Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 55 - 60

PART 55
“Bertahanlah, Nek! Aku akan segera mengeluarkanmu dari sini!” ku papah tubuh wanita itu untuk ke luar dari rumah itu. Aku berniat ke luar dari jendela yang tadi menjadi jalan masukku untuk menghampiri nenek ini.
Namun, kali ini usahaku untuk ke luar tak semulus seperti usahaku untuk masuk ke dalam rumah ini. Tiba- tiba.... Prakkk... sebuah plafon yang terbakar jatuh di atas tubuh kami. Dengan cepat kudorong tubuh nenek itu untuk menjauh sehingga plafon yang terbakar itu jatuh tepat di atas bahu kiriku.
“Arghhhh.................” erangku kesakitan. Bahuku terbakar, namun segeraku padamkan api yang melalap bahuku itu dengan cardigan yang ku pegang.
Aku kembali merengkuh dan memapah tubuh nenek itu, sayang lagi- lagi aku mendapatkan kendala, ketika aku sudah mendekati jendela itu, sebuah tiang penyangga rumah itu roboh dan menimpa telapak kakiku.
“Nak,,, bangunlah! Kau tak apa- apa kan?” isak nenek itu melihat keadaanku.
Keadaan di dalam rumah semakin lama semakin panas dan gerah. Aku mencoba berdiri dan kembali memapah nenek itu.
“Awassss!!!” seru nenek itu ketika melihat beberapa plafon runtuh dan akan menimpa tubuh kami. Dengan cepatku dorong tubuh nenek itu ke luar dari rumah dan itu berhasil.
“Lihat, Mrs. Claire rupanya sedari tadi ada di dalam! Dia selamat, tetapi ke mana gadis yang menyelamatkan Mrs. Claire?” pekik orang yang ternyata adalah tetangga sang pemilik rumah.
Justin terus menatap ke arah jendela dan berharap jika aku dapat ke luar menyusul nenek itu.
“Kau mau kemana, Tuan?” tanya polisi itu lagi.
“Apa kau tidak melihat jika gadis yang menyelamatkan wanita itu belum ke luar dari sana? Aku tak bisa berdiam diri begitu saja melihatnya berada di dalam sana. Kau tau, dia sangat berharga buatku dan aku harus menyelamatkannya!” Justin berlari menghampiri wanita tua itu. “Dia di mana?” tanyanya pada wanita itu.
“Gadis itu terperangkap di dalam. Tolong dia! Dia sangat baik, aku tak mau dia kenapa- napa, uhukkkk... uhukkk,” lanjut wanita itu.
Kembali padaku yang masih sibuk memadamkan beberapa api dengan cardiganku. Reruntuhan plafon tadi menutup jalanku untuk ke luar dari rumah ini. Makin lama nafasku semakin sesak, pandanganku pun mulai kabur. Aku terkulai lemas di lantai.
“Uhukkk... uhukkk...” tubuhku melemah. Aku tak kuat lagi untuk berjalan.
Samar- samarku lihat seseorang masuk ke dalam rumah dan menghampiriku. Aku tak bisa mengenali wajahnya karena semakin lama mataku sangat berat untuk dibuka, hingga semuanya berubah menjadi gelap.
*****

“Tolongggg!!!” suara seorang gadis kecil disertai isakan menggema di dalam kebun yang tertutupi oleh kobaran api.
“Cary... where are you???” suara bocah laki- laki yang seusia tampak kebingungan mencari gadis itu. “Carry... uhukkk... uhukkk... ayooo... kita harus segera pergi dari tempat ini!”
“I’m so afraid, Will,” ujar gadis itu begitu bertemu sang bocah laki- laki.
“Don’t worry, Carry! I’m here!” bocah laki- laki itu tersenyum dan segera memapah tubuh sang gadis. Tiba- tiba...
BRUKKK... tubuh sang gadis ambruk ke dasar tanah karena terlalu lama menghirup asap. Seketika itu dia tak sadarkan diri.
“Carryyy... wake up!!!” bocah laki- laki itu cemas melihat sang gadis tak sadarkan diri.
Dengan sisa tenaganya, sang bocah laki- laki menggendong tubuh mungil sang gadis untuk ke luar dari kebun yang semakin lama terselimuti oleh kobaran api.
Di tengah perjalanan, tampak sebuah dahan pohon tumbang dan akan menindih tubuh kedua anak itu.
BRUKKK... bocah laki itu membiarkan dahan yang terbakar api itu menimpa punggungnya. Itu dia lakukan untuk melindungi gadis yang berada di dalam dekapannya.
“ARGHHHHH... PANN... ASSSSSSSSSSS!!!!!” erangnya.

“WILLLLLLL!!!” seketika itu aku membuka mataku dan terbangun dari tidurku. Okay, aku rasa terlalu lama tidur sehingga ini membuat kepalaku sedikit pening karena mendadak terjaga.
“Cupcake, tenang! Kau kenapa?” tanya oma yang berdiri di sampingku.
Nafasku masih tersengal- sengal akibat mimpi buruk itu. Keringatpun bercucuran dari tubuhku. Kuamati sekitarku, kini aku berada di rumah sakit. Selang infus melekat di pembuluh vena bagian tangan kananku.
“Sebaiknya aku segera memberitahukan kepada dokter jika kau telah siuman!” kemudian oma berjalan ke luar dan meninggalkanku yang masih terlihat shock.
*****

PART 56
Malam harinya di rumah sakit...
“Auwww... hati- hati Carol, itu perih!” rintihku saat Carol mengolesi pundakku dengan salep sesuai anjuran dokter.
Pundak bagian kiriku terkena luka bakar akibat runtuhan plafon yang mengenaiku tadi pagi. Sementara kaki bagian kananku sedikit memar karena tindihan tiang rumah itu.
“Malam!” sapa Ryan dan Chaz bersamaan di ambang pintu kamar tempatku dirawat.
Huhhh... kedua bocah ini seenaknya saja masuk ke dalam ruang rawat tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Untung saja dengan cepat aku telah memasang kancing pakaian rawatku. Jika tidak, mereka berdua sudah pasti melihat bra ungu yang ku pakai.
Tapi tunggu... kemana Justin??? Biasanya mereka bertiga selalu bersama- sama. Ahhh ya... ya... aku tau, pasti dia tak berani menampakkan batang hidungnya karena tadi aku telah menyuruhnya untuk menjauhiku. Baguslah jika dia mengindahkan perkataanku!
“Ummm... kemana Justin? Bukankah sedari tadi dia di sini?” tanya Ryan yang membuat dahiku mengerut.
“Tadi dia memang di sini. Tapi sore harinya dia pamit pulang!” jawab Carol.
“Ow... oh ya, Caris... ini kami bawakan buah untukmu! Semoga kau cepat sembuh ya!!!” ucap Chaz.
“Thanks!” balasku singkat.
Tak lama seseorang membuka pintu kamar rawatku.
“Dari mana saja kau?” tanya Chaz pada Justin yang baru saja datang dengan sebuket bunga mawar putih dan bingkisan buah dalam dekapannya.
“Aku baru saja dari apartemen Sean untuk mengambil mobilku yang tadi ku tinggal di parkiran apartemennya. Kalian sudah lama berada di sini?” Justin balik bertanya.
“Tidak. Kami berdua baru saja datang!” jawab Ryan.
Aku benar- benar muak melihat wajah Justin. Apa perkataanku tadi siang kurang jelas padanya? Berani sekali dia menampakkan batang hidungnya dihadapanku.
“Ummphhh... Guys, kalian berdua mau kan mengantarku untuk membeli makanan?” tanya Carol menghampiri Ryan dan Chaz.
Carol... jangan berulah!!! gumamku dalam hati.
“Sure, tapi kenapa dia juga harus ikut?” hmmm... aku rasa Ryan sedikit keberatan jika Chaz ikut.
“Entahlah! Tiba- tiba saja aku ingin makan malam bersama kalian berdua. Ayo!!!” dengan cepat Carol melingkarkan kedua lengannya pada lengan Ryan dan Chaz. Lalu dia membawa Ryan dan Chaz ke luar dari kamar rawatku.
Aku dan Justin terus memandangi kepergian mereka bertiga hingga akhirnya mereka bertiga menghilang dari balik pintu.
“Bagaimana keadaanmu?”pertanyaan Justin membuyarkan lamunanku. Crapp... masih bisa dia tersenyum ke arahku?
“Hoammm... aku rasa ini waktunya tidur!” ujarku yang berpura- pura menguap. Aku membenarkan posisi tidurku sehingga membelakangi Justin. Aku malas melihat wajahnya.
Kudengar Justin berjalan mendekatiku dan duduk di samping kasur tempatku berbaring. Sementara aku masih dengan posisi memunggunginya. Lalu dengan lembut dia membalikkan tubuhku untuk menghadapnya. Ditopangkan sikunya di samping kepalaku, ditatapnya wajahku lekat.
“Apa?” sergahku. “Kau akan menciumku lagi, Hah? Jika kau melakukan itu lagi, aku tak akan segan- segaa....”
“Maaf!” lirihnya.

PART 57
Glekkk... aku hanya bisa menelan ludah. Padahal aku sudah berniat memaki- makinya, tetapi kenapa dia hanya melontarkan kata maaf padaku? Sebenarnya aku berharap nantinya dia akan menjawab Baiklah My Baby, aku akan menjauh dari hidupmu!
“Maaf karena telah membuatmu seperti ini,” lanjutnya serius.
Kutatap bola mata hazelnya, tersirat ketulusan dari pancaran tatapannya. Jujur aku merasakan keteduhan saat menatap kedua bola matanya. Kulihat juga sedikit genangan air mata yang berkumpul di kantung matanya.
Akhhh... apa yang kupikirkan? Dia tak mungkin menangisi gadis sepertiku.
“Cepat sembuh, My Baby! Aku tak akan sanggup melihatmu seperti ini!” dia kembali merapatkan keningnya di atas keningku. Sikapnya terlalu berlebihan.
“Oh ya masalah Alex, kau tenang saja tadi aku sudah memberikan sedikit pelajaran padanya,” ucapnya setelah menjauhkan keningnya dari keningku.
“Kau apakan dia? Jangan bertindak bodoh, Mr. Bieb!” tukasku.
“Aku hanya memberikan sedikit hadiah di wajahnya. Siapa suruh dia menganggu gadisku!” ucap Justin tak sadar. “Auwww... sakit, My Baby! Lepaskan hidungku, aku susah ber...nafas!!!” ringisnya saat aku mengapit hidung mancungnya dengan kedua jariku. Siapa suruh dia menyebutku sebagai gadisnya.
“Tak akan kulepaskan sebelum kau tarik lagi ucapanmu itu! Ayo katakan jika aku bukan gadismu!” suruhku.
“Nope!” jawabnya sembari memamerkan deretan gigi putihnya. “Kau adalah gadisku!” ucapnya sengau. “Jika dalam hitungan ketiga kau tak melepasnya, maka aku akan menciummu lagi! Satu...” Justin memulai aba- abanya. “Dua...” dia semakin mendorong tubuhnya mendekatiku, “Tig............................. a! Hahhhhhh!” spontan aku melepaskan capitan jariku dari hidungnya karena Justin benar- benar mendekatkan tubuhnya ke arahku. Ku rasa omongannya tak main- main. Lalu ku tutup wajahku dengan selimut.
“Tak akan kubiarkan kau menciumku lagi! Pergi kau!” ujarku dari balik selimut. Kudengar Justin terkekeh melihat tingkahku.
“My Baby, malam ini sangat banyak bintang bertaburan di langit. Apa kau ingin melihatnya?” bisiknya di dekat telingaku. Namun aku memilih diam, tak mengubris perkataanya. “Baiklah!” kurasakan Justin beranjak dari kasur dan......
Hophhh... dia malah membopong tubuhku dari atas kasur. Sontakku terkaget- kaget melihat tindakannya.
“Turunkan aku!!!” ku daratkan pukulan kecil pada dada bidangnya.
“Siapa suruh kau tak mengubris perkataanku? Diam tandanya iya,” jelasnya.
Cihhh... mana ada diam berarti menjawab IYA! Dasar tolol!
Justin meletakkan tubuhku di atas kursi roda yang memang sudah disediakan pihak rumah sakit. Dengan cekatan dia menuntun kursi rodaku menuju taman belakang rumah sakit.
Kondisi taman itu lumayan sepi karena hanya beberapa orang terlihat lalu lalang yang berkunjung ke sana. Maklum, ini kan memang jam istirahat untuk pasien.
“Indah bukan?” Justin membungkukkan badannya agar sejajar denganku yang duduk di kursi roda. “Hey, bisa kau memejamkan matamu?”
“Untuk apa?” tanyaku bingung.
“Ayolah, sebentar saja! Aku janji tak akan melakukan yang macam- macam terhadapmu,” janji Justin sembari mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan. (-_-)v
“I can’t believe you again!” tegasku.
“Hah... baiklah aku tak akan memaksamu lagi! Kau itu memang tak bisa membantuku untuk bersikap romantis,” ucap Justin pasrah. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
Aku terdiam melihat sebuah tas kecil bewarna ungu.
“Open it!” suruhnya. Aku hanya melempar tatapan bingung padanya. “Come on My Baby, Open it!” suruhnya sekali lagi.
Baiklah, aku buka! Daripada aku harus mendengar celotehannya, lebih baik aku mengikuti perintahnya. Aku pun segera membuka tas itu.
Ketika aku membukanya... Gosh, it’s very beautiful! Senyum kecil menghiasi wajahku melihat sebuah.........

PART 58
Ketika aku membukanya... Gosh, it’s very beautiful! Senyum kecil menghiasi wajahku melihat sebuah scraf bewarna ungu.
“Kau suka?” ucapan Justin membuyarkan senyumku.
Justin memposisikan dirinya tepat dihadapanku. Lalu dia mengambil scraf yang masih berada di tanganku dan segera mengalungkan benda itu ke leherku.
“Look at you, you look so beautiful, My Baby!” aku heran padanya, kenapa dia masih saja baik padaku? Padahal selama ini aku tak terlalu memperdulikannya. “Scraf ini sebagai permintaan maafku karena tadi pagi aku meninggalkanmu. Aku mohon, maafkan aku!” kini dia menggenggam kedua tanganku erat.
“Kenapa kau melakukan semua ini untukku?” tanyaku menatap lurus ke arahnya.
“Karena aku menyukaimu,” balasnya cepat tanpa harus berpikir.
“Kenapa kau harus menyukaiku? Aku bukan seorang gadis yang begitu tergila- gila padamu. Bahkan selama ini sikapku terlalu acuh padamu. Kenapa kau bisa dan masih menyukaiku?” tatapanku tetap tertuju pada kedua bola matanya.
“Entahlah. Bahkan aku tak tau apa alasanku kenapa aku terlalu menyukaimu. Yang aku tau hanya satu, cinta yang sebenarnya tak mengenal alasan apapun kenapa orang itu mencintainya.”
Deghhh... benarkah apa yang dikatakan Justin barusan? Benarkah cinta tak mengenal alasan apapun untuk mecintai seseorang?
“Aku tak akan memaksamu untuk menyukaiku. Tapi, biarkan aku menunjukkan rasa sukaku terhadapmu!”
“Ng... ak... akuuu...” Damn...! kenapa lidahku begitu kelu untuk mengeluarkan kata- kata?
“Sutttt...” Justin membungkam bibirku dengan telunjuknya. “Kau tak perlu berkata apa- apa. Aku hanya ingin kau tau perasaanku saja padamu.”
Sejenak suasana hening. Aku tertunduk, bingung harus berbuat apa. Sementara Justin, aku tak tau apa dia masih menatapku atau tidak. Yang ku tau dia masih tak melepaskan genggaman tangannya. Taburan bintang di langit pun menemani kami berdua yang saling diam.
“Cupcakeee... you there?” suara oma terdengar dari arah pintu rumah sakit.
“Aku rasa ini sudah larut. Ini saatnya kau istirahat!” kemudian Justin kembali mendorong kursi rodaku menuju kamar rawatku.
*****

PART 59
“Pagi!” sapa oma begitu aku terbangun dari tidurku.
“Pagi, Grandma!” balasku. Kulirik Justin tertidur tepat di samping kasur sembari memegang tanganku. Entah kenapa aku tak ingin menepis gengaman tangannya karena aku tak ingin menganggu tidurnya.
“Dia anak yang baik,” ucap oma sembari menatap ke arah Justin. “Dia telah menyelamatkanmu dari kebakaran itu dan dia juga yang telah menjagamu selama kau di rawat di sini. Pattie beruntung mempunyai anak seperti dia. Dia anak yang gigih untuk mengejar mimpinya!” tersirat kebangaan terhadap Justin dari perkataan oma.
Aku tau Justin memang pria yang gigih untuk mengejar mimpinya sehingga dia bisa seperti sekarang.
Tak lama seorang perawat masuk ke dalam kamar rawatku sembari membawa nampan berisi bubur. Iuhhh... malas sekali jika aku terus- terusan di rawat di sini. Aku tak mau jika selamanya harus memakan makanan lembek itu. :’{
“Oh ya, barusan oma sudah berbicara dengan dokter yang menanganimu. Dan ternyata hari ini............” oma tak meneruskan kalimatnya.
Aku mengerutkan kening. Oma hanya tersenyum.
“Ohhh... ayolah Grandma! Aku malas bermain teka- teki.” Opsss... tak sengaja aku melepaskan tanganku yang sedari tadi digenggam oleh Justin. Ini membuat Justin terbangun.
Maaf, Mr. Bieb aku tak berniat membangunkanmu!
“Grandma... hari ini ada apa?” aku kembali meminta oma untuk meneruskan perkataanya.
“Oh iya, dokter mengatakan jika hari ini kau sudah boleh pulang.”
“Benarkah My Ba... owh sorry I mean... benarkah Caris boleh pulang hari ini?” celetuk Justin yang dijawab dengan anggukan oleh oma.
“Aku akan membereskan beberapa barangmu,” kata oma.
“Biar aku bantu, Mrs. Laurent!” ujar Justin bersemangat.
Tepat pukul 09.00 AM aku telah check out dari Rumah Sakit. Sesampainya di rumah, Keluarga Bieber, Carol, Chaz, dan Ryan menyambut kedatanganku.
Terima kasih karena kalian peduli dengan kondisiku. Batinku.
Justin dan Carol langsung memapahku menuju kamar.
“Selamat datang kembali di kamarmu, Caris!” ucap Carol setelah membukakan pintu kamar untukku.
“Thanks!” balasku singkat.
Pandanganku menyapu setiap sudut kamarku. Hah, padahal hanya sehari dirawat di rumah sakit, ini membuatku merindukan kamar ini.
“Sebaiknya kau istirahat! Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja aku! Aku akan menemui Mom sebentar!” nasehat Justin dan segera beranjak ke luar dari kamarku.
Seperginya Justin, Carol menghampiriku sembari senyam- senyum tak jelas.
“Ada apa? Kenapa kau senyam- senyum seperti itu?” tanyaku heran.
“Nothing. Aku hanya senang karena kau sembuh dan kembali berkumpul bersama kami!” ujarnya.
“Yakin hanya itu?”
“Heem,” ujarnya mengangguk.
“Lalu bagaimana dengan acara makan malammu bersama Ryan dan Chaz?”
“E... ehmmm... menyenangkan. Kami bertiga sangat lahap menyantap makanan yang kami pesan,” hehe... kena kau! Siapa suruh semalam kau mengerjaiku, Carol!
“Owh, begitu. Hey, bagaimana keadaan Ryan? Semalam aku lihat dia sedikit keberatan karena kau juga mengajak Chaz untuk menemanimu,” aku memang berniat untuk mengerjai si Carol.
“Ahhh... itu hanya pikiranmu saja. Semalam kami bertiga baik- baik saja kok!” kulihat wajah Carol mulai gugup karena pertanyaan yang ku lontarkan. “Aku pergi ke dapur dulu ya! Karena ada beberapa pekerjaan yang harus ku kerjakan. Kau istirahat saja, ok!” tanpa menoleh lagi ke arahku, Carol berjalan ke luar kamarku.
Heheheeee... aku terkekeh begitu Carol menghilang dari balik pintu kamarku. Tapi ini belum setimpal. Aku harus benar- benar memastikan perasaan Carol pada Ryan. Diam- diam aku menyusul Carol menuju dapur.
 “Hey, kau sedang apa?” kulihat Ryan menghampiri Carol yang saat itu sibuk mengolah makanan.
Aku sengaja bersembunyi di balik tembok agar mereka berdua tak mengetahui keberadaanku.
“Ohhh... Hy, Ryan! Ng... ini aku sedang membuatkan bubur untuk Caris,” Carol sedikit terkejut melihat kedatangan Ryan.
“Sedang apa kau di sini?” suara seseorang mengejutkanku. Spontan tanpa melihat wajahnya, aku langsung membungkam mulutnya dengan telapak tanganku.
“Suttt... nanti bisa ketahuan!”

PART 60
“Kau itu hoby sekali mengintip dua sejoli yang sedang kasmaran. Dulu kau mengintip Nicky dan Auris. Sekarang kau juga mengintip Carol dan Ryan,”ujar Justin.
Hah... pria ini cerewet sekali!
“Berisikkk!!!” sahutku dan beranjak meninggalkannya.
“Harusnya kau itu istirahat karena baru saja sembuh.” Aku  tak mengubris perkataan Justin.
“Mr. Bieb!” panggilku masih dengan tatapan lurus ke depan.
“Hmmm?” jawabnya yang masih berjalan beriringan denganku menuju teras samping rumah.
“Menurutmu apa Ryan juga menyukai Carol?” aku bersandar pada pagar di teras samping rumah.
“Umphhh... mungkin saja. Karena sejak kedatangan Carol, Ryan terkadang melontarkan pujian tentang Carol pada ku dan Chaz.”
“Benarkah?” entah kenapa aku senang mendengar jawaban dari Justin.
“Yeay. Memangnya kenapa? Ahhhh... aku tau, pasti kau berniat melakukan hal yang sama seperti yang pernah kau lakukan pada Nick dan Auris kan?” simpul Justin.
Aku hanya memamerkan barisan gigi putihku pada Justin. Kemudian Justin tersenyum sembari mengacak- acak rambutku.
“Dasar, kau ini!”
“Hey, berhenti mengacak- acak rambutku!” protesku. “Heh, tapi aku bingung dengan cara apa aku menyatukan mereka berdua,” lanjutku dengan polosnya.
“Mmm... aku rasa aku tau caranya,” ucap Justin sembari melirik ke arahku. Kemudian dia mendekatkan mulutnya ke arah telingaku dan membisikkan sesuatu.
“Apa ini akan berhasil?” tanyaku selesai Justin membisikkan sesuatu.
“Tak ada salahnya mencoba! Sekarang kau ajak Carol ke taman belakang, sementara aku akan mencari Ryan,” aku mengangguk pelan mendegar perkataan Justin. Semoga saja caranya berhasil. “Mmm... My Baby!” panggil Justin ketika aku tengah berjalan mendekati pintu samping.
“What?”
“Take care!” selepas itu dia kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari Ryan.
Aku memfokuskan pandanganku pada subjek yang kucari. Nah, itu dia! Kulihat Carol tengah sibuk menyiapkan makanan untukku dan yang lainnya. Caris... saatnya beraksi! (-_-)/
Aku berlari menghampiri Carol dengan nafas yang sengaja kubuat layaknya orang panik.
“Hey,,, ada apa? Any something wrong with you? Caris, kau itu baru saja keluuu............”
“Ce.... cel... celaka!” kataku yang memotong kalimatnya dengan nafas yang sengaja kubuat tersengal- sengal.
“Celaka? Celaka apanya?”
“Ryan... Ryan...”
“Ryan? What happend with him?” kekhawatiran mulai tampak pada wajah Carol.
“Di... dia baru saja terjatuh karena membenarkan beberapa atap yang rusak di belakang rumah. Dia terluka dan kulihat kakinya tak bisa digerakkan.” See... kita lihat bagaimana reaksinya.
“Really? Mmm... sebaiknya aku mengatakan hal ini pada keluarga Bieber. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit!” cemas Carol.
“No... no... no...! barusan aku telah memberitahu keluarga Bieber dan sekarang mereka menyuruhku untuk menghubungi ambulance. Sebaiknya kau pergi ke sana dan jangan lupa membawa kotak obat. Mungkin itu dapat menghentikan darah yang mengucur dari lututnya. Aku akan segera menyusulmu setelah menghubungi ambulance!”
Tanpa pikir panjang lagi Carol langsung menuju taman belakang rumah setelah membawa kotak yang berisi obat- obatan.
Dengan tergopoh- gopoh Carol berlari menuju taman belakang. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru taman yang terletak di belakang rumah oma. Hingga akhirnya dia.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar