Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 49 - 54

PART 49
“Sudahlah! Itu hanya pikiranmu saja. Kau lupa ya jika dia itu seorang JUSTIN DREW BIEBER sang SUPERSTAR? Jadi, dia itu bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun yang dia mau,” responku.
“Termasuk kau, kan?” haishhh… lagi- lagi aku merasa di skak oleh Carol.
“Kecuali aku!” tegasku tak mau kalah. “Kau tak bisa menyimpulkan hanya dari peristiwa tertusuknya Justin karena melindungiku. Kurasa tindakannya wajar. Karena setiap manusia juga akan refleks melakukan hal seperti itu. Aku pun pasti akan melakukan hal yang sama saat aku berada di posisinya!”
“Terserah kau sajalah! Yang pasti besok kau tetap jadi menemaninya ke acara itu. Dan aku akan membantumu untuk tampil secantik mungkin,” kata Carol yakin.
“Aku tak mau pergi dengannya, titik!” tegasku.
“Whatever! Good Night, Caris!” ucapnya dari balik pintu dan segera ke luar dari kamarku.
Hahhhh… aku menghela nafas panjang. Ku pandangi langit- langit kamarku.
Tidakkah kau melihat kepanikan dan ketakutan yang begitu besar pada diri Justin saat melihatmu terluka oleh belati milik Joey malam itu? Tidakkah kau juga melihat ketulusannya saat merelakan dirinya tertusuk demi melindungimu dari tusukan belati Joey malam itu?  Kini kata- kata Carol terngiang- ngiang dalam memori otakku.
Arghhh… kenapa aku harus mengingat kata- kata Carol yang tak masuk akal itu??? Kemudian kututupi wajahku dengan bantal dan berusaha memejamkan mataku agar tak mengingat lagi apa yang tadi dikatakan oleh Carol.
*****

Sayup- sayup kudengar kicauan burung yang bertengger di dahan pohon sebelah kamarku. Rupanya pagi begitu cepat menjelang. Tetapi ini tak membuatku beranjak dari tempat tidur. Dengan malas ku tarik lagi selimutku sampai batas kepalaku.
Tok...tok...tok... terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Tapi, tak ku hiraukan. Sampai akhirnya orang tersebut membuka pintu kamarku yang memang tidak ku kunci.
“Caris... come on wake up! Sebentar lagi tepat jam 10 Justin akan menjemputmu!” Carol mengguncang- guncang tubuhku.
“Aku tak akan pergi menemaninya! Lebih baik kau saja yang menemaninya!” kini aku menutup wajahku dengan bantal.
“Aishhh... aku tidak mungkin pergi menemaninya karena orang yang diharapkan Justin itu kau, bukan aku!” Carol masih berusaha membuatku beranjak dari tempat tidur.
“Baiklah... baiklah...! jangan menarik tanganku lagi! Sakit tau!” sergahku karena sedari tadi Carol terus saja menarik tanganku.
Aku berjalan malas menuju kamar mandi.
“Jangan terlalu lama di dalam kamar mandi! Ingat, tepat jam 10 Justin akan menjemputmu. Kau punya waktu 30 menit untuk bersiap- siap!!!” teriak Carol dari luar kamar mandi.
“Iyaaa....... cerewet sekali dirimu!” gerutuku.
Tak lama akupun selesai mandi. Aku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk saja yang melilit tubuhku.
Kulihat Carol sibuk mencari baju apa yang akan ku kenakan. Sesekali dia mengacak-ngacak kembali isi lemari bajuku.
“Nah, perfect!” serunya begitu mendapatkan sebuah dress bewarna biru agak keabu- abuan dengan panjang 15 cm di atas lutut dipadu padankan dengan sebuah cardigan abu- abu. Lalu dia menyodorkan kedua baju itu ke arahku.
“Untuk apa?” tanyaku bingung. “Jangan kau katakan jika aku harus mengenakan baju ini!” lanjutku.
“Tunggu apa lagi, ayo lekaslah ganti baju!” ujarnya dan segera mendorong tubuhku untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan berat hatiku pakai baju pilihan Carol. Kulihat diriku pada cermin kamar mandi, owhhh... ini benar- benar berlebihan.
“Carol... bisakah aku mengenakan baju yang biasa saja? Aku rasa baju ini terlalu berlebihan untuk menghadiri acara itu!” pintaku yang masih berada di dalam kamar mandi.

PART 50
Tak lama akupun ke luar dari kamar mandi. “Lihatlah! Bukankah ini terlalu mencolok?” tanyaku pada Carol sembari berputar.
Belum sempat Carol menjawab pertanyaanku, dia sudah menarik tanganku ke depan cermin. “Lihatlah, kau begitu anggun! Baju ini tidak terlalu mencolok kok! Sudahlah, kau tak perlu mencari- cari alasan lagi untuk tidak pergi menemani Justin. Kemarin aku sudah terlanjur janji padanya untuk membuatmu tampil secantik mungkin!” kemudian Carol memaksaku untuk duduk di bangku meja riasku.
Kini Carol memulai aksinya. Dia memoleskan sedikit pelembab ke wajahku.
“Apa ini? Hey aku tak mau memakai make up macam- macam! Biasanya aku hanya memakai bedak tabur bayi saja!” protesku.
“Pelembab ini hanya membantu agar kau terlindung dari sengatan sinar matahari. Sudahlah kau diam saja, aku janji akan membuatmu tampil cantik dengan make up natural!” kemudian Carol membedaki wajahku dengan bedak padat. Setelah itu dia mengoleskan sedikit lipgloss bewarna pink soft pada bibir tipisku. Lalu kurasakan Carol mengolesi bulu mataku dengan sesuatu.
“Selesai untuk make up!” seru Carol. “Caris, kau cantik sekali!” responnya.
“Hey, kau olesi apa bulu mataku ini? Kenapa bulu mataku mendadak terasa lebat dan berat?” tanyaku begitu melihat ada yang beda pada kedua bulu mataku.
“Dasar bocah! Aku hanya memberi sedikit mascara pada kedua bulu matamu. Sudah kau tak perlu banyak komentar lagi! Sekarang giliran rambutmu yang kurapikan!”
Dengan cekatan Carol menghairdryer rambutku yang basah. Setelah rambutku kering, dengan pelan dia menyisirnya. Kini Carol membuat rambutku curly di bagian bawah.
“Perfect! Kurasa Justin pasti akan terkagum- kagum melihat penampilanmu hari ini,” senyum kepuasan menghiasi wajah Carol.
Aku mematut di depan cermin. Ya tuhan... benarkah ini wajahku? Kenapa mendadak wajahku berubah menjadi aneh seperti ini?
“Pakai ini!” Carol menyodorkan sepasang high hells bewarna biru muda transparan.
“Jangan gila, Carol! Aku tak terbiasa dengan sepatu berhak seperti ini!” aku segera menepis tangan Carol. Lalu ku ambil flat shoes yang bernuansa sporty. Hemphhh... kurasa ini cocok.
Ting tong... bel di depan rumah berbunyi.
“Itu pasti Justin! Ayo!” ujar Carol bersemangat dan langsung  menarikku ke luar kamar.
Aku hanya bisa pasrah dan berharap semoga Justin tak menertawakanku untuk kedua kalinya.
Kulihat Justin sedang duduk bersama oma di ruang tamu. Begitu aku dan Carol turun dari tangga, Justin terus saja menatap ke arahku.
Huhhh... dugaanku pasti benar! Kali ini dia pasti kembali tertawa karena melihat penampilanku yang aneh ini.
“Morning, Just!” sapa Carol. “Lihatlah, warna bajumu dan Caris hampir sama!” lanjut Carol menyadari kemeja yang dikenakan Justin.
Kulirik kemeja Justin. Benar saja, warna kemeja yang dikenakannya hampir sama dengan dress yang ku kenakan. Bagaimana bisa?
Setelah itu Justin berpamitan pada oma dan Carol. Sebelumnya oma sempat melontarkan pujian akan penampilanku. Tapi tetap saja aku merasa aneh.
Aku dan Justin menuju apartemen teman Justin dengan mengendarai mobil range rover hitam yang dibawa Justin. Entah Justin memperoleh pinjaman dari mana mobil sebagus dan semewah itu.
Selama di perjalanan, aku enggan mengucapkan sepatah katapun.
“Kau kenapa?” tanya Justin yang sesekali melirik ke arahku, namun tetap konsen mengendarai mobi. “Kenapa sedari tadi kau diam saja? Kau sakit?” kini Justin menempelkan telapak tangan kirinya pada keningku. Namun, segera ku tepis.
“Aku baik- baik saja!” balasku singkat. Justin tertawa melihat tingkahku. “Kenapa kau tertawa?”
“Kau tau, hari ini kau sangat cantik. Tak seharusnya kau bersikap angkuh, cuek, dan dingin terhadapku,” Justin masih menatap lurus ke depan.
“Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu? Aku tau jika kau tertawa karena penampilanku yang aneh! Sudahlah, aku paham apa yang ada di otakmu itu!” sungutku kesal.
Justin masih tersenyum mendengar celotehanku.

PART 51
Justin menghentikan mobilnya tepat di sebuah gedung pencakar langit yang super duper tinggi dan besar. Gedung itu adalah gedung yang berisi apartemen- apartemen mewah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Justin membukakan pintu mobilnya untukku.
“Silahkan turun, Princess!” ujarnya seraya membungkukkan badannya layaknya seseorang yang menyambut seorang putri. Dia sungguh berlebihan.
Ketika kami berdua berjalan menuju apartemen milik teman Justin yang terletak di lantai 8, begitu ke luar dari lift Justin menggenggam tanganku erat.
Belum sempat aku berontak agar dia melepaskan genggamannya, kini langkahnya berhenti di depan sebuah pintu salah satu apartemen itu. Tak lama si pemilik apartemen membukakan pintu setelah Justin memencet bel apartemen itu.
“Hy, Man!” sapa Justin sembari bersalaman ala pria dengan seorang pria bertubuh bongsor dan memiliki kulit bewarna hitam legam.
“Hy, Dude! Senang kau bisa datang ke acaraku!” ucapnya membalas salam Justin.
“Oh ya kenalkan, Sean ini Caris, dan Caris ini adalah Sean, temanku sekaligus pemilik apartemen ini!” Justin memperkenalkanku pada Sean, begitu pula sebaliknya.
Aku rasa aku mengenali wajah pria ini. Yea... dia kan Sean Kingston, seorang penyanyi sekaligus rapper. Wajahnya sudah malang melintang di ranah dunia hiburan Hollywood.
“Dia kekasih barumu?” tanya Sean dan pertanyaan ini membuat wajah Justin sedikit memerah.
“No... She’s just my cousin!” jawab Justin. Fuihhh... syukurlah Justin berbohong. Mendengar ini aku sedikit lega karena Justin tak berbicara macam- macam tentangku.
Sean hanya manggut- manggut saja mendengar penjelasan Justin tentangku. Kemudian dia mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya.
Begitu masuk apartemennya, aku sangat terkejut dan sempat membuatku menghentikan langkahku. Otomatis langkah Justin juga ikut terhenti karena sedari tadi dia masih mengenggam tanganku. Bagaimana tidak aku terkejut, pemandangan di dalam rumah itu benar- benar tak layak untuk anak seusiaku. Di dalam apartemen Sean, banyak sekali para pria dan wanita yang hanya mengenakan celana boxer dan bikini. Mereka asyik bermain air dan berenang di kolam renang yang juga terletak di dalam apartemen Sean.
“Ada apa?” tanya Justin. Aku masih diam sembari menatap sekitar. Justin mengikuti arah pandangku. “Tak perlu khawatir, mereka tak akan menyakitimu!” ujarnya seraya mengelus lembut puncak kepalaku.
Saat Justin akan melanjutkan langkahnya, aku kembali menarik tangannya dan membuatnya kembali mendekatiku.
“Mr. Bieb, kau tau kan pemandangan seperti ini tak pantas untukku? Kau mau ku laporkan pada pihak berwajib karena membawa anak di bawah umur sepertiku ke acara party orang dewasa?” tanyaku polos masih menatap semua orang di dalam apartemen itu.
“Hari ini kau cerewet sekali! Don’t worry My Baby, because I’m here to protect you!” jawab Justin yakin.
Tiba- tiba datang seorang perempuan dan tanpa ijin langsung memeluk Justin.
“Hy, Dude! Long time no see!” ucapnya manja.
“Hy, Laura!” Justin membalas pelukan Laura dan langsung melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi menggenggam tanganku.
Hahhh... dasar pria! Melihat wanita sexy saja langsung tergoda. Apakah Laura sexy? Yeah, aku rasa Laura termasuk salah satu wanita sexy. Saat itu dia mengenakan sepasang bikini bewarna kuning menyala. Bikini itu menampakkan belahan payudaranya. Pria mana yang tak tergoda melihat gaya busananya?
“Ehemmm...” aku sengaja berdeham agar mereka berdua menyadari keberadaanku. Enak saja mereka mengacuhkanku!
“Ehh... e... Laura kenalkan ini Caris, dia...” belum sempat Justin melengkapi kalimatnya, aku langsung memotongnya.
“Aku temannya!” ucapku seraya mengulurkan tanganku ke hadapan Laura. Laura pun membalas uluran tanganku.
“Come on Just, aku kenalkan kau pada teman- temanku!” Laura langsung menarik tangan Justin. Sampai- sampai aku ditinggal begitu saja.
“Laura, wait!” tukas justin. Kemudian Justin kembali menghampiriku yang masih berdiam diri. “Ayo! Kau juga harus berkenalan dengan mereka.” Justin mengamit tangan kananku dan menariknya.
Laura menuntun kami berdua menuju ke arah kolam renang. Di sana banyak teman- teman Laura berkumpul. Dan crab... mayoritas mereka semua hanya mengenakan bikini dan boxer. Laura memperkenalkan kami kepada mereka semua.
Sial!!! Tak seharusnya aku mengikuti perkataan Carol dan berada di tempat ini! Lihatlah, sekarang aku hanya berdiri seperti orang bodoh. Aku benar- benar canggung berada di tempat ini.
“Hey, Just... bagaimana jika kau menyanyikan sebuah lagu untuk kami?” sorak salah satu dari orang- orang yang berada di sekitar kolam renang itu.
“Ow yeah,,, ide yang bagus! Ayolahhh!” timpal yang lainnya.
“Come on, Dude! You can do this,” ujar Laura yang memberikan sebuah gitar acoustic pada Justin.
Sesaat Justin melirik ke arahku. “Tetaplah di sini, ok!” bisiknya dan beranjak berjalan beberapa langkah menjauhiku. Dia lebih memilih duduk di samping Laura dan Sean yang berada tepat di pinggir kolam renang dan menjadi pusat dari semua para undangan yang hadir. Sementara aku hanya duduk seorang diri di salah satu kursi tamu yang disediakan. Kini arahku dan arah Justin 180 derajat dan ini membuatku berhadapan dengannya walaupun dari jarak jauh.

PART 52
Justin mulai memetik senar gitarnya.

Aye... aye... aye... aye... let’s go!
Me plus you... I’ma tell you one time (3x)
When I meet you girl my heart went knock knok
Now them butterflies in my stomach won’t stop stop
And even though it’s a struggle love is all we got
So we gon’t keep keep climbing till the montain top

Justin menatap ke arahku sembari tersenyum.

Your world is my world...
And my fight is your fight...
My breath is your breath...
And your heart...

And girl you’re my one love, my one heart
My one life for sure
Let me tell you one time...
I’m a tell you one time...

And I’m a be your one guy, you’ll be my number one girl
Always making time for you
I’m a tell you one time...
I’m a tell you one time...

Justin masih saja menatap ke arahku. Tapi sebenarnya aku juga tak yakin dia benar- benar menatap ke arahku. Sesekali ku balikkan badanku untuk mencari objek yang sedari tadi ditatap oleh Justin. Kupusatkan perhatianku pada seorang gadis cantik yang mengenakan dress putih di ujung ruangan. Hemphhh... kurasa dialah orang yang ditatap oleh Justin karena pada saat yang sama dia juga menatap dan tersenyum ke arah Justin.

You look so deep, you know that it humbles me
You’re by my side, and troubles them don’t trouble me
Many have called but the chosen is you
Whatever you want shawty I’ll give it to you

Benar- benar membosankan berada di tempat ini. Aku tampak seperti orang tolol. Bagaimana tidak jika yang ku lakukan hanya berdiam diri saja sementara yang lain tengah sibuk bernyanyi melantunkan lagu yang dinyanyikan oleh Justin.
Kurogoh saku cardiganku dan mengambil BB milikku. Kutopangkan dagu dengan tanganku dan mulai sibuk mengotak- atik BB milikku. Dari pada tak ada kerjaan dan mendengarkan Justin bernyanyi, lebih baik aku bermain- main saja dengan BBku.

Shawty right there,,, she’s got everything I need
And I’m a tell her one time
Give you everything you need
Down to my last dime

Justin bangkit dari duduknya. Kini ia berjalan dan berputar- putar di sekelilingku sembari terus bernyanyi dan mendekap gitar acousticnya. Aku heran akan tingkahnya. Lalu dia duduk di kursi sebelahku yang hanya berjarak satu meja. Dia masih menatap ke arahku.

She makes me happy
I know where I’ll be
Right by your side cause
She is  the one for me...

Pada kata ‘for me’ dia menyudahi lagunya sembari menatapku. Lalu dia membungkuk sebagai tanda terima kasih pada semua orang di sana yang telah mendengar lagunya dan ikut bernyanyi bersama. Dia kembali menghampiri Sean cs.
“You’re voice is amazing, Boy!” celetuk salah satu teman Sean. Justin hanya tersenyum menanggapinya.
Melihat Justin sibuk dengan teman- temannya, aku memilih berjalan ke meja yang berisi banyak makanan dan minuman.
Iuhhh... semua minuman yang dihidangkan mengandung alkohol. Aku tak mungkin meminumnya. Untung saja aku melihat barisan beberapa gelas yang berisi orange juice. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil segelas orange juice itu.
“Kenapa gadis manis sepertimu hanya berdiam seorang diri saja?” tanya sosok pria berkulit putih yang sudah berdiri di sampingku.
“Apakah aku mengenalmu?” tanyaku cuek.
“I’m Alex. What’s  you’re name?” hemphhh... aku rasa pria ini bukan pria baik- baik.
Aku diam tak menjawab pertanyaannya.
“Ow... ow... ayolah gadis manis, kau tak perlu bersikap dingin seperti ini padaku. Hari ini aku bisa memuaskanmu!” Alex melingkarkan lengannya seraya mengelus manja pundakku.
“Bisakah kau bersikap sopan pada wanita yang tak kau kenal? Jika kau mencari seseorang yang bisa memuaskanmu, kau salah orang!” aku menepis tangannya kasar.
“Aku suka gadis yang bersikap dingin  pada pria!” Alex memegang daguku dan semakin mendekatiku. Dan...
“What’s going on?” tanya seseorang yang tiba- tiba muncul.

PART 53
“Kau mempunyai masalah dengan sepupuku?” tanya Justin sekali lagi. Melihat kedatangan Justin membuatku sedikit bernafas lega.
“Hy, Just! Wait... kau bilang apa tadi? Sepupu?” Alex mengulangi kata yang tadi sempat Justin sebut.
“Yuph, dia adalah sepupuku. Apa kau ada masalah dengannya?” Justin melingkarkan lengannya dan meraup pundakku. Namun perlakuannya tak ku hiraukan. Aku sudah terlanjur geram akan perlakuan Alex.
“Owhhh... tidak! Barusan kami hanya berkenalan saja,” bitch... pria ini brengsek sekali. Bisa- bisanya dia menutupi perlakuannya yang tidak sopan terhadapku di hadapan Justin. Aku tak betah jika terlalu lama di tempat ini. “Baiklah, jika begitu aku tinggal dulu ya! Masih banyak teman lama yang belum ku temui. Nikmatilah party ini, Just!” ujarnya dan segera pergi meninggalkanku dan Justin.
Seperginya Alex, Justin menyentuh pipiku lembut dan membuatku menatap ke arahnya. “Kau baik- baik saja, kan? Alex tak berbuat macam- macam kan padamu?” tanyanya khawatir.
“Aku ingin pulang!” ujarku dan bergegas berjalan ke luar dari apartemen Sean.
“My Baby... tunggu!!!” terdengar suara tapak kaki Justin yang mengejarku.
Aku terus saja berjalan menjauhi apartemen milik Sean. Takku hiraukan suara Justin yang sedari tadi terus saja memanggilku. Takku hiraukan pula orang- orang yang menatap heran ke arahku karena seorang Justin Bieber mengejarku. Yang ada di pikiranku saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai di rumah walaupun sebenarnya aku tak hafal betul jalan pulang menuju rumah.
“My Baby... hey... kau kenapa??? Wait me!!!” teriak Justin dan masih terus saja mengejar langkahku.
Bodoh... kenapa dia harus berteriak? Apa dia tak berpikir jika semua orang menatap heran ke arahnya?
“Apa Alex berbuat sesuatu terhadapmu? Come on, tell me why???” Bisa- bisanya dia masih menanyakan alasanku pergi dari apartemen Sean. “Carista... jangan bertingkah seperti anak kecil! Hentikan langkahmu dan beritahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu!” kurasa Justin mulai lelah mengejarku dan kesal atas sikapku. Ini juga membuatku semakin kesal dan langsung membalikkan badan. Kini aku berjalan menghampiri Justin.
 “Kau masih menanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Kau meninggalkanku seorang diri di party itu sehingga aku seperti orang bodoh dan kau masih bertanya sebenarnya ada apa, Hah?” sergahku. “Tak seharusnya aku mengikuti dan menerima ajakanmu ke party itu!” suaraku sedikit meninggi. Aku kembali berjalan meninggalkan Justin.
“My Baby, okay, aku minta maaf atas kejadian itu! Please forgive me!” Justin masih sabar mengejarku. “Ayolah, My Baby! Kita bisa selesaikan masalah ini dengan baik- baik. Tak perlu kau menghindariku seperti ini! Tingkahmu tak lebih dari anak kecil.”
“Jangan sekali- kali kau menilaiku, karena kau tak tau siapa aku! Kau tak mengenal siapa diriku sebenarnya, Bieb! ” aku kembali menghampiri Justin. “Yeah, aku memang anak kecil. Umurku saja baru 15 tahun dan tak sepantasnya kau mengajakkkkk...” tiba- tiba Justin meraup dan merengkuh wajahku. Ini membuatku tak menyelesaikan kalimatku.
Dia kembali mendaratkan bibirnya pada bibirku, namun kali ini bibir bagian bawahku yang menjadi sasarannya. Aku meronta agar dia melepaskan bibirnya, tapi dia malah semakin memperkuat merengkuh wajahku.
Dia menciumku bak seorang pencuri yang sedang tergesa- gesa karena diburu oleh polisi. Kini dia menelusuri rongga mulutku. Ouchh... dia baru saja menggigit bagian kulit dalam mulutku. Aku rasa ini akan meninggalkan sariawan pada bagian mulutku.
Semakin lama nafasku semakin sesak. Dengan susah payah akhirnya aku berhasil membuatnya menjauhkan bibirnya dari bibirku.
Dia merapatkan keningnya pada keningku. Nafas kami berderu dan saling beradu.
“Jika memang begitu, buatlah aku mengetahui siapa dirimu dan ijinkanlah aku mengenalmu dengan baik!!!” ucapnya dengan mata terpejam dan nafas yang masih tak beraturan.
Kutatap dia yang masih memejamkan kedua matanya, lalu...

PART 54
PLAKKK... aku melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kanannya. Refleks ini membuatnya meringis kesakitan. Entah setan apa yang merasukiku sehingga aku melakukan itu padanya. Kulihat dia memegangi pipinya yang mulai memerah.
“Bitch! Aku benar- benar membencimu! Mulai sekarang, menjauhlah dari kehidupanku!” perlakuannya kali ini tak dapatku maafkan lagi. Aku membencinya karena dia sudah berkali- kali menciumku tanpa ijin. Tak dapatku bayangkan jika papa mengetahui hal ini, pasti aku sudah dimarahi habis- habisan.
Aku terus berjalan menyusuri keramaian kota Stratford. Takku hiraukan Justin yang sedari tadi berjalan di belakangku. Langkahku berhenti begitu melihat warga sekitar berkerumun di salah satu rumah yang sedang dilalap oleh jago merah.
“Excusme, Sir! Apa yang sebenarnya terjadi sehingga rumah itu terbakar?” tanyaku pada salah satu orang yang juga turut dalam kerumunan itu.
“Adanya hubungan arus pendek yang terjadi menyebabkan tersulutnya api sehingga membakar ludes rumah itu. Dan kabarnya korsleting itu terjadi di arena dapur otomatis tabung gas di dalam dapur juga turut meledak dan menambah kobaran api,” jelas orang itu.
“My Baby... apa yang terjadi?” tanya Justin yang telah berdiri di sampingku. Aku masih enggan berbicara padanya, jadi kuabaikan saja pertanyaannya.
Pandanganku terus terpusat pada rumah yang terbakar itu. Tak lama kulihat seseorang di dalam bangunan. Kupicingkan kedua mataku.
“Ada seseorang di dalam sana!” gumamku.
“Tak mungkin. Karena polisi sudah mengevakuasi seluruh anggota keluarga itu,” sanggah salah seorang yang juga ikut berkumpul menyaksikan kebakaran itu.
Benarkah? Apa mungkin aku yang salah lihat? Kuamati kembali rumah yang sudah terselimuti si jago merah itu. Benar saja, aku kembali melihat seseorang di dalam rumah itu. Seorang wanita paruh baya sedang melambai- lambaikan tangan untuk meminta tolong. Sayang, sosoknya tertutupi oleh kabut asap si jago merah sehingga tak banyak orang yang dapat melihatnya.
“Shit... hey di dalam sana benar- benar masih ada orang!” seruku sembari menunjuk tempat wanita paruh baya itu. Ketika aku hendak berlari untuk menolong wanita itu, dengan cekatan Justin menarik dan mendekap perutku.
“Kau mau kemana? Jika kau pergi ke sana, kau bisa celaka!” ucapnya.
Aku meronta layaknya anak kecil, “Lepas, Bieb! Aku ingin ke sana!”
“Maaf My baby, kali ini aku tak akan menuruti kemauanmu!” Justin semakin mempererat dekapannya. Tingkahku mengundang perhatian orang- orang yang ada di sana.
“Just, aku mohon!” kini aku mencoba jurus andalan yang biasa digunakan Auris untuk merayu papa. Aku memasang tampang puppy faceku ke arah Justin.
“Tidak, Miss. Hawkins!” jawabnya tegas disertai dengan gelengan kepala. Sial... jurus andalan Auris tak mempan untuknya.
Kulihat kondisi wanita paruh baya itu mulai melemah karena terlalu lama menghirup asap. Sementara polisi dan pemadam kebakaran yang ada di sana tak kunjung mengeluarkannya. Wanita itu bisa kehabisan oksigen jika terus berada di dalam sana.
Justin pun tak kunjung melepaskan pelukannya. Terpaksa aku harus melakukan hal ini lagi. Kuinjak kaki kiri Justin dan kugigit tangannya yang masih memeluk perutku erat. Begitu Justin melepaskan kedua tangannya, aku berlari sekencang- kencangnya dan menembus police line yang memagari rumah itu.
“Hey... Nona... kau mau kemana? Kembali.... itu dapat membahayakan nyawamu!!!” seru salah satu polisi.
“Carista...... kembali ke sini!!!” timpal Justin yang tertahan di batas police line. Sebenarnya dia juga berniat menyusulku, namun langkahnya lekas dicegah oleh polisi yang berjaga.
Ku abaikan semua celotehan orang- orang yang memaksaku untuk kembali dan tak menolong wanita paruh bayah itu.
“Tol... long!!!” lirih suara wanita itu yang terjebak di sudut ruangan.
Aku tak bisa masuk ke dalam rumah itu karena kobaran api semakin menjadi. Tak jauh dari tempatku berdiri terdapat sebuah jendela yang sebagian kayunya telah menjadi abu karena dilahap api. Ku lepas cardiganku untuk memadamkan beberapa api di sekitar jendela itu, hingga akhirnya aku berhasil menerobos masuk ke dalam rumah itu.

“Tol...long aku, Nak! Ak... aku susah... ber... nafas... uhukkk... uhukkk...,” ujar wanita tua itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar