PART 49
“Sudahlah! Itu hanya pikiranmu saja. Kau lupa
ya jika dia itu seorang JUSTIN DREW BIEBER sang SUPERSTAR? Jadi, dia itu bisa dengan mudah mendapatkan
wanita manapun yang dia mau,” responku.
“Termasuk kau, kan?” haishhh… lagi- lagi aku
merasa di skak oleh Carol.
“Kecuali aku!” tegasku tak mau kalah. “Kau
tak bisa menyimpulkan hanya dari peristiwa tertusuknya Justin karena
melindungiku. Kurasa tindakannya wajar. Karena setiap manusia juga akan refleks
melakukan hal seperti itu. Aku pun pasti akan melakukan hal yang sama saat aku
berada di posisinya!”
“Terserah kau sajalah! Yang pasti besok kau
tetap jadi menemaninya ke acara itu. Dan aku akan membantumu untuk tampil
secantik mungkin,” kata Carol yakin.
“Aku tak mau pergi dengannya, titik!”
tegasku.
“Whatever! Good Night, Caris!” ucapnya dari
balik pintu dan segera ke luar dari kamarku.
Hahhhh… aku menghela nafas panjang. Ku
pandangi langit- langit kamarku.
Tidakkah kau melihat kepanikan
dan ketakutan yang begitu besar pada diri Justin saat melihatmu terluka oleh
belati milik Joey malam itu? Tidakkah kau juga melihat ketulusannya saat
merelakan dirinya tertusuk demi melindungimu dari tusukan belati Joey malam
itu? Kini kata- kata Carol terngiang- ngiang dalam
memori otakku.
Arghhh… kenapa aku harus mengingat kata- kata
Carol yang tak masuk akal itu??? Kemudian kututupi wajahku dengan bantal dan
berusaha memejamkan mataku agar tak mengingat lagi apa yang tadi dikatakan oleh
Carol.
*****
Sayup- sayup kudengar kicauan burung yang
bertengger di dahan pohon sebelah kamarku. Rupanya pagi begitu cepat menjelang.
Tetapi ini tak membuatku beranjak dari tempat tidur. Dengan malas ku tarik lagi
selimutku sampai batas kepalaku.
Tok...tok...tok... terdengar seseorang
mengetuk pintu kamarku. Tapi, tak ku hiraukan. Sampai akhirnya orang tersebut
membuka pintu kamarku yang memang tidak ku kunci.
“Caris... come on wake up! Sebentar lagi tepat jam 10 Justin akan
menjemputmu!” Carol mengguncang- guncang tubuhku.
“Aku tak akan pergi menemaninya! Lebih baik kau saja yang menemaninya!”
kini aku menutup wajahku dengan bantal.
“Aishhh... aku tidak mungkin pergi menemaninya karena orang yang diharapkan
Justin itu kau, bukan aku!” Carol masih berusaha membuatku beranjak dari tempat
tidur.
“Baiklah... baiklah...! jangan menarik tanganku lagi! Sakit tau!” sergahku
karena sedari tadi Carol terus saja menarik tanganku.
Aku berjalan malas menuju kamar mandi.
“Jangan terlalu lama di dalam kamar mandi! Ingat, tepat jam 10 Justin akan
menjemputmu. Kau punya waktu 30 menit untuk bersiap- siap!!!” teriak Carol dari
luar kamar mandi.
“Iyaaa....... cerewet sekali dirimu!” gerutuku.
Tak lama akupun selesai mandi. Aku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan
handuk saja yang melilit tubuhku.
Kulihat Carol sibuk mencari baju apa yang akan ku kenakan. Sesekali dia
mengacak-ngacak kembali isi lemari bajuku.
“Nah, perfect!” serunya begitu mendapatkan sebuah dress bewarna biru agak
keabu- abuan dengan panjang 15 cm di atas lutut dipadu padankan dengan sebuah
cardigan abu- abu. Lalu dia menyodorkan kedua baju itu ke arahku.
“Untuk apa?” tanyaku bingung. “Jangan kau katakan jika aku harus mengenakan
baju ini!” lanjutku.
“Tunggu apa lagi, ayo lekaslah ganti baju!” ujarnya dan segera mendorong
tubuhku untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan berat hatiku pakai baju pilihan Carol. Kulihat diriku pada cermin
kamar mandi, owhhh... ini benar- benar berlebihan.
“Carol... bisakah aku mengenakan baju yang biasa saja? Aku rasa baju ini
terlalu berlebihan untuk menghadiri acara itu!” pintaku yang masih berada di dalam
kamar mandi.
PART 50
Tak lama akupun ke luar dari kamar mandi. “Lihatlah! Bukankah ini terlalu
mencolok?” tanyaku pada Carol sembari berputar.
Belum sempat Carol menjawab pertanyaanku, dia sudah menarik tanganku ke
depan cermin. “Lihatlah, kau begitu anggun! Baju ini tidak terlalu mencolok
kok! Sudahlah, kau tak perlu mencari- cari alasan lagi untuk tidak pergi
menemani Justin. Kemarin aku sudah terlanjur janji padanya untuk membuatmu
tampil secantik mungkin!” kemudian Carol memaksaku untuk duduk di bangku meja
riasku.
Kini Carol memulai aksinya. Dia memoleskan sedikit pelembab ke wajahku.
“Apa ini? Hey aku tak mau memakai make up macam- macam! Biasanya aku hanya memakai
bedak tabur bayi saja!” protesku.
“Pelembab ini hanya membantu agar kau terlindung dari sengatan sinar
matahari. Sudahlah kau diam saja, aku janji akan membuatmu tampil cantik dengan
make up natural!” kemudian Carol membedaki wajahku dengan bedak padat. Setelah
itu dia mengoleskan sedikit lipgloss bewarna pink soft pada bibir tipisku. Lalu
kurasakan Carol mengolesi bulu mataku dengan sesuatu.
“Selesai untuk make up!” seru Carol. “Caris, kau cantik sekali!” responnya.
“Hey, kau olesi apa bulu mataku ini? Kenapa bulu mataku mendadak terasa
lebat dan berat?” tanyaku begitu melihat ada yang beda pada kedua bulu mataku.
“Dasar bocah! Aku hanya memberi sedikit mascara pada kedua bulu matamu.
Sudah kau tak perlu banyak komentar lagi! Sekarang giliran rambutmu yang
kurapikan!”
Dengan cekatan Carol menghairdryer
rambutku yang basah. Setelah rambutku kering, dengan pelan dia menyisirnya.
Kini Carol membuat rambutku curly di bagian bawah.
“Perfect! Kurasa Justin pasti akan terkagum- kagum melihat penampilanmu
hari ini,” senyum kepuasan menghiasi wajah Carol.
Aku mematut di depan cermin. Ya tuhan... benarkah ini wajahku? Kenapa
mendadak wajahku berubah menjadi aneh seperti ini?
“Pakai ini!” Carol menyodorkan sepasang high hells bewarna biru muda
transparan.
“Jangan gila, Carol! Aku tak terbiasa dengan sepatu berhak seperti ini!”
aku segera menepis tangan Carol. Lalu ku ambil flat shoes yang bernuansa
sporty. Hemphhh... kurasa ini cocok.
Ting tong... bel di depan rumah
berbunyi.
“Itu pasti Justin! Ayo!” ujar Carol bersemangat dan langsung menarikku ke luar kamar.
Aku hanya bisa pasrah dan berharap semoga Justin tak menertawakanku untuk
kedua kalinya.
Kulihat Justin sedang duduk bersama oma di ruang tamu. Begitu aku dan Carol
turun dari tangga, Justin terus saja menatap ke arahku.
Huhhh... dugaanku pasti benar! Kali ini dia pasti kembali tertawa karena
melihat penampilanku yang aneh ini.
“Morning, Just!” sapa Carol. “Lihatlah, warna bajumu dan Caris hampir
sama!” lanjut Carol menyadari kemeja yang dikenakan Justin.
Kulirik kemeja Justin. Benar saja, warna kemeja yang dikenakannya hampir
sama dengan dress yang ku kenakan. Bagaimana bisa?
Setelah itu Justin berpamitan pada oma dan Carol. Sebelumnya oma sempat
melontarkan pujian akan penampilanku. Tapi tetap saja aku merasa aneh.
Aku dan Justin menuju apartemen teman Justin dengan mengendarai mobil range
rover hitam yang dibawa Justin. Entah Justin memperoleh pinjaman dari mana
mobil sebagus dan semewah itu.
Selama di perjalanan, aku enggan mengucapkan sepatah katapun.
“Kau kenapa?” tanya Justin yang sesekali melirik ke arahku, namun tetap
konsen mengendarai mobi. “Kenapa sedari tadi kau diam saja? Kau sakit?” kini
Justin menempelkan telapak tangan kirinya pada keningku. Namun, segera ku
tepis.
“Aku baik- baik saja!” balasku singkat. Justin tertawa melihat tingkahku. “Kenapa
kau tertawa?”
“Kau tau, hari ini kau sangat cantik. Tak seharusnya kau bersikap angkuh,
cuek, dan dingin terhadapku,” Justin masih menatap lurus ke depan.
“Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu? Aku tau jika kau tertawa karena
penampilanku yang aneh! Sudahlah, aku paham apa yang ada di otakmu itu!”
sungutku kesal.
Justin masih tersenyum mendengar celotehanku.
PART 51
Justin menghentikan mobilnya tepat di sebuah gedung pencakar langit yang
super duper tinggi dan besar. Gedung itu adalah gedung yang berisi apartemen-
apartemen mewah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Justin membukakan pintu mobilnya untukku.
“Silahkan turun, Princess!” ujarnya seraya membungkukkan badannya layaknya
seseorang yang menyambut seorang putri. Dia sungguh berlebihan.
Ketika kami berdua berjalan menuju apartemen milik teman Justin yang
terletak di lantai 8, begitu ke luar dari lift Justin menggenggam tanganku
erat.
Belum sempat aku berontak agar dia melepaskan genggamannya, kini langkahnya
berhenti di depan sebuah pintu salah satu apartemen itu. Tak lama si pemilik
apartemen membukakan pintu setelah Justin memencet bel apartemen itu.
“Hy, Man!” sapa Justin sembari bersalaman ala pria dengan seorang pria
bertubuh bongsor dan memiliki kulit bewarna hitam legam.
“Hy, Dude! Senang kau bisa datang ke acaraku!” ucapnya membalas salam
Justin.
“Oh ya kenalkan, Sean ini Caris, dan Caris ini adalah Sean, temanku
sekaligus pemilik apartemen ini!” Justin memperkenalkanku pada Sean, begitu
pula sebaliknya.
Aku rasa aku mengenali wajah pria ini. Yea... dia kan Sean Kingston,
seorang penyanyi sekaligus rapper. Wajahnya sudah malang melintang di ranah
dunia hiburan Hollywood.
“Dia kekasih barumu?” tanya Sean dan pertanyaan ini membuat wajah Justin
sedikit memerah.
“No... She’s just my cousin!” jawab Justin. Fuihhh... syukurlah Justin
berbohong. Mendengar ini aku sedikit lega karena Justin tak berbicara macam-
macam tentangku.
Sean hanya manggut- manggut saja mendengar penjelasan Justin tentangku.
Kemudian dia mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya.
Begitu masuk apartemennya, aku sangat terkejut dan sempat membuatku
menghentikan langkahku. Otomatis langkah Justin juga ikut terhenti karena
sedari tadi dia masih mengenggam tanganku. Bagaimana tidak aku terkejut,
pemandangan di dalam rumah itu benar- benar tak layak untuk anak seusiaku. Di
dalam apartemen Sean, banyak sekali para pria dan wanita yang hanya mengenakan
celana boxer dan bikini. Mereka asyik bermain air dan berenang di kolam renang
yang juga terletak di dalam apartemen Sean.
“Ada apa?” tanya Justin. Aku masih diam sembari menatap sekitar. Justin
mengikuti arah pandangku. “Tak perlu khawatir, mereka tak akan menyakitimu!”
ujarnya seraya mengelus lembut puncak kepalaku.
Saat Justin akan melanjutkan langkahnya, aku kembali menarik tangannya dan
membuatnya kembali mendekatiku.
“Mr. Bieb, kau tau kan pemandangan seperti ini tak pantas untukku? Kau mau
ku laporkan pada pihak berwajib karena membawa anak di bawah umur sepertiku ke
acara party orang dewasa?” tanyaku polos masih menatap semua orang di dalam
apartemen itu.
“Hari ini kau cerewet sekali! Don’t worry My Baby, because I’m here to
protect you!” jawab Justin yakin.
Tiba- tiba datang seorang perempuan dan tanpa ijin langsung memeluk Justin.
“Hy, Dude! Long time no see!” ucapnya manja.
“Hy, Laura!” Justin membalas pelukan Laura dan langsung melepaskan
genggaman tangannya yang sedari tadi menggenggam tanganku.
Hahhh... dasar pria! Melihat wanita sexy saja langsung tergoda. Apakah
Laura sexy? Yeah, aku rasa Laura termasuk salah satu wanita sexy. Saat itu dia
mengenakan sepasang bikini bewarna kuning menyala. Bikini itu menampakkan belahan
payudaranya. Pria mana yang tak tergoda melihat gaya busananya?
“Ehemmm...” aku sengaja berdeham agar mereka berdua menyadari keberadaanku.
Enak saja mereka mengacuhkanku!
“Ehh... e... Laura kenalkan ini Caris, dia...” belum sempat Justin
melengkapi kalimatnya, aku langsung memotongnya.
“Aku temannya!” ucapku seraya mengulurkan tanganku ke hadapan Laura. Laura
pun membalas uluran tanganku.
“Come on Just, aku kenalkan kau pada teman- temanku!” Laura langsung
menarik tangan Justin. Sampai- sampai aku ditinggal begitu saja.
“Laura, wait!” tukas justin. Kemudian Justin kembali menghampiriku yang
masih berdiam diri. “Ayo! Kau juga harus berkenalan dengan mereka.” Justin
mengamit tangan kananku dan menariknya.
Laura menuntun kami berdua menuju ke arah kolam renang. Di sana banyak
teman- teman Laura berkumpul. Dan crab...
mayoritas mereka semua hanya mengenakan bikini dan boxer. Laura memperkenalkan
kami kepada mereka semua.
Sial!!! Tak seharusnya aku mengikuti perkataan Carol dan berada di tempat
ini! Lihatlah, sekarang aku hanya berdiri seperti orang bodoh. Aku benar- benar
canggung berada di tempat ini.
“Hey, Just... bagaimana jika kau menyanyikan sebuah lagu untuk kami?” sorak
salah satu dari orang- orang yang berada di sekitar kolam renang itu.
“Ow yeah,,, ide yang bagus! Ayolahhh!” timpal yang lainnya.
“Come on, Dude! You can do this,” ujar Laura yang memberikan sebuah gitar
acoustic pada Justin.
Sesaat Justin melirik ke arahku. “Tetaplah di sini, ok!” bisiknya dan
beranjak berjalan beberapa langkah menjauhiku. Dia lebih memilih duduk di
samping Laura dan Sean yang berada tepat di pinggir kolam renang dan menjadi
pusat dari semua para undangan yang hadir. Sementara aku hanya duduk seorang
diri di salah satu kursi tamu yang disediakan. Kini arahku dan arah Justin 180
derajat dan ini membuatku berhadapan dengannya walaupun dari jarak jauh.
PART 52
Justin mulai memetik senar gitarnya.
Aye... aye... aye...
aye... let’s go!
Me plus you... I’ma tell
you one time (3x)
When I meet you girl my
heart went knock knok
Now them butterflies in
my stomach won’t stop stop
And even though it’s a
struggle love is all we got
So we gon’t keep keep
climbing till the montain top
Justin menatap ke arahku sembari tersenyum.
Your world is my
world...
And my fight is your
fight...
My breath is your
breath...
And your heart...
And girl you’re my one
love, my one heart
My one life for sure
Let me tell you one
time...
I’m a tell you one
time...
And I’m a be your one
guy, you’ll be my number one girl
Always making time for
you
I’m a tell you one
time...
I’m a tell you one
time...
Justin masih saja menatap ke arahku. Tapi sebenarnya aku juga tak yakin dia
benar- benar menatap ke arahku. Sesekali ku balikkan badanku untuk mencari
objek yang sedari tadi ditatap oleh Justin. Kupusatkan perhatianku pada seorang
gadis cantik yang mengenakan dress putih di ujung ruangan. Hemphhh... kurasa
dialah orang yang ditatap oleh Justin karena pada saat yang sama dia juga
menatap dan tersenyum ke arah Justin.
You look so deep, you
know that it humbles me
You’re by my side, and
troubles them don’t trouble me
Many have called but the
chosen is you
Whatever you want shawty
I’ll give it to you
Benar- benar membosankan berada di tempat ini. Aku tampak seperti orang
tolol. Bagaimana tidak jika yang ku lakukan hanya berdiam diri saja sementara
yang lain tengah sibuk bernyanyi melantunkan lagu yang dinyanyikan oleh Justin.
Kurogoh saku cardiganku dan mengambil BB milikku. Kutopangkan dagu dengan
tanganku dan mulai sibuk mengotak- atik BB milikku. Dari pada tak ada kerjaan
dan mendengarkan Justin bernyanyi, lebih baik aku bermain- main saja dengan BBku.
Shawty right there,,,
she’s got everything I need
And I’m a tell her one
time
Give you everything you
need
Down to my last dime
Justin bangkit dari duduknya. Kini ia berjalan dan berputar- putar di
sekelilingku sembari terus bernyanyi dan mendekap gitar acousticnya. Aku heran
akan tingkahnya. Lalu dia duduk di kursi sebelahku yang hanya berjarak satu
meja. Dia masih menatap ke arahku.
She makes me happy
I know where I’ll be
Right by your side cause
She is the one for me...
Pada kata ‘for me’ dia menyudahi
lagunya sembari menatapku. Lalu dia membungkuk sebagai tanda terima kasih pada
semua orang di sana yang telah mendengar lagunya dan ikut bernyanyi bersama.
Dia kembali menghampiri Sean cs.
“You’re voice is amazing, Boy!” celetuk salah satu teman Sean. Justin hanya
tersenyum menanggapinya.
Melihat Justin sibuk dengan teman- temannya, aku memilih berjalan ke meja
yang berisi banyak makanan dan minuman.
Iuhhh... semua minuman yang dihidangkan mengandung alkohol. Aku tak mungkin
meminumnya. Untung saja aku melihat barisan beberapa gelas yang berisi orange
juice. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil segelas orange juice itu.
“Kenapa gadis manis sepertimu hanya berdiam seorang diri saja?” tanya sosok
pria berkulit putih yang sudah berdiri di sampingku.
“Apakah aku mengenalmu?” tanyaku cuek.
“I’m Alex. What’s you’re name?”
hemphhh... aku rasa pria ini bukan pria baik- baik.
Aku diam tak menjawab pertanyaannya.
“Ow... ow... ayolah gadis manis, kau tak perlu bersikap dingin seperti ini
padaku. Hari ini aku bisa memuaskanmu!” Alex melingkarkan lengannya seraya
mengelus manja pundakku.
“Bisakah kau bersikap sopan pada wanita yang tak kau kenal? Jika kau
mencari seseorang yang bisa memuaskanmu, kau salah orang!” aku menepis
tangannya kasar.
“Aku suka gadis yang bersikap dingin
pada pria!” Alex memegang daguku dan semakin mendekatiku. Dan...
“What’s going on?” tanya seseorang yang tiba- tiba muncul.
PART 53
“Kau mempunyai masalah dengan sepupuku?” tanya Justin sekali lagi. Melihat
kedatangan Justin membuatku sedikit bernafas lega.
“Hy, Just! Wait... kau bilang apa tadi? Sepupu?” Alex mengulangi kata yang
tadi sempat Justin sebut.
“Yuph, dia adalah sepupuku. Apa kau ada masalah dengannya?” Justin
melingkarkan lengannya dan meraup pundakku. Namun perlakuannya tak ku hiraukan.
Aku sudah terlanjur geram akan perlakuan Alex.
“Owhhh... tidak! Barusan kami hanya berkenalan saja,” bitch... pria ini
brengsek sekali. Bisa- bisanya dia menutupi perlakuannya yang tidak sopan
terhadapku di hadapan Justin. Aku tak betah jika terlalu lama di tempat ini.
“Baiklah, jika begitu aku tinggal dulu ya! Masih banyak teman lama yang belum
ku temui. Nikmatilah party ini, Just!” ujarnya dan segera pergi meninggalkanku
dan Justin.
Seperginya Alex, Justin menyentuh pipiku lembut dan membuatku menatap ke
arahnya. “Kau baik- baik saja, kan? Alex tak berbuat macam- macam kan padamu?”
tanyanya khawatir.
“Aku ingin pulang!” ujarku dan bergegas berjalan ke luar dari apartemen
Sean.
“My Baby... tunggu!!!” terdengar suara tapak kaki Justin yang mengejarku.
Aku terus saja berjalan menjauhi apartemen milik Sean. Takku hiraukan suara
Justin yang sedari tadi terus saja memanggilku. Takku hiraukan pula orang-
orang yang menatap heran ke arahku karena seorang Justin Bieber mengejarku.
Yang ada di pikiranku saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai di
rumah walaupun sebenarnya aku tak hafal betul jalan pulang menuju rumah.
“My Baby... hey... kau kenapa??? Wait me!!!” teriak Justin dan masih terus
saja mengejar langkahku.
Bodoh... kenapa dia harus berteriak? Apa dia tak berpikir jika semua orang
menatap heran ke arahnya?
“Apa Alex berbuat sesuatu terhadapmu? Come on, tell me why???” Bisa-
bisanya dia masih menanyakan alasanku pergi dari apartemen Sean. “Carista...
jangan bertingkah seperti anak kecil! Hentikan langkahmu dan beritahu apa yang
sebenarnya terjadi denganmu!” kurasa Justin mulai lelah mengejarku dan kesal
atas sikapku. Ini juga membuatku semakin kesal dan langsung membalikkan badan.
Kini aku berjalan menghampiri Justin.
“Kau masih menanyakan apa yang
sebenarnya terjadi? Kau meninggalkanku seorang diri di party itu sehingga aku
seperti orang bodoh dan kau masih bertanya sebenarnya ada apa, Hah?” sergahku. “Tak
seharusnya aku mengikuti dan menerima ajakanmu ke party itu!” suaraku sedikit
meninggi. Aku kembali berjalan meninggalkan Justin.
“My Baby, okay, aku minta maaf atas kejadian itu! Please forgive me!”
Justin masih sabar mengejarku. “Ayolah, My Baby! Kita bisa selesaikan masalah
ini dengan baik- baik. Tak perlu kau menghindariku seperti ini! Tingkahmu tak
lebih dari anak kecil.”
“Jangan sekali- kali kau menilaiku, karena kau tak tau siapa aku! Kau tak
mengenal siapa diriku sebenarnya, Bieb! ” aku kembali menghampiri Justin. “Yeah,
aku memang anak kecil. Umurku saja baru 15 tahun dan tak sepantasnya kau
mengajakkkkk...” tiba- tiba Justin meraup dan merengkuh wajahku. Ini membuatku
tak menyelesaikan kalimatku.
Dia kembali mendaratkan bibirnya pada bibirku, namun kali ini bibir bagian
bawahku yang menjadi sasarannya. Aku meronta agar dia melepaskan bibirnya, tapi
dia malah semakin memperkuat merengkuh wajahku.
Dia menciumku bak seorang pencuri yang sedang tergesa- gesa karena diburu
oleh polisi. Kini dia menelusuri rongga mulutku. Ouchh... dia baru saja
menggigit bagian kulit dalam mulutku. Aku rasa ini akan meninggalkan sariawan
pada bagian mulutku.
Semakin lama nafasku semakin sesak. Dengan susah payah akhirnya aku
berhasil membuatnya menjauhkan bibirnya dari bibirku.
Dia merapatkan keningnya pada keningku. Nafas kami berderu dan saling
beradu.
“Jika memang begitu, buatlah aku mengetahui siapa dirimu dan ijinkanlah aku
mengenalmu dengan baik!!!” ucapnya dengan mata terpejam dan nafas yang masih
tak beraturan.
Kutatap dia yang masih memejamkan kedua matanya, lalu...
PART 54
PLAKKK... aku melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kanannya. Refleks
ini membuatnya meringis kesakitan. Entah setan apa yang merasukiku sehingga aku
melakukan itu padanya. Kulihat dia memegangi pipinya yang mulai memerah.
“Bitch! Aku benar- benar membencimu! Mulai sekarang, menjauhlah dari
kehidupanku!” perlakuannya kali ini tak dapatku maafkan lagi. Aku membencinya
karena dia sudah berkali- kali menciumku tanpa ijin. Tak dapatku bayangkan jika
papa mengetahui hal ini, pasti aku sudah dimarahi habis- habisan.
Aku terus berjalan menyusuri keramaian kota Stratford. Takku hiraukan Justin
yang sedari tadi berjalan di belakangku. Langkahku berhenti begitu melihat
warga sekitar berkerumun di salah satu rumah yang sedang dilalap oleh jago
merah.
“Excusme, Sir! Apa yang sebenarnya terjadi sehingga rumah itu terbakar?”
tanyaku pada salah satu orang yang juga turut dalam kerumunan itu.
“Adanya hubungan arus pendek yang terjadi menyebabkan tersulutnya api
sehingga membakar ludes rumah itu. Dan kabarnya korsleting itu terjadi di arena
dapur otomatis tabung gas di dalam dapur juga turut meledak dan menambah
kobaran api,” jelas orang itu.
“My Baby... apa yang terjadi?” tanya Justin yang telah berdiri di
sampingku. Aku masih enggan berbicara padanya, jadi kuabaikan saja
pertanyaannya.
Pandanganku terus terpusat pada rumah yang terbakar itu. Tak lama kulihat
seseorang di dalam bangunan. Kupicingkan kedua mataku.
“Ada seseorang di dalam sana!” gumamku.
“Tak mungkin. Karena polisi sudah mengevakuasi seluruh anggota keluarga
itu,” sanggah salah seorang yang juga ikut berkumpul menyaksikan kebakaran itu.
Benarkah? Apa mungkin aku yang salah lihat? Kuamati kembali rumah yang
sudah terselimuti si jago merah itu. Benar saja, aku kembali melihat seseorang
di dalam rumah itu. Seorang wanita paruh baya sedang melambai- lambaikan tangan
untuk meminta tolong. Sayang, sosoknya tertutupi oleh kabut asap si jago merah
sehingga tak banyak orang yang dapat melihatnya.
“Shit... hey di dalam sana benar- benar masih ada orang!” seruku sembari
menunjuk tempat wanita paruh baya itu. Ketika aku hendak berlari untuk menolong
wanita itu, dengan cekatan Justin menarik dan mendekap perutku.
“Kau mau kemana? Jika kau pergi ke sana, kau bisa celaka!” ucapnya.
Aku meronta layaknya anak kecil, “Lepas, Bieb! Aku ingin ke sana!”
“Maaf My baby, kali ini aku tak akan menuruti kemauanmu!” Justin semakin
mempererat dekapannya. Tingkahku mengundang perhatian orang- orang yang ada di
sana.
“Just, aku mohon!” kini aku mencoba jurus andalan yang biasa digunakan
Auris untuk merayu papa. Aku memasang tampang puppy faceku ke arah Justin.
“Tidak, Miss. Hawkins!” jawabnya tegas disertai dengan gelengan kepala.
Sial... jurus andalan Auris tak mempan untuknya.
Kulihat kondisi wanita paruh baya itu mulai melemah karena terlalu lama
menghirup asap. Sementara polisi dan pemadam kebakaran yang ada di sana tak
kunjung mengeluarkannya. Wanita itu bisa kehabisan oksigen jika terus berada di
dalam sana.
Justin pun tak kunjung melepaskan pelukannya. Terpaksa aku harus melakukan
hal ini lagi. Kuinjak kaki kiri Justin dan kugigit tangannya yang masih memeluk
perutku erat. Begitu Justin melepaskan kedua tangannya, aku berlari sekencang-
kencangnya dan menembus police line yang memagari rumah itu.
“Hey... Nona... kau mau kemana? Kembali.... itu dapat membahayakan
nyawamu!!!” seru salah satu polisi.
“Carista...... kembali ke sini!!!” timpal Justin yang tertahan di batas
police line. Sebenarnya dia juga berniat menyusulku, namun langkahnya lekas
dicegah oleh polisi yang berjaga.
Ku abaikan semua celotehan orang- orang yang memaksaku untuk kembali dan
tak menolong wanita paruh bayah itu.
“Tol... long!!!” lirih suara wanita itu yang terjebak di sudut ruangan.
Aku tak bisa masuk ke dalam rumah itu karena kobaran api semakin menjadi. Tak
jauh dari tempatku berdiri terdapat sebuah jendela yang sebagian kayunya telah
menjadi abu karena dilahap api. Ku lepas cardiganku untuk memadamkan beberapa
api di sekitar jendela itu, hingga akhirnya aku berhasil menerobos masuk ke
dalam rumah itu.
“Tol...long aku, Nak! Ak... aku susah... ber... nafas... uhukkk...
uhukkk...,” ujar wanita tua itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar