PART 19
“Hmmm… aku lihat ada pasangan baru nich malam
ini!” aku menghampiri Auris dan Nicky yang saat itu tengah berduaan di taman
belakang restaurant. “Kalian tidak ingin berbagi kebahagiaan ini padaku?”
“Ohh… My Cary! Akhirnya aku mendapatkan
kakakmu! Ini juga berkat bantuanmu, My Cary!” Nicky mulai memelukku.
“Lepaskan pelukanmu! Ingat, sekarang itu kau
adalah kekasih kakakku! Jaga sikapmu!” sergahku seraya melepaskan pelukan
Nicky.
“Kau pikir aku akan cemburu melihat Nick
memelukmu? Ckckck… kau lucu, Caris! Aku tidak mungkin marah padamu karena
bagaimana pun juga kalian telah bersahabat jauh sebelum aku menjadi kekasih
Nicky.”
“Kau sangat bijaksana, Auris!” tiba- tiba
Justin datang dengan sebuah gitar acoustic dalam dekapannya. “Bolehkah aku
bergabung dengan kalian?” tanyanya.
“Of course, Man!” ucap Nicky.
“With my pleasure, Justin!” Auris menimpali.
Laki- laki ini lagi…! Huft! Aku mendengus di
dalam hati.
“Justin... umphhh... bisakah kau nyanyikan sebuah lagumu? Ayolah...
Justin,,, aku ingin sekali mendengar kau bernyanyi secara langsung di
hadapanku!” pinta Auris.
“Boleh juga tuch! Aku juga setuju.” Nicky menimpali. Sementara aku hanya
bisa diam.
Sesaat Justin melirik ke arahku. “Ok, lagu ini untuk kalian berdua yang
baru saja menjadi pasangan kekasih,” jawab Justin yang kemudian mulai memetik
senar gitarnya.
“Aa... a.. a...” Justin mulai menyanyikan salah satu lagunya yang berjudul
Favorite Girl, Auris dan Nicky juga ikut menyanyikannya. “I always knew you were the best
the coolest girl I know...”
the coolest girl I know...”
Aku hanya diam mematung. Aku bingung harus berbuat apa karena
aku sama sekali tidak hafal lirik lagu itu walaupun aku tau arti dari setiap
lirik yang dinyanyikan Justin.
“You take my breath away... with everything you say, I
just wanna be with you... My Baby... My Baby...” kali ini Justin melirik ke
arahku. Segera ku alihkan pandanganku agar aku tidak menatapnya. “My miss don’t
play no games,,, treat you no other way... than you deserve cause you’re the
girl of my dreams.”
Ku lihat Auris dan Nicky khusyuk mengikuti Justin
bernyanyi. Arghhh... benar- benar membosankan. Kemudian aku memilih masuk ke
dalam restaurant menemui oma dan yang lain. Dari pada aku hanya berdiam diri
saja melihat keasyikan mereka bertiga yang tidak mengindahkan keberadaanku.
*****
Aku merebahkan badanku di atas sofa yang terletak di
ruang tengah. Hari ini benar- benar hari melelahkan dan menyenangkan buatku.
Melelahkan karena adanya perlombaan yang dibuat oleh oma, dan menyenangkan
karena Nicky berhasil menyatakan persaannya pada Auris.
“Hey... aku dengar hari ini ada siaran langsung pertandingan
NBA antara L.A Lakers melawan Boston Celtics!” ucap Nicky.
“Benarkah? Kapan dan di stasiun mana pertandingan itu
akan disiarkan?” tanyaku antusias.
“Di sport light. Pertandingan akan mulai disiarkan dini hari nanti!” Nicky
memberikan info. “Mau bertaruh denganku?” tantang Nicky.
“Boleh. Bertaruh apa?” celetuk Justin yang baru memasuki ruang tengah dan
langsung duduk di sampingku.
“Bertaruh tentang juara pertandingan dini malam nanti. Aku yakin Boston
Celtics akan memenangkan pertandingan itu!” jawab Nicky dengan yakinnya.
“Heyyy... kau jangan terlalu percaya diri dulu! Lakers pasti akan menang!
Pahlawanku tidak akan pernah tinggal diam untuk mencetak point demi Lakers!”
aku menyikut lengan Nicky.
“Kali ini aku sependapat dengan, Caris! Kobe it’s a great player.” Justin
menimpali. Aku tersenyum ke arahnya karena kali ini dia sependapat denganku.
Cukup lama aku, Justin, Nicky, Kenny, dan Scoot menunggu pertandingan itu
disiarkan langsung di televisi. Tepat pukul 00.15 AM siaran pertandingan itu pun dimulai. Aku dan yang lainnya yang sedari
tadi menunggu tayangan itu, menyimak jalannya pertandingan dengan khusyuk.
“Guys, aku terlalu lelah karena kegiatan hari ini. Aku rasa aku butuh
istirahat.!” Scoot beranjak dari sofa.
“Scoot benar! Aku juga akan istirahat. Good night, Guys!” tambah Kenny.
Kemudian Kenny dan Scoot menaiki tangga menuju lantai tiga menuju kamar
mereka masing- masing.
Hemmphhh... sekarang hanya tinggal aku, Justin, dan Nicky.
Lalu ku lihat Kobe dengan cekatannya menembus pertahanan lawan dan
melakukan tembakan three point!
“Yeee...!!!” aku bersorak karena Kobe berhasil menambah point dan tanpa aku
sadari aku mengenggam tangan Justin. Yaaa... aku pikir saat itu aku dan Justin
sepaham untuk mendukung LA. Lakers. “Sor...ry!” lanjutku setelah menyadari hal
itu. Lalu aku melepaskan tanganku yang saat itu mengenggam tangan Justin.
“No prob, My Baby!” respon justin tersenyum sembari menatap ke arahku.
Aku benar- benar malu akan kejadian itu. Arghhh... bodohnya diriku kenapa
harus menggenggam tangan Justin.
“Nick, kau lihat style permainan Kobe sangat ba... gus, kan?” kalimatku
sempat terpotong ketika menengok ke arah Nick yang saat itu tengah tertidur
pulas. “Yahhh... nich anak malah tidur! Nick, wake up!!!” aku membangunkan Nicky.
“Owhhh... ma... maaf! Aku ketiduran ya? Sampai di mana pertandingannya?
Skornya sudah berapa?” tanya Nicky yang masih linglung.
“Aku rasa kau butuh istirahat. Lihatlah, wajahmu begitu lesu. Istirahatlah!
Masalah pertandingan ini ku rasa besok pasti akan ada siaran ulang!” suruh
Justin yang disertai anggukan oleh Nicky.
Kemudian Nicky berjalan meninggalkanku dan Justin di ruang tengah. Tapi ini
tidak menjadi masalah bagiku. Demi mendukung Kobe, aku rela begadang.
Pertandingan berlangsung sangat alot. Point antara kedua kubu saling
berkejaran. Hingga akhirnya...
“YES... YUHUUUU... Lakers WIN!!!” seruku dan lagi- lagi tanpa sadar
menggenggam tangan Justin.
“Yeah... Lakers is the best!” Justin pun meluapkan kegembiraannya saat
melihat kemenangan Lakers.
Malam ini begitu menyenangkan karena tim favoritku berhasil memenangkan
pertandingan. Sedangkan Nicky besok harus membayar kekalahan tim favoritnya.
Ahhh... senangnya diriku!!!
Senyum selalu melekat di raut wajahku saat aku berjalan menuju kamar.
“My Baby...” Justin memanggilku ketika aku telah sampai di ambang pintu
kamarku. “Thanks untuk hari ini.” Lanjutnya.
Ucapannya membuatku mengerutkan kening. “Thanks? For what?”
“Thanks to everything! Hari ini sungguh menyenangkan karena menghabiskan
waktu denganmu.” Justin tersenyum ke arahku dan berbalik badan melangkah
meninggalkanku yang masih berdiri di ambang pintu. Tak lama ia membalikkan
badannya lagi, “My Baby, good night! Nice dream, ok!”
Hahhh... laki- laki itu benar- benar aneh. Aku hanya tersenyum kecut dan
melangkah masuk ke dalam kamar.
*****
PART 20
“Jazzy... kita harus pulang. Kau tau kan jika aku mempunyai banyak
pekerjaan yang harus secepatnya ku selesaikan?” Justin tampak membujuk Jazzy
yang enggan pulang.
Sayup- sayup ku dengar percakapan antara Justin dan Jazzy yang saat itu
berada di ruang tengah depan kamarku. Ku langkahkan kakiku untuk mengintip
mereka berdua dari balik pintu kamar.
“Tapi Booo... aku masih ingin di sini bersama Princess. Jika aku pulang
pasti aku tidak akan bertemu lagi dengan Princess!” rengek Jazzy.
“Siapa bilang kau tidak akan bertemu lagi dengan your princess? Jika ada
waktu nanti aku pasti akan mengantarmu untuk bertemu dengannya.” Justin masih
berusaha meyakinkan Jazzy.
“Benarkah? Kau tidak membohongiku?” pertanyaan Jazzy dijawab anggukan oleh
Justin. “Baiklah, aku akan pulang.” Lirih Jazzy.
Justin menggendong Jazzy untuk turun ke lantai dasar.
‘Syukurlah jika makhluk satu itu hari ini akan pergi dari rumah ini! Tapi,
sedih juga jika aku harus berpisah dari Jazzy yang menggemaskan.’ Aku berbicara
dalam hati.
Lima menit kemudian...
Aku telah merapikan diri dan segera menemui keluarga Bieber yang saat itu
akan berpamitan di lantai bawah.
“Princess...!!!” Jazzy berlari ke arahku ketika aku berjalan menuruni
tangga. Aku pun segera membawa Jazzy ke dalam pelukanku. “Aku akan pulang hari
ini. Kita masih bisa bertemu lagi, kan?” tanyanya lugu.
“Of course, My little angel! Kita bisa bertemu kapan saja jika ada waktu
luang. Kau tidak perlu sedih, suatu saat aku pasti akan mengunjungimu!” aku
meyakinkan Jazzy yang saat itu mulai berkaca- kaca.
“Jazzy... kita harus pergi! Kau dengar sendiri kan jika Carista nanti akan
mengunjungimu.” Mrs. Pattie mengambil Jazzy dari pelukanku. “Mrs. Laurent, aku
sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih karena telah diijinkan menginap di
rumahmu ini! Maaf jika kedatangan ku dan semuanya merepotkan keluargamu!” Mrs.
Pattie memeluk oma masih dengan Jazzy dalam dekapannya.
“Pattie... aku senang karena kedatanganmu dan lainnya bisa menemani kedua
cucuku yang sedang berlibur di sini. Kedua anakmu juga sangat menyenangkan!”
oma mengelus pipi Jazzy.
Kemudian secara bergiliran Mrs. Pattie, Justin, Jazzy, Kenny, Carin, dan
Scooter menjabat tangan oma, papa, Auris, Aku, Nicky, Mrs. Jack, dan Mrs.
Mitchie.
“Justin, aku pasti merindukanmu!” Auris memeluk Justin.
“Me too, Auris! Thanks untuk dua
hari kemarin. Aku harap kau selalu mensupportku, ok!” ucap Justin. Auris hanya
mengangguk yang masih berada di dalam pelukannya. Selanjutnya Justin mendekati
Nicky.
“Kau masih mempunyai hutang padaku! Semalam tim favoritmu kalah. Suatu hari
nanti aku pasti menagihnya karena kau kalah dalam bertaruh!” perkataan Justin
dibalas pelukan hangat oleh Nicky.
Kini pandangan Justin beralih. Ia melangkah menghampiriku yang berdiri di
samping Nicky.
“Sekali lagi terima kasih!” tanpa basa- basi Justin langsung memelukku.
“Aku harap kau tidak akan merindukanku, My Baby!” Justin berbisik di sekitar
telingaku.
“I hope so! Semoga saja aku tidak akan bertemu dengan makhluk menyebalkan
sepertimu lagi!” aku balik berbisik dan langsung melepaskan pelukan Justin.
Setelah selesai berpamitan keluarga Bieber pun segera memasuki mobil dan
pergi meninggalkan pekarangan rumah oma.
Senang sekali tidak serumah dengan orang semenyebalkan seperti Justin,
tetapi sedih juga sich harus berpisah dari Jazzy.
*****
Saat makan siang, semua anggota keluargaku berkumpul di ruang makan. Tidak
biasanya papa ikut makan siang dengan kami karena biasanya beliau selalu saja
sibuk di kantor.
“Nanti sore aku akan kembali ke Texas karena dua hari lagi aku akan kembali
ke Indonesia.” Nicky membuka pembicaraan setelah acara makan siang itu selesai.
“Secepat inikah kau meninggalkanku?” tanya Auris yang mulai berkaca- kaca.
“Auris, kita masih bisa bertemu di sekolah saat ajaran baru nanti.” Nicky
meyakinkan.
“Kau ini selalu saja berlebihan. Nick tidak akan pergi selamanya kok.
Tenanglah! Bulan depan kau sudah bisa bertemu dengannya lagi saat ajaran baru!”
aku menimpali yang membuat oma dan papa mengangguk membenarkan perkataanku.
Auris masih saja diam dan tak mengubris perkataan ku dan Nicky.
Iya dechhh tau, namanya juga baru merasakan kembali indahnya cinta. Aku
paham sekali perasaan Auris yang sangat takut kehilangan orang yang
dicintainya. Setelah Aldo, mantan pacar semasa SMPnya pergi meninggalkannya karena
cinta yang lain. Hahhh... cinta memang membuat hidup orang rumit!!!
*****
Dua hari sejak kepergian Nicky dan keluarga Bieber, ku isi hari- hariku
dengan bermain basket di lapangan sebelah rumah, membantu oma di rose garden,
dan mengilingi kota Atlanta bersama Mr. Jack.
Pagi ini aku memilih untuk lari pagi bersama Auris mengitari sekitar taman
kota yang letaknya tak jauh dari rumah oma. Beberapa menit saat aku dan Auris
beristirahat di bangku taman, BB milik Auris bergetar menandakan panggilan
masuk.
“Hallo, Dad!” Auris membuka pembicaraan ketika tau yang menelepon adalah
papa. “Aku dan Caris sedang duduk santai di taman. Memangnya ada apa, Dad?” aku
menyimak pembicaraan Auris dan papa. “Benarkah siang ini kita akan pergi ke
Kanada?” Auris tampak senang ketika papa menyebut kota KANADA. “Ok, Dad! Kita
akan segera pulang!” Auris menutup pembicaraannya dengan papa. “Kau tau, papa
dan oma akan membawa kita berlibur ke Kanada. Lebih tepatnya ke Stratford-
Ontario!” ujar Auris sambil mengguncang- guncangkan tubuhku.
“Bisakah kau bersikap sewajarnya saja? Kita
hanya akan pergi ke Kanada beberapa hari saja.”
“Kau salah! Kita akan menghabiskan sisa
liburan kita di sana. Dan yang paling menggembirakan adalah kita akan pergi ke
tempat kelahiran Justin Bieber.”
“Terserah kau sajalah! Bosan selalu mendengar
tentang Bieber darimu!” aku beranjak melangkah pergi meninggalkan Auris yang
masih duduk di bangku taman.
“Heyyy… kau mau ke mana? Wait me, Sist!!!”
Auris berlari mengejar langkahku.
*****
PART 21
Siang harinya aku sekeluarga telah siap untuk
berangkat menuju Kanada. Selama di perjalanan aku hanya terjaga dan melihat
pemandangan di luar pesawat yang hanya berupa gumpalan- gumpalan awan.
Sementara Auris sedang terlelap dalam alam mimpinya.
Perjalanan menuju Kanada memakan waktu
sekitar 45 menit. Sesampainya di bandara aku sekeluarga menuju rumah oma dengan
mengendarai taxi.
“Aku sangat merindukan tempat ini!” gumam oma
ketika kami telah sampai di pekarangan sebuah rumah minimalis bewarna coklat
muda. “Rumah ini begitu banyak menyimpan kenangan antara aku dan Jamie.”
Jamie Tyler Hawkins adalah nama mendiang
opaku dan Auris. Beliau telah lama meninggal dunia ketika kami belum terlahir
di dunia ini akibat penyakit radang paru- paru yang di deritanya.
Aku lihat terdapat kerinduan yang mendalam
dari wajah oma terhadap opa. Pasti oma sangat menyayangi opa.
“Laurent? Bukankah kau Laurent Tyler
Hawkins?” sapa seorang wanita yang tak lagi muda.
“Diana… long time no see!” tampaknya oma
mengenal baik wanita paruh baya tersebut, terbukti oma langsung memeluk wanita
itu.
“Aku tak menyangka kau akan mengunjungi rumah
ini lagi. Aku sangat merindukanmu!” ucap wanita itu yang ternyata bernama
Diana.
“Aku juga sangat merindukanmu. Oh ya,
kenalkan ini adalah kedua cucuku. Mereka berdua merupakan putri Bryan.” Oma memperkenalkan
aku dan Auris ke Mrs. Diana.
“Hello, Mrs. Diana! Nice to
meet you!” sahutku dan Auris bersamaan. Kemudian secara bergantian aku dan
Auris menjabat tangan oma Diana.
“Hello, Mrs. Diana!” sapa papa yang baru saja
muncul dengan dua buah koper di kedua tangannya.
“Hy, Bryan! Lihatlah, kedua putrimu begitu
cantik.” Mrs. Diana tampak memujiku dan Auris. Aku dan Auris hanya bisa
tersenyum.
“Caris…, Auris… Mrs. Diana ini adalah ibu
kandung Pattie.” Papa memperkenalkan Mrs. Diana lebih jelas kepada aku dan
Auris.
“Ja… jadi Mrs. Diana ini adalah nenek dari
Justin Bieber?” Mrs. Diana hanya mengangguk menjawab pertanyaan Auris.
Jadi Mrs. Diana adalah ibu kandung Mrs.
Pattie yang secara langsung berarti beliau juga merupakan nenek dari seorang
justin Bieber? Hemphhh… pantas saja Auris begitu antusias diajak menghabiskan
sisa liburan di Kanada.
Sisa liburanku kurang tiga minggu lagi.
Selama itu aku sekeluarga akan menghabiskan waktu di Kanada, lebih tepatnya di Stratford. Selain karena
papa ada urusan bisnis di kota itu, oma juga ingin memperkenalkan kota asalnya
kepada kami berdua.
*****
“Kota ini sangat indah. Aku betah tinggal di sini!” Auris berdecak kagum
disaat mengelilingi kota Stratford bersamaku dengan mengendarai swift hitam
milik oma.
“Kau memuji kota ini bukan karena kota ini kota kelahiran si Bieber, kan?”
tanyaku memastikan, masih menatap lurus ke depan dan fokus mengemudi.
“Ya jelas tidak. Kau bisa lihat sendiri kota ini benar- benar indah.
Pemandangannya juga... “Auris tidak meneruskan kalimatnya. “Caris... STOP!!!”
pinta Auris yang membuatku mengerem mobil secara mendadak. “Aku ingin membeli
topi NY bewarna merah itu!” tukasnya menunjuk ke arah sebuah toko yang menjual
barang yang dimaksud.
“Kau selalu saja mengacaukan mood
ku. Tidak bisa! Kita harus pulang sekarang juga!” kemudian aku kembali menancap
gas mobil.
Tanpa diduga Auris malah berusaha merebut kemudi agar mobil yang kami
kendarai dapat berhenti sesuai keinginannya. Dengan cekatan aku pun berusaha
mempertahankan kemudi. Sampai akhirnya... BRAKKK! Mobil yang ku kemudikan
terpanting ke tepi jalan hingga menabrak pembatas jalan.
Dapatku rasakan betapa sakitnya ketika kepalaku membentur kemudi mobil.
Seketika itu pula aku langsung tak sadarkan diri. Auris yang melihat kondisiku panik dan langsung mencari bantuan.
*****
Perlahan- lahan ku membuka mataku yang masih terasa berat. Ku amati
sekitarku. “Dimana ini?” ucapku lemah dengan perban di bagian
kepala.
“Caris! Syukurlah, akhirnya kau siuman juga!” ujar Auris yang sedari tadi
menjagaku.
Tak lama seorang laki- laki mengenakan jas putih masuk ke dalam ruangan itu
diikuti papa dan oma yang berjalan di belakangnya.
“Kau sudah sadar rupanya! Syukurlah lukamu tidak begitu parah!” oma
langsung memeluk tubuhku yang masih lemah tak berdaya di atas kasur Rumah
Sakit.
Setelah itu laki- laki berjas putih yang merupakan dokter yang menanganiku
memeriksa keadaanku. “Kondisimu berangsur membaik!” ujarnya.
*****
Hari ini merupakan hari kepulanganku setelah sehari dirawat di Rumah Sakit.
Aku bersyukur bisa cepat ke luar dari Rumah Sakit karena menjadi seorang pasien
merupakan hal yang membosankan bagiku. Yeah, selama dirawat di rumah sakit aku
hanya berdiam diri di atas kasur tanpa melakukan aktivitas apapun selain makan
dan minum obat.
“Ini semua salahku, Dad! Seharusnya aku tidak berusaha merebut kemudi itu,”
Auris menjelaskan dihadapan papa tentang penyebab insiden kecelakaan dua hari
lalu.
“Ini kesalahan kalian berdua! Dan aku rasa kalian tau apa yang harus kalian
perbuat!” hemphhh... tampaknya papa sedikit kesal dengan ulah kami berdua.
“Kalian harus bertanggung jawab atas rusaknya mobil itu!” lanjut papa.
“Bryan, dengarkan aku! Tidak seharusnya kau menghukum mereka seperti ini! Ibu
bisa mengganti biaya kerusakan itu!” oma mencoba membela kami.
“Don’t, Mom! Aku tau betul siapa anak- anakku. Aku tidak ingin mereka
tumbuh menjadi anak yang tidak bertanggung jawab akan kesalahan yang telah
mereka buat.” Papa masih kukuh akan keputusannya. “Dan aku harap kalian tidak
pernah meminta bantuan kepada siapapun untuk masalah ini!” selesai berkata
demikian papa masuk ke dalam ruang kerjanya meninggalkan aku, Auris, dan oma
yang masih duduk di ruang tamu.
*****
“Bagaimana, Sir? Berapa banyak uang yang harus ku kumpulkan untuk
memperbaiki kerusakan mobil ini?” tanyaku kepada salah satu montir di sebuah
bengkel.
“Kurang lebih 1.000 dollar untuk mengganti biaya kerusakan bamper dan
mengecet ulang!” jawab montir itu.
Aku dan Auris tertegun mendengar jumlah yang cukup fantastis itu. Bayangkan
saja, 1.000 dollar... itu bukan jumlah
yang sedikit bagiku dan Auris. Anak seusiaku mana mungkin bisa memperoleh uang
begitu banyak dalam kurun waktu yang singkat. Padahal sisa liburanku hanya
tinggal kurang lebih tiga minggu lagi.
*****
PART 22
1.000 dollar... dari mana uang sebanyak itu? Aku berceloteh sendiri dalam
hati sembari berjalan mengitari taman komplek dan menikmati suasana sore hari
Stratford. Langkahku terhenti ketika melihat seorang pria tua tengah kerepotan
mengambil barang belanjaan yang berantakan di pinggir jalan. Mmm... ku rasa
pria yang tak lagi muda itu membutuhkan bantuan.
“Can I helping something to you, Sir?” tanyaku dan segera membantu
mengumpulkan beberapa buah- buahan yang terjatuh dari dalam kantong belanja
pria itu.
“Thanks a lot! What’s your name?” pria tua itu bertanya siapa namaku
setelah semua barang belanjaannya telah selesai ku masukkan ke dalam kantong
belanjanya.
“My name is Caris, Sir!” ku balas jabatan tangan pria itu. “Bolehkah aku
membantu membawa kantong belanja itu sampai ke rumahmu?” aku menawarkan bantuan
yang disambut baik oleh pria tua itu.
“Oh ya, namaku Bruce Dale!” sambung pria tua itu yang ternyata bernama
Bruce.
“Owhh... nice to meet you, Mr. Bruce!” aku masih terus berjalan mengikuti
langkah Mr. Bruce menuju kediamannya.
“Akhirnya sampai juga di rumahku! Ayo, masuk,
Caris!” aku terperanga ketika mengetahui letak kediaman Mr. Bruce yang tepat berada di
depan rumah oma.
“Akhirnya kau datang juga! Lihatlah siapa
yang datang!” seorang wanita sebaya Mr. Bruce menyambut kedatangannya.
Begitu masuk ke dalam, Mr. Bruce sangat
senang melihat siapa yang tengah berada di ruang tamu. Aku tertegun melihat
orang- orang yang berada di ruang tamu Mr. Bruce.
“Hy, Grandpa! Miss you!” ujar pria muda yang
wajahnya tak asing lagi bagiku sembari merentangkan kedua lengannya untuk
memeluk Mr. Bruce.
“Bukankah kau Carista?” pertanyaan wanita
paruh baya yang ternyata adalah Mrs. Diana menghentikan acara temu kangen antar
Mr. Bruce dan pria yang taka sing lagi bagiku.
“Kau kenal dengan Carista? Maaf, aku lupa
memperkenalkannya! Gadis inilah yang membantuku saat barang belanjaanku jatuh
di tepi jalan.” ujar Mr. Bruce.
“Tentu saja aku mengenalinya. Carista
merupakan salah satu cucu kembar Laurent,” ungkap Mrs. Diana.
“Laurent teman lama kita? Benarkah saat ini
dia ada di Kanada?” pertanyaan Mr. Bruce dijawab dengan anggukan oleh
Mrs. Diana.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya pria muda
yang tadi memeluk Mr. Bruce.
“Just… kau mengenalinya?” tanya Mr. Bruce.
“Saat di Atlanta aku sekeluarga telah bertemu
dengan keluarga Mrs. Laurent. Bahkan Mrs. Laurent mengundang kami untuk
menginap di rumahnya!” sahut Mrs Pattie.
Yeaa… orang- orang yang berada di ruang tamu
Mr. Bruce itu adalah Justin beserta ibunya.
“Bruce dan Diana Dale adalah kedua orang
tuaku, Caris!” secara formal Mrs. Pattie memperkenalkan kedua orang tuanya
kepadaku.
Ja… jadi… Mr. Bruce adalah kakek Justin
Bieber? Arghhh… kenapa aku masih tetap saja tak lepas dari dunia si Bieber?
“Justin… sebaiknya kau temani Caris terlebih
dahulu di sini! Nenek dan kakek akan mempersiapkan makan malam untukmu!” Mrs.
Diana mengambil kantong belanjaan yang tadi sempat ku bawakan untuk Mr. Bruce.
“Baiklah, jika begitu aku akan pergi ke kamar
dulu untuk merapikan kamar dan beberapa barang.” Mrs. Pattie membawa beberapa
koper miliknya dan milik Justin ke dalam kamar yang terletak di lantai atas.
Justin mengajakku ke pekarangan depan rumah
di mana di sana terdapat sebuah ayunan yang tergantung pada sebuah pohon yang
besar.
“Tampaknya harapanmu agar tidak bertemu denganku
lagi musnah karena pada kenyataannya saat ini kita bertemu lagi. Fiuhhh…
ternyata dunia ini benar- benar sempit ya!” aku menatap heran ke arah Justin
yang saat itu tengah duduk di ayunan.
“Aku harus pulang karena hari mulai menjelang
petang!” ku langkahkan kakiku untuk meninggalkan Justin, tapi lagi- lagi Justin
menarik tanganku. Aku benar- benar benci moment- moment seperti ini. Dengan terpaksa
ku balikkan tubuhku ke arah Justin.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, My Baby!
Apa yang sebenarnya terjadi denganmu hingga keningmu diperban seperti ini?”
Justin mendekat ke arahku, mencoba menyentuh tempelan perban yang membalut
lukaku.
“Auwww… kau menyentuh lukaku, Bieb!” secara
reflex aku memegangi tangan Justin yang tak sengaja menyentuh bagian di sekitar
keningku yang memar.
“Ma… maaf, My Baby! Aku tak bermaksud
menyakitimu!” Justin masih enggan menyingkirkan tangannya untuk mengetahui apa
yang sebenarnya terjadi dengan keningku. “Tell me why?” tanyanya sekali lagi.
“Ini hanya luka kecil dan aku rasa kau tak
perlu mencemaskanku seperti ini, Bieb!” kulepaskan tangan Justin dan segera
pergi meninggalkannya.
“Hey… aku kan hanya penasaran dengan lukamu
itu!!!” teriak Justin tetapi tak kuhiraukan.
*****
1.000 dollar untuk mengganti biaya kerusakan bamper dan mengecet ulang… 1.000 dollar… ucapan montir tadi siang
masih terekam jelas dalam ingatanku. Ya… aku harus mengumpulkan uang 1.000
dollar untuk memperbaiki swift hitam milik oma. Aihhh… tapi dari mana aku bisa
mengumpulkannya dalam kurun waktu yang sangat singkat? Caris… kau tak boleh
menyerah dengan keadaan! Kerja… ya… salah satu cara agar mendapatkan uang hanya
dengan mencari pekerjaan. Tapi aku harus melamar pekerjaan di mana? Pertanyaan
tiap pertanyaan mulai muncul di dalam benakku.
Berjam- jam aku memikirkan jawaban untuk
menjawab semua pertanyaan dalam otakku, tetapi aku tidak menemukan satupun
jawabannya.
“Arghhhh… benar- benar menyebalkan!” umpatku
tanpa sadar membanting bola basket spaldings milikku ke arah tembok.
Lalu ku pilih untuk berjalan ke arah balkon
kamar. Dari balkon kamarku aku bisa melihat jelas aktivitas penghuni kamar
rumah depan yang tak lain adalah rumah Mr. dan Mrs. Dale.
Dari dalam kamar rumah depan tampak Justin
tengah duduk di atas kasurnya dengan memetik senar gitarnya. Tampaknya dia
sedang menyanyikan salah satu lagunya. Aku tidak mendengar pasti lagu apa yang
dinyayikan Justin karena jendela kamar Justin tidak terbuka.
Selang beberapa menit, kulihat Justin
menunduk dan berhenti memetik senar gitarnya. Apa yang terjadi padanya? Tangan
kanannya tampak memegangi keningnya. Dapat kulihat jelas jika malam itu Justin
sedang menangis. Karena sesekali dia menyeka air matanya dengan jari telunjuk
dan ibu jarinya.
Justin Bieber menangis? Pasti dia sedang ada
masalah. Tapi, apa urusanku? Tak sepantasnya aku pusing memikirkan masalahnya.
Saat ini aku sudah cukup pusing menghadapi masalahku sendiri.
Kupusatkan lagi pandanganku ke arah kamar
Justin dan Justin sudah tidak ada lagi di atas kasurnya. Aku rasa saat itu dia
pasti sedang ke kamar mandi agar orang lain tak mengetahui jika dia baru saja
menangis. Justin… Justin… kau bisa saja merahasiakan hal itu kepada semua
orang! Tapi sayangnya aku mengetahui jika kau sedang menangis barusan.
*****
PART 23
Sinar matahari mulai masuk melalui celah jendela
kamarku. Kicauan suara burung pun terdengar dari arah jendela yang bertengger
di atas dahan pohon. Kubuka mataku perlahan dan segera bangkit dari tidurku.
“Selamat pagi, Dunia!” ucapku sembari membuka
jendela kamar dan membiarkan sinar mentari menyinari kamarku. “Hari ini aku
harus mendapatkan pekerjaan!” lanjutku bersemangat.
Tanpa berpikir panjang lagi aku segera
membersihkan diriku ke kamar mandi dan segera merapikan penampilanku.
Lima menit aku telah rapi dan segera menemui
keluargaku di ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, aku menatap heran
ke arah dua buah koper yang berada di sudut ruang makan.
“Kau akan pergi lagi meninggalkan kami
bertiga?” tanyaku pada papa dan mengambil posisi duduk bersebelahan dengan
Auris.
“Caris… hari ini aku dan Auris akan kembali
ke Indonesia. Dua hari lagi kakakmu ada seleksi olimpiade matematika se-
Nasional, makanya hari ini dia harus balik ke Indonesia. Kebetulan besok aku
juga ada urusan bisnis mendadak di Bandung.” Jelas papa.
Spontan aku sedikit terkejut mendengar Auris
akan pulang ke Indonesia. “Lalu, bagaimana denganku?”
“Tenang saja, Cupcake! Nanti Mr. Jake akan
mengantarmu sampai bandara dan aku telah memesan tiket saat kepulanganmu.
Begitu sampai di Jakarta, pak Duta akan menjemputmu!” aku terdiam menanggapi
ucapan papa.
Kalau sudah begini, yaaa… mau bagaimana lagi?
Aku tau bisnis sangat penting bagi papa dan olimpiade itu juga sangat penting
bagi Auris. Sementara aku? Aku harus tinggal di Kanada menghabiskan sisa
liburanku untuk mengganti semua kerusakan pada mobil oma. haduhhh… malang nian
nasibku!!
“Jaga dirimu baik- baik! Jika terjadi
sesuatu, segera hubungi aku, ok!” pesan papa padaku. Aku hanya mengangguk
pelan.
“Aku janji di sana aku juga akan berusaha
untuk membantumu mencari uang! Begitu aku mendapatkan uangnya, aku akan segera
mentransfer ke rekeningmu! kau tidak perlu khawatir!” kini giliran Auris yang
memberikan pesan padaku.
Auris dan papa berangkat menuju bandara
dengan mengendarai taxi yang dipesan oleh oma. Sebelum keberangkatan mereka
berdua, keluarga Mr. Dale juga menghampiri papa dan Auris untuk mengucapkan
salam perpisahan.
*****
Seperginya papa dan Auris, kuhabiskan pagi
ini dengan menonton televisi di ruang tengah. Saat itu oma sedang pergi ke
supermarket terdekat bersama Mrs. Diana dan Mrs. Pattie. Sesekali ku baca Koran
dan iseng- iseng mencari halaman yang berisi lowongan pekerjaan. Ku telesuri
satu- persatu nama perusahaan yang membutuhan pekerja, lalu kulingkari dengan
pena bewarna merah perusahaan mana yang sedang membutuhkan pekerja dengan
criteria yang mendukung pada diriku.
Tok… tok… tok… terdengar suara orang mengetuk pintu rumah.
Dengan malas ku bangkit dari sofa dan membuka pintu rumah.
“Princess!!!” seru Jazzy yang langsung berhambur
memelukku. Padahal saat itu dia sedang berada dalam gendongan Justin. “Kenapa
kau tidak mencariku? Apakah kau tidak rindu denganku?” tanyanya polos.
“Tentu saja aku merindukanmu, My little
angel! Hanya saja aku tidak tau jika kau juga berada di Kanada bersama Justin,”
jelasku seraya menyentuh hidung Jazzy lembut menggunakan hidungku (bisa
dibayangin sendiri kan seperti apa?).
“Apa yang terjadi dengan keningmu? Kau
terluka!” Jazzy mengamati luka bekas kecelakaan beberapa hari yang lalu.
“Umphhh… hanya luka kecil saja dan tidak
parah!” jawabku tenang.
“Apa kau akan membiarkan aku berdiri di
ambang pintu rumahmu hingga Mrs. Laurent selesai berbelanja dengan nenek dan
ibuku?” celetuk Justin yang saat itu tak dihiraukan keberadaannya.
“Masuklah!!!” aku membawa Jazzy dan Justin ke
ruang tengah. “My little angel, aku rasa aku punya sesuatu untukmu! Come,
follow me!” aku pun membawa Jazzy ke dapur dan meninggalkan Justin seorang diri
di ruang tengah. “This is it! It’s for you!” ujarku sembari mengeluarkan
sekotak ice cream walls double dutch.
“Yummi…! Ini pasti sangat lezat!” respons
Jazzy senang.
“Apa ini? Benarkah kau sedang mencari
pekerjaan?” tanya Justin tiba- tiba yang telah menyusul langkahku menuju dapur.
“Dari mana kau mendapatkan surat kabar itu?”
“Kau sendiri yang menaruhnya di atas meja. Benarkah
kau sedang mencari pekerjaan?” tanya Justin sekali lagi.
“Ng… tentu saja tidak. Aku hanya iseng saja
melingkari beberapa perusahaan itu.” Jawabku asal.
“Princess… kau dengar itu! Itu acara televisi
favoritku!” seru Jazzy yang kemudian berlari menuju ruang tengah, meninggalkan
aku dan Justin.
“Jangan berbohong padaku!” Justin memegang
tanganku kuat agar aku tak menyusul langkah Jazzy menuju ruang tengah.
“Hey… aku rasa acara favorite Jazzy itu
sangat seru. Ayo kita menonton acara itu bersama- sama!” ku coba mengalihkan
topic pembicaraan.
“My Baby, stop mengalihkan pembicaraan untuk
tidak menjawab pertanyaanku!” Justin sedikit meninggikan suaranya. “Aku tau
saat ini kau sedang ada masalah, kan?”
“Ini bukan urusanmu, Mr. Bieb! Jika memang
aku sedang dirundung masalah, aku rasa kau tidak perlu mengetahuinya karena kau
bukan siapa- siapaku! Kenapa kau selalu saja ingin tau dan mencampuri
kehidupanku? Bisakah sehari saja kau tidak menjadi orang…”
Belum sempat aku meneruskan kalimatku, Justin
telah memotongnya. “Apa? Kau akan mengatakan jika aku itu adalah orang
menyebalkan dalam hidupmu? Aku hanya ingin menjadi temanmu. Kau tidak tau My
Baby, seberapa tulusnya diriku terhadapmu! Dan aku rasa sampai kapanpun kau
tidak akan pernah mengetahuinya!” Justin melepaskan tanganku sedikit kasar.
Dengan cepat dia berjalan meninggalkanku dan menghampiri Jazzy di ruang tengah.
“Cupcake, kita harus pulang sekarang!” Justin menggendong Jazzy.
“Tapi Boo… aku kan masih ingin berlama- lama
dengan Princess!” lirih Jazzy.
“Jazzy… saat ini kakek seorang diri berada di
rumah. Dan kita harus membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah!” tanpa
melihat ke arahku, Justin langsung membawa Jazzy begitu saja ke luar dari
rumahku.
Justin benar- benar sakit hati dengan
perkataanku. Benarkah perkatannku barusan sangat kasar sehingga menyinggung
perasaan Justin? Aku rasa aku mulai bersikap keterlaluan terhadap Justin.
*****
PART 24
Malam harinya kuputuskan untuk menyambangi
kediaman keluarga Dale. Eitsss… jangan salah dulu, aku ke sana bukan ingin meminta
maaf terhadap Justin melainkan memenuhi
undangan makan malam keluarga Dale.
Sesampainya di sana, seluruh anggota keluarga
Dale tengah berkumpul mengelilingi meja makan. Hanya Justin yang tidak
berkumpul. Kuposisikan dudukku tepat di sebelah Jazzy. Tak lama Mrs. Pattie
memanggil justin untuk turut makan malam bersama kami semua. Tetapi,
sesampainya di ruang makan, raut wajah Justin berubah saat melihatku.
“Aku merasa masih kenyang! Maaf aku tidak
ikut makan malam bersama kalian!” ujarnya getir dan langsung berbalik
meninggalkan kami semua.
Aku tau, pasti ini gara- gara kejadian tadi
pagi. God… haruskah aku meminta maaf padanya???
Setelah acara makan malam, aku membantu Mrs.
Pattie untuk mencuci beberapa piring. Sementara Mr. dan Mrs. Dale bersama oma tengah
mengobrol santai sembari bernostalgia di ruang tengah dekat perapian.
“Saat ini aku sedang mencari seseorang untuk
menjadi guru privat sekaligus yang dapat menjaga Jazzy. Mmm… Caris, apa kau
bersedia menjadi orang tersebut? Aku pikir akhir- akhir ini Jazzy sangat dekat
sekali denganmu.” Mrs. Pattie menawarkan sebuah pekerjaan padaku. “Kau tenang
saja, aku akan menggajimu 100 dollar per hari! Bagaimana?” tanya Mrs. Pattie
menunggu keputusanku.
Aku masih menimbang- nimbang tawaran itu dan
akhirnya membuatku menganggukkan kepala menandakan aku menerima tawaran Mrs.
Pattie.
“Kau bisa bekerja mulai besok! Dan besok kau
akan menerima gaji pertamu!” hatiku sangat senang ketika mendapatkan tawaran
kerja ini. Menjadi guru privat sekaligus menjaga Jazzy? Umphhh… aku rasa bukan
masalah besar bagiku.
Selang setelah aku merapikan dan membersihkan
semuanya, kulirik Justin berjalan menuruni tangga menuju dapur. Saat itu Mrs.
Pattie sedang mengantarkan teh ke ruang tengah.
“Rupanya harus menunggu perutmu keroncongan untuk
mengisinya?” tanyaku pada Justin yang saat itu hanya melenggang dengan
angkuhnya di depanku. “Kau marah padaku?” tanyaku memastikan.
Justin tak mengindahkan pertanyaanku. Dia
masih sibuk memotong buah apel menjadi beberapa bagian. “Aku sedang berbicara
denganmu, Mr. Bieb!” ucapku menekankan kalimatku.
Justin menatap dingin ke arahku, “Kau sedang
bicara padaku?” setelah mengucapkan itu dia kembali menatap buah apelnya.
“Untuk apa aku marah padamu? Bukankah aku bukan siapa- siapamu? Jadi tak ada
gunanya aku marah denganmu!” lanjutnya dengan penuh penekanan pada setiap
katanya. Hingga akhirnya… “Ouch… shit!” umpatnya ketika jarinya teriris oleh
pisau sehingga darah mengucur deras dari jari telunjuknya.
“Are you ok?” aku memastikan keadaanya.
Sayangnya dia tak mengindahkan pertanyaanku. Yang dilakukannya hanyalah
melenggang pergi menuju kamarnya di lantai dua. “Benar- benar pria
menyebalkan!” desisku kesal.
Pandanganku tertuju pada sebuah kotak P3K
yang terletak di sudut dapur. Melihat kotak itu, aku jadi memikirkan Justin
yang baru saja tergores jarinya. Ku ambil beberapa helai kapas, alcohol, dan
sedikit perban. Aku hanya terheran- heran, kenapa aku mengambil semua benda
itu? Benarkah aku berniat untuk mengobati luka Justin? Lagian apa perduliku
dengan Justin! Justin bukan anak kecil lagi yang harus diingatkan untuk
mengobati disaat ia terluka. Kemudian ku taruh kembali barang- barang tersebut
ke dalam kotak.
Aihhh… Caris… perbuatanmu benar- benar tak
berperikemanusiaan! Setega itukah dirimu tidak mengobati seseorang hanya karena
dia begitu menyebalkan untukmu?
Aku menarik nafas panjang dan kembali
mengambil obat- obatan itu. “Baiklah, sekali ini saja aku berbaik hati
padanya!” kucoba meringankan langkahku untuk berjalan menghampiri kamar Justin.
“Grandma menaruh kotak P3K dimana sich?” omel
Justin mengacak- acak kamarnya.
“Kau mencari ini?” tanyaku tiba- tiba yang muncul
di belakang Justin sembari menunjukkan benda yang dicarinya. Kuhampiri Justin
dan segera mengamit jarinya yang tergores pisau. Kubalurkan tetesan alcohol di
atas kapas ke luka gores itu, Justin hanya menyipitkan sebelah matanya untuk
menahan perih. Setelah ku bersihkan dengan alcohol, ku tetesi obat merah, dan
segera kubalut dengan perban. “Ini kulakukan untuk membayar kebaikanmu yang
sebelumnya kau lakukan untukku! Dan ku harap dengan ini semuanya impas!” ucapku
datar dan segera pergi meninggalkan Justin.
“Arghhh… cewe itu benar- benar membuatku
bingung!”
*****
“Ou… ouuuu… oh…” sayup- sayup kudengar alunan
suara diiringi dengan petikan gitar. “I never thought it’d be easy, cause we
both so distant now,,,” kudapati Justin tengah bernyanyi tepat di samping
jendela kamarnya sembari menatap lurus ke arah langit. “So it’s up to you! And
it’s up to me! That we meet in the middle on our way, back down to earth!”
dapat kurasakan sebuah emosi dari setiap lirik lagu yang penuh penekanan dari
bibir Justin. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? “Down to earth… down to
earh… on our way back down to earth!” Justin masih menatap lurus ke arah
langit. “And mommy you were always somewhere… Daddy I live… out of town.”
Kudengar pada bagian ini suara Justin mulai bergetar. “So tell me how cold I
ever be normal somehow,” suara Justin semakin jelas bergetar. “You tell me this
is for the best, So tell me why am I in tears? So far away… a… and now I ju…
just need you here!” Justin menghentikan petikan gitarnya. Kulihat bulir- bulir
air mata yang tadi masih menggenang di bawah kelopak matanya sekarang tumpah
ruah. Ia tak mampu lagi menahan air matanya yang saat ini mengalir di pipinya.
Ia menunduk, menenggelamkan wajahnya dan bertumpu pada siku kakinya.
Aku terus memperhatikan Justin dari balik
gorden kamarku hingga ia beranjak dan memutuskan untuk menutup jendelanya. Kini
benakku dipenuhi beberapa pertanyaan dengan tingkah Justin yang menurutku aneh
akhir- akhir ini. Tak ku sangka orang semenyebalkan dia bisa nangis juga
rupanya!
Aihhh… kenapa aku harus pusing memikirkan
dia? Padahal masalahku saja aku belum dapat mengatasinya. Ahh iya, aku hampir
lupa jika besok merupakan hari pertamaku sebagai guru privat Jazzy. Aku tidak
boleh terlambat!
Aku segera menuju kasur dan mencoba
memejamkan mata untuk terlelap. Semoga besok berjalan lancar!
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar