hari aku harus merawat Justin sekaligus masih bertanggung jawab untuk tetap
memberikan Jazzy ilmu. Tidak mungkin juga aku mengajak Jazzy untuk belajar di
rumah sakit karena anak sekecil Jazzy belum mempunyai imun yang cukup kebal
untuk berada di tempat itu. Tapi tak apa, ini kulakukan untuk membalas apa yang
telah Justin lakukan untukku. Karena bagaimanapun Justin terluka karenaku.
Kini genap sudah seminggu Justin dirawat di rumah sakit. Dan hari ini,
Justin sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Keluarga besar Bieber
sangat senang dan berniat membuat pesta kecil- kecilan untuk menyambut
kepulangan Justin.
Sementara keluarga besar Bieber tengah sibuk mempersiapkan pesta kepulangan
Justin, aku, Chaz, Ryan, dan Carol menuju rumah sakit untuk menjemput Justin.
“Where is my family?” tanya Justin heran karena tak ada satupun keluarga
yang menjemputnya.
“Ada beberapa kepentingan yang harus diurus secepatnya oleh keluargamu.
Sudahlah, mereka akan langsung menemui begitu selesai menyelesaikan kepentingan
itu!” Ryan merangkul bahu Justin dan membantu memapahnya menuju mobil Chaz.
Sesampainya dikediaman keluarga Dale, Justin bingung melihat kondisi rumah
yang sunyi senyap seakan tak berpenghuni. Dia berpikir jika keluarganya tak
lagi memperdulikannya.
Ryan memapah Justin untuk masuk ke dalam rumah sang kakek. Begitu Justin
membuka pintu rumah...
PART 44
“SURPRISE!!!” serempak semua keluarga Bieber mengagetkan Justin seraya
menghamburkan beberapa kertas ke arahnya. Justin tersenyum bahagia melihat
kejutan yang diberikan oleh keluarganya.
“Selamat datang kembali ke rumah ini, My Son!” Mrs. Pattie merentangkan
kedua lengannya. Dengan cepat Justin memeluk sang ibu. Kemudian semua anggota
keluarga bergiliran memeluk Justin.
“Who is she, Mom?” tanya Justin saat melihat perempuan bertubuh tinggi
semampai mengenakan pakaian serba putih (eits,,, serba putih bukan berarti si
mbak kunti yakkk :’D).
“Oh ya, kenalkan dia Hillary Biell.
Dia adalah suster pribadi yang dikirim oleh Usher dan Scoot untuk merawatmu.
Mereka begitu cemas begitu mendengarmu dirawat di rumah sakit,” Mrs. Pattie
memperkenalkan suster yang akan merawat Justin.
Fiuhhh... lega rasanya mendengar hal itu. Ini berarti bebanku berkurang.
Dengan adanya suster itu akan membantuku untuk segera membuat Justin pulih dan
menebus semua rasa bersalahku.
Pesta kejutan yang dibuat oleh keluarga Bieber untuk menyambut kepulangan
Justin berlangsung lancar. Semua orang begitu menikmati pesta itu.
“E... ehmm... maaf!” ujar Ryan gugup ketika bertabrakan dengan Carol saat
di dapur. Sesaat
tatapan mereka berdua beradu.
Aku yang saat itu
hendak mengambil beberapa makanan di dalam kulkas menatap heran ke arah mereka
berdua. Ada apa antara mereka berdua?
“Ehh… ehemmm…” aku berdeham mencoba
menyadarkan mereka berdua yang saat itu masih dalam keadaan saling
berpandangan.
Sontak mereka berdua kaget begitu menyadari
keberadaanku. Aku hanya tersenyum simpul melihat tingkah mereka berdua.
“Umphhh… Hy, Caris! Kau mau pancake?” tanya
Ryan berbasa- basi seraya menawarkan pancake yang dipegangnya. Aku hanya
menggeleng masih dengan senyum simpul di wajahku. “Ow… owh… baiklah! Kalau
begitu aku pergi dulu ya!” ujarnya bergegas meninggalkanku dan Carol.
Aku terkekeh di dalam hati melihat sikap Ryan
yang benar- benar salah tingkah karena kepergok olehku saat bertabrakan dengan
Carol.
“Kau menyukainya?” tanyaku singkat pada
Carol.
“Ng… ng… kau ini bisa saja. Mana mungkin aku
menyukainya sementara kami berdua baru saja kenal,” Carol mencoba menutupi
perasaanya. Aihhh… dia pikir bisa membohongiku apa?
“Sudahlah, kau tak perlu berbohong padaku!
Aku bisa melihat itu dari cara kau menatapnya,” ujarku sok tau.
“Caris… kau ini apa- apaan sich?” kini wajah
Carol mulai memerah. “Aku akan mengantarkan makanan ini dulu pada para
undangan!” Carol beranjak meninggalkanku sembari membawa nampan yang berisi
pancake untuk para tamu.
Carol… Carol… kau itu tak bisa berbohong
padaku. Aku tau jika kau mempunyai perasaan terhadap Ryan. Kita lihat saja
nanti.
Tak lama setelah kepergian Carol, Justin
berjalan menuju dapur.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya yang
membuyarkan lamunanku.
“Tak ada. Hanya saja aku ingin berada di
sini. Aku bosan karena di luar sana sangat ramai,” jawabku. “Ada apa? Kau
membutuhkan sesuatu?” aku balik menatap wajah Justin yang masih pucat pasi.
“Tumben sekali kau menanyakan hal itu padaku?
Biasanya kau selalu saja bersikap dingin dan tak mau tau tentangku,” Justin
membalas tatapanku.
Ketika aku akan merespon perkataan Justin,
tiba- tiba suster pribadi Justin datang menghampiri dengan wajah cemas.
“Rupanya kau ada di sini, Justin. Kau tau,
aku sangat cemas mencarimu. Aku takut jika terjadi sesuatu padamu!” kata Lary,
suster pribadi Justin. Aku pikir kekhawatirannya tak beralasan.
“I’m fine, Lary! Terima kasih karena kau
telah mencemaskanku.” Justin tersenyum pada Lary. Mendapatkan senyuman dari
Justin, membuat wajah Lary tersipu malu.
Inilah yang membuat wanita tampak lemah
dihadapan pria. Baru saja mendapat senyuman, rasanya mendapat hadiah plus- plus.
Apalagi senyuman itu dari seorang superstar seperti Justin.
Aku masih sibuk memandang ke arah Lary hingga
tak menyadari jika sedari tadi Justin menatapku.
“Ehemm…” Justin berdeham. Dan itu membuatku
tersadar.
“Justin, ini saatnya kau minum obat,” Lary menghampiri
Justin seraya membawakan obat berupa kapsul dan tablet. Tanpa disuruh lagi
justin sudah langsung menelan beberapa obat- obatan itu.
“Thanks, Lary!” lagi- lagi Justin tersenyum
manis ke arah Lary. Setelah itu, Lary pergi meninggalkan kami berdua.
“Kau cemburu?” pertanyaan Justin membuatku
mengerutkan kening. “Benarkah kau cemburu?” Justin mengulangi pertanyaannya.
“Aku?” aku menunjuk diriku sendiri dengan
jari telunjuk. “Cemburu?”
“Yaph, aku rasa kau cemburu karena aku telah
memberikan senyuman termanisku untuknya!” jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Tak ada gunanya aku cemburu akan sikapmu
padanya!” sergahku dan beranjak ingin pergi meninggalkan Justin.
Tapi,,,
PART 45
Tapi,,,
dengan cepat Justin menarik tanganku sehingga
aku masuk ke dalam pelukannya. Kemudian Justin melingkarkan kedua tangannya ke
pinggangku.
“Benarkah kau tak cemburu? Lalu kenapa tadi
kau menatapnya dengan tajam?” Justin semakin mempererat lingkaran lengannya
yang melilit pingangku. Ini tentu saja membuat tubuhku semakin masuk ke dalam
pelukannya dan wajahku semakin dekat dengan wajahnya. Aku benci pria ini.
“Sudah aku bilang tak ada gunanya cemburu
akan sikapmu dengannya.” Aku berusaha melepaskan lingkaran lengan Justin.
“Lepaskan aku!” lanjutku serius.
“Kenapa harus dilepas? Bukankah kau sekarang
telah menjadi gadisku?” Justin mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum.
“Hey, pria menyebalkan, sejak kapan aku
menyetujui untuk menjadi gadismu itu?” Justin membuatku kesal. “Lepaskan aku
sekarang juga atau…” aku tak meneruskan kata- kataku.
“Atau?”
“Atau kau akan menerima akibatnya!” aku
menatap sinis ke arah Justin.
“Bisakah kau bersikap manis kepadaku untuk
hari ini saja?”
“Aku bilang lepaskan!” ucapku serius. Namun,
Justin tetap tak bergeming masih menatapku dalam. Baiklah… terpaksa aku harus
melakukannya!
Dengan cepat aku menginjak kaki kiri Justin.
“Auwww…” rintihnya. “Kenapa kau menginjak
kakiku?” seketika itu pula dia melepaskan lingkaran lengannya.
“Aku tak pernah main- main dengan kata-
kataku, Mr. Bieb! Itu akibatnya karena kau tak mengindahkan perkataanku!” aku
berjalan meninggalkan Justin yang masih meringis kesakitan. “Oh ya satu lagi,
aku tegaskan sekali lagi aku tak perduli dengan semua yang akan kau lakukan
pada suster pribadimu itu!!!” sesaat aku membalikkan badan dan kemudian kembali
melanjutkan langkahku untuk meninggalkannya.
“I don’t believe it…!!! Akan ku buktikan jika
kau itu sebenarnya perduli padaku, My baby!” ucapnya sedikit berteriak.
30 menit kemudian…
Kurasakan BB milikku bergetar di dalam saku
celana hotpansku. Kuamati layar BBku yang tertulis Mr. Bieb incoming call.
Izzz… masih berani juga dia meneleponku! Aku memilih mengangkat telepon Justin
di samping kediaman Keluarga Dale, karena di dalam saat itu sangat ramai.
“Ada apa lagi???” tanyaku ketus ketika sampai
di luar rumah keluarga Dale.
“My Ba… Baby… uphh… uphhh… hel… help me!”
jawab Justin tak jelas.
“Hey… suaramu tak jelas! What do you mean?”
“Tol… tolong aku! Uphhh… aku tenggelam di
star lake. Tib… tiba- tiba saja kakiku kram. Ak… aku tak dapat berenang.” Bleppp… bleppp… bleppp… suara riakan air
yang masuk ke dalam mulutnya dapatku dengar. Tapi, ini tak langsung membuatku
percaya akan kata- katanya.
“Salahmu sendiri! Siapa suruh kau berenang ke
star lake sementara kau baru saja ke luar dari rumah sakit. Jangan ganggu aku,
hubungi saja suster pribadimu itu!”
“Ak… aku tak punya cukup waktu lagi untuk
menghubunginya. Hanya kau… yang bisa mem… bleppp… bleppp!!!” Justin tak
meneruskan perkatannya. Dia memutuskan sambungan telepon begitu saja.
“Mr. Bieb!!! Hallo… hallo…!” tut… tut… tut… sambungan telah terputus.
“Sial!!!”
Aku memasukkan kembali BBku ke dalam saku
celana. Aku tak perduli dengan apa yang terjadi pada Justin. Lagian kan saat
ini dia mempunyai suster pribadi. Seharusnya dia menghubungi si Lary, bukan
aku!
Kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah dan
menikmati kembali pestanya. Tapi, entah kenapa tiba- tiba langkahku berat dan
malah memikirkan nasib Justin.
Kenapa aku enggan untuk menolongnya? Jika
terjadi sesuatu padanya, bukankah aku juga yang repot. Dan Justin belum sembuh
sepenuhnya dari luka tusukan itu.
Bergegasku langkahkan kakiku menuju Star
Lake. Aku benar- benar takut terjadi sesuatu padanya. Akupun berlari agar cepat
sampai ke danau itu.
Hoshh… hoshh… nafasku tak beraturan begitu sampai di Star
Lake. Kuamati genangan air danau untuk mencari keberadaan Justin.
“Bieb… where are you???” tanyaku masih dengan
nafas tersenggal- senggal dan mengamati danau. tapi tetap saja tak ada tanda-
tanda keberadaan Justin.
Jangan- jangan dia…. Ahhh… tak mungkin dia
tenggelam.
“Hey Mr. Bieb… it’s not funny! Don’t joke
with meee!!!” aku sedikit berteriak agar Justin mendengar suaraku.
Tak lama kurasakan tangan seseorang mendekap
perutku erat. Spontan aku langsung menoleh ke belakang.
“Ka… kau???” tanyaku sedikit bingung.
“Bukankah tadi kau mengatakan jika kau…”
“Tenggelam?” belum sempat aku meneruskan
kalimatku, Justin telah meneruskan potongan kalimatku terlebih dahulu. “Aku tak
menyangka jika kau perduli dan sekhawatir ini padaku!” ucapnya tersenyum dan
menenggelamkan kepalanya dalam pundakku. Justin semakin mempererat lingkaran
lengannya untuk melilit perutku.
“Kau membohongiku?”
“Yeay, aku melakukan ini untuk membuktikan
jika kau perduli padaku!” Justin memejamkan matanya tanpa enggan menatapku.
“Lalu, bagaimana dengan suara riakan air yang
masuk ke dalam mulutmu sehingga membuatku benar- benar percaya jika kau
tenggelam?” Justin hanya menunjukkan sebotol air mineral untuk menjawab
pertanyaanku. “Kau benar- benar menyebalkan!” aku melepaskan pelukan Justin kasar
dan berlalu.
Namun seperti biasa, Justin mencegahku. Dia
berlari mengejar langkahku dan berdiri menghadang langkahku sembari
merentangkan kedua tangannya.
“Mau kemana?” tanyanya.
“Aku mau pulang. Tak ada gunanya di sini!”
“Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja!”
dan HOPHHH… Justin mengangkat tubuhku dan membuatku duduk di atas dahan salah
satu pohon terbesar di danau itu. Tak lama dia juga menyusul dan duduk di
sampingku.
Aku tertegun begitu melihat Justin
mengeluarkan sebuah belati dari saku celananya.
“Kau… kau mau apa dengan belati itu?” tanyaku
sedikit gelagapan. Justin hanya diam dan semakin mendekatkan belati itu padaku.
Ap… apa yang akan dia lakukan padaku? Jujur,
melihat tingkahnya membuatku sedikit takut. Apakah iya dia akan balas dendam?
Balas dendam yang menyebabkan dia terkena luka tusuk oleh Joey karena
menyelematkanku. Aku hanya bisa pasrah. Baiklah, jika memang ini dapat membuat
semuanya impas aku terima. Aku terima jika dia balik menusuk dan membiarkanku
merasakan sakitnya tusukan itu.
Kupejamkan mataku sembari menunggu Justin
mendaratkan sebuah tusukan pada perutku. Kini kurasakan nafasnya menerpa
wajahku. Dia sudah dekat dan sebentar lagi pasti akan segera…
PART 46
“Kenapa kau memejamkan mata?” pertanyaan
Justin membuatku kembali membuka mataku.
Kulihat tangan Justin mendaratkan belati itu
pada batang pohon dan membuat posisiku terkurung dan terhimpit antara dirinya
dan batang pohon.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apakah kau
berpikir aku akan mencelakaimu?” Justin seakan- akan sudah dapat menebak apa
yang ada di pikiranku.
“Jauhkan wajah menyebalkanmu itu dariku!”
ucapku mencoba menutupi rasa ketakutanku tanpa berpaling padanya.
“Kenapa? Apa kau gugup?” Justin tak
menghiraukan ucapanku. Kini tangannya mulai mengukir sesuatu di batang pohon
itu. “Apa kau tak pernah berkencan sebelumnya? Atau jangan- jangan belum ada
seorang pria yang mengungkapkan perasaan padamu?”
“Maksudmu?”
“Yeay aku hanya sekedar bertanya saja. Selama
ini kau selalu dingin terhadapku. Apa kau tak pernah dekat dengan seorang pria
sebelumnya?” Justin masih terus saja mengukir sesuatu pada batang pohon.
“Itu bukan urusanmu, Bieb!” jawabku singkat
dan enggan menatap Justin.
“Selesai!!!” serunya kemudian. Kulihat dua
buah nama ‘Justin’ – ‘Caris’ terukir di batang pohon itu. Kedua nama itu berada
dalam satu buah gambar ukiran love yang cukup besar.
“I can’t believe you’re carving our name into
the tree!” ujarku masih mengamati ukiran nama kami berdua. “Mengapa kau
mengukirnya?” kini aku beralih menatap Justin.
“Aku hanya ingin membuat kenangan saja. Suatu
saat ketika melihat tulisan ini, kita akan mengingat jika kita pernah duduk
berdua di dahan ini.”
Perkataan Justin memaksaku tersenyum kecut.
“Yakin sekali dirimu jika aku akan mengunjungi kota ini lagi! Begitu kembali ke
Indonesia aku tak akan pernah lagi mengunjungi kota ini, Mr. Bieb!”
“Why not? Kau lupa jika kota ini adalah kota
kelahiran omamu? Jadi kemungkinan kau bisa kapan saja kembali ke sini,” lanjut
Justin yakin.
“Ya… ya… ya… kita lihat saja nanti!” aku
kembali mengamati ukiran itu. “Lalu kenapa kau mengukir nama kita di dalam
gambar love seperti ini?” tanyaku seraya menunjuk ukiran love pada batang pohon
itu.
“Kau ingat percakapan saat kita melihat
sunset bersama Jazzy waktu itu? Aku pernah mengatakan jika suatu saat nanti aku
akan membawa gadis yang kusukai dan akan ku nyatakan perasaanku terhadapnya di
danau ini. Dan sekarang aku akan melakukannya,” jelas Justin.
Perkataan Justin benar- benar membuatku
bingung dan tak paham.
“My Baby, listen to me!” Justin mengamit
kedua tanganku dan menggenggamnya. Ini membuatku menatap heran ke arahnya.
“Saat pertama kali kita bertemu di bandara, aku merasakan sesuatu yang tak
wajar pada diriku.”
Aku mengernyitkan dahi seakan bertanya apa
maksud dari perkataan Justin.
“Pertemuan itu membuatku selalu memikirkanmu
dan berniat mencarimu. Sampai pada akhirnya aku bertemu denganmu di pertemuan-
pertemuan berikutnya dan aku sekeluarga menginap di kediaman Mrs. Laurent. Dari
sanalah aku menyadari tentang apa yang aku rasakan selama ini,” Justin tampak
menghela nafas panjang. “Aku menyukaimu, My Baby!” lanjutnya. “Selama ini entah
kenapa aku selalu merasa khawatir jika kau berada dalam masalah, aku ketakutan
saat melihatmu terluka, dan aku
tersenyum melihatmu senang. I like you more than a lot,” dia kembali
mengungkapkan isi hatinya sembari menatapku dalam.
Yang bisa aku lakukan saat itu hanya diam.
Aku benar- benar bingung harus menjawab apa. Yeah lebih tepatnya aku memang tak
mempunyai jawaban untuk merespon ungkapan hati seorang Justin Drew Bieber.
“Aku rasa aku telah mendapatkan jawabannya!”
simpulnya kemudian melihat aku tak bergeming sedikitpun.
Syukurlah jika memang dia dapat menangkap apa
yang ada dibenakku.
“Diam tandanya iya,” dia tersenyum menatapku.
Diam tandanya iya? Apa maksudnya? “Jika kau diam berarti kau juga menyukaiku.”
Lanjutnya. Dengan cepat dia mendaratkan sebuah ciuman di keningku dan segera
berlari meninggalkanku.
Mataku membulat begitu mengetahui Justin
kembali menciumku tanpa permisi. Aku pun segera turun dari dahan pohon dan
berlari untuk mengejarnya. Dan…
PART 47
BRUKKK… Justin terjatuh telungkup di atas
genangan lumpur. Sekarang semua badan bagian depannya, termasuk wajahnya
berlumuran lumpur. Ckckckck… aku hampir saja tak bisa menahan tawa. Tapi untung
saja aku bisa sehingga aku hanya menarik ujung bibirku membentuk senyuman
simpul. Namun itu tak kutampakkan di hadapannya. Aku sengaja melengos ke arah
kiri.
Justin berjalan menghampiriku masih dengan
noda lumpur di bajunya.
“Kenapa kau menyembunyikan senyuman itu
dariku?” dia mengamit daguku dan kembali memalingkan wajahku untuk menatapnya.
“Senyummu itu terlalu indah untuk dilewatkan, My Baby!” kini dia meletakkan
kedua telapak tangannya pada kedua pipiku. Aku merasakan sesuatu yang basah dan
lembek dari tangan Justin. Sesaat dia tersenyum puas begitu melepaskan kedua
telapak tangannya.
Aku menyentuh pipi sebelah kiriku, benar saja
dugaanku Justin sengaja menyentuhku agar kotoran lumpur itu juga melekat
padaku.
Dia terkekeh seraya berlalu melihatku masih
tertegun mengamati kotoran lumpur di tanganku yang baru saja ku amit dari
pipiku.
“Justin…. rupanya kau mau bermain- main
denganku!!!” aku berusaha mengejar langkah kaki Justin. Tak lupa pula ku ambil
beberapa lumpur yang tergenang dan segera kuarahkan ke badan Justin.
PLAKKK… lumpur itu mengenai sasaran tepat di
punggung Justin.
“See…” ucapku tersenyum puas. Namun ini tak
membuat Justin kapok. Dia kembali menghampiriku dan melumuriku wajahku dengan
lumpur. Dia juga memelukku paksa agar sebagian kotoran lumpur yang melekat
dibadannya juga melekat di badanku.
Ku dorong tubuhnya sehingga terjerembab ke
dalam genangan lumpur. Sekarang penampilannya benar- benar buruk karena
tertutupi oleh lumpur. Tapi itu tak membuatnya menyerah, dia balik menarik
tanganku sehingga aku juga turut terjerembab ke dalam genangan lumpur itu.
Di dalam genangan lumpur itu aku dan Justin
benar- benar melakukan perang lumpur. Aku menghujaninya dengan serangan lumpur
yang kubuat. Begitu juga sebaliknya. Sampai pada akhirnya tak sengaja dia mendorong
tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku. Iuhhh… menjijikkan sekali aku
terjatuh di atas genangan lumpur.
Justin semakin mendekatkan wajahnya ke
arahku. Aku meletakkan kedua tanganku di bahunya untuk menahan agar dia tak
semakin dekat. Tetapi tenaganya cukup kuat untukku kalahkan. Tetap saja dia
semakin mendekatkan wajahnya. Kini aku bisa menatap warna kedua bola matanya
yang hazel.
Disaat hidung mancungnya menyentuh hidungku,
dia memejamkan matanya dan segera mengapit bibir bagian atasku. Mataku membulat
penuh. Aku benar- benar tak percaya dia mengulangi kissing seperti ini.
Herannya aku masih terpaku tak bergeming sedikitpun dan tak membalas ciumannya.
Otakku benar- benar tak bekerja dengan baik
hari ini. Semua anggota tubuhku terasa kaku untuk melawan serangan bibir Justin
yang terus saja melumat bibir atasku.
Tak lama Justin melepaskan bibirnya dari
bibirku. Namun, aku masih saja diam dan hanya menatap ke arahnya.
“My Baby, are you ok?” tanyanya masih dengan
wajahnya yang berada tepat di atas wajahku.
Spontan aku tersadar. Ap… apa yang baru saja
terjadi? Tak mungkin aku membiarkannya menciumku begitu saja kan? Hey…
sebenarnya ada apa denganku??? Kenapa aku membiarkannya menciumku LAGI? Kini
otakku dipenuhi berbagai macam pertanyaan.
Segera ku beranjak dari genangan lumpur itu
dan berjalan menjauhi Justin. lihatlah Caris… sekarang kau benar- benar
mempermalukan dirimu sendiri di depan pria menyebalkan itu! Seharusnya kau tak
diam saja ketika Justin menciummu!
“My Baby……… kau akan pergi kemana?” Justin
terus saja memanggil namaku. Namun tak ku hiraukan. Aku tak kuat menanggung
malu akibat kebodohanku sendiri.
*****
PART 48
Malam harinya…
Aku berjalan gontai sembari mendrible bola spaldingsku menuju rumah. Baru saja aku
bermain basket di taman kota ditemani oleh Carol.
Begitu sampai di rumah, aku mengurungkan niat
untuk masuk ke dalam karena melihat seseorang yang tengah mengobrol bersama oma
di ruang tamu.
“Ada apa?” tanya Carol heran. Aku hanya
menggeleng kebingungan. “Lalu kenapa kau tak masuk ke dalam rumah?” lanjutnya.
Mendadak keringat dingin mengucur dari keningku. Aku bingung dengan apa yang
terjadi padaku. Aku benar- benar tak siap untuk bertemu dengan orang itu.
Tiba- tiba saja…
Cekrekkkk… seseorang membuka pintu rumah dari
dalam. Melihat posisiku yang saat itu masih memegangi daun pintu, membuatku
sedikit terpeleset. Untung saja aku tak sempat terjatuh.
“Cupcake… Carol!!!” ujar oma begitu melihat
kami berdua berada di depan pintu. “Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa
kalian tidak masuk ke dalam?”
Pertanyaan oma ini membuatku menggaruk kepala
yang sebenarnya tak gatal. “Ng… kami berdua hanya ingin menikmati udara segar
saja, Grandma!” ucapku berbohong. Carol tampak kebingungan mendengar jawabanku
yang tak sesuai dengan kenyataan.
Kulirik pria yang berdiri di sebelah oma. Dia
hanya bisa tersenyum manis ke arahku.
“Oh ya Cupcake, besok siang Justin akan
mengajakmu ke suatu acara. Barusan dia sudah meminta ijin kepadaku!” sahut oma
dan ini benar- benar membuatku terlonjak kaget.
“Kemana?” tanyaku masih enggan menatap
Justin.
“Ke
acara perayaan apartemen baru temanku di pusat kota,” jawab Justin singkat.
Justin akan mengajakku ke perayaan apartemen
baru temannya setelah kejadian tadi siang? Ini gila…
“Umphhh… besok aku itu… aku itu ada acara dengan
Carol. Haa… iya… aku baru ingat! Benar, kan Carol?” aku mencari- cari alasan
agar aku tak pergi bersama Justin. ku kedipkan sebelah mataku ke arah Carol
pertanda agar Carol mengiyakan perkataanku.
Carol tersenyum melihat tingkahku. “Sudahlah
Caris, acara menontonnya kita batalkan dan dilanjutkan dilain waktu,” aku
melotot ke arah Carol mendengar responnya. “Kau tenang saja Just, besok dia
akan tampil cantik kok!” lanjut Carol sembari tersenyum ke arah Justin. “Oh ya
oma, sebaiknya aku antar oma ke dalam. Karena udara malam tidak baik untuk kesehatan!” lalu Carol langsung
menuntun oma masuk ke dalam rumah.
Ap… apa??? Shit…! Carol rupanya tak bisa
diajak kompromi. Sekarang apa yang harusku lakukan?
“Hy!” sapa Justin setelah oma dan Carol masuk
ke dalam rumah. “Bagaimana keadaan bibirmu?” ledeknya.
Haha… kurasa dia merasa menang atas kejadian
tadi. Lihat saja lain kali aku tak akan pernah membiarkannya menciumku lagi.
“Aku tak ada waktu untuk meladeni pria
menyebalkan sepertimu! Lebih baik kau pulang saja!” sahutku ketus. Aku
melangkah sembari membuka daun pintu rumah.
“Wait…!” cegah Justin yang berhasil
menghentikan langkahku.
“Apa lagi???” aku masih saja ketus padanya.
“Ku harap besok kau akan tampil secantik
mungkin layaknya seorang putri!” ucapnya tersenyum dan segera berlari menuju
rumah keluarga Dale.
“Hey… kau pikir aku akan pergi bersamamu???
Tak akan pernah!!!” ujarku sedikit berteriak. “Aku tak mau menemani ke acara
temanmu ituuu!!!”
Brakkk… ku tutup pintu rumah dengan keras.
Pria itu benar- benar menyebalkan. Seenaknya saja dia mengajakku untuk
menemaninya setelah apa yang tadi siang dia lakukan padaku!
Sesampainya di lantai atas, kulihat Carol
tengah berdiri di depan pintu kamarku.
“Kenapa kau tak membantuku?” tanyaku padanya
yang berdiri sembari melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. “Kenapa kau
malah menyetujui jika aku pergi bersama pria menyebalkan itu?”
“Karena aku tak ingin sepasang anak manusia
tak bersatu hanya karena keegoisan dari satu pihak,” jawabnya.
“Jadi maksudmu aku egois, begitu?”
“Nah, itu kau sadar!” sahutnya membenarkan
apa yang baru ku simpulkan. “Tak seharusnya kau bersikap egois atas
perasaannya.” Aku mengernyitkan kening. “Cobalah kau memahami perasaanya
terhadapmu!”
“Tap… tapi aku tak menyukainya,” potongku
sebelum Carol akan mengeluarkan kata- kata lagi dari mulutnya.
“Setidaknya kau memberinya kesempatan untuk
menunjukkan sebesar apa rasa cintanya terhadapmu. Aku bisa merasakan begitu
besar cintanya terhadapmu!” Carol mencoba meyakinkanku.
“Dari mana kau tau?” tanyaku polos. Yeay…
selama ini aku memang tak cukup ahli dalam masalah percintaan. Karena itu hanya
membuang- buang waktuku saja. Dari pada waktu kugunakan untuk bercumbu seperti
remaja sekarang pada umumnya, lebih baik kugunakan saja waktuku untuk berlatih
basket.
“Masa kau tak dapat menangkap sesuatu dari
perlakuan Justin selama ini terhadapmu?” aku hanya menggeleng lemah. Carol
menepuk jidatnya melihat hal itu. “Ow… Gosh… rupanya kau perlu bimbingan khusus
dalam masalah percintaan.”
“Cukup, Carol! Aku tak mau mendengarnya lagi!
Aku malas jika harus berhadapan dengan masalah percintaan!” aku berjalan malas
ke arah tempat tidurku dan segera merebahkan tubuhku.
“Tidakkah kau melihat kepanikan dan ketakutan
yang begitu besar pada diri Justin saat melihatmu terluka oleh belati milik
Joey malam itu?” kini Carol memilih duduk di bibir kasurku. “Tidakkah kau juga
melihat ketulusannya saat merelakan dirinya tertusuk demi melindungimu dari
tusukan belati Joey malam itu?” aihhh… apa- apaan si Carol! Kenapa dia semangat
sekali meyakinkan aku tentang perasaan Justin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar