Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 31 - 36

PART 31
Hari ini oma memintaku untuk menemaninya berbelanja ke supermarket dan setelah itu mengunjungi rumah kerabat dekatnya di kota ini. Berhubung aku harus menemani oma, aku pun harus merelakan gaji 100 dollar hilang karena harus absen dari pekerjaanku.
Ketika aku ingin menemui Mrs. Pattie di kediaman keluarga Dale, kulihat Mr. Bruce tengah mengantarkan seorang pria berjas putih ke luar dari dalam rumahnya. Pria berjas putih itu kerap sekali kutemui di Rumah Sakit.
Untuk apa keluarga Dale memanggil seorang dokter? Siapa yang sakit? Kuabaikan pertanyaanku setelah melihat dokter itu telah pergi mengendarai sedan birunya.
“Morning, Mr. Bruce!” sapaku. “Mengapa dokter itu kemari? Siapa yang sakit?” akupun melontarkan pertanyaan yang tadi sempat terbersit di pikiranku.
Belum sempat menjawab pertanyaanku, Mr. Bruce mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu. Kuikuti langkahnya yang akhirnya berhenti tepat di depan kamar Justin.
Di dalam kamar itu tampak Justin tengah berbaring lesu di temani sang ibu, Jazzy, dan sang nenek.
Ku tatap Mr. Bruce seakan bertanya sebenarnya apa yang terjadi pada Justin.
“Tiba- tiba saja tadi pagi suara Justin menghilang. Dokter mengatakan itu terjadi karena selama di sini Justin tidak menjaga pita suaranya dengan baik. Tenggorokan Justin bengkak dan itu berpengaruh terhadap suaranya.” Sangat jelas sekali kulihat kecemasan yang teramat sangat di dalam diri Mr. Dale.
“Tenanglah, Mr. Bruce! Aku yakin semuanya akan segera membaik!” aku mencoba menenangkan Mr. Bruce.
“Aku hanya takut suaranya tidak dapat pulih secepatnya. Kau tau sendiri kan, awal bulan nanti dia akan mengadakan konser pembuka tournya di Madison Square Centre. Dia sangat menanti- nantikan moment itu!”
“Percayalah Mr. Bruce, semuanya akan baik- baik saja!” aku masih berusaha menenangkan Mr. Bruce.
“Semoga saja apa yang kau katakan benar!” lirihnya. “Oh ya, bukankah kau harus mengajari Jazzy? Maaf… karena mendengar semua kekhawatiranku, aku jadi menyita waktumu!”
“Sebenarnya aku ke sini ingin memberitahukan jika hari ini aku tidak dapat mengajari Jazzy.” Mr. Bruce mengerutkan keningnya. “Hari ini oma mengajakku pergi ke supermarket. Tapi, setelah mengetahui keadaan Justin lebih baik aku mengurungkan niatku untuk menemani oma. Mrs. Pattie pasti sangat lelah jika harus mengurusi Justin dan Jazzy,” aku menatap ke arah Jazzy dari luar kamar Justin. Entah kenapa aku sangat menyayangi gadis cilik itu. Bahkan aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.
“Kau tidak perlu membatalkan janji untuk menemani omamu ke supermarket. Pergilah! Jazzy pasti baik- baik saja. Tak perlu cemas, masih ada aku dan istriku yang akan menjaga Jazzy!” suruh Mr. Bruce.
“Benar tak apa aku pergi sebentar untuk menemani oma?” Mr. Bruce mengiyakan pertanyaanku.
Bergegas ku menuju ke rumah untuk menemui oma dan segera berangkat ke supermarket terdekat.
“Kau tidak mengunjungi Jazzy hari ini?” tanya oma saat kami berada di dalam supermarket.
“Khusus hari ini aku absen dari jobku!” jawabku datar.
“Oma lihat tadi keluarga Dale sedang dikunjungi seseorang. Kau tau siapa?” tampaknya oma sempat melihat mobil dokter tadi terparkir di depan kediaman keluarga Dale.
“Hanya seorang dokter yang memeriksa kondisi Justin.” jawabku datar sambil memilih buah apel.
“Justin? Cupcake, apa yang terjadi dengan Justin?” oma tampak mencemaskan keadaan Justin.
“Saat ini sua…” apa iya aku harus mengatakan penyebab Justin sakit di tempat umum seperti ini? Kuamati sekelilingku, ahhh… tidak… tidak mungkin aku mengatakannya di sini.

PART 32
“Cupcake… Justin kenapa?” suara oma membuyarkan lamunanku.
“Hanya demam biasa!” bisikku pada oma. Melihat tingkahku, oma seakan mengerti apa yang ku maksud. Tak aman jika membicarakan seorang JUSTIN BIEBER sang SUPERSTAR di tempat umum.
Setelah menemukan barang yang dibutuhkan, oma menuju kasir dan segera membayar beberapa barang yang ada di dalam troli  belanja.
Perhatianku tertuju pada nama identitas yang terdapat pada dada kanan sang kasir. Dalam nama identitas itu tertulis JEREMY.
Jeremy? Nama kasir itu mengingatkan aku pada percakapan Justin dengan Mr. Bruce kemarin. Umphhh… ku rasa Jeremy dapat sedikit membantu kesembuhan Justin. ahhh… benarkah aku harus mencari dan bertemu JEREMY yang dimaksud Mr. Bruce?
Begitu khusyuk dengan alam lamunanku, sampai- sampai aku tak menyadari jika oma telah selesai membayar barang belanjaannya dan ke luar dari supermarket,
Selesai dari supermarket, sesuai rencana awal aku pergi ke salah satu rumah kerabat oma yang hanya berjarak beberapa blok dari rumahku.
Di saat aku memasuki pekarangan rumah kerabat oma, kulihat Chaz dan Ryan keluar dari rumah yang terletak di depan rumah kerabat oma itu. Mereka berjalan tergesa- gesa. Hmmm… ku rasa mereka sudah mendengar kabar jika Justin sedang sakit.
*****


Malam harinya kuputuskan untuk mengunjungi rumah yang tadi pagi sempat kulihat Chaz dan Ryan muncul.
Tok… tok… tok… dengan mantap ku ketuk pintu rumah yang terletak tepat berada di depan rumah kerabat oma. Tak lama seorang pria jangkung dengan rambut berponi membukakan pintu.
“Caris! Apa yang kau lakukan di sini?” respon Chaz ketika mengetahui kedatanganku. “Masuklah!” lanjutnya mempersilahkanku masuk.
Setelah itu, Chaz meninggalkanku sebentar di ruang tamu dan kembali muncul menemuiku dengan secangkir coklat panas di tangannya.
“Ini untukmu!” ucapnya seraya menyodorkan secangkir coklat itu ke arahku. “Ada keperluan apa kau menemuiku? Bagaimana kau bisa tau alamat rumahku?” tanyanya.
“Tadi pagi saat menemani oma ke supermarket, aku tak sengaja melihatmu dan Ryan berjalan ke luar dari dalam rumah ini. Aku pikir rumah ini merupakan salah satu dari rumah kalian. Dan ternyata rumah ini adalah rumahmu.” Ujarku menjelaskan terhadap Chaz. “Sebenarnya kedatanganku ke sini ingin menanyakan beberapa pertanyaan padamu,” lanjutku.
Chaz serius menatapku. Menunggu aku untuk mengajukan pertanyaan untuknya.
“Benarkah kau sudah bersahabat lama dengan Justin?” pertanyaanku ini mengundang tawa pada diri Chaz. Yeayyy… I know… pertanyaanku ini tak masuk akal. “Berhubung kau sudah bersahabat lama dengan Justin, kurasa kau dapat menjawab pertanyaanku yang selanjutnya!”
“Apa itu?”
“Mmmm… kau kenal dengan seseorang yang bernama Jeremy?” tanyaku untuk kedua kalinya.
“Tentu saja aku mengenalnya.” Jawaban Chaz membuatku antusias untuk mendengarnya.
“Bisakah kau ceritakan siapa Jeremy itu? Dan apa hubungannya dengan Justin?”
Chaz memperbaiki posisi duduknya. “Jeremy itu adalah ayah kandung Justin. Namun, kedua orang tua Justin memutuskan untuk bercerai saat Justin masih berusia dua tahun. Setelah bercerai dari Mrs. Pattie, Mr. Jeremy menikah lagi dengan Mrs. Erin dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Jazzy dan Jaxon.” Chaz menceritakan secara detail silsilah keluarga Bieber. Tapi tunggu… aku begitu terkejut mendengar nama Jazzy.

PART 33
“Tadi kau bilang Mr. Jeremy menikah dengan Mrs. Erin dan dikaruniai dua orang anak?” tanyaku mempertegas perkataan Chaz.
“Yeah… dan kedua anak itu adalah Jazzy dan Jaxon.”
“Jadi… Jazzy itu…”
Belum lengkap perkataanku, Chaz sudah memotongnya, “Jazzy itu saudara tiri Justin Bieber!”. Aku diam tak percaya jika Jazzy adalah hasil pernikahan Jeremy dengan Erin. Lalu kenapa Jazzy sekarang begitu dekat dengan Justin dan keluarganya.
“Perpisahan kedua orang tuanya tak pernah membuat Justin dendam kepada sang papa. Dengan lapang dia menerima kenyataan dan menerima kedua saudara tirinya itu. Justin sangat menyayangi Jazzy dan Jaxon. Jazzy memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Justin dibandingkan dengan sang ayah. Itu karena sedari kecil Mrs. Pattie sudah mulai merawatnya. Untungnya Mr. Jeremy tidak keberatan jika Jazzy harus tinggal di Atlanta bersama Justin dan ibunya. Hubungan Justin, sang ibu, dan Mrs. Erin pun berlangsung baik.” Aku menyimak tiap kata yang ke luar dari mulut Chaz.
“Chaz… bisakah kau mengantarku menemui Mr. Jeremy sekarang?” Chaz hanya bisa menatap heran ke arahku. “Aku sungguh- sungguh dengan perkataanku!” lanjutku menegaskan.
Chaz mengiyakan permintaanku untuk bertemu dengan Mr. Jeremy. Ia kembali masuk ke dalam rumahnya dan tak lama kembali menemuiku dengan jaket hitam yang membalut tubuhnya dan kunci mobil di tangannya.
Kami pun pergi menuju rumah Mr. Jeremy dengan mengendarai ford biru milik Chaz. Lima menit kemudian Chaz menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah minimalis bewarna putih. Sebenarnya rumah Mr. Jeremy tak jauh, hanya berjarak beberapa blok saja dari rumah Chaz. Tapi entahlah, kenapa Chaz mengajakku pergi dengan mengendarai mobilnya.
Ku ketuk pintu rumah itu, sampai akhirnya seorang pria masih muda membukakannya sembari mengendong balita laki- laki berumur sekitar setahun.
“Chaz…!” sapanya melihat ke arah Chaz. “Apakah dia kekasihmu?” tanyanya sembari menatapku.
“Mr. Jeremy, kenalkan ini Caris, teman baruku dan Justin!” Chaz memperkenalkanku pada sang pembuka pintu rumah yang ternyata adalah Mr. Jeremy.
Kujabat uluran tangan Mr. Jeremy yang tampak kesulitan karena menggendong sang balita.
“Sebenarnya kedatanganku dan Chaz ke sini untuk menjemputmu menemui Justin.” aku langsung pada tujuan utama kenapa aku harus menemui Mr. Jeremy malam ini.
“Justin? apakah dia ada di sini?” ku rasa Mr. Jeremy belum mengetahui kedatangan Justin di Stratford.
“Maaf,,, aku lupa mengabarimu jika Justin sudah beberapa hari ini tinggal di rumah keluarga Dale!” sambung Chaz.
“Saat ini dia sedang sakit dan aku rasa dia sangat merindukanmu,” tambahku.
Mr. Jeremy tampak shock mendengar Justin sedang sakit.
“Kau akan mengetahui lebih jelasnya setelah kau sampai di kediaman keluarga Dale!” Chaz membantuku meyakinkan Mr. Jeremy untuk mengunjungi Justin. “Sebaiknya kau mengajak keluarga kecilmu menginap di kediaman keluarga Dale malam ini. Ku rasa ini akan membuat mereka senang, terlebih Justin dan Jazzy.” Tambah Chaz.
“Baiklah, beri aku beberapa menit untuk bersiap- siap!” kemudian Mr. Jeremy masuk ke dalam rumah untuk berbenah.
Sesaat aku dan Chaz saling melempar senyum karena berhasil mengajak Mr. Jeremy pergi menemui Justin dan keluarga Dale.
*****

PART 34
Aku merasakan seseorang menekan- nekan hidungku. Namun, ini tak mengurungkan tekadku untuk terus melanjutkan perjalanan menuju dream island. Semakin lama jari telunjuk itu semakin menekan- nekan hidungku.
“Princess,,, wake up!” bisik sebuah suara di dekat telingaku.
“Grandma, beri aku waktu beberapa menit lagi untuk melanjutkan tidurku! I’m so tired now!” ucapku masih dengan mata terpejam. Lalu kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.
SRETTT… seseorang yang aku rasa oma menarik selimut yang menutupi tubuhku. Kubiarkan saja oma menarik selimut itu. Aku masih saja berusaha untuk meneruskan tidurku. Lalu kurasakan sebuah kecupan menyentuh pipiku.
“Grandma, berhenti mangganggu tidur…….” Kalimatku terputus ketika melihat sepasang malaikat kecil berada dalam pangkuanku.
Aku lupa jika semalam aku tertidur di sofa ruang tengah.
“Morning, Princess! Oh ya kenalkan, ini Jaxon, adikku!” sapa Jazzy manis.
“Mo..mom…” celetuk Jaxon.
“Princess… kau dengar, Jaxon memanggilmu dengan sebutan mom!” seru Jazzy senang.
Peristiwa itu membuat Justin tertawa. Ya… Justinlah yang membawa kedua malaikat kecil itu untuk mengganggu tidurku.
Kemudian Justin menyodorkan secarik kertas ke arahku dan segera berlalu ke luar rumahku dengan Jaxon dan Jazzy dalam dekapannya.
Seperginya Justin, aku langsung membuka kertas yang tadi ia berikan.
Tak kusangka gadis sepertimu jika tidur hampir sama seperti kerbau, susah untuk dibangunkan! Hey, My Baby… cepatlah bersiap- siap! aku dan yang lainnya menunggumu di depan rumah!  _Bieb_
Dia bilang aku apa? Kerbau? Sial… berani- beraninya dia menyamakan aku dengan kerbau! Justin… awas kau!!! Batinku dalam hati.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk bersiap- siap. Setelah melahap potongan sandwich yang dihidangkan oma di meja makan, aku pun bergegas menghampiri Justin di depan rumahnya.
Di depan rumah Justin, tampak keluarga besar Bieber berkumpul. Ehhh... tapi ternyata omaku juga turut berkumpul saat itu.
“Akhirnya yang ditunggu- tunggu datang juga,” kata Mrs. Pattie yang melihat kedatanganku. “Ayo, kita berangkat!” ajak Mrs. Pattie dengan keranjang piknik di tangannya.
“Memangnya kita akan pergi ke mana?” tanyaku bingung.
“Lho, Justin belum memberitahumu jika hari ini kita sekeluarga akan pergi piknik ke Stratford Park?” tanya Mrs. Dale yang ku jawab dengan gelengan kepala. “Ya sudah, lebih baik kita berangkat sekarang sebelum hari bertambah siang!” ajak mrs. Dale.
Aku bersama keluarga Bieber berangkat menuju Startford Park mengendarai mobil Mr. Jeremy dan Mobil Chaz. Chaz, Ryan, Jazzy, Justin, dan aku berada dalam mobil milik Chaz. Sementara keluarga Bieber beserta oma berada dalam mobil Mr. Jeremy.
Sesampainya di Stratford Park, keluarga Bieber duduk di atas karpet lipat yang mereka bawa untuk alas. Sementara aku, Justin, Chaz, dan Ryan sibuk menemani Jazzy dan Jaxon bermain di beberapa wahana yang memang disediakan untuk anak seumur mereka.
Di tengah kasyikanku mengajak Jazzy bermain ayunan, lagi- lagi Justin memberiku secarik kertas yang bertuliskan “Thanks!”
“Untuk apa?” aku tak mengerti maksudnya. Kenapa hari ini dia selalu berbicara melalui kertas padaku? Apa dia... ahhh aku lupa jika saat ini tenggorokan Justin sedang bengkak. Pantas saja dia tidak berbicara.
Justin kembali mengambil kertas itu, dan menuliskan sesuatu dibalik kertasnya. Tak lama iapun memberikannya lagi kepadaku.
Terima kasih karena kau telah mengajakku ke Star Lake dan mengurangi bebanku. Dan terima kasih karena kau berhasil membujuk Dad untuk menemuiku. Dengan apa aku harus membalas kebaikanmu itu?
“Kau tak perlu berlebihan dan tak perlu besar kepala, Mr. Bieb! Aku melakukan ini hanya ingin membalas apa yang sudah kau lakukan untukku!” balasku.
Kemudian Justin kembali menggoreskan penanya di atas kertas itu.
Apapun alasannya aku rasa harus membalas kebaikanmu.
Justin kembali menyodorkan kertas itu ke arahku.
“Kau itu benar- benar...”
CUPPP... belum sempat ku menyelesaikan kalimatku, tiba- tiba Justin mendaratkan sebuah ciuman di pipi kananku. Kemudian dia berlari mundur sembari memamerkan barisan gigi depannya ke arahku.

PART 35
“JUSTINNNNNN....... KAU MANUSIA MENYEBALKAN!” aku mengejar Justin mengitari area Stratford Park.
Tak ku hiraukan orang- orang yang berjalan lalu lalang di tempat itu memandang tingkahku dengan Justin. Yang ada dipiranku saat itu hanyalah mengejar Justin dan dapat menonjok wajahnya. Siapa suruh dia menciumku tanpa permisi!!!
“CARISSS!!!” seru sebuah suara menghentikan langkahku untuk mengejar Justin. “Jazzy bersamamu?” tanya Ryan masih dengan nafas terengah-engah karena mengejarku.
Jazzy? Ya ampun... aku lupa jika aku meninggalkan Jazzy begitu saja untuk mengejar Justin. Tanpa menghiraukan pertanyaan Ryan, aku pun kembali berlari menuju tempat ayunan itu.
Alhasil... Jazzy tidak ada di tempat. God... kemana perginya Jazzy?
“Ba... bagaimana?” tanya Ryan masih dengan nafas tak beraturan karena mengikutiku.
“Aku harus segera menemukannya!” aku kembali berlari meninggalkan Ryan.
Ya Tuhan... bantu aku menemukan Jazzy! Tidak mungkin Jazzy hilang dan... ARGHHH... TIDAK... apa yang ku pikirkan? Bisa- bisanya aku berpikir jika Jazzy diculik seseorang.
Pandanganku menyapu seluruh tempat di Stratford Park. Kuamati satu- persatu setiap gadis cilik yang kutemui di tempat itu. Tapi, tetap saja aku tak menemukan Jazzy. Hingga akhirnya...
“Anak manis, kenapa kau berjalan sendirian? Di mana keluargamu?” tanya seorang gadis berambut blonde kepada...
 “JAZZYYYY...!” seruku ketika mengenali wajah gadis kecil yang menjadi lawan bicara gadis itu. “Syukurlah kau tak apa!” aku memeluk Jazzy. “Jangan pernah menghilang lagi, ok! Kau tau aku hampir mati berdiri karenamu!” ujarku seraya mencium puncak kepala Jazzy. “Terima kasih karena telah menjaganya!” ucapku pada gadis berambut blonde itu.
“Tak apa!” balasnya ramah.
Kemudian kami saling memperkenalkan diri satu sama lain. Carol McFadden, itulah nama gadis berambut blonde itu.
“CAROLLL!!!” terdengar suara seseorang memanggil gadis itu. Kulihat Carol sangat ketakutan begitu mendengar suara itu.
“Sorry, Car! I have to go now. Bye and see ya!” katanya terburu- buru.
Kulihat dari kejauhan seorang pria tengah berkacak pinggang di hadapan Carol. Ku rasa pria itu sedang memarahinya. Siapa pria itu sebenarnya?
“Jazzy... syukurlah akhirnya kau ketemu juga!” kata Chaz yang disusul oleh Justin dan Ryan.
“Kalian bawa Jazzy pada  Mrs. Pattie ya! Aku ingin pergi sebentar!” sebelum mereka bertiga bertanya lebih jauh lagi, aku langsung pergi meninggalkan mereka setelah menyerahkan Jazzy ke dalam pelukan Justin.
“Jadi hanya segini penghasilanmu hari ini?” suara pria itu benar- benar memekakkan telingaku. Ya... aku memilih untuk menghampiri Carol dan ingin memastikan jika keadaannya baik- baik saja.
Carol hanya tertunduk mendengar semua celoteh pria itu.
“Jika saja tadi kau tak bermain- main dengan anak kecil itu, pasti hari ini kita akan mendapatkan uang banyak. Kau itu benar- benar membuatku geram!” dan PLAKKK... pria itu mendaratkan sebuah tamparan ke arah pipi kanan Carol dengan sangat keras. Carol masih terdiam dan tidak ada tanda- tanda akan memberikan perlawanan.
“Ada apa ini? Carol, you ok?” aku menghampiri Carol yang hanya berdiri sembari memegangi pipinya.
“Kau siapa berani sekali mencampuri urusanku dengannya?” tanya pria itu masih dengan suara lantang.
“Maaf tapi dia tidak bersalah. Yang ia lakukan hanya membantu Jazzy, anak kecil yang tadi kau maksud,” belaku.
“Car, pergilah! Biar ini menjadi urusanku dan Joey,” sahut Carol. Joey? Owhhh... rupanya pria itu bernama Joey.
“Aku tak perduli dengan semuanya. Aku memungut gadis ini hanya untuk menghasilkan uang dan melayaniku! Dia tak lebih dari hanya sekedar budakku!” Joey masih tak menurunkan tangannya dari atas pinggangnya.
“Kasar sekali perkataanmu itu!” suaraku sedikit meninggi.
“Car, kumohon pergilah! Aku tak ingin jika kau terlibat masalah dengannya!” bisikan Carol tak ku hiraukan.
“Memangnya apa urusanmu? Aku berhak melakukan apa saja terhadapnya! Dia itu milikku sepenuhnya.” Hahhh... perkataan Joey semakin lama membuatku geram. “Kau mau bukti?” tanyannya.

PART 36
Aku masih menatap tajam ke dalam bola mata Joey. Pria ini sangat BRENGSEK.
“Jangan menatapku seperti itu gadis manis! Kau tak pantas berperawakan bak pemain antagonis di sebuah drama televisi! Apa kau masih tak percaya jika Carol itu milikku sepenuhnya?” tanyanya sekali lagi. Namun, aku tak kunjung meresponnya. “Baiklah akan kutunjukkan!”
Lalu dengan kasar Joey menarik tubuh Carol masuk ke dalam pelukannya. Kemudian Joey langsung mengapitkan bibirnya ke bibir Carol. Joey melumat bibir Carol dengan kasarnya. Pria ini benar- benar payah. Mencium seorang gadis saja seakan seperti sedang memburu sesuatu. Kulihat tangan Joey mulai menggerayangi bagian belakang tubuh Carol. Iuhhhh... menjijikkan sekali aku harus melihat adegan itu. Carol hanya bisa pasrah dan tidak berontak sedikitpun. Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia takut sekali untuk mengatakan TIDAK pada Joey?
Kini tangan Joey beralih menggerayangi daerah rawan Carol. Dengan kasar dia meremas bagian payudara Carol. Dan... okay I think it’s enough!
Dengan cepatku tarik tangan Carol dari dalam pelukan Joey. Melihat hal ini amarah Joey memuncak.
“Ku rasa kau terlalu jauh mencampuri urusanku, Gadis manis!” Joey berjalan menghampiriku. “Kau tau, jika bukan karena aku dia TIDAK AKAN PERNAH HIDUP SEPERTI SEKARANG!” Joey kembali meninggikan suaranya dan sempat membuatku kaget. Sementara Carol hanya bisa berdiri di balik badanku.
“Kau pikir hidup yang kau berikan padanya itu nyaman? Aku rasa tidak!” aku masih mencoba melindungi Carol. “Lepaskan dia!”
“Kau sadar dengan yang kau katakan? Jika aku melepas Carol aku tidak akan mendapatkan uang lagi!”
“Aku akan memberikan berapapun yang kau minta asalkan kau melepasnya dan tidak lagi mengganggunya!” tegasku.
“Jangan, Car!” sahut Carol namun itu tak menyurutkan niatku untuk membantunya.
Joey meminta uang sebesar 1juta dollar. Dan sebagai jaminannya aku merelakan Iphoneku. Aku berjanji pada Joey jika besok pagi aku akan kembali menemuinya dengan membawa uang yang dia minta.
Aku membawa Carol untuk menemui keluarga besar Bieber dan oma. Di sana Carol menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya selama hidup dengan Joey. Joey merupakan pria yang selama ini menampung Carol selama di Kanada. Carol mengatakan jika dia kabur dari rumanya di Toronto gara- gara tidak sepaham dengan pemikiran sang ayah yang menginginkannya untuk melanjutkan pendidikan di Aussie. Pertama kali datang ke kota ini, Carol bingung harus tinggal di mana hingga akhirnya dia bertemu dengan Joey. Namun, benar- benar tak ku duga jika Joey memperlakukan gadis secantik Carol tak lebih dari seekor binatang. Joey kerap sekali bermain kasar pada Carol. Bahkan jika Joey sedang ingin bercinta, Carol harus siap untuk melayaninya setiap waktu. Pria itu benar- benar biadab.
Aku benar- benar iba mendengar kisah hidup Carol. Untung saja oma menyetujui usulanku agar Carol menetap di rumah untuk sementara waktu. Dengan begitu aku mempunyai teman dan tak akan merasa kesepian lagi.
*****

“Carisss!!!” seru Carol ketika aku tengah sibuk melahap spaghetti buatan oma.
“Hey... ada apa? Kenapa pagi- pagi kau berteriak?” tanyaku heran.
“Aku berhasil mendapatkan pekerjaan di butik milik Ashley!”
Carol baru saja mendapat telepon dari Ashley, teman dekatnya di Toronto. Ternyata Ashley mempercayakan Carol untuk mengurusi cabang butik miliknya yang terletak di pusat kota Stratford. Aku ikut bahagia mendengar kabar itu. Aku senang jika akhirnya Carol kembali tersenyum.
“Kau akan menemuinya?” Carol melirik sebuah amplop tebal bewarna coklat di sebelahku. Aku mengangguk mantap.
Pagi ini sesuai rencana aku akan pergi menemui Joey di kedainya. Uang sebesar 1 juta dollar berhasil kuperoleh dari hasil meminjamku pada oma. Melihat kondisi tabunganku yang tidak memungkinkan untuk dibagi antara mengganti kerusakan mobil dan memberikan uang tebusan pada Joey, aku pun memutuskan untuk meminjam beberapa uang dalam tabungan oma.
“Aku ikut!” lanjut Carol.
“Tidak... tidak! Kau tak boleh ikut! Jika kau ikut, ini akan semakin memperburuk keadaan dan Joey akan semakin susah melepasmu!” tolakku.
Bahaya sekali jika Carol ikut karena aku yakin jika Joey tidak akan semudah itu melepaskan Carol.
Setelah mendengar penjelasanku, akhirnya Carol menuruti perkataanku. Dia tidak memaksakan kehendaknya untuk ikut menemui Joey. Walaupun dapat kulihat kekhawatiran dalam dirinya melihat keberangkatanku menuju kedai Joey.
Dengan yakin aku berjalan seorang diri menuju kedai Joey yang terletak di dalam Stratford Park. Langkahku sempat terhenti sebentar ketika sampai di depan kedainya. Fuihhh... aku menarik nafas panjang dan langsung menghembuskannya.
Tiba- tiba kurasakan seseorang menggenggam tanganku sangat erat. Aku terlonjak kaget dengan hadirnya genggaman tangan itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar