PART 31
Hari ini oma memintaku untuk menemaninya
berbelanja ke supermarket dan setelah itu
mengunjungi rumah kerabat dekatnya di kota ini. Berhubung aku harus
menemani oma, aku pun
harus merelakan gaji 100 dollar hilang karena harus absen dari pekerjaanku.
Ketika aku ingin menemui Mrs. Pattie di
kediaman keluarga Dale, kulihat Mr. Bruce tengah mengantarkan seorang pria
berjas putih ke luar dari dalam rumahnya. Pria berjas putih itu kerap sekali
kutemui di Rumah Sakit.
Untuk apa keluarga Dale memanggil seorang
dokter? Siapa yang sakit? Kuabaikan pertanyaanku setelah melihat dokter itu
telah pergi mengendarai sedan birunya.
“Morning, Mr. Bruce!” sapaku. “Mengapa dokter
itu kemari? Siapa yang sakit?” akupun melontarkan pertanyaan yang tadi sempat
terbersit di pikiranku.
Belum sempat menjawab pertanyaanku, Mr. Bruce
mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu. Kuikuti langkahnya
yang akhirnya berhenti tepat di depan kamar Justin.
Di dalam kamar itu tampak Justin tengah
berbaring lesu di temani sang ibu, Jazzy, dan sang nenek.
Ku tatap Mr. Bruce seakan bertanya sebenarnya
apa yang terjadi pada Justin.
“Tiba- tiba saja tadi pagi suara Justin
menghilang. Dokter mengatakan itu terjadi karena selama di sini Justin tidak
menjaga pita suaranya dengan baik. Tenggorokan Justin bengkak dan itu
berpengaruh terhadap suaranya.” Sangat jelas sekali kulihat kecemasan yang
teramat sangat di dalam diri Mr. Dale.
“Tenanglah, Mr. Bruce! Aku yakin semuanya
akan segera membaik!” aku mencoba menenangkan Mr. Bruce.
“Aku hanya takut suaranya tidak dapat pulih
secepatnya. Kau tau sendiri kan, awal bulan nanti dia akan mengadakan konser
pembuka tournya di Madison Square Centre. Dia sangat menanti- nantikan
moment itu!”
“Percayalah Mr. Bruce, semuanya akan baik-
baik saja!” aku masih berusaha menenangkan Mr. Bruce.
“Semoga saja apa yang kau katakan benar!”
lirihnya. “Oh ya, bukankah kau harus mengajari Jazzy? Maaf… karena mendengar
semua kekhawatiranku, aku jadi menyita waktumu!”
“Sebenarnya aku ke sini ingin memberitahukan
jika hari ini aku tidak dapat mengajari Jazzy.” Mr.
Bruce mengerutkan keningnya. “Hari ini oma mengajakku pergi ke supermarket.
Tapi, setelah mengetahui keadaan Justin lebih baik aku mengurungkan niatku
untuk menemani oma. Mrs. Pattie pasti sangat lelah jika harus mengurusi Justin
dan Jazzy,” aku menatap ke arah Jazzy dari luar kamar Justin. Entah kenapa aku
sangat menyayangi gadis cilik itu. Bahkan aku sudah
menganggapnya seperti adikku sendiri.
“Kau tidak perlu membatalkan janji untuk
menemani omamu ke supermarket. Pergilah! Jazzy pasti baik- baik saja. Tak perlu
cemas, masih ada aku dan istriku yang akan menjaga Jazzy!” suruh Mr. Bruce.
“Benar tak apa aku pergi sebentar untuk
menemani oma?” Mr. Bruce mengiyakan pertanyaanku.
Bergegas ku menuju ke rumah untuk menemui oma
dan segera berangkat ke supermarket terdekat.
“Kau tidak mengunjungi Jazzy hari ini?” tanya
oma saat kami berada di dalam supermarket.
“Khusus hari ini aku absen dari jobku!”
jawabku datar.
“Oma lihat tadi keluarga Dale sedang
dikunjungi seseorang. Kau tau siapa?” tampaknya oma sempat melihat mobil dokter
tadi terparkir di depan kediaman keluarga Dale.
“Hanya seorang dokter yang memeriksa kondisi
Justin.” jawabku datar sambil memilih buah apel.
“Justin? Cupcake, apa yang terjadi dengan
Justin?” oma tampak mencemaskan keadaan Justin.
“Saat ini sua…” apa iya aku harus mengatakan
penyebab Justin sakit di tempat umum seperti ini? Kuamati sekelilingku, ahhh…
tidak… tidak mungkin aku mengatakannya di sini.
PART 32
“Cupcake… Justin kenapa?” suara oma
membuyarkan lamunanku.
“Hanya demam biasa!” bisikku pada oma.
Melihat tingkahku, oma seakan mengerti apa yang ku maksud. Tak aman jika
membicarakan seorang JUSTIN BIEBER sang SUPERSTAR di tempat umum.
Setelah menemukan barang yang dibutuhkan, oma
menuju kasir dan segera membayar beberapa barang yang ada di
dalam troli belanja.
Perhatianku tertuju pada nama identitas yang
terdapat pada dada kanan sang kasir. Dalam nama identitas itu tertulis JEREMY.
Jeremy? Nama kasir itu mengingatkan aku pada
percakapan Justin dengan Mr. Bruce kemarin. Umphhh… ku rasa Jeremy dapat sedikit
membantu kesembuhan Justin. ahhh… benarkah aku harus mencari dan bertemu JEREMY yang dimaksud Mr. Bruce?
Begitu khusyuk dengan alam lamunanku, sampai-
sampai aku tak menyadari jika oma telah selesai membayar barang belanjaannya
dan ke luar dari supermarket,
Selesai dari supermarket, sesuai rencana awal
aku pergi ke salah satu rumah kerabat oma yang hanya berjarak beberapa blok
dari rumahku.
Di saat aku memasuki pekarangan rumah kerabat
oma, kulihat Chaz dan Ryan keluar dari rumah yang terletak di depan rumah
kerabat oma itu. Mereka berjalan tergesa- gesa. Hmmm… ku rasa mereka sudah
mendengar kabar jika Justin sedang sakit.
*****
Malam harinya kuputuskan untuk mengunjungi
rumah yang tadi pagi sempat kulihat Chaz dan Ryan muncul.
Tok… tok… tok… dengan mantap ku ketuk pintu rumah yang
terletak tepat berada di depan rumah kerabat oma.
Tak lama seorang pria jangkung dengan rambut berponi membukakan pintu.
“Caris! Apa yang kau lakukan di sini?” respon Chaz ketika mengetahui
kedatanganku. “Masuklah!” lanjutnya mempersilahkanku masuk.
Setelah itu, Chaz meninggalkanku sebentar di
ruang tamu dan kembali muncul menemuiku dengan secangkir coklat panas di
tangannya.
“Ini untukmu!” ucapnya seraya menyodorkan
secangkir coklat itu ke arahku. “Ada keperluan apa kau menemuiku? Bagaimana kau
bisa tau alamat rumahku?” tanyanya.
“Tadi pagi saat menemani oma ke supermarket,
aku tak sengaja melihatmu dan Ryan berjalan ke luar dari dalam rumah ini. Aku
pikir rumah ini merupakan salah satu dari rumah kalian. Dan ternyata rumah ini
adalah rumahmu.” Ujarku menjelaskan terhadap Chaz. “Sebenarnya kedatanganku ke
sini ingin menanyakan beberapa pertanyaan padamu,” lanjutku.
Chaz serius menatapku. Menunggu aku untuk
mengajukan pertanyaan untuknya.
“Benarkah kau sudah bersahabat lama dengan
Justin?” pertanyaanku ini mengundang tawa pada diri Chaz. Yeayyy… I know…
pertanyaanku ini tak masuk akal. “Berhubung kau sudah bersahabat lama dengan
Justin, kurasa kau dapat menjawab pertanyaanku yang selanjutnya!”
“Apa itu?”
“Mmmm… kau kenal dengan seseorang yang
bernama Jeremy?” tanyaku untuk kedua kalinya.
“Tentu saja aku mengenalnya.” Jawaban Chaz membuatku
antusias untuk mendengarnya.
“Bisakah kau ceritakan siapa Jeremy itu? Dan
apa hubungannya dengan Justin?”
Chaz memperbaiki posisi duduknya. “Jeremy itu
adalah ayah kandung Justin. Namun, kedua orang tua Justin memutuskan untuk
bercerai saat Justin masih berusia dua tahun. Setelah bercerai dari Mrs.
Pattie, Mr. Jeremy menikah lagi dengan Mrs. Erin dan dikaruniai dua orang anak,
yaitu Jazzy dan Jaxon.” Chaz menceritakan secara detail silsilah keluarga
Bieber. Tapi tunggu… aku begitu terkejut mendengar nama Jazzy.
PART 33
“Tadi kau bilang Mr. Jeremy menikah dengan
Mrs. Erin dan dikaruniai dua orang anak?” tanyaku mempertegas perkataan Chaz.
“Yeah… dan kedua anak itu adalah Jazzy dan
Jaxon.”
“Jadi… Jazzy itu…”
Belum lengkap perkataanku, Chaz sudah memotongnya,
“Jazzy itu saudara tiri Justin Bieber!”. Aku diam tak percaya jika Jazzy adalah
hasil pernikahan Jeremy dengan Erin. Lalu kenapa Jazzy sekarang begitu dekat
dengan Justin dan keluarganya.
“Perpisahan kedua orang tuanya tak pernah
membuat Justin dendam kepada sang papa. Dengan lapang dia menerima kenyataan
dan menerima kedua saudara tirinya itu. Justin sangat menyayangi Jazzy dan
Jaxon. Jazzy memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Justin dibandingkan
dengan sang ayah. Itu karena sedari kecil Mrs. Pattie sudah mulai merawatnya.
Untungnya Mr. Jeremy tidak keberatan jika Jazzy harus tinggal di Atlanta
bersama Justin dan ibunya. Hubungan Justin, sang ibu, dan Mrs. Erin pun
berlangsung baik.” Aku menyimak tiap kata yang ke luar dari mulut Chaz.
“Chaz… bisakah kau mengantarku menemui Mr.
Jeremy sekarang?” Chaz hanya bisa menatap heran ke arahku. “Aku sungguh-
sungguh dengan perkataanku!” lanjutku menegaskan.
Chaz mengiyakan permintaanku untuk bertemu
dengan Mr. Jeremy. Ia kembali masuk ke dalam rumahnya dan tak lama kembali
menemuiku dengan jaket hitam yang membalut tubuhnya dan kunci mobil di
tangannya.
Kami pun pergi menuju rumah Mr. Jeremy dengan
mengendarai ford biru milik Chaz. Lima menit kemudian Chaz menghentikan
mobilnya tepat di depan sebuah rumah minimalis bewarna putih. Sebenarnya rumah
Mr. Jeremy tak jauh, hanya berjarak beberapa blok saja dari rumah Chaz. Tapi
entahlah, kenapa Chaz mengajakku pergi dengan mengendarai mobilnya.
Ku ketuk pintu rumah itu, sampai akhirnya
seorang pria masih muda membukakannya sembari mengendong balita laki- laki
berumur sekitar setahun.
“Chaz…!” sapanya melihat ke arah Chaz.
“Apakah dia kekasihmu?” tanyanya sembari menatapku.
“Mr. Jeremy, kenalkan ini Caris, teman baruku
dan Justin!” Chaz memperkenalkanku pada sang pembuka pintu rumah yang ternyata
adalah Mr. Jeremy.
Kujabat uluran tangan Mr. Jeremy yang tampak
kesulitan karena menggendong sang balita.
“Sebenarnya kedatanganku dan Chaz ke sini
untuk menjemputmu menemui Justin.” aku langsung pada tujuan utama kenapa aku
harus menemui Mr. Jeremy malam ini.
“Justin? apakah dia ada di sini?” ku rasa Mr.
Jeremy belum mengetahui kedatangan Justin di Stratford.
“Maaf,,, aku lupa mengabarimu jika Justin
sudah beberapa hari ini tinggal di rumah keluarga Dale!” sambung Chaz.
“Saat ini dia sedang sakit dan aku rasa dia
sangat merindukanmu,” tambahku.
Mr. Jeremy tampak shock mendengar Justin
sedang sakit.
“Kau akan mengetahui lebih jelasnya setelah
kau sampai di kediaman keluarga Dale!” Chaz membantuku meyakinkan Mr. Jeremy untuk
mengunjungi Justin. “Sebaiknya kau mengajak keluarga kecilmu menginap di
kediaman keluarga Dale malam ini. Ku rasa ini akan membuat
mereka senang, terlebih Justin dan Jazzy.” Tambah Chaz.
“Baiklah, beri aku beberapa menit untuk
bersiap- siap!” kemudian Mr. Jeremy masuk ke dalam rumah untuk berbenah.
Sesaat aku dan Chaz saling melempar senyum
karena berhasil mengajak Mr. Jeremy pergi menemui Justin dan keluarga Dale.
*****
PART 34
Aku merasakan seseorang menekan- nekan
hidungku. Namun, ini tak mengurungkan tekadku untuk terus melanjutkan
perjalanan menuju dream island. Semakin lama jari telunjuk itu semakin menekan-
nekan hidungku.
“Princess,,, wake up!” bisik sebuah suara di
dekat telingaku.
“Grandma, beri aku waktu beberapa menit lagi
untuk melanjutkan tidurku! I’m so tired now!” ucapku masih dengan mata
terpejam. Lalu kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.
SRETTT… seseorang yang aku rasa oma menarik selimut
yang menutupi tubuhku. Kubiarkan saja oma menarik selimut itu. Aku masih saja
berusaha untuk meneruskan tidurku. Lalu kurasakan sebuah kecupan menyentuh pipiku.
“Grandma, berhenti mangganggu tidur…….”
Kalimatku terputus ketika melihat sepasang malaikat kecil berada dalam
pangkuanku.
Aku lupa jika semalam aku tertidur di sofa
ruang tengah.
“Morning, Princess! Oh ya kenalkan, ini
Jaxon, adikku!” sapa Jazzy manis.
“Mo..mom…” celetuk Jaxon.
“Princess… kau dengar, Jaxon memanggilmu
dengan sebutan mom!” seru Jazzy senang.
Peristiwa itu membuat Justin tertawa. Ya…
Justinlah yang membawa kedua malaikat kecil itu untuk mengganggu tidurku.
Kemudian Justin menyodorkan secarik kertas ke
arahku dan segera berlalu ke luar rumahku dengan Jaxon dan Jazzy dalam
dekapannya.
Seperginya Justin, aku langsung membuka
kertas yang tadi ia berikan.
Tak kusangka gadis sepertimu jika
tidur hampir sama seperti kerbau, susah untuk dibangunkan! Hey, My Baby…
cepatlah bersiap- siap! aku dan yang lainnya menunggumu di depan rumah! _Bieb_
Dia bilang aku apa? Kerbau? Sial… berani-
beraninya dia menyamakan aku dengan kerbau! Justin… awas kau!!! Batinku dalam
hati.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk bersiap- siap. Setelah melahap
potongan sandwich yang dihidangkan oma di meja makan, aku pun bergegas
menghampiri Justin di depan rumahnya.
Di depan rumah Justin, tampak keluarga besar Bieber berkumpul. Ehhh... tapi
ternyata omaku juga turut berkumpul saat itu.
“Akhirnya yang ditunggu- tunggu datang juga,” kata Mrs. Pattie yang melihat
kedatanganku. “Ayo, kita berangkat!” ajak Mrs. Pattie dengan keranjang piknik
di tangannya.
“Memangnya kita akan pergi ke mana?” tanyaku bingung.
“Lho, Justin belum memberitahumu jika hari ini kita sekeluarga akan pergi
piknik ke Stratford Park?” tanya Mrs. Dale yang ku jawab dengan gelengan
kepala. “Ya sudah, lebih baik kita berangkat sekarang sebelum hari bertambah
siang!” ajak mrs. Dale.
Aku bersama keluarga Bieber berangkat menuju Startford Park mengendarai
mobil Mr. Jeremy dan Mobil Chaz. Chaz, Ryan, Jazzy, Justin, dan aku berada
dalam mobil milik Chaz. Sementara keluarga Bieber beserta oma berada dalam
mobil Mr. Jeremy.
Sesampainya di Stratford Park, keluarga Bieber duduk di atas karpet lipat
yang mereka bawa untuk alas. Sementara aku, Justin, Chaz, dan Ryan sibuk
menemani Jazzy dan Jaxon bermain di beberapa wahana yang memang disediakan untuk
anak seumur mereka.
Di tengah kasyikanku mengajak Jazzy bermain ayunan, lagi- lagi Justin
memberiku secarik kertas yang bertuliskan “Thanks!”
“Untuk apa?” aku tak mengerti maksudnya. Kenapa hari ini dia selalu
berbicara melalui kertas padaku? Apa dia... ahhh aku lupa jika saat ini
tenggorokan Justin sedang bengkak. Pantas saja dia tidak berbicara.
Justin kembali mengambil kertas itu, dan menuliskan sesuatu dibalik
kertasnya. Tak lama iapun memberikannya lagi kepadaku.
Terima kasih karena kau
telah mengajakku ke Star Lake dan mengurangi bebanku. Dan terima kasih karena
kau berhasil membujuk Dad untuk menemuiku. Dengan apa aku harus membalas
kebaikanmu itu?
“Kau tak perlu berlebihan dan tak perlu besar kepala, Mr. Bieb! Aku
melakukan ini hanya ingin membalas apa yang sudah kau lakukan untukku!”
balasku.
Kemudian Justin kembali menggoreskan penanya di atas kertas itu.
Apapun alasannya aku
rasa harus membalas kebaikanmu.
Justin kembali menyodorkan kertas itu ke arahku.
“Kau itu benar- benar...”
CUPPP... belum sempat ku menyelesaikan kalimatku, tiba- tiba Justin
mendaratkan sebuah ciuman di pipi kananku. Kemudian dia berlari mundur sembari
memamerkan barisan gigi depannya ke arahku.
PART 35
“JUSTINNNNNN....... KAU MANUSIA MENYEBALKAN!” aku mengejar Justin mengitari
area Stratford Park.
Tak ku hiraukan orang- orang yang berjalan lalu lalang di tempat itu
memandang tingkahku dengan Justin. Yang ada dipiranku saat itu hanyalah
mengejar Justin dan dapat menonjok wajahnya. Siapa suruh dia menciumku tanpa
permisi!!!
“CARISSS!!!” seru sebuah suara menghentikan langkahku untuk mengejar
Justin. “Jazzy bersamamu?” tanya Ryan masih dengan nafas terengah-engah karena
mengejarku.
Jazzy? Ya ampun... aku lupa jika aku meninggalkan Jazzy begitu saja untuk
mengejar Justin. Tanpa menghiraukan pertanyaan Ryan, aku pun kembali berlari
menuju tempat ayunan itu.
Alhasil... Jazzy tidak ada di tempat. God... kemana perginya Jazzy?
“Ba... bagaimana?” tanya Ryan masih dengan nafas tak beraturan karena
mengikutiku.
“Aku harus segera menemukannya!” aku kembali berlari meninggalkan Ryan.
Ya Tuhan... bantu aku menemukan Jazzy! Tidak mungkin Jazzy hilang dan...
ARGHHH... TIDAK... apa yang ku pikirkan? Bisa- bisanya aku berpikir jika Jazzy
diculik seseorang.
Pandanganku menyapu seluruh tempat di Stratford Park. Kuamati satu- persatu
setiap gadis cilik yang kutemui di tempat itu. Tapi, tetap saja aku tak
menemukan Jazzy. Hingga akhirnya...
“Anak manis, kenapa kau berjalan sendirian? Di mana keluargamu?” tanya
seorang gadis berambut blonde kepada...
“JAZZYYYY...!” seruku ketika
mengenali wajah gadis kecil yang menjadi lawan bicara gadis itu. “Syukurlah kau
tak apa!” aku memeluk Jazzy. “Jangan pernah menghilang lagi, ok! Kau tau aku
hampir mati berdiri karenamu!” ujarku seraya mencium puncak kepala Jazzy.
“Terima kasih karena telah menjaganya!” ucapku pada gadis berambut blonde itu.
“Tak apa!” balasnya ramah.
Kemudian kami saling memperkenalkan diri satu sama lain. Carol McFadden,
itulah nama gadis berambut blonde itu.
“CAROLLL!!!” terdengar suara seseorang memanggil gadis itu. Kulihat Carol
sangat ketakutan begitu mendengar suara itu.
“Sorry, Car! I have to go now. Bye and see ya!” katanya terburu- buru.
Kulihat dari kejauhan seorang pria tengah berkacak pinggang di hadapan
Carol. Ku rasa pria itu sedang memarahinya. Siapa pria itu sebenarnya?
“Jazzy... syukurlah akhirnya kau ketemu juga!” kata Chaz yang disusul oleh
Justin dan Ryan.
“Kalian bawa Jazzy pada Mrs. Pattie
ya! Aku ingin pergi sebentar!” sebelum mereka bertiga bertanya lebih jauh lagi,
aku langsung pergi meninggalkan mereka setelah menyerahkan Jazzy ke dalam
pelukan Justin.
“Jadi hanya segini penghasilanmu hari ini?” suara pria itu benar- benar
memekakkan telingaku. Ya... aku memilih untuk menghampiri Carol dan ingin
memastikan jika keadaannya baik- baik saja.
Carol hanya tertunduk mendengar semua celoteh pria itu.
“Jika saja tadi kau tak bermain- main dengan anak kecil itu, pasti hari ini
kita akan mendapatkan uang banyak. Kau itu benar- benar membuatku geram!” dan
PLAKKK... pria itu mendaratkan sebuah tamparan ke arah pipi kanan Carol dengan
sangat keras. Carol masih terdiam dan tidak ada tanda- tanda akan memberikan
perlawanan.
“Ada apa ini? Carol, you ok?” aku menghampiri Carol yang hanya berdiri
sembari memegangi pipinya.
“Kau siapa berani sekali mencampuri urusanku dengannya?” tanya pria itu
masih dengan suara lantang.
“Maaf tapi dia tidak bersalah. Yang ia lakukan hanya membantu Jazzy, anak
kecil yang tadi kau maksud,” belaku.
“Car, pergilah! Biar ini menjadi urusanku dan Joey,” sahut Carol. Joey?
Owhhh... rupanya pria itu bernama Joey.
“Aku tak perduli dengan semuanya. Aku memungut gadis ini hanya untuk
menghasilkan uang dan melayaniku! Dia tak lebih dari hanya sekedar budakku!”
Joey masih tak menurunkan tangannya dari atas pinggangnya.
“Kasar sekali perkataanmu itu!” suaraku sedikit meninggi.
“Car, kumohon pergilah! Aku tak ingin jika kau terlibat masalah dengannya!”
bisikan Carol tak ku hiraukan.
“Memangnya apa urusanmu? Aku berhak melakukan apa saja terhadapnya! Dia itu
milikku sepenuhnya.” Hahhh... perkataan Joey semakin lama membuatku geram. “Kau
mau bukti?” tanyannya.
PART 36
Aku masih menatap tajam ke dalam bola mata Joey. Pria ini sangat BRENGSEK.
“Jangan menatapku seperti itu gadis manis! Kau tak pantas berperawakan bak
pemain antagonis di sebuah drama televisi! Apa kau masih tak percaya jika Carol
itu milikku sepenuhnya?” tanyanya sekali lagi. Namun, aku tak kunjung
meresponnya. “Baiklah akan kutunjukkan!”
Lalu dengan kasar Joey menarik tubuh Carol masuk ke dalam pelukannya. Kemudian
Joey langsung mengapitkan bibirnya ke bibir Carol. Joey melumat bibir Carol
dengan kasarnya. Pria ini benar- benar payah. Mencium seorang gadis saja seakan
seperti sedang memburu sesuatu. Kulihat tangan Joey mulai menggerayangi bagian
belakang tubuh Carol. Iuhhhh... menjijikkan sekali aku harus melihat adegan
itu. Carol hanya bisa pasrah dan tidak berontak sedikitpun. Apa yang dia
pikirkan? Kenapa dia takut sekali untuk mengatakan TIDAK pada Joey?
Kini tangan Joey beralih menggerayangi daerah rawan Carol. Dengan kasar dia
meremas bagian payudara Carol. Dan... okay I think it’s enough!
Dengan cepatku tarik tangan Carol dari dalam pelukan Joey. Melihat hal ini
amarah Joey memuncak.
“Ku rasa kau terlalu jauh mencampuri urusanku, Gadis manis!” Joey berjalan
menghampiriku. “Kau tau, jika bukan karena aku dia TIDAK AKAN PERNAH HIDUP
SEPERTI SEKARANG!” Joey kembali meninggikan suaranya dan sempat membuatku
kaget. Sementara Carol hanya bisa berdiri di balik badanku.
“Kau pikir hidup yang kau berikan padanya itu nyaman? Aku rasa tidak!” aku
masih mencoba melindungi Carol. “Lepaskan dia!”
“Kau sadar dengan yang kau katakan? Jika aku melepas Carol aku tidak akan
mendapatkan uang lagi!”
“Aku akan memberikan berapapun yang kau minta asalkan kau melepasnya dan
tidak lagi mengganggunya!” tegasku.
“Jangan, Car!” sahut Carol namun itu tak menyurutkan niatku untuk
membantunya.
Joey meminta uang sebesar 1juta dollar. Dan sebagai jaminannya aku
merelakan Iphoneku. Aku berjanji pada Joey jika besok pagi aku akan kembali menemuinya
dengan membawa uang yang dia minta.
Aku membawa Carol untuk menemui keluarga besar Bieber dan oma. Di sana
Carol menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya selama hidup dengan
Joey. Joey merupakan pria yang selama ini menampung Carol selama di Kanada.
Carol mengatakan jika dia kabur dari rumanya di Toronto gara- gara tidak
sepaham dengan pemikiran sang ayah yang menginginkannya untuk melanjutkan
pendidikan di Aussie. Pertama kali datang ke kota ini, Carol bingung harus
tinggal di mana hingga akhirnya dia bertemu dengan Joey. Namun, benar- benar
tak ku duga jika Joey memperlakukan gadis secantik Carol tak lebih dari seekor
binatang. Joey kerap sekali bermain kasar pada Carol. Bahkan jika Joey sedang
ingin bercinta, Carol harus siap untuk melayaninya setiap waktu. Pria itu
benar- benar biadab.
Aku benar- benar iba mendengar kisah hidup Carol. Untung saja oma
menyetujui usulanku agar Carol menetap di rumah untuk sementara waktu. Dengan
begitu aku mempunyai teman dan tak akan merasa kesepian lagi.
*****
“Carisss!!!” seru Carol ketika aku tengah sibuk melahap spaghetti buatan
oma.
“Hey... ada apa? Kenapa pagi- pagi kau berteriak?” tanyaku heran.
“Aku berhasil mendapatkan pekerjaan di butik milik Ashley!”
Carol baru saja mendapat telepon dari Ashley, teman dekatnya di Toronto.
Ternyata Ashley mempercayakan Carol untuk mengurusi cabang butik miliknya yang
terletak di pusat kota Stratford. Aku ikut bahagia mendengar kabar itu. Aku
senang jika akhirnya Carol kembali tersenyum.
“Kau akan menemuinya?” Carol melirik sebuah amplop tebal bewarna coklat di
sebelahku. Aku mengangguk mantap.
Pagi ini sesuai rencana aku akan pergi menemui Joey di kedainya. Uang
sebesar 1 juta dollar berhasil kuperoleh dari hasil meminjamku pada oma.
Melihat kondisi tabunganku yang tidak memungkinkan untuk dibagi antara
mengganti kerusakan mobil dan memberikan uang tebusan pada Joey, aku pun
memutuskan untuk meminjam beberapa uang dalam tabungan oma.
“Aku ikut!” lanjut Carol.
“Tidak... tidak! Kau tak boleh ikut! Jika kau ikut, ini akan semakin
memperburuk keadaan dan Joey akan semakin susah melepasmu!” tolakku.
Bahaya sekali jika Carol ikut karena aku yakin jika Joey tidak akan semudah
itu melepaskan Carol.
Setelah mendengar penjelasanku, akhirnya Carol menuruti perkataanku. Dia
tidak memaksakan kehendaknya untuk ikut menemui Joey. Walaupun dapat kulihat
kekhawatiran dalam dirinya melihat keberangkatanku menuju kedai Joey.
Dengan yakin aku berjalan seorang diri menuju kedai Joey yang terletak di
dalam Stratford Park. Langkahku sempat terhenti sebentar ketika sampai di depan
kedainya. Fuihhh... aku menarik nafas panjang dan langsung menghembuskannya.
Tiba- tiba kurasakan seseorang menggenggam tanganku sangat erat. Aku
terlonjak kaget dengan hadirnya genggaman tangan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar