Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 19 - 24

PART 19
“Hmmm… aku lihat ada pasangan baru nich malam ini!” aku menghampiri Auris dan Nicky yang saat itu tengah berduaan di taman belakang restaurant. “Kalian tidak ingin berbagi kebahagiaan ini padaku?”
“Ohh… My Cary! Akhirnya aku mendapatkan kakakmu! Ini juga berkat bantuanmu, My Cary!” Nicky mulai memelukku.
“Lepaskan pelukanmu! Ingat, sekarang itu kau adalah kekasih kakakku! Jaga sikapmu!” sergahku seraya melepaskan pelukan Nicky.
“Kau pikir aku akan cemburu melihat Nick memelukmu? Ckckck… kau lucu, Caris! Aku tidak mungkin marah padamu karena bagaimana pun juga kalian telah bersahabat jauh sebelum aku menjadi kekasih Nicky.”
“Kau sangat bijaksana, Auris!” tiba- tiba Justin datang dengan sebuah gitar acoustic dalam dekapannya. “Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanyanya.
“Of course, Man!” ucap Nicky.
“With my pleasure, Justin!” Auris menimpali.
Laki- laki ini lagi…! Huft! Aku mendengus di dalam hati.
Justin... umphhh... bisakah kau nyanyikan sebuah lagumu? Ayolah... Justin,,, aku ingin sekali mendengar kau bernyanyi secara langsung di hadapanku!” pinta Auris.
“Boleh juga tuch! Aku juga setuju.” Nicky menimpali. Sementara aku hanya bisa diam.
Sesaat Justin melirik ke arahku. “Ok, lagu ini untuk kalian berdua yang baru saja menjadi pasangan kekasih,” jawab Justin yang kemudian mulai memetik senar gitarnya.
“Aa... a.. a...” Justin mulai menyanyikan salah satu lagunya yang berjudul Favorite Girl, Auris dan Nicky juga ikut menyanyikannya. “I always knew you were the best
the coolest girl I know
...”
Aku hanya diam mematung. Aku bingung harus berbuat apa karena aku sama sekali tidak hafal lirik lagu itu walaupun aku tau arti dari setiap lirik yang dinyanyikan Justin.
“You take my breath away... with everything you say, I just wanna be with you... My Baby... My Baby...” kali ini Justin melirik ke arahku. Segera ku alihkan pandanganku agar aku tidak menatapnya. “My miss don’t play no games,,, treat you no other way... than you deserve cause you’re the girl of my dreams.”
Ku lihat Auris dan Nicky khusyuk mengikuti Justin bernyanyi. Arghhh... benar- benar membosankan. Kemudian aku memilih masuk ke dalam restaurant menemui oma dan yang lain. Dari pada aku hanya berdiam diri saja melihat keasyikan mereka bertiga yang tidak mengindahkan keberadaanku.
*****

Aku merebahkan badanku di atas sofa yang terletak di ruang tengah. Hari ini benar- benar hari melelahkan dan menyenangkan buatku. Melelahkan karena adanya perlombaan yang dibuat oleh oma, dan menyenangkan karena Nicky berhasil menyatakan persaannya pada Auris.
“Hey... aku dengar hari ini ada siaran langsung pertandingan NBA antara L.A Lakers melawan Boston Celtics!” ucap Nicky.
“Benarkah? Kapan dan di stasiun mana pertandingan itu akan disiarkan?” tanyaku antusias.
“Di sport light. Pertandingan akan mulai disiarkan dini hari nanti!” Nicky memberikan info. “Mau bertaruh denganku?” tantang Nicky.
“Boleh. Bertaruh apa?” celetuk Justin yang baru memasuki ruang tengah dan langsung duduk di sampingku.
“Bertaruh tentang juara pertandingan dini malam nanti. Aku yakin Boston Celtics akan memenangkan pertandingan itu!” jawab Nicky dengan yakinnya.
“Heyyy... kau jangan terlalu percaya diri dulu! Lakers pasti akan menang! Pahlawanku tidak akan pernah tinggal diam untuk mencetak point demi Lakers!” aku menyikut lengan Nicky.
“Kali ini aku sependapat dengan, Caris! Kobe it’s a great player.” Justin menimpali. Aku tersenyum ke arahnya karena kali ini dia sependapat denganku.
Cukup lama aku, Justin, Nicky, Kenny, dan Scoot menunggu pertandingan itu disiarkan langsung di televisi. Tepat pukul 00.15 AM siaran pertandingan itu pun dimulai. Aku dan yang lainnya yang sedari tadi menunggu tayangan itu, menyimak jalannya pertandingan dengan khusyuk.
“Guys, aku terlalu lelah karena kegiatan hari ini. Aku rasa aku butuh istirahat.!” Scoot beranjak dari sofa.
“Scoot benar! Aku juga akan istirahat. Good night, Guys!” tambah Kenny.
Kemudian Kenny dan Scoot menaiki tangga menuju lantai tiga menuju kamar mereka masing- masing.
Hemmphhh... sekarang hanya tinggal aku, Justin, dan Nicky.
Lalu ku lihat Kobe dengan cekatannya menembus pertahanan lawan dan melakukan tembakan three point!
“Yeee...!!!” aku bersorak karena Kobe berhasil menambah point dan tanpa aku sadari aku mengenggam tangan Justin. Yaaa... aku pikir saat itu aku dan Justin sepaham untuk mendukung LA. Lakers. “Sor...ry!” lanjutku setelah menyadari hal itu. Lalu aku melepaskan tanganku yang saat itu mengenggam tangan Justin.
“No prob, My Baby!” respon justin tersenyum sembari menatap ke arahku.
Aku benar- benar malu akan kejadian itu. Arghhh... bodohnya diriku kenapa harus menggenggam tangan Justin.
“Nick, kau lihat style permainan Kobe sangat ba... gus, kan?” kalimatku sempat terpotong ketika menengok ke arah Nick yang saat itu tengah tertidur pulas. “Yahhh... nich anak malah tidur! Nick, wake up!!!” aku membangunkan Nicky.
“Owhhh... ma... maaf! Aku ketiduran ya? Sampai di mana pertandingannya? Skornya sudah berapa?” tanya Nicky yang masih linglung.
“Aku rasa kau butuh istirahat. Lihatlah, wajahmu begitu lesu. Istirahatlah! Masalah pertandingan ini ku rasa besok pasti akan ada siaran ulang!” suruh Justin yang disertai anggukan oleh Nicky.
Kemudian Nicky berjalan meninggalkanku dan Justin di ruang tengah. Tapi ini tidak menjadi masalah bagiku. Demi mendukung Kobe, aku rela begadang.
Pertandingan berlangsung sangat alot. Point antara kedua kubu saling berkejaran. Hingga akhirnya...
“YES... YUHUUUU... Lakers WIN!!!” seruku dan lagi- lagi tanpa sadar menggenggam tangan Justin.
“Yeah... Lakers is the best!” Justin pun meluapkan kegembiraannya saat melihat kemenangan Lakers.
Malam ini begitu menyenangkan karena tim favoritku berhasil memenangkan pertandingan. Sedangkan Nicky besok harus membayar kekalahan tim favoritnya. Ahhh... senangnya diriku!!!
Senyum selalu melekat di raut wajahku saat aku berjalan menuju kamar.
“My Baby...” Justin memanggilku ketika aku telah sampai di ambang pintu kamarku. “Thanks untuk hari ini.” Lanjutnya.
Ucapannya membuatku mengerutkan kening. “Thanks? For what?”
“Thanks to everything! Hari ini sungguh menyenangkan karena menghabiskan waktu denganmu.” Justin tersenyum ke arahku dan berbalik badan melangkah meninggalkanku yang masih berdiri di ambang pintu. Tak lama ia membalikkan badannya lagi, “My Baby, good night! Nice dream, ok!”
Hahhh... laki- laki itu benar- benar aneh. Aku hanya tersenyum kecut dan melangkah masuk ke dalam kamar.
*****

PART 20
“Jazzy... kita harus pulang. Kau tau kan jika aku mempunyai banyak pekerjaan yang harus secepatnya ku selesaikan?” Justin tampak membujuk Jazzy yang enggan pulang.
Sayup- sayup ku dengar percakapan antara Justin dan Jazzy yang saat itu berada di ruang tengah depan kamarku. Ku langkahkan kakiku untuk mengintip mereka berdua dari balik pintu kamar.
“Tapi Booo... aku masih ingin di sini bersama Princess. Jika aku pulang pasti aku tidak akan bertemu lagi dengan Princess!” rengek Jazzy.
“Siapa bilang kau tidak akan bertemu lagi dengan your princess? Jika ada waktu nanti aku pasti akan mengantarmu untuk bertemu dengannya.” Justin masih berusaha meyakinkan Jazzy.
“Benarkah? Kau tidak membohongiku?” pertanyaan Jazzy dijawab anggukan oleh Justin. “Baiklah, aku akan pulang.” Lirih Jazzy.
Justin menggendong Jazzy untuk turun ke lantai dasar.
‘Syukurlah jika makhluk satu itu hari ini akan pergi dari rumah ini! Tapi, sedih juga jika aku harus berpisah dari Jazzy yang menggemaskan.’ Aku berbicara dalam hati.
Lima menit kemudian...
Aku telah merapikan diri dan segera menemui keluarga Bieber yang saat itu akan berpamitan di lantai bawah.
“Princess...!!!” Jazzy berlari ke arahku ketika aku berjalan menuruni tangga. Aku pun segera membawa Jazzy ke dalam pelukanku. “Aku akan pulang hari ini. Kita masih bisa bertemu lagi, kan?” tanyanya lugu.
“Of course, My little angel! Kita bisa bertemu kapan saja jika ada waktu luang. Kau tidak perlu sedih, suatu saat aku pasti akan mengunjungimu!” aku meyakinkan Jazzy yang saat itu mulai berkaca- kaca.
“Jazzy... kita harus pergi! Kau dengar sendiri kan jika Carista nanti akan mengunjungimu.” Mrs. Pattie mengambil Jazzy dari pelukanku. “Mrs. Laurent, aku sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih karena telah diijinkan menginap di rumahmu ini! Maaf jika kedatangan ku dan semuanya merepotkan keluargamu!” Mrs. Pattie memeluk oma masih dengan Jazzy dalam dekapannya.
“Pattie... aku senang karena kedatanganmu dan lainnya bisa menemani kedua cucuku yang sedang berlibur di sini. Kedua anakmu juga sangat menyenangkan!” oma mengelus pipi Jazzy.
Kemudian secara bergiliran Mrs. Pattie, Justin, Jazzy, Kenny, Carin, dan Scooter menjabat tangan oma, papa, Auris, Aku, Nicky, Mrs. Jack, dan Mrs. Mitchie.
“Justin, aku pasti merindukanmu!” Auris memeluk Justin.
 “Me too, Auris! Thanks untuk dua hari kemarin. Aku harap kau selalu mensupportku, ok!” ucap Justin. Auris hanya mengangguk yang masih berada di dalam pelukannya. Selanjutnya Justin mendekati Nicky.
“Kau masih mempunyai hutang padaku! Semalam tim favoritmu kalah. Suatu hari nanti aku pasti menagihnya karena kau kalah dalam bertaruh!” perkataan Justin dibalas pelukan hangat oleh Nicky.
Kini pandangan Justin beralih. Ia melangkah menghampiriku yang berdiri di samping Nicky.
“Sekali lagi terima kasih!” tanpa basa- basi Justin langsung memelukku. “Aku harap kau tidak akan merindukanku, My Baby!” Justin berbisik di sekitar telingaku.
“I hope so! Semoga saja aku tidak akan bertemu dengan makhluk menyebalkan sepertimu lagi!” aku balik berbisik dan langsung melepaskan pelukan Justin.
Setelah selesai berpamitan keluarga Bieber pun segera memasuki mobil dan pergi meninggalkan pekarangan rumah oma.
Senang sekali tidak serumah dengan orang semenyebalkan seperti Justin, tetapi sedih juga sich harus berpisah dari Jazzy.
*****

Saat makan siang, semua anggota keluargaku berkumpul di ruang makan. Tidak biasanya papa ikut makan siang dengan kami karena biasanya beliau selalu saja sibuk di kantor.
“Nanti sore aku akan kembali ke Texas karena dua hari lagi aku akan kembali ke Indonesia.” Nicky membuka pembicaraan setelah acara makan siang itu selesai.
“Secepat inikah kau meninggalkanku?” tanya Auris yang mulai berkaca- kaca.
“Auris, kita masih bisa bertemu di sekolah saat ajaran baru nanti.” Nicky meyakinkan.
“Kau ini selalu saja berlebihan. Nick tidak akan pergi selamanya kok. Tenanglah! Bulan depan kau sudah bisa bertemu dengannya lagi saat ajaran baru!” aku menimpali yang membuat oma dan papa mengangguk membenarkan perkataanku.
Auris masih saja diam dan tak mengubris perkataan ku dan Nicky.
Iya dechhh tau, namanya juga baru merasakan kembali indahnya cinta. Aku paham sekali perasaan Auris yang sangat takut kehilangan orang yang dicintainya. Setelah Aldo, mantan pacar semasa SMPnya pergi meninggalkannya karena cinta yang lain. Hahhh... cinta memang membuat hidup orang rumit!!!
*****

Dua hari sejak kepergian Nicky dan keluarga Bieber, ku isi hari- hariku dengan bermain basket di lapangan sebelah rumah, membantu oma di rose garden, dan mengilingi kota Atlanta bersama Mr. Jack.
Pagi ini aku memilih untuk lari pagi bersama Auris mengitari sekitar taman kota yang letaknya tak jauh dari rumah oma. Beberapa menit saat aku dan Auris beristirahat di bangku taman, BB milik Auris bergetar menandakan panggilan masuk.
“Hallo, Dad!” Auris membuka pembicaraan ketika tau yang menelepon adalah papa. “Aku dan Caris sedang duduk santai di taman. Memangnya ada apa, Dad?” aku menyimak pembicaraan Auris dan papa. “Benarkah siang ini kita akan pergi ke Kanada?” Auris tampak senang ketika papa menyebut kota KANADA. “Ok, Dad! Kita akan segera pulang!” Auris menutup pembicaraannya dengan papa. “Kau tau, papa dan oma akan membawa kita berlibur ke Kanada. Lebih tepatnya ke Stratford- Ontario!” ujar Auris sambil mengguncang- guncangkan tubuhku.
“Bisakah kau bersikap sewajarnya saja? Kita hanya akan pergi ke Kanada beberapa hari saja.”
“Kau salah! Kita akan menghabiskan sisa liburan kita di sana. Dan yang paling menggembirakan adalah kita akan pergi ke tempat kelahiran Justin Bieber.”
“Terserah kau sajalah! Bosan selalu mendengar tentang Bieber darimu!” aku beranjak melangkah pergi meninggalkan Auris yang masih duduk di bangku taman.
“Heyyy… kau mau ke mana? Wait me, Sist!!!” Auris berlari mengejar langkahku.
*****

PART 21
Siang harinya aku sekeluarga telah siap untuk berangkat menuju Kanada. Selama di perjalanan aku hanya terjaga dan melihat pemandangan di luar pesawat yang hanya berupa gumpalan- gumpalan awan. Sementara Auris sedang terlelap dalam alam mimpinya.
Perjalanan menuju Kanada memakan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di bandara aku sekeluarga menuju rumah oma dengan mengendarai taxi.
“Aku sangat merindukan tempat ini!” gumam oma ketika kami telah sampai di pekarangan sebuah rumah minimalis bewarna coklat muda. “Rumah ini begitu banyak menyimpan kenangan antara aku dan Jamie.”
Jamie Tyler Hawkins adalah nama mendiang opaku dan Auris. Beliau telah lama meninggal dunia ketika kami belum terlahir di dunia ini akibat penyakit radang paru- paru yang di deritanya.
Aku lihat terdapat kerinduan yang mendalam dari wajah oma terhadap opa. Pasti oma sangat menyayangi opa.
“Laurent? Bukankah kau Laurent Tyler Hawkins?” sapa seorang wanita yang tak lagi muda.
“Diana… long time no see!” tampaknya oma mengenal baik wanita paruh baya tersebut, terbukti oma langsung memeluk wanita itu.
“Aku tak menyangka kau akan mengunjungi rumah ini lagi. Aku sangat merindukanmu!” ucap wanita itu yang ternyata bernama Diana.
“Aku juga sangat merindukanmu. Oh ya, kenalkan ini adalah kedua cucuku. Mereka berdua merupakan putri Bryan.” Oma memperkenalkan aku dan Auris ke Mrs. Diana.
“Hello, Mrs. Diana! Nice to meet you!” sahutku dan Auris bersamaan. Kemudian secara bergantian aku dan Auris menjabat tangan oma Diana.
“Hello, Mrs. Diana!” sapa papa yang baru saja muncul dengan dua buah koper di kedua tangannya.
“Hy, Bryan! Lihatlah, kedua putrimu begitu cantik.” Mrs. Diana tampak memujiku dan Auris. Aku dan Auris hanya bisa tersenyum.
“Caris…, Auris… Mrs. Diana ini adalah ibu kandung Pattie.” Papa memperkenalkan Mrs. Diana lebih jelas kepada aku dan Auris.
“Ja… jadi Mrs. Diana ini adalah nenek dari Justin Bieber?” Mrs. Diana hanya mengangguk menjawab pertanyaan Auris.
Jadi Mrs. Diana adalah ibu kandung Mrs. Pattie yang secara langsung berarti beliau juga merupakan nenek dari seorang justin Bieber? Hemphhh… pantas saja Auris begitu antusias diajak menghabiskan sisa liburan di Kanada.
Sisa liburanku kurang tiga minggu lagi. Selama itu aku sekeluarga akan menghabiskan waktu di Kanada, lebih tepatnya di Stratford. Selain karena papa ada urusan bisnis di kota itu, oma juga ingin memperkenalkan kota asalnya kepada kami berdua.
*****
“Kota ini sangat indah. Aku betah tinggal di sini!” Auris berdecak kagum disaat mengelilingi kota Stratford bersamaku dengan mengendarai swift hitam milik oma.
“Kau memuji kota ini bukan karena kota ini kota kelahiran si Bieber, kan?” tanyaku memastikan, masih menatap lurus ke depan dan fokus mengemudi.
“Ya jelas tidak. Kau bisa lihat sendiri kota ini benar- benar indah. Pemandangannya juga... “Auris tidak meneruskan kalimatnya. “Caris... STOP!!!” pinta Auris yang membuatku mengerem mobil secara mendadak. “Aku ingin membeli topi NY bewarna merah itu!” tukasnya menunjuk ke arah sebuah toko yang menjual barang yang dimaksud.
“Kau selalu saja mengacaukan mood ku. Tidak bisa! Kita harus pulang sekarang juga!” kemudian aku kembali menancap gas mobil.
Tanpa diduga Auris malah berusaha merebut kemudi agar mobil yang kami kendarai dapat berhenti sesuai keinginannya. Dengan cekatan aku pun berusaha mempertahankan kemudi. Sampai akhirnya... BRAKKK! Mobil yang ku kemudikan terpanting ke tepi jalan hingga menabrak pembatas jalan.
Dapatku rasakan betapa sakitnya ketika kepalaku membentur kemudi mobil. Seketika itu pula aku langsung tak sadarkan diri. Auris yang melihat kondisiku panik dan langsung mencari bantuan.
*****

Perlahan- lahan ku membuka mataku yang masih terasa berat. Ku amati sekitarku. “Dimana ini?” ucapku lemah dengan perban di bagian kepala.
“Caris! Syukurlah, akhirnya kau siuman juga!” ujar Auris yang sedari tadi menjagaku.
Tak lama seorang laki- laki mengenakan jas putih masuk ke dalam ruangan itu diikuti papa dan oma yang berjalan di belakangnya.
“Kau sudah sadar rupanya! Syukurlah lukamu tidak begitu parah!” oma langsung memeluk tubuhku yang masih lemah tak berdaya di atas kasur Rumah Sakit.
Setelah itu laki- laki berjas putih yang merupakan dokter yang menanganiku memeriksa keadaanku. “Kondisimu berangsur membaik!” ujarnya.
*****

Hari ini merupakan hari kepulanganku setelah sehari dirawat di Rumah Sakit. Aku bersyukur bisa cepat ke luar dari Rumah Sakit karena menjadi seorang pasien merupakan hal yang membosankan bagiku. Yeah, selama dirawat di rumah sakit aku hanya berdiam diri di atas kasur tanpa melakukan aktivitas apapun selain makan dan minum obat.
“Ini semua salahku, Dad! Seharusnya aku tidak berusaha merebut kemudi itu,” Auris menjelaskan dihadapan papa tentang penyebab insiden kecelakaan dua hari lalu.
“Ini kesalahan kalian berdua! Dan aku rasa kalian tau apa yang harus kalian perbuat!” hemphhh... tampaknya papa sedikit kesal dengan ulah kami berdua. “Kalian harus bertanggung jawab atas rusaknya mobil itu!” lanjut papa.
“Bryan, dengarkan aku! Tidak seharusnya kau menghukum mereka seperti ini! Ibu bisa mengganti biaya kerusakan itu!” oma mencoba membela kami.
“Don’t, Mom! Aku tau betul siapa anak- anakku. Aku tidak ingin mereka tumbuh menjadi anak yang tidak bertanggung jawab akan kesalahan yang telah mereka buat.” Papa masih kukuh akan keputusannya. “Dan aku harap kalian tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun untuk masalah ini!” selesai berkata demikian papa masuk ke dalam ruang kerjanya meninggalkan aku, Auris, dan oma yang masih duduk di ruang tamu.
*****

“Bagaimana, Sir? Berapa banyak uang yang harus ku kumpulkan untuk memperbaiki kerusakan mobil ini?” tanyaku kepada salah satu montir di sebuah bengkel.
“Kurang lebih 1.000 dollar untuk mengganti biaya kerusakan bamper dan mengecet ulang!” jawab montir itu.
Aku dan Auris tertegun mendengar jumlah yang cukup fantastis itu. Bayangkan saja, 1.000 dollar... itu  bukan jumlah yang sedikit bagiku dan Auris. Anak seusiaku mana mungkin bisa memperoleh uang begitu banyak dalam kurun waktu yang singkat. Padahal sisa liburanku hanya tinggal kurang lebih tiga minggu lagi.
*****

PART 22
1.000 dollar... dari mana uang sebanyak itu? Aku berceloteh sendiri dalam hati sembari berjalan mengitari taman komplek dan menikmati suasana sore hari Stratford. Langkahku terhenti ketika melihat seorang pria tua tengah kerepotan mengambil barang belanjaan yang berantakan di pinggir jalan. Mmm... ku rasa pria yang tak lagi muda itu membutuhkan bantuan.
“Can I helping something to you, Sir?” tanyaku dan segera membantu mengumpulkan beberapa buah- buahan yang terjatuh dari dalam kantong belanja pria itu.
“Thanks a lot! What’s your name?” pria tua itu bertanya siapa namaku setelah semua barang belanjaannya telah selesai ku masukkan ke dalam kantong belanjanya.
“My name is Caris, Sir!” ku balas jabatan tangan pria itu. “Bolehkah aku membantu membawa kantong belanja itu sampai ke rumahmu?” aku menawarkan bantuan yang disambut baik oleh pria tua itu.
“Oh ya, namaku Bruce Dale!” sambung pria tua itu yang ternyata bernama Bruce.
“Owhh... nice to meet you, Mr. Bruce!” aku masih terus berjalan mengikuti langkah Mr. Bruce menuju kediamannya.
“Akhirnya sampai juga di rumahku! Ayo, masuk, Caris!” aku terperanga ketika mengetahui letak kediaman Mr. Bruce yang tepat berada di depan rumah oma.
“Akhirnya kau datang juga! Lihatlah siapa yang datang!” seorang wanita sebaya Mr. Bruce menyambut kedatangannya.
Begitu masuk ke dalam, Mr. Bruce sangat senang melihat siapa yang tengah berada di ruang tamu. Aku tertegun melihat orang- orang yang berada di ruang tamu Mr. Bruce.
“Hy, Grandpa! Miss you!” ujar pria muda yang wajahnya tak asing lagi bagiku sembari merentangkan kedua lengannya untuk memeluk Mr. Bruce.
“Bukankah kau Carista?” pertanyaan wanita paruh baya yang ternyata adalah Mrs. Diana menghentikan acara temu kangen antar Mr. Bruce dan pria yang taka sing lagi bagiku.
“Kau kenal dengan Carista? Maaf, aku lupa memperkenalkannya! Gadis inilah yang membantuku saat barang belanjaanku jatuh di tepi jalan.” ujar Mr. Bruce.
“Tentu saja aku mengenalinya. Carista merupakan salah satu cucu kembar Laurent,” ungkap Mrs. Diana.
“Laurent teman lama kita? Benarkah saat ini dia ada di Kanada?” pertanyaan Mr. Bruce dijawab dengan anggukan oleh Mrs. Diana.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya pria muda yang tadi memeluk Mr. Bruce.
“Just… kau mengenalinya?” tanya Mr. Bruce.
“Saat di Atlanta aku sekeluarga telah bertemu dengan keluarga Mrs. Laurent. Bahkan Mrs. Laurent mengundang kami untuk menginap di rumahnya!” sahut Mrs Pattie.
Yeaa… orang- orang yang berada di ruang tamu Mr. Bruce itu adalah Justin beserta ibunya.
“Bruce dan Diana Dale adalah kedua orang tuaku, Caris!” secara formal Mrs. Pattie memperkenalkan kedua orang tuanya kepadaku.
Ja… jadi… Mr. Bruce adalah kakek Justin Bieber? Arghhh… kenapa aku masih tetap saja tak lepas dari dunia si Bieber?
“Justin… sebaiknya kau temani Caris terlebih dahulu di sini! Nenek dan kakek akan mempersiapkan makan malam untukmu!” Mrs. Diana mengambil kantong belanjaan yang tadi sempat ku bawakan untuk Mr. Bruce.
“Baiklah, jika begitu aku akan pergi ke kamar dulu untuk merapikan kamar dan beberapa barang.” Mrs. Pattie membawa beberapa koper miliknya dan milik Justin ke dalam kamar yang terletak di lantai atas.
Justin mengajakku ke pekarangan depan rumah di mana di sana terdapat sebuah ayunan yang tergantung pada sebuah pohon yang besar.
“Tampaknya harapanmu agar tidak bertemu denganku lagi musnah karena pada kenyataannya saat ini kita bertemu lagi. Fiuhhh… ternyata dunia ini benar- benar sempit ya!” aku menatap heran ke arah Justin yang saat itu tengah duduk di ayunan.
“Aku harus pulang karena hari mulai menjelang petang!” ku langkahkan kakiku untuk meninggalkan Justin, tapi lagi- lagi Justin menarik tanganku. Aku benar- benar benci moment- moment seperti ini. Dengan terpaksa ku balikkan tubuhku ke arah Justin.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, My Baby! Apa yang sebenarnya terjadi denganmu hingga keningmu diperban seperti ini?” Justin mendekat ke arahku, mencoba menyentuh tempelan perban yang membalut lukaku.
“Auwww… kau menyentuh lukaku, Bieb!” secara reflex aku memegangi tangan Justin yang tak sengaja menyentuh bagian di sekitar keningku yang memar.
“Ma… maaf, My Baby! Aku tak bermaksud menyakitimu!” Justin masih enggan menyingkirkan tangannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan keningku. “Tell me why?” tanyanya sekali lagi.
“Ini hanya luka kecil dan aku rasa kau tak perlu mencemaskanku seperti ini, Bieb!” kulepaskan tangan Justin dan segera pergi meninggalkannya.
“Hey… aku kan hanya penasaran dengan lukamu itu!!!” teriak Justin tetapi tak kuhiraukan.
*****

1.000 dollar untuk mengganti biaya kerusakan bamper dan mengecet ulang… 1.000 dollar… ucapan montir tadi siang masih terekam jelas dalam ingatanku. Ya… aku harus mengumpulkan uang 1.000 dollar untuk memperbaiki swift hitam milik oma. Aihhh… tapi dari mana aku bisa mengumpulkannya dalam kurun waktu yang sangat singkat? Caris… kau tak boleh menyerah dengan keadaan! Kerja… ya… salah satu cara agar mendapatkan uang hanya dengan mencari pekerjaan. Tapi aku harus melamar pekerjaan di mana? Pertanyaan tiap pertanyaan mulai muncul di dalam benakku.
Berjam- jam aku memikirkan jawaban untuk menjawab semua pertanyaan dalam otakku, tetapi aku tidak menemukan satupun jawabannya.
“Arghhhh… benar- benar menyebalkan!” umpatku tanpa sadar membanting bola basket spaldings milikku ke arah tembok.
Lalu ku pilih untuk berjalan ke arah balkon kamar. Dari balkon kamarku aku bisa melihat jelas aktivitas penghuni kamar rumah depan yang tak lain adalah rumah Mr. dan Mrs. Dale.
Dari dalam kamar rumah depan tampak Justin tengah duduk di atas kasurnya dengan memetik senar gitarnya. Tampaknya dia sedang menyanyikan salah satu lagunya. Aku tidak mendengar pasti lagu apa yang dinyayikan Justin karena jendela kamar Justin tidak terbuka.
Selang beberapa menit, kulihat Justin menunduk dan berhenti memetik senar gitarnya. Apa yang terjadi padanya? Tangan kanannya tampak memegangi keningnya. Dapat kulihat jelas jika malam itu Justin sedang menangis. Karena sesekali dia menyeka air matanya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Justin Bieber menangis? Pasti dia sedang ada masalah. Tapi, apa urusanku? Tak sepantasnya aku pusing memikirkan masalahnya. Saat ini aku sudah cukup pusing menghadapi masalahku sendiri.
Kupusatkan lagi pandanganku ke arah kamar Justin dan Justin sudah tidak ada lagi di atas kasurnya. Aku rasa saat itu dia pasti sedang ke kamar mandi agar orang lain tak mengetahui jika dia baru saja menangis. Justin… Justin… kau bisa saja merahasiakan hal itu kepada semua orang! Tapi sayangnya aku mengetahui jika kau sedang menangis barusan.
*****

PART 23
Sinar matahari mulai masuk melalui celah jendela kamarku. Kicauan suara burung pun terdengar dari arah jendela yang bertengger di atas dahan pohon. Kubuka mataku perlahan dan segera bangkit dari tidurku.
“Selamat pagi, Dunia!” ucapku sembari membuka jendela kamar dan membiarkan sinar mentari menyinari kamarku. “Hari ini aku harus mendapatkan pekerjaan!” lanjutku bersemangat.
Tanpa berpikir panjang lagi aku segera membersihkan diriku ke kamar mandi dan segera merapikan penampilanku.
Lima menit aku telah rapi dan segera menemui keluargaku di ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, aku menatap heran ke arah dua buah koper yang berada di sudut ruang makan.
“Kau akan pergi lagi meninggalkan kami bertiga?” tanyaku pada papa dan mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Auris.
“Caris… hari ini aku dan Auris akan kembali ke Indonesia. Dua hari lagi kakakmu ada seleksi olimpiade matematika se- Nasional, makanya hari ini dia harus balik ke Indonesia. Kebetulan besok aku juga ada urusan bisnis mendadak di Bandung.” Jelas papa.
Spontan aku sedikit terkejut mendengar Auris akan pulang ke Indonesia. “Lalu, bagaimana denganku?”
“Tenang saja, Cupcake! Nanti Mr. Jake akan mengantarmu sampai bandara dan aku telah memesan tiket saat kepulanganmu. Begitu sampai di Jakarta, pak Duta akan menjemputmu!” aku terdiam menanggapi ucapan papa.
Kalau sudah begini, yaaa… mau bagaimana lagi? Aku tau bisnis sangat penting bagi papa dan olimpiade itu juga sangat penting bagi Auris. Sementara aku? Aku harus tinggal di Kanada menghabiskan sisa liburanku untuk mengganti semua kerusakan pada mobil oma. haduhhh… malang nian nasibku!!
“Jaga dirimu baik- baik! Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku, ok!” pesan papa padaku. Aku hanya mengangguk pelan.
“Aku janji di sana aku juga akan berusaha untuk membantumu mencari uang! Begitu aku mendapatkan uangnya, aku akan segera mentransfer ke rekeningmu! kau tidak perlu khawatir!” kini giliran Auris yang memberikan pesan padaku.
Auris dan papa berangkat menuju bandara dengan mengendarai taxi yang dipesan oleh oma. Sebelum keberangkatan mereka berdua, keluarga Mr. Dale juga menghampiri papa dan Auris untuk mengucapkan salam perpisahan.
*****

Seperginya papa dan Auris, kuhabiskan pagi ini dengan menonton televisi di ruang tengah. Saat itu oma sedang pergi ke supermarket terdekat bersama Mrs. Diana dan Mrs. Pattie. Sesekali ku baca Koran dan iseng- iseng mencari halaman yang berisi lowongan pekerjaan. Ku telesuri satu- persatu nama perusahaan yang membutuhan pekerja, lalu kulingkari dengan pena bewarna merah perusahaan mana yang sedang membutuhkan pekerja dengan criteria yang mendukung pada diriku.
Tok… tok… tok… terdengar suara orang mengetuk pintu rumah. Dengan malas ku bangkit dari sofa dan membuka pintu rumah.
“Princess!!!” seru Jazzy yang langsung berhambur memelukku. Padahal saat itu dia sedang berada dalam gendongan Justin. “Kenapa kau tidak mencariku? Apakah kau tidak rindu denganku?” tanyanya polos.
“Tentu saja aku merindukanmu, My little angel! Hanya saja aku tidak tau jika kau juga berada di Kanada bersama Justin,” jelasku seraya menyentuh hidung Jazzy lembut menggunakan hidungku (bisa dibayangin sendiri kan seperti apa?).
“Apa yang terjadi dengan keningmu? Kau terluka!” Jazzy mengamati luka bekas kecelakaan beberapa hari yang lalu.
“Umphhh… hanya luka kecil saja dan tidak parah!” jawabku tenang.
“Apa kau akan membiarkan aku berdiri di ambang pintu rumahmu hingga Mrs. Laurent selesai berbelanja dengan nenek dan ibuku?” celetuk Justin yang saat itu tak dihiraukan keberadaannya.
“Masuklah!!!” aku membawa Jazzy dan Justin ke ruang tengah. “My little angel, aku rasa aku punya sesuatu untukmu! Come, follow me!” aku pun membawa Jazzy ke dapur dan meninggalkan Justin seorang diri di ruang tengah. “This is it! It’s for you!” ujarku sembari mengeluarkan sekotak ice cream walls double dutch.
“Yummi…! Ini pasti sangat lezat!” respons Jazzy senang.
“Apa ini? Benarkah kau sedang mencari pekerjaan?” tanya Justin tiba- tiba yang telah menyusul langkahku menuju dapur.
“Dari mana kau mendapatkan surat kabar itu?”
“Kau sendiri yang menaruhnya di atas meja. Benarkah kau sedang mencari pekerjaan?” tanya Justin sekali lagi.
“Ng… tentu saja tidak. Aku hanya iseng saja melingkari beberapa perusahaan itu.” Jawabku asal.
“Princess… kau dengar itu! Itu acara televisi favoritku!” seru Jazzy yang kemudian berlari menuju ruang tengah, meninggalkan aku dan Justin.
“Jangan berbohong padaku!” Justin memegang tanganku kuat agar aku tak menyusul langkah Jazzy menuju ruang tengah.
“Hey… aku rasa acara favorite Jazzy itu sangat seru. Ayo kita menonton acara itu bersama- sama!” ku coba mengalihkan topic pembicaraan.
“My Baby, stop mengalihkan pembicaraan untuk tidak menjawab pertanyaanku!” Justin sedikit meninggikan suaranya. “Aku tau saat ini kau sedang ada masalah, kan?”
“Ini bukan urusanmu, Mr. Bieb! Jika memang aku sedang dirundung masalah, aku rasa kau tidak perlu mengetahuinya karena kau bukan siapa- siapaku! Kenapa kau selalu saja ingin tau dan mencampuri kehidupanku? Bisakah sehari saja kau tidak menjadi orang…”
Belum sempat aku meneruskan kalimatku, Justin telah memotongnya. “Apa? Kau akan mengatakan jika aku itu adalah orang menyebalkan dalam hidupmu? Aku hanya ingin menjadi temanmu. Kau tidak tau My Baby, seberapa tulusnya diriku terhadapmu! Dan aku rasa sampai kapanpun kau tidak akan pernah mengetahuinya!” Justin melepaskan tanganku sedikit kasar. Dengan cepat dia berjalan meninggalkanku dan menghampiri Jazzy di ruang tengah. “Cupcake, kita harus pulang sekarang!” Justin menggendong Jazzy.
“Tapi Boo… aku kan masih ingin berlama- lama dengan Princess!” lirih Jazzy.
“Jazzy… saat ini kakek seorang diri berada di rumah. Dan kita harus membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah!” tanpa melihat ke arahku, Justin langsung membawa Jazzy begitu saja ke luar dari rumahku.
Justin benar- benar sakit hati dengan perkataanku. Benarkah perkatannku barusan sangat kasar sehingga menyinggung perasaan Justin? Aku rasa aku mulai bersikap keterlaluan terhadap Justin.
*****

PART 24
Malam harinya kuputuskan untuk menyambangi kediaman keluarga Dale. Eitsss… jangan salah dulu, aku ke sana bukan ingin meminta maaf terhadap Justin melainkan  memenuhi undangan makan malam keluarga Dale.
Sesampainya di sana, seluruh anggota keluarga Dale tengah berkumpul mengelilingi meja makan. Hanya Justin yang tidak berkumpul. Kuposisikan dudukku tepat di sebelah Jazzy. Tak lama Mrs. Pattie memanggil justin untuk turut makan malam bersama kami semua. Tetapi, sesampainya di ruang makan, raut wajah Justin berubah saat melihatku.
“Aku merasa masih kenyang! Maaf aku tidak ikut makan malam bersama kalian!” ujarnya getir dan langsung berbalik meninggalkan kami semua.
Aku tau, pasti ini gara- gara kejadian tadi pagi. God… haruskah aku meminta maaf padanya???
Setelah acara makan malam, aku membantu Mrs. Pattie untuk mencuci beberapa piring. Sementara Mr. dan Mrs. Dale bersama oma tengah mengobrol santai sembari bernostalgia di ruang tengah dekat perapian.
“Saat ini aku sedang mencari seseorang untuk menjadi guru privat sekaligus yang dapat menjaga Jazzy. Mmm… Caris, apa kau bersedia menjadi orang tersebut? Aku pikir akhir- akhir ini Jazzy sangat dekat sekali denganmu.” Mrs. Pattie menawarkan sebuah pekerjaan padaku. “Kau tenang saja, aku akan menggajimu 100 dollar per hari! Bagaimana?” tanya Mrs. Pattie menunggu keputusanku.
Aku masih menimbang- nimbang tawaran itu dan akhirnya membuatku menganggukkan kepala menandakan aku menerima tawaran Mrs. Pattie.
“Kau bisa bekerja mulai besok! Dan besok kau akan menerima gaji pertamu!” hatiku sangat senang ketika mendapatkan tawaran kerja ini. Menjadi guru privat sekaligus menjaga Jazzy? Umphhh… aku rasa bukan masalah besar bagiku.
Selang setelah aku merapikan dan membersihkan semuanya, kulirik Justin berjalan menuruni tangga menuju dapur. Saat itu Mrs. Pattie sedang mengantarkan teh ke ruang tengah.
“Rupanya harus menunggu perutmu keroncongan untuk mengisinya?” tanyaku pada Justin yang saat itu hanya melenggang dengan angkuhnya di depanku. “Kau marah padaku?” tanyaku memastikan.
Justin tak mengindahkan pertanyaanku. Dia masih sibuk memotong buah apel menjadi beberapa bagian. “Aku sedang berbicara denganmu, Mr. Bieb!” ucapku menekankan kalimatku.
Justin menatap dingin ke arahku, “Kau sedang bicara padaku?” setelah mengucapkan itu dia kembali menatap buah apelnya. “Untuk apa aku marah padamu? Bukankah aku bukan siapa- siapamu? Jadi tak ada gunanya aku marah denganmu!” lanjutnya dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Hingga akhirnya… “Ouch… shit!” umpatnya ketika jarinya teriris oleh pisau sehingga darah mengucur deras dari jari telunjuknya.
“Are you ok?” aku memastikan keadaanya. Sayangnya dia tak mengindahkan pertanyaanku. Yang dilakukannya hanyalah melenggang pergi menuju kamarnya di lantai dua. “Benar- benar pria menyebalkan!” desisku kesal.
Pandanganku tertuju pada sebuah kotak P3K yang terletak di sudut dapur. Melihat kotak itu, aku jadi memikirkan Justin yang baru saja tergores jarinya. Ku ambil beberapa helai kapas, alcohol, dan sedikit perban. Aku hanya terheran- heran, kenapa aku mengambil semua benda itu? Benarkah aku berniat untuk mengobati luka Justin? Lagian apa perduliku dengan Justin! Justin bukan anak kecil lagi yang harus diingatkan untuk mengobati disaat ia terluka. Kemudian ku taruh kembali barang- barang tersebut ke dalam kotak.
Aihhh… Caris… perbuatanmu benar- benar tak berperikemanusiaan! Setega itukah dirimu tidak mengobati seseorang hanya karena dia begitu menyebalkan untukmu?
Aku menarik nafas panjang dan kembali mengambil obat- obatan itu. “Baiklah, sekali ini saja aku berbaik hati padanya!” kucoba meringankan langkahku untuk berjalan menghampiri kamar Justin.
“Grandma menaruh kotak P3K dimana sich?” omel Justin mengacak- acak kamarnya.
“Kau mencari ini?” tanyaku tiba- tiba yang muncul di belakang Justin sembari menunjukkan benda yang dicarinya. Kuhampiri Justin dan segera mengamit jarinya yang tergores pisau. Kubalurkan tetesan alcohol di atas kapas ke luka gores itu, Justin hanya menyipitkan sebelah matanya untuk menahan perih. Setelah ku bersihkan dengan alcohol, ku tetesi obat merah, dan segera kubalut dengan perban. “Ini kulakukan untuk membayar kebaikanmu yang sebelumnya kau lakukan untukku! Dan ku harap dengan ini semuanya impas!” ucapku datar dan segera pergi meninggalkan Justin.
“Arghhh… cewe itu benar- benar membuatku bingung!”
*****

“Ou… ouuuu… oh…” sayup- sayup kudengar alunan suara diiringi dengan petikan gitar. “I never thought it’d be easy, cause we both so distant now,,,” kudapati Justin tengah bernyanyi tepat di samping jendela kamarnya sembari menatap lurus ke arah langit. “So it’s up to you! And it’s up to me! That we meet in the middle on our way, back down to earth!” dapat kurasakan sebuah emosi dari setiap lirik lagu yang penuh penekanan dari bibir Justin. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? “Down to earth… down to earh… on our way back down to earth!” Justin masih menatap lurus ke arah langit. “And mommy you were always somewhere… Daddy I live… out of town.” Kudengar pada bagian ini suara Justin mulai bergetar. “So tell me how cold I ever be normal somehow,” suara Justin semakin jelas bergetar. “You tell me this is for the best, So tell me why am I in tears? So far away… a… and now I ju… just need you here!” Justin menghentikan petikan gitarnya. Kulihat bulir- bulir air mata yang tadi masih menggenang di bawah kelopak matanya sekarang tumpah ruah. Ia tak mampu lagi menahan air matanya yang saat ini mengalir di pipinya. Ia menunduk, menenggelamkan wajahnya dan bertumpu pada siku kakinya.
Aku terus memperhatikan Justin dari balik gorden kamarku hingga ia beranjak dan memutuskan untuk menutup jendelanya. Kini benakku dipenuhi beberapa pertanyaan dengan tingkah Justin yang menurutku aneh akhir- akhir ini. Tak ku sangka orang semenyebalkan dia bisa nangis juga rupanya!
Aihhh… kenapa aku harus pusing memikirkan dia? Padahal masalahku saja aku belum dapat mengatasinya. Ahh iya, aku hampir lupa jika besok merupakan hari pertamaku sebagai guru privat Jazzy. Aku tidak boleh terlambat!
Aku segera menuju kasur dan mencoba memejamkan mata untuk terlelap. Semoga besok berjalan lancar!
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar