Tittle :
“From The Rain I Shelter You”
Cast :
Justin Drew Bieber a.k.a Him Self
Lily Collins a.k.a Annabeth Gale Parker
Logan Lerman a.k.a Luke Parker
CHAPTER 1
Toronto, Ontario
Deraian air
hujan dari langit memaksaku untuk tetap berdiam diri di sebuah bangunan tua
yang menjadi tempat wisata di kota Toronto. Baiklah, sejenak tak ada salahnya
mengalah pada hujan. Berdiam diri beberapa menit di dalam Casti Casa Loma tak
ada salahnya. Jarum jam di pergelangan tanganku masih menunjukkan 02.00 A.M. kurang
dua jam lagi untukku menemui keluargaku. Yeah, hari ini aku sengaja membuat
janji dengan dad-mom dan Luke untuk makan bersama di sebuah restoran yang
terbilang kerap keluarga kami kunjungi. Sudah tiga tahun lamanya aku
meninggalkan kota ini. Sejak kelulusanku dari senior high school, dad
mengirimku untuk melanjutkan sekolah di Oxford University. Hal pertama yang
kulakukan begitu sampai di kota ini adalah mengunjungi Kastil Casa Loma-kastil
yang dibangun oleh seorang suami yang begitu mencintai istrinya.
Suatu saat aku ingin memiliki suami yang
membuatkan sebuah kastil untukku. Ummm... maukah kau membangun sebuah kastil
untukku?
Apa yang kau harapkan dari pria yang hanya
hidup dengan satu ginjal sepertiku, huh?
Lagi. Aku
kembali mengingat perkataan pria itu. Pria yang selama ini kusukai. Pria yang
mungkin saja kini sudah hidup mapan dengan segala kelebihannya. Itulah yang
menjadi alsanku mengunjungi kastil ini. Tiga tahun yang lalu, aku selalu
memaksanya untuk mengikuti kemari. Ha, terdengar gila memang karena
keagresifanku yang selalu memaksanya untuk mengikuti kemauanku.
Oh ayolah Justin, aku hanya ingin kau
menemaniku ke dalam pesta sekolah itu. Salahkah?
Berhenti mengikutiku, Annabeth! Aku tak ada
waktu untuk pergi ke acara itu.
Justin Drew Bieber.
Akankahku bertemu denganmu lagi? Hah... sungguh miris diriku. Mengharapkan
sosok pria yang mungkin sampai detik ini tak akan pernah menerimaku. Berada di
kastil ini membuat memoriku akan Justin berputar bak sebuah role film dalam
sebuah bioskop.
----------------------------------------------------------
Author POV
Toronto, 3 Tahun yang Lalu...
Seorang
gadis dengan wajah lusuh dan panik, melebarkan langkahnya menuju sebuah gedung
olahraga. Deraian air hujan tak menyurutkan niat gadis itu untuk tetap berlari.
Gadis itu menerobos air hujan untuk tetap sampai ke gedung olahraga itu. suara
riuhan penonton dalam gedung olahraga itu membuat dirinya semakin panik. Hingga
akhirnya...
DUGHHH...
tubuhnya terjerembab ke tanah. Membuat permukaan kulit di lututnya tergeser
pada aspal jalan.
“Damn it!”
umpatnya sembari terus berusaha bangkit. Berusaha tetap berlari agar tidak
telat untuk pertandingan basket sekolahnya. Sayangnya semua usahanya sia-sia.
Kakinya sedikit terkilir hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya. “Oh ayolah,
kaki sialan! Bersahabatlah sedikit padaku. Hari ini penentuan tim basket untuk
masuk babak semifinal. Aku harus bertanding hari ini!” gerutu gadis itu. kesal
akan musibah yang dialami kakinya.
“Apa kau
sudah gila?” gadis yang masih mengumpat kesal itu mendongakkan kepalanya.
Dilihatnya seorang pemuda dengan sebuah payung hitam di tangannya. Pemuda yang,
well menurutnya sedikit tampan dengan aksen dingin pada wajahnya. “Lututmu
terluka. Apa berpengaruh jika kau terus mencelanya, huh?”
Lantas,
pemuda itu membantu memapah gadis itu menuju klinik sekolah. Tak membutuhkan
waktu yang lama untuk mengobati luka goresan pada lutut gadis itu.
“Mau kemana?
Luka dilututmu belum sembuh.” Mulut pemuda itu terbuka begitu melihat gadis
yang ditolongnya bersiap bangkit dari bangkar klinik.
“Luka ini
tak sebanding dengan pertandingan basket yang harus kulakukan.” Dengan kilat,
disabetnya tas ransel miliknya. “Dan oh, siapa namamu?” gadis itu berbalik
begitu berada di ambang pintu klinik.
“Justin.
Justin Bieber.”
“Well, nama
yang bagus, Dude! Terima kasih sudah menolongku! Dan...” gadis itu
menggantungkan kalimatnya. “Aku suka ekspresi itu. ekspresi dingin yang
maskulin.” Apakah itu sebuah pujian untuk ketampanan pemuda itu? “Aku Annabeth
Parker. Senang bertemu denganmu, Justin!” senyuman manis yang diberikan gadis
itu menghilang setelah dirinya kembali beranjak menuju gedung olahraga.
-------------------------------------------------------
Annabeth
berjalan seorang diri di koridor sekolah seusai latihan basket di lapangan
indoor sekolah. Senja mulai datang kala itu. Langkahnya mendadak berhenti
mendengar dentuman bola basket yang memantul indah. Gadis itu melihat sosok
pemuda yang kemarin ditemuinya. Bukankah itu Justin Barber? Desisnya. Sesaat
gadis itu mengamati permainan bola basket Justin. not bad! Beth menghampiri
Justin begitu melihat tubuh atletis itu lingkung dan hampir terjerembab ke
bawah.
“Kau
baik-baik saja?” Beth menyentuh lengan Justin. setidaknya itu bisa menopang
tubuh Justin. sayangnya pria itu tak menjawab.
Edward cidera parah dibagian kakinya. Mr.
Bones kebingungan mencari penggantinya. Setidaknya yang menggantikan Edward
harus memiliki kemampuan yang sama. Jika tidak, tim basket sekolah kategori
male tak akan berhasil hingga babak final.
Annabeth
mengingat kalimat Sidney saat jam istirahat tadi. Sesaat matanya tertuju pada
Justin. Iapun melontarkan ajakan agar Justin mau bergabung dengan tim basket
sekolah.
“Tidak. Aku
tak punya waktu untuk itu.” Justin terus menolak walaupun Annabeth terus
merengek untuk menerima tawarannya. “Berhenti mengikuti, Beth!”
“Aku akan
terus mengikutimu sampai kau meneriwa tawaran itu.” balas Annabeth keras
kepala. Gadis itu terus mengikuti langkah kaki Justin. Tak dihiraukannya jarak
yang dilaluinya hanya dengan jalan kaki.
Langkahnya
terhenti tepat disebuah rumah sederhana dengan taman yang tertata rapi di
depannya.
“Aku
membutuhkan uang itu, Patt! Berikan padaku!” mata Annabeth mengerjap terkejut
mendengar suara barito yang super maksimal itu.
“Jangan,
Jack! Uang itu untuk membayar uang sekolah Justin dan Jazmyn.” Balas suara
halus yang sedikit sesenggukan itu.
Selanjutnya,
terdengar suara pecah belah berhamburan ke lantai. Bersamaan dengan itu, tampak
seorang pria membuka asal pintu rumah.
“Jangan
pernah menyakiti mom lagi, ASHOLE!!!” seru Justin melihat sosok pria bertubuh
kekar dihadapannya. Detik berikutnya, kepalan tangannya mendarat sempurna pada
wajah pria itu. ughhh... itu sedikit sakit. tampak tetesan darah dari sudut
bibir pria itu. Tak dihiraukannya pria yang mengerang kesakitan itu. “Mom, kau
tak apa?” Justin meregup tubuh wanita yang masih tampak muda itu. sementara
Annabeth, membantu seorang gadis cilik yang terduduk terisak disudut ruangan
itu.
[[ SKIP ]]
“Bagaimana
keadaan mereka?” Beth seketika beranjak dari ruang tunggu.
Justin
mencengkram pergelangan Annabeth kuat. Dan menarik gadis itu untuk keluar dari
gedung rumah sakit. “Kau harus pulang, Beth!” diberhentikan sebuah taxi di
depan gedung.
“Tap-tapi
aku ingin-”
“Mereka
keluargaku. Bukan menjadi urusanmu. Sir, tolong antar kemana alamat rumah nona
ini!” Justin menutup pintu taxi. Membiarkan Annabeth penasaran akan keadaan Mom
dan Adiknya.
-----------------------------------------------------------
“Sid, kau
kenal pemuda itu?” Annabeth menunjuk Justin yang tengah menikmati makan
siangnya di sudut kantin sekolah.
“Ah ya,
siapa yang tak kenal dengan Justin Bieber. Malaikat tampan yang sebeku es.
Banyak gadis yang mendekatinya, sayangnya pria itu begitu menutup dirinya.”
Balas Sidney sembari menatap Justin. ahya, Justin memang terlihat sedikit
tertutup.
-------------------------------------------------------------
Cause everything starts from something
But something would be nothing
Nothing if your heart didn’t dream with me
Annabeth
kembali menghentikan langkahnya. Aneh. Jam sekolah telah usai dua jam yang
lalu. Bagaimana mungkin masih ada anak manusia di ruang musik? Bulu halus di
lengannya sempat merinding. Mengingingat ini mulai memasuki senja. Dan dirinya,
baru berlatih basket seorang diri di dalam lapangan indoor. Dengan takut, gadis
itu mendekatkan kakinya ke ruang musik.
Where would I be, if you didn’t believe
Believe…
Mata coklat
mahoninya terbuka pada kebukaan maksimal mendapati sosok pria yang sedang duduk
di depan sebuah piano klasik.
Justin
Barber. Gadis ini kembali menemukan Justin dari sisi lain. Sebegitukah
tertutupnya pria ini hingga orang lain tak menyadari betapa besar talenta yang
dimilikinya. Terlihat Justin memejamkan matanya mencoba menghayati setiap
alunan bait yang keluar dari mulutnya. Dan disaat Justin mengakhiri lagunya...
“Woaaa...lagu
yang indah, Barber!” tepukan tangan Annabeth sedikit mengejutkan Justin.
“Sejak kapan
kau di sini?”
“Sejak kau
menyanyikan lagu itu.” jawab Annabeth tersenyum. “Apa itu lagumu?”
“Bukan
urusanmu.”
“Hah, selalu
saja! hey Barber, adakah orang lain yang mengetahui semua bakatmu ini? Kenapa
kau tak menunjukkannya?” Justin masih terdiam enggan menjawab pertanyaan
Annabeth.
“Berhenti
mengurusi hidupku, Stupid Girl!” sahutnya dan segera berlalu meninggalkan
Annabeth di dalam ruang musik.
“Apa tadi
yang dia katakan? Stupid Girl? Good... terdengar tak bersahabat untukku!”
tambah Annabeth berbicara seorang diri.
-----------------------------------------------------------
Annabeth
berjalan tergesa-gesa. Hampir keseluruhan bajunya basah kuyup akibat hujan yang
turun di kota Toronto sore itu. seperti biasa, gadis itu baru saja menyelesaikan
latihan basketnya. Langkahnya tak akan tergesa seperti sekarang jika saja
dadnya tak menelepon dan memintanya untuk pergi ke restaurant yang kerap
keluarga mereka kunjungi. Sore ini, dadnya ingin makan bersama keluarga Parker
karena Luke, kakak sulungnya baru saja tiba dari London.
“Oh dimana
aku meletakkannya? Crapp... kenapa harus lupa akan plester luka yang kubawa?”
karena begitu fokus, gadis itu tak menyadari jika sebuah tembok kokoh tengah
berada di hadapannya. “Awww...” pekiknya begitu keningnya memar akibat hantaman
tembok itu. “Kerja yang bagus, Beth! Sekarang kau menciptakan luka memar yang
baru.” Annabeth merutuk pada dirinya sendiri.
“Kurasa kau
harus menyediakan plester luka lebih banyak lagi, Stupid Girl! Karena semua
luka di tubuhmu itu begitu ekstrim untuk gadis sepertimu.” Justin, entah
darimana pria ini muncul. Diberikannya sekotak plester luka pada Annabeth.
“Hey
Barber... terima kasih!” seru Annabeth seiring dengan punggung Justin yang
menghilang dari hadapannya.
Selesai
semua luka memar di kening dan lengannya tertutupi, Annabeth menemui keluarganya.
Selama di restaurant, dad, mom, maupun kakaknya tak henti menanyakan penyebab
luka memarnya. Segala rentetan itu berhenti tepat setelah seorang pelayan
mengantarkan menu pesanan keluarga Parker.
“Justin? apa
yang kau lakukan di sini?” kedua alis Annabeth bertaut melihat sosk Justin yang
mengenakan setelan kemeja rapi.
“Hy
Annabeth!” Justin tersenyum tulus. Well, senyuman yang sudah sepantasnya
pelayan di rumah makan itu berikan pada pelanggannya. “Aku kerja part time di
sini.”
“Oh rupanya
kau teman Annabeth. Bagaimana jika kau bergabung bersama kami, Buddy?” ajak
Luke ramah.
“Ah terima
kasih, tuan! Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Permisi!” Justin
beranjak setelah memungkukkan separuh badannya untuk memberikan rasa hormat
pada pelanggannya itu.
Sementara
Annabeth, masih tertegun menatap punggung Justin yang semakin menjauh. Ia tak
pernah menyangka jika seorang Justin Barber bekerja keras sejauh ini.
“Ekhem...
dad-mom, sepertinya ada yang begitu memperhatikan pemuda itu.” suara barito
Luke menampar lamunan Annabeth untuk kembali pada alam sadarnya. “Baby Girl,
kau menyukainya kan?”
Menyukainya?
Kata itu terlintas di benak Annabeth. Well, tentu saja gadis itu menyukai
kegigihan Justin selama ini. Ditambah tiap harinya gadis ini menemukan fakta
baru tentang pemuda itu. Tapi suka yang dimaksud belum menjurus kepada hal yang
dinamakan cinta.
---------------------------------------------------------
Seperti
biasa, menjelang semifinal pertandingan basket, Anabeth semakin giat berlatih.
Kali ini dia sengaja tak latihan di lapangan indoor. Langkahnya begitu
bersemangat menuju lapangan outdorr yang terletak di sudut sekolah.
“Membutuhkan
lawan yang tangguh, Barber?” ujar Annabeth yang langsung begitu saja merebut bola
basket di tangan Justin. didriblenya bola basket itu, dan HOPHHH... masuk
dengan sempurna ke dalam ring begitu Annabeth melakukan gerakan lay-up.
Awalnya Justin
hanya berdiam diri saja. enggan melawan dan mengikuti permainan Annabeth.
Sayangnya lontaran kata yang sedikit meremehan dari bibir mungil gadis itu,
membuatnya gemas dan berniat melawannya. Dengan gesit, Justin mulai merebut
bola itu dan menunjukkan kemampuannya.
Pertandingan
basket antar keduanya berlangsung seru. Akhirnya, permainan terpaksa harus
berakhir disaat Lengan mulus milik Annabeth harus kembali mengalami luka. Luka
yang ditimbulkan oleh sayata paku tajam yang berada pada tiang ring. Kali ini,
darah mengucur lebih banyak. Dengan cekatan, Justin mengambil handuk miliknya,
dan menyapukan handuk yang sudah dibaluri air dingin itu untuk membekukan sel
darah merah. Berharap trombosit pada diri Annabeth dapat menutup luka dengan
cepat. Beth hanya bisa meringis mendapat perlakuan dari Justin.
“Seorang
pemain basket dapat dikatakan handal jika bisa menjaga dirinya dari luka
ataupun cidera pada tubuhnya. Kau belum masuk ke dalam kategori itu, Stupid
Girl!”
“Kenapa kau
terus saja memanggilku dengan sebutan Stupid Girl, Barber?”
“Karena kau
tak bisa menjaga dirimu sendiri. Dan tolong ralat, namaku Bieber. Bukan Barber.
Kau akan mengusik ketenangan mendiang dadku jika kau terus memanggilku dengan
sebutan itu.” Annabeth telah membuka mulutnya. Bermaksud membalas ucapan
Justin. sayangnya ia harus kembali mengatupkan bibirnya disaat I-phone milik
Justin berdering. “Ah ya Mom, ada apa?” wajah Justin terlihat sedikit serius.
“Baiklah, aku akan segera pulang.” Sesaat, nafasnya memburu. Sedikit terlihat
lebih panik. “Sampai dirumah, bersihkan lukamu dengan alkohol. Dan jangan lupa
perban lukamu dengan kain perban!” selesai menasehati Annabeth, Justin segera
berlari meningglkannya.
Annabeth
penasaran akan apa yang terjadi pada Justin. sesuatu pasti sedang terjadi pada keluarganya.
Justin tak akan sepanik ini jika bukan menyangkut keluarganya, terlebih momnya.
----------------------------------------------------
Setelah
melewati antrian yang panjang, akhirnya Annabeth selesai menjalani pemeriksaan.
Setibanya dirumah, Luke langsung membawa adik semata wayangnya itu ke rumah
sakit. cemas akan luka baru pada tubuh adiknya.
“Kau tunggu
di sini! Aku akan menemui dokter.” Annabeth menurut saja. Tak berani membantah
perintah kakaknya.
Sesaat
pikirannya menerawang. Senyuman mengembang pada dirinya mengingat setiap
pertemuannya dengan Justin selalu saja bertepatan dengan dirinya yang mendapati
luka baru pada tubuhnya. Justin. pria itu benar-benar bagaikan sosok malaikat
penyelamat baginya. Entah hanya kebetulan atau apa, pria itu selalu muncul dan
mengobati lukanya setiap dirinya mengalami cidera. Dan itu... sungguh romantis
pikirnya.
“Jaga dirimu
baik-baik, Justin! jika terjadi sesuatu, segera hubungi diriku.” Kedua bola
mata coklat mahoni Annabeth menemukan sosok pria yang baru saja dipikirkannya.
Pria itu baru saja keluar dari ruang dokter yang terletak di sudut lorong rumah
sakit. pria itu sedikit pucat.
“Bar... eh
maksudku, Bieber!” serunya. Membuat Justin menolehkan kepala padanya. “Apa yang
terjadi? Kau terlihat sedikit pucat. Tidak... tidak... bukan sedikit. Tapi
memang pucat.”
“Aku harus
segera pulang, Beth!”
“Bagaimana
jika aku dan Luke mengantarmu? Bukankah aku tau jalan menuju rumahmu?”
“Tak perlu.
Aku tak langsung pulang ke rumah.” Selalu saja seperti itu. lagi-lagi Justin
meninggalkan Anabeth dengan segudang pertanyaan di benaknya.
----------------------------------------------------------
Annabeth
memutuskan mengunjungi rumah Justin setelah tak menemui pria itu tiga hari di
sekolah. Sebelumnya, gadis itu juga sempat mencari Justin di rumah makan tempat
Justin bekerja part-time. Sayangnya, petugas setempat mengatakan jika sudah dua
hari ini Justin tak masuk kerja. Pintu rumah Justin terbuka jauh sebelum Annabeth
mengetuknya. Sayup-sayup terdengar percakapan penghuni rumah itu.
“Mom...”
“Justin,
jawab pertanyaanku. Darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar
semua uang sekolah Jazzy dan semua hutang-hutang ayahmu?”
“Itu uang
hasil kerjaku, Mom. Apakah kau tak mempercayaiku? Dan ralat, dia bukan ayahku,
Mom! Ayahku sudah mati.”
“Kau bohong,
Justin! bagaimana mungkin kau mengumpulkan uang sebanyak itu hanya dalam satu
bulan? kau baru bekerja di rumah makan itu sebulan yang lalu, Justin.”
terdengar isak tangis dari suara seorang Pattie Mallete, ibunda Justin.
“Mom...
aku-”
“Lalu
mengapa Ginjalmu hanya tersisa satu? Ini buktinya!” Pattie menyodorkan secarik
kertas berisikan data-data mengenai hasil tes lab anaknya. “Tiga hari yang
lalu, saat kau tak sadarkan diri, mom membawamu ke rumah sakit untuk
memeriksakan kondisimu. Hingga akhirnya dokter mengatakan-” Pattie tak
meneruskan kalimatnya. Disekanya buliran air mata di pipinya. “Dokter
mengatakan jika kau hanya memiliki satu ginjal. Apa yang terjadi padamu,
Justin? jangan katakan padaku jika kau...” Pattie tak sanggup meneruskan
kalimatnya. Air matanya kini tak terbendung lagi.
“Maafkan
aku, Mom!” sekilas Annabeth melihat Justin merengkuh sang ibu dalam dekapannya.
“Ja-jadi benar
kau menjual ginjalmu?”
“Maafkan
aku, Mom! Aku tak ada pilihan lain.”
Degh. Kaki
Annabeth begitu lemas mendengar realita itu. sebegitu besar pengorbanan seorang
Justin pada keluarganya. Gadis ini benar-benar terharu sekarang. Bahkan dia tak
sadar jika kantong yang berisikan buah-buahan di dalamnya telah jatuh ke
lantai. Menimbulkan gedebum yang keras dan membuat si pemilik rumah sadar akan
kehadirannya.
“Kau?” okay,
Justin sedikit shock melihat sosok Annabeth. “Sejak kapan kau di sini? Dan apa
yang kau lakukan di rumahku?” Justin meringis begitu mendapatkan pukulan kecil
dari Momnya.
“Bersikap
baiklah jika seseorang mengunjungimu, Justin!” Pattie kembali menyeka sisa-sisa
air matanya. Dihampirinya Annabeth yang masih sibuk memunguti buah-buahan yang
berhamburan itu.
“Ng... maaf
jika aku mengganggu. Aku hanya ingin menjenguk Justin. sudah tiga hari ini dia
tak menunjukkan dirinya di sekolah.” Sedikit tergagap Annabeth melontarkan
kalimat itu.
Disaat ibu
Justin mempersilahkannya masuk ke dalam rumah, Annabeth malah menolaknya. Gadis
itu memutuskan untuk pergi dari kediaman keluarga Bieber itu. gadis itu
melupakan janjinya yang telah lebih dulu dibuat dengan Luke.
“Tampaknya
gadis itu menaruh perhatian khusus untukmu.” Lirik Pattie pada putra sulungnya.
“Dia hanya gadis
bodoh yang ceroboh dan membiarkan seluruh tubuhnya dipenuhi luka-luka memar,
Mom.”
“Aku
menyukai gadis itu. sepertinya dia membawa pengaruh baik untukmu.”
----------------------------------------------------------
Berkali-kali
Annabeth mendesah lesu. Sungguh tak menyangka jika Justin saat ini hanya hidup
dengan satu ginjal dalam tubuhnya. Apakah dia akan baik-baik saja? pertanyaan
itu terus saja berputar di pikirannya. Gadis itu sungguh mencemaskan Justin
sekarang.
“Arghh!”
langkahnya terhenti begitu mendengar erangan dari suara yang dikenalnya.
Langkahnya melebar melihat luka gesekan pada lutut Justin. dengan cekatan,
gadis itu merogoh sakunya dan mendapati sebuah plester luka di sana.
“Setidaknya
predikat bodoh dan ceroboh itu tak melekat padaku untuk hari ini.” Annabeth
memamerkan barisan gigi putihnya.
“Annabeth,
masalah kemarin itu semua-”
“Aku tau.
Aku janji tak akan menceritakan hal itu pada siapapun.” Annabeth mengacungkan
jari kelingkingnya ke hadapan Justin.
“Baiklah.
Aku pegang janjimu.”
“Annabeth!”
suara bass milik Mr. Bones sedikit mengejutkan mereka berdua. “Oh rupanya kau
telah mengenal pengganti Edward. Itu lebih baik.”
“Apa
maksudmu, Mr. Bones?” sepertinya ada yang tak beres. Dilihatnya sosok Sidney,
teman dekatnya muncul bersama Mr. Bones, pelatih tim basket sekolah.
“Aku
merekomendasikan Justin sebagai pengganti Edward, Beth. Kau tau bukan
pertandingan final sudah di depan mata. Beberapa hari yang lalu, aku sempat
melihatnya bermain basket. Permainannya bagus.” Terang Sidney.
Annabeth
menggeleng pelan. Tidak untuk saat ini. Justin tak boleh bermain basket. Pria
itu tak boleh kelelahan mengingat dirinya sekarang hanya hidup dengan satu
ginjal. “Ti-tidak. Permainannya masih di bawah Edward, Mr. Bones. Mungkin
Sidney hanya melihatnya sekilas. Tapi, aku tau permainannya. Dia-” ditatapnya
Justin. Annabeth menelan ludahnya sendiri melihat tatapan tajam Justin. “Dia
tak lebih baik dibandingkan denganku. Yeah, gerakan diffend dan semuanya dia
masih harus belajar.” Dusta Annabeth agar Mr. Bones mengurungkan niatnya untuk merekrut
Justin.
“Tapi aku
akan belajar dan berusaha agar tim basket sekolah dapat memenangkan
pertandingan. Kapan aku bisa bergabung untuk latihan bersama tim, Mr. Bones?”
tak diduga, ternyata Justin langsung menerima tawaran sang pelatih.
“Besok
sepulang sekolah, kami menunggumu di lapangan basket.” Justin hanya megiyakan.
Seperginya
pelatih dan Sidney, “Kau gila, Justin! bagaimana bisa kau melakukan itu
sementara dirimu-”
“Berhenti
mencemaskanku, Beth! Aku masih normal walaupun hanya mempunyai satu ginjal.
Akan kubuktikan itu saat pertandingan.” Justin tersenyum. Honestly, Annabeth
baru pertama ini melihat Justin tersenyum. Mendadak tubuh gadis itu membeku
menatap senyuman itu. itu semakin membuat Justin begitu menarik baginya. “Apa?”
senyuman itu hilang seiring dengan tatapan aneh Justin.
“Ng...
tidak. Senang melihatmu tersenyum seperti itu. kau tau, kau lebih terlihat
tampan jika tersenyum. Perbanyaklah tersenyum. Dengan begitu, kurasa julukan
malaikat berhati beku itu akan hilang padamu.”
“Apa?”
“Yeah,
malaikat berhati beku. Taukah kau?” Justin hanya menggeleng. Well, pria itu
bingung dengan penuturan Annabeth. “Hah, sudahlah lupakan saja." tangan
Annabeth mengibas di depannya. “Tapi senyumanmu sungguh sempurna, Justin.
sejujurnya itu semakin membuatku menyukaimu.”
“Ap-apa?”
kalimat terakhir Annabeth benar-benar membuat Justin terkejut.
“Yeah,
menyukaimu. Kau sering sekali membantuku, ada di saat aku membutuhkan plester
luka, entah itu disengaja atau tidak. Bagaimana mungkin aku tak menyukaimu,
Justin. ditambah lagi, perlahan aku mulai mengenal dan mengetahui hal
tentangmu. Tak dapat dipungkiri jika aku menyukaimu.” Benarkah Annabeth secepat
itu jatuh cinta pada Justin.
“Seharusnya
kau berpikir seribu kali sebelum mengucapkan kalimat itu, Beth! Apa yang kau
sukai dari pria dengan satu ginjal sepertiku? I’m nothing.”
“Kata suka
itu relatif, Justin. untuk saat ini mungkin saja rasa sukaku padamu hanya
sebatas kagum. Belum mengarah pada cinta. Tapi di masa depan, tak dipungkiri
jika rasa sukaku akan berkembang untukmu.” Apa? Gadis ini berceloteh akan
perasaannya seakan tak ada beban. Taukah dia jika Justin merasa sedikit beku
mendengar penuturan isi hatinya?
“Perkataanmu
mulai tak masuk akal, Beth. Mana mungkin kau menyukai pria macam diriku.
Berhenti membicarakan hal itu. itu hanya kekaguman sesaatmu. Kau belum
mengenalku sepenuhnya. Jika kau tau siapa aku sebenarnya, mungkin saja kau akan
menarik kembali ucapanmu tadi.” Justin beranjak dari duduknya. Seperti biasa,
pria itu kembali meninggalkan Annabeth seorang diri di lapangan.
----------------------------------------------------------
“Hey,
sebenarnya kau akan mengajakku kemana, Beth?” Justin terus bertanya kesal
karena Annabeth tak kunjung menjawab. Sepulang latihan basket, Annabeth asal
menarik lengan Justin. “Untuk apa kau mengajakku ke tempat ini?” kepalanya
menoleh menghadap Annabeth. Kini mereka berdua telah berada di dalam sebuah
kafe berasitektur klasik. “Dengar, aku tak mempunyai uang yang cukup untuk-”
“Kali ini
aku yang membayar makananmu. Ayo!” potong Annabeth kelewat cepat. Annabeth
langsung memesan menu makanannya tanpa bertanya akan menu yang Justin inginkan.
Menit-menit
berikutnya, menu makanan yang dipesan datang. Seporsi salad buah dengan sedikit
mayonase, satu slice sadwich, dan segelas orange juice terpampang dihadapan
Justin. “Makanan apa ini?”
“Aku telah
memesankan semua makanan itu untukmu. Jadi, kau harus mengabiskan semua makanan
itu untukmu. Makanan itu sungguh sehat untuk kerja ekstra yang dilakukan
ginjalmu.” Annabeth mulai melahap fish chowder pesanannya. Sekilas, Justin
meneguk ludahnya melihat menu pesanan Annabeth. “Berhenti memperhatikan menu makananku,
Justin. mulai sekarang kau harus menjaga pola makanmu. Bukankah kau akan
menghadapi pertandingan minggu depan?”
----------------------------------------------------------
“Sedang
melamun, huh?” Luke Parker, anak sulung keluarga Parker menghampiri Annabeth
yang tengah berdiam diri di taman samping rumahnya. “Siapa yang sedang kau
pikirkan, Baby Girl?” Annabeth mendesah. Sesekali matanya terpejam. Tak pernah
Luke melihat adiknya serisau ini.
“Luke,
ingatkah dengan pria yang kita temui di restaurant minggu lalu?” Justin. yeah,
pasti pria yang dismaksud Annabeth adalah Justin. Luke mengangguk paham.
“Kurasa... aku-” oh ayolah Annabeth! Jangan buat kakakmu mati penasaran akan
kalimatmu. “Aku menyukainya.” Suara Annabeth terdengar semakin mengecil saat
mengutarakan kalimat terakhirnya.
“Whohoo...
ternyata Baby Girl-ku sudah mengenal apa
yang dinamakan cinta! Senang mendengarnya. Kurasa kau harus mengatakannya.”
“Aku sudah
mengatakannya.”
“Benarkah?
Lalu?”
“Nothing.” Annabeth kembali mendesah.
“Bukan itu masalahnya, Luke! Aku sama sekali tak memikirkan apa Justin juga
mempunyai perasaan yang sama padaku.”
“Lalu?”
“Kurasa kau
harus membantuku.” Setiap kalimat Annabeth malam ini sukses membuat Luke
bingung.
“Oh hell Annabeth! Bisakah kau tak membuatku
bingung dengan maksud perkataanmu? Katakan saja, apa yang kau butuhkan?”
“Luke, bantu
dia untuk menerima beasiswa di Julliard. Kumohon, hanya kau yang dapat membujuk
dad untuk membantunya sekolah di universitas itu. dia sungguh memiliki bakat
yang luar biasa, Luke!”
“Honestly Beth, kenapa kau seyakin ini?”
Annabeth
kembali membuka mulutnya. Kini bibirnya berceloteh tentang semua bakat Justin
yang pernah dilihatnya. Gadis ini memiliki keyakinan kuat jika suatu hari nanti
Justin akan menjadi seseorang yang hebat. Seseorang yang dielu-elukan orang di
dunia. Seseorang yang akan membawa kebahagiaan bagi keluarga kecilnya –Pattie
dan Jazzy. Luke hanya mendengarkan dengan seksama. Tak pernah pria ini melihat
Annabeth seantusias ini untuk membantu seseorang.
“Kumohon
Luke! Jangan biarkan dia menderita lagi. Pengorbanannya selama ini sudah melampaui
batas. Bebaskan dia dari cengkraman ayah tirinya!” mata Annabeth sedikit
berkaca-kaca. Dan Luke tak menyukai itu.
“Hey...
hey... stop it! Aku tak suka
melihatmu rapuh seperti ini. Baby Girl-ku
adalah gadis yang kuat.” Diregupnya tubuh mungil Annabeth ke dalam pelukannya.
“Secepatnya akan kubicarakan masalah ini dengan dad. Kurasa dad mempunyai rekan
di Julliard dibidang musik.”
“Terima
kasih, Luke!” Annabeth mempererat pelukannya. Semakin meneggelamkan wajahnya ke
dada bidang Luke. “Satu lagi. Kumohon jangan ceritakan padanya jika aku dibalik
semuanya. Aku tak ingin dia tau hal itu.”
“Bukankah
itu bagus jika dia tau semuanya? Dengan begitu Justin akan tau kalau kau telah
berjuang untuknya.”
Annabeth
menggeleng keras. “Itu sama sekali bukan diriku, Luke. Aku akan membuat Justin
menyukaiku dengan caraku sendiri.”
----------------------------------------------------------
... “Ugh...
selalu saja begitu! Bukankah lebih baik aku duduk manis di dalam kelas dan
mengerjakan semuanya? Kenapa hukumannya harus mengerjakan di luar kelas, huh?
Sungguh kuno!” Annabeth menggerutu seorang diri di depan loker miliknya. Aneh,
bukankah ini awal jam pelajaran dimulai. Kenapa gadis ini berada di luar kelas?
“Aku bisa mengerjakan soal-soal itu dalam hitungan menit. Akankah madam Levine
tak tau hal itu? huh!!!” Brukkk... pintu loker itu tertutup dengan kasarnya
akibat dorongan tangan Annabeth.
“Kenapa tak
masuk ke dalam kelas?” suara bass Justin mengejutkan Annabeth.
“Kau...
sukses membuatku terkejut! Dan kau sendiri, kenapa tak masuk kelas?”
“Aku? Mr.
Grim absen hari ini. Dia hanya memberi tugas. Kau harus lebih giat lagi memutar
ingatanmu tentang semua tugas sekolah yang harus kau kerjakan.” Justin mengacak
asal poni Annabeth yang awalnya tertata rapi. Langkah pria itu kembali melebar
meninggalkan Annabeth.
“Hey... mau
kemana?” tak ada respon dari Justin. “Aku ikut!!!” seru Annabeth menyusul
langkah Justin. tubuh gadis itu terus berjalan di belakang tubuh tegap Justin.
mendadak langkahnya melambat seiring dengan tempat yang akan dituju Justin.
“Masih ingin
mengikuti, Miss. Parker?” tanya Justin dengan satu sudut alis yang terangkat.
Tampak
Annabeth masih berpikir. Bagaimana tidak, jika tempat yang akan dikunjungi
Justin adalah perpustakaan. Ya,
sejak menginjakkan kaki di sekolah ini, entah setan apa yang merasuki gadis
itu, Annabeth sama sekali anti dengan yang namanya perpustakaan. Hanya tiga
kali... oh tidak, empat kali. Tidak... tidak... tepatnya lima kali gadis ini
menginjakkan kakinya di perpustakaan.
“Siapa takut.
Aku akan tetap mengikutimu, Barber!” kini malah Annabeth yang berjalan terlebih
dulu memasuki perpustakaan.
“Not Barber, but Bieber!”
“Wah, senang
melihatmu Annabeth! Sebuah kehormatan Miss. Parker mengunjungi perpustakaan.”
Sambut Madam Rose, penjaga perpustakaan.
“Kuanggap
itu sebagai pujian, Mam!” balas Annabeth
sembari mengerlingkan satu kelopak matanya.
[[ SKIP ]]
“Here we go!” Annabeth menyodorkan sebuah
kotak makanan berukuran sedang kehadapan Justin. saat itu, Justin tengah sibuk
membaca buku di sudut kantin sekolah. “Ini sebagai bayarannya karena tadi kau
telah menemaniku melewati hukuman kuno itu.” gadis itu kembali menyodorkan sebotol
air mineral kehadapan Justin.
Justin membuka
kotak makanan itu. “Salad?”
“Absolutely yes, Justin. bukankah kau
harus menjaga pola makanmu? Dalam waktu dekat ini, kurasa makanan dengan kadar
lemak dan kolesterol yang tinggi tak baik untukmu.”
“Tapi Beth,
aku sungguh-”
“A-a... kau
tak boleh menolaknya. Mulai detik ini, aku akan selalu membawakan salad
untukmu. Aku yang akan mengontrol pola makanmu selama tak ada mommu.”
“Memangnya
sejak kapan kau menjadi mom kedua untukku, huh?” terdengar nada sedikit kesal
dari suara Justin.
“Sejak saat
ini.” Balas Annabeth kelewat cepat. “Lekas habiskan makanan itu Justin! aku
akan pergi menghampiri Sidney.”
Gila! Justin
tak habis pikir, kenapa Annabeth melakukan sejauh ini untuknya. Gadis itu
sungguh berlebihan pikirnya.
----------------------------------------------------------
Sepulang
sekolah, Justin tak melihat wujud dari seorang Annabeth. Padahal, hari ini tim
basket sedang latihan. Annabeth benar-benar tak datang latihan hari ini. Hingga
waktu yang ditentukan untuk latihan bagi tim female usai, Annabeth masih tak terlihat di lapangan. Aneh,
biasanya gadis itu tak pernah absen dari latihan basket.
“Well done, Dane! Sekarang berikan bola
itu pada Justin. yeah, begitu yang
kumaksud. Lakukan three point,
Justin!” suara Mr. Bones tak pernah lelah membrikan arahan untuk tim basket
didikannya. “Justin!” serunya begitu melihat Justin terjatuh. “Kau baik-baik
saja?”
“Aku
baik-baik saja, Mr. Bones. Aku butuh waktu beberapa menit untuk menutup lukaku.”
Justin berjalan ke tepi lapangan. Sepanjang jalan, banyak gadis dari tim female yang menawarinya untuk mengobati
lukanya. Sayangnya pria ini sama sekali tak mengubrisnya. Dia malah memilih
duduk di samping lapangan seorang diri. Mencari plester luka yang kerap
dibawanya. Oh sial, dimana plester luka yang kerap dibawanya? Justin kembali
mengaduk-aduk isi tasnya. Holly shit...
persediaan plester luka miliknya benar-benar tidak ada.
Dipandangi
luka gesekan itu. luka gesekan ini mengingatkan pada... Annabeth Parker. Creepy! Pasti pikirannya sudah tak waras
sekarang. Kenapa tiba-tiba ia memikirkan gadis ini? Kenapa harus nama Annabeth
yang terlintas? Bukankah ini mengejutkan baginya? Memang saat ini gadis itu tak
datang latihan. Tapi bukan suatu alasan untuk memikirkannya kan?
[[ SKIP ]]
Latihan
telah selesai. Justin memilih pulang paling akhir. Diliriknya jam di
pergelangan tangannya. Oh, satu jam lagi waktunya untuk kerja part time. Sayup-sayup terdengar suara
seseorang di ujung lorong. Matanya menyipit begitu mengenali sosok itu.
Annabeth? Darimana saja dia hingga absen dari latihan basket?
“...
bukankah aku sudah menyelesaikan semua soal itu dengan baik? Lantas kenapa
wanita itu masih menyuruhku untuk menjelaskan satu persatu dihadapannya?
Sebegitu bodohkah aku dipikirannya? Urghhh!!!”
pandangan Annabeth masih terfokus ke bawah. Tak menyadari jika di sudut lorong
lain, Justin tengah berdiri 180 derajat dengannya. “Dan lihatlah, bukankah aku
memang bisa menyelesaikan semua soal-soal menyebalkan itu. soal-soal itu sama
saja dengan soal-soal saat elementary
scholl. Really have a bad day!”
Annabeth menghentakkan kaki kirinya. Gadis ini terlihat seperti anak kecil
sekarang. “Tidakkah peraturan hukuman seperti itu harus diubah? Holly shit, itu sungguh
sangat-sangat-sangat kuno!” kedua bola mata Annabeth masih terfokus pada lantai
koridor sekolah. Masih tak menyadari jika jaraknya dengan Justin kini semakin
dekat. “Gara-gara soal sialan itu aku jadi tak bisa mengikuti latihan. Tidak
taukah jika latihan ini begitu penting untuk-... AWWW!” seketika celotehan
Annabeth berganti dengan ringisan. Bagaimana tidak, gadis ini benar-benar tak
memperhatikan kehadiran Justin. hingga tubuhnya terpaksa menabrak tubuh Justin.
ditambah wajahya yang menatap pada pundak kanan Justin.
“Dasar
ceroboh!” cemoh Justin. “Mungkin saja keningmu akan kembali memar jika yang ada
dihadapanmu saat ini adalah tembok. Sampai kapan kau berhenti melukai dirimu sendiri,
huh?” Annabeth hanya mengerjap. Masih mencoba menstabilkan kekesalannya.
“Ba-baiklah...
baiklah. Aku minta maaf.” Ujar Beth dengan nada yang sedikit naik-turun.
Terlihat jelas mencoba mentabilkan emosinya. “Apakah latihan sudah berakhir?”
pandangan Justin menajam. Tidakkah Annabeth tau, senja telah tiba. Tentu saja
latihan telah berakhir. “Umm... ah ya, kurasa aku mengetahui jawabannya.”
Telapak tangannya terangkat. Menandakan jika dia paham dengan jawaban dari
tatapan aneh Justin. “Oh gosh... aku
harus menemui pelatih. Justin, aku pergi! Sampai bertemu esok!” hah, lagi-lagi
Annabeth melupakan sesuatu.
“Perhatikan
langkahmu, Beth!
----------------------------------------------------------
“Ayo Justin!
kami mendukungmu!” seruan para gadis yang memenuhi stadium tempat pertandingan
final basket berlangsung menggema. Annabeth hanya memutar bola matanya
sarkastis mendengar seruan yang berlebihan itu. hatinya cemas alih-alih
khawatir terjadi sesuatu buruk pada Justin. pandangannya begitu terfokus pada
pemuda bernomor pungung 6 yang tengah beraksi di tengah lapangan. Tak
dihiraukan pertandingan untuk tim female
yang sebentar lagi juga akan bertanding.
Bola mata
Annabeth melebar pada kebukaan sempurna begitu melihat tubuh Justin terhantam
keras pada lantai lapangan. Ya, Justin baru saja terjatuh. Gelengan kepala
Annabeth semakin keras melihat Justin tengah menyentuh bagian perutnya.
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ginjalnya?
“Mr. Bones,
kau harus membiarkan Justin keluar dari lapangan. Jika dibiarkan, ini akan
menyakitinya.” Annabeth menghampiri bagian base
camp tim male sekolahnya.
“Hey,
Justin, kau akan digantikan oleh Dave!” seru pelatih. Sayangnya Justin menolak.
Ia masih ingin meneruskan pertandingan.
Dengan sisa
tenaga yang dimilikinya, Justin berjuang untuk membawa kemenangan bagi tim
sekolahnya. Di menit-menit terakhir, Justin beberapa kali kembali terjatuh,
hingga di detik terakhir, iapun juga terjatuh. Ia terjatuh tepat setelah
melakukan tembakan three point.
Jatuhnya Justin membuat tim basket kategori male
sekolahnya memenangkan pertandingan. Annabeth segera menghampiri Justin.
memapahnya ke tepi lapangan.
“Dasar keras
kepala! Kenapa memilih melanjutkan pertandingan? Bagaimana jika terjadi sesuatu
dengan ginjalmu, huh?” gerutunya pada Justin.
“Tak perlu
cerewet, Beth! Sekarang antar aku ke bagian kesehatan!” lengan Justin tersampir
sempurna melingkari leher Annabeth.
“Hanya
dengan kata ‘minta tolong’, aku akan membawamu ke petugas kesehatan!”
“Ah,
baiklah. Annabeth, kumohon bawa aku ke petugas kesehatan. Bisakah kau?” selesai
Justin menuruti perkataannya, Annabeth lantas tersenyum dan kembali memapah
tubuh Justin. Sedikit terhuyung dan tertatih, gadis itu membawa Justin ke
petugas kesehatan. Sementara yang lain masih bersuka cita di tengah lapangan
atas kemenangan tim. Tubuh Justin langsung dibaringkan disebuah bangkar saat
sampai diruang kesehatan. “Tetaplah disini hingga pertandingan selesai, Justin.
Aku harus kembali ke lapangan.” Annabeth mengusap lembut punggung tangan
Justin. langkahnya terhenti begitu tangan Justin mencengkram kuat pergelangan
tangannya.
“Tunjukkan
pada semua permainan terbaikmu, Beth. Kau harus membawa kemenangan bagi timmu.
Lakukan semua itu untukku.” Samar memang, tapi Annabeth dapat mendefinisikan
jika Justin tengah tersenyum untuknya. Kepalanya mengangguk mantap mendengar
semua perkataan Justin. “Dan... perhatikan langkahmu, Beth! Pemain yang handal
tak akan membiarkan cidera pada tubuhnya.”
Lakukan
semuanya untukku.
Setiap
kalimat yang Justin katakan barusan, masih melekat jelas diingatan Annabeth.
Terang saja gadis itu tak akan melupakannya.
Pemain yang
handal tak akan membiarkan cidera pada tubuhnya.
----------------------------------------------------------
“Bisakah kau
menanyakan kesanggupanku akan mengikutimu apa tidak?” Justin membuka suaranya.
Kesal akan sikap Annabeth selalu tanpa ijin mengajaknya kemana gadis itu mau.
“Dan inilah tempat yang kumaksud!” kedua tangan Annabeth membentang seakan
sedang memperesentasikan sebuah produk baru pada customers. Gadis itu mengajak
Justin ke sebuah kastil yang berdiri kokoh di atas bukit.
“Untuk apa
kau membawaku kemari?”
“Tak ada.
Hanya ingin membawamu untuk menyegarkan pikiran. Apakah kau tak pernah tau
tempat ini sebelumnya?”
“Kau begitu
meremehkanku, Stupid Girl! Aku adalah penduduk asli Toronto. Terang saja aku
paham tentang Castil Casa Loma. Dulu mendiang ayahku kerap mengajakku kemari
bersama mom dan juga Jazzy.”
Annabeth
memang mengajak Justin menuju sebuah kastil megah yang diberi nama Casa Loma. Dalam
bahasa Spanyol, Casa Loma memiliki arti ‘rumah yang berada di atas bukit’.
Kastil megah ini dibangun pada tahun 1900-an oleh Sir Henry Pellatt, seorang
pengusaha perusahaan listrik di kota Toronto. Pengusaha ini membangun kastil
megah ini juga untuk memenuhi permintaan sang istri yang begitu mendambakan
sebuah kastil impian yang begitu megah dan indah.
“Hah, selalu
saja. oh ayolah Justin, ini bukan sekolah, jadi kau tak perlu memasuki ruangan
ini.” Telapak tangan Annabeth berusaha mendorong tubuh tegap Justin untuk
keluar dari ruang perpustakaan. Dari setiap ruangan yang ada dalam kastil,
perpustakaan-lah yang begitu menarik perhatian dan menjadi tempat favorit
Justin. tentu saja menarik perhatian. Bagaimana tidak, di dalam perpustakaan
itu, Justin akan menemukan 10.000 buku lebih yang begitu langka dan tidak
ditemukannya di perpustakaan sekolah.
“Sssttt...
berhenti, Beth! Sikapmu akan mengganggu pengunjung yang lain.” Justin
membalikkan tubuhnya. Kembali memasuki perpustakaan. “Lihatlah, buku-buku ini
tak ada di perpustakaan manapun.” Justin mulai mengamati satu persatu buku yang
tertata rapi di dalam sebuah lemari. “Nah ini dia!” tangan Justin terulur
mengambil satu buku dan bersiap membuka halaman pertama.
“Tunggu!
Jangan katakan jika kau akan membacanya.”
“Pintar. Aku
memang akan membacanya.”
“Apa?
Ti-tidak Justin. itu akan memakan waktu yang lama. Masih banyak ruangan yang
lebih bagus dibandingkan tempat ini.”
“Jika kau
tak ingin mati kebosanan di sini, kau pergi saja.” dengan santainya Justin
merapikan posisi duduknya. Bersiapkan kembali fokus pada buku yang sudah dalam
genggamannya.
“Kau itu...
hashhh... baiklah aku pergi!” dengan perasaan gondok, gadis itu melangkahkan
kakinya lebar-lebar ke luar dari perpustakaan kastil.
“Pastikan
kau tak terjatuh dan menabrak tembok di depanmu, Beth!” Pandangan Justis
sekilas menyipit, memandangi punggung Annabeth yang mulai menghilang. Aneh,
kenapa gadis itu begitu anti pada perpustakaan.
[[ SKIP
]]
Tak terasa
dua jam telah berlalu. Justin memilih mengakhiri aktivitas membacanya. Sudah 13
buku tebal ia rampungkan. Hah, tak ada salahnya jika dia meneruskan acara
membacanya dilain waktu. Pandangannya berpendar ke setiap sudut Kastil.
Berharap menemukan sosok gadis berambut coklat sebahu yang dicarinya. Hah,
gadis itu pasti tengah berkeliling mengitari seluruh sudut ruangan pada kastil.
Justin memilih mengakhiri pencariannya. Memutuskan menunggu Annabeth di flower
garden kastil ini yang terletak tepat di depan kastil.
“... apa aku
melakukannya dengan baik, Mam?” Justin langsung mengenali siapa pemilik suara
itu. gadis berambut coklat yang dicarinya, kini tengah bercengkrama dan tertawa
lebar dengan seorang wanita paruh baya di kebun bunga.
“Kau
melakukannya dengan baik, Beth! Semoga bunga mawar yang kau tanam akan berujung
pada seseorang yang kau cintai.”
“Ah, kuharap
juga begitu. Dan oh, itu Justin!” tangan Annabeth melambaik pada sosok Justin
yang tengah memperhatikannya dari radius 1 km dari tempatnya. “Justin, ini
madam Isabel, wanita yang merawat bunga-bunga di kebun ini.” Justin menjabat uluran
tangan madam Isabel dengan santun.
“Oh, inikah
pria yang akan menerima bunga mawar yang kau tanam barusan?” tebak Madam
Isabel. Membuat rona pada wajah Annabeth memerah.
“Honestly,
yeah aku menyukainya. Tapi-” ditatapnya Justin lamat-lamat. Sesaat bola matanya
menemukan sepasang bola mata karamel milik Justin. “... aku tak yakin apakah
dia yang akan menerima bunga mawar itu.” lanjutnya diikuti dengan sebuah
senyuman manis.
Teduh. Satu
kata yang mewakili perasaan Justin saat menemukan sepasang bola mata bewarna
kayu plum itu. tatapan itu menyiratkan akan sebuah ketulusan. Apakah Annabeth
sungguh-sungguh dengan perkataannya? Perkataan yang berkali-kali menyebutkan
jika gadis itu telah menyukai dirinya.
“Kau benar
gadis muda. Tak ada yang bisa menebak pria mana yang akan dikirimkan Tuhan
untukkmu. Tapi, tak ada salahnya berusaha. Kemarilah, panjatkan permohonanmu
agar pria ini yang akan menerima bunga mawar ini kelak. Orang-orang di sini
mempercayai jika siapapun yang menanam bunga mawar di kebun ini, dan dia melakukan
sebuah permohonan yang tulus, maka permohonannya akan didengar oleh Tuhan.”
“Benarkah?”
Annabeth terlihat antusias sekarang. Segera dilipatkanya kedua tangannya.
Bersimpuh tepat di depan tanah yang sudah ditanami benih bunga mawar olehnya.
Menggumamkan sebuah permohonan dengan mata terpejam.
“Semoga
Tuhan mendengar permohonan tulusmu, Young
lady!” sahut Madam Isabel bertepatan dengan kedua kelopak mata Annabeth
yang terbuka. “Ingat dengan baik lahan deret keberapa yang menjadi tempat
penanaman benih mawarmu, Beth! Aku harus kembali bekerja.” Madam Isabel
meninggalkan sepasang anak manusia itu setelah mendapatkan sebuah pelukan
hangat dari Annabeth.
“Stupid
Girl! Itu benar-benar tak masuk akal.” Gumam Justin sembari menatap sebuah
patung yang berdiri di tengah kebun bunga kastil.
“Biarkan
saja. Tak ada salahnya mencoba.” Annabeth menjulurkan lidahnya. “Justin...”
Annabeth menggumamkan nama Justin. Kini pendangannya mengikuti arah paandangan
Justin yang tengah menatap sebuah patung. Patung pahatan yang melukiskan wajah
si pemilik kastil ini, Sir Hnery Pellatt.
“Hmmm?”
gumam Justin masih menatap takjub akan patung pemilik kastil ini.
“Suatu saat aku ingin memiliki suami yang membuatkan
sebuah kastil untukku. Ummm... maukah kau membangun sebuah kastil untukku?” hebat. Pandangan Justin dengan cepat
langsung terarah pada Annabeth. Sekilas tatapan tak percaya menyelimuti
permukaan bola mata hazel pria itu. tak percaya akan apa yang baru saja
dikatakan Annabeth. Namun, pria ini cepat berusaha menetralkan ekspresi
wajahnya yang sedikit terkejut mendengar penuturan Annabeth. Lekas dialihkan
pandangannya dari Annabeth. Kembali mendapati patung Sir Henry sebagai
objeknya.
“Apa yang kau harapkan dari pria yang hanya
hidup dengan satu ginjal sepertiku, huh?” pandangan
Justin masih terpusat ke depan. Enggan menatap gadis di sampingnya.
Banyak Justin. Kepercayaan. Berharap kau akan
memberikan kepercayaan padaku agar kau terbuka padaku. Dengan begitu, aku akan
tau bagaimana cara agar kau merasa nyaman dengan keberadaanku. Hingga akhirnya,
kau mulai mempercayakan hatimu untukku. Annabeth
hanya tertunduk. Menggumamkan sederet kalimat tanpa Justin mendengarnya.
“Kusarankan,
lebih baik kau pikirkan baik-baik sebelum mengatakan menyukaiku. Kau tak pernah
menyukaiku, Beth. Kau hanya iba padaku. Kau iba dengan segala fakta dan masalah
yang membelit hidupku. Kau hanya iba padaku, Beth. Tak lebih.” Semua kalimat
Justin penuh penekanan.
----------------------------------------------------------
“Oh ayolah Justin, aku hanya ingin kau menemaniku
ke dalam pesta sekolah itu. Salahkah?” langkah
Annabeth semakin cepat seiring dengan langkah kaki Justin yang semakin melebar
menjauhinya. Gadis ini pantang menyerah walaupun Justin acuh padanya.
“Berhenti mengikutiku, Annabeth! Aku tak ada
waktu untuk pergi ke acara itu.” tubuh tegap
itu berbalik menatap Annabeth yang mengikutinya hingga sampai di depan pintu
tempat kerjanya. “Aku masih harus melanjutkan pekerjaanku. Sebaiknya kau pulang
dan mencari orang lain untuk menemanimu.”
“Tapi kan,
kau juga turut dalam kemenangan tim basket sekolah. Bagaimana mungkin kau tak
datang ke pesta itu?” rajuk Annabeth dengan tampang polosnya.
“Aku harus
bekerja, Beth! Pulanglah!” ucap Justin tegas. Tanpa berkata apapun, pria itu
kembali meninggalkan Annabeth seorang diri di depan pintu rumah makan tempatnya
bekerja.
“Fuihhh...
selalu saja begitu. Baiklah Annabeth, saatnya beraksi!” tapak kaki jenjang
Annabeth memasuki rumah makan tempat Justin bekerja. Gadis itu tidak untuk
mengikuti Justin, melainkan berbelok menuju ruangan sang manager. Dengan
santun, diketuknya pintu kayu bewarna coklat. Sesaat, gadis itu tengah duduk di
depan manager rumah makan sembari melontarkan negoisasi. Diakhir percakapan,
senyum simpul menghiasi wajah manis si anak bungsu dari keluarga Parker.
Menit
berikutnya, suara ketukan dari arah luar ruangan manager rumah makan terdengar.
“Maaf Mr.
Phill, ap-apa kau-” seorang pria berbola mata karamel setengah terkejut melihat
sosok Annabeth. “Ummm... maksusdku, apa kau ingin bertemu denganku?” lanjutnya
ragu-ragu.
“Ya, Justin.
sekarang juga, kau boleh meninggalkan pekerjaanmu. Besok, kembalilah bekerja.
Bukankah hari ini adalah upacara penyerahan juara terhadap tim basket
sekolahmu?” Mr. Phill, pria berambut blonde dengan gampangnya memberikan ijin
kepada Justin Bieber, yang notabene terbilang baru di rumah makan ini.
“Ta-tapi
Sir, aku-”
“Jangan
membuang waktu, Justin. Miss. Parker telah lama menunggumu. Lebih baik kau
pergi sekarang juga sebelum terlambat.” Merasa mengantongi restu dari manager
tempat Justin bekerja, Annabeth beranjak dan segera melingkarkan tangannya ke
lengan Justin. gadis itu menarik pria bermata hazel itu untuk keluar dari
ruangan manager selesai berpamitan dengan Mr. Phill.
Annabeth
memutuskan mengantar Justin pulang dengan menegendarai taxi. Selama perjalanan
menuju kediaman keluarga Bieber, Justin hanya diam sembari melempar
pandangannya ke luar jendela mobil. Tak dihiraukannya gadis yang tengah duduk
di sampingnya.
“Dua jam
lagi pesta kemenangan akan dimulai. Hah, pasti semua orang mengharapkan
kedatanganmu.” Annabeth membuka percakapan. Sayangnya, Justin masih diam. Tak
merespon perkataannya. Annabeth mendesah kecil. Menekan bibir mungilnya ke
dalam garis bibirnya. “Kau marah?”
Pertanyaan
Annabeth sukses membuat Justin menolehkan kepalanya. “Menurutmu?” kedua alis
Justin bertaut. Ekpresi dingin dan datar masih menyelimuti wajahnya.
“Ah,
baiklah... baiklah. Kurasa aku tau jawabannya.” Annabeth mengibaskan-ngibaskan
telapak tangannya dihadapan Justin. “Maaf jika terkesan memaksamu. Terpaksa
harus melakukan ini. Kau kan juga ikut andil dalam kemenangan tim basket
sekolah.”
“Tapi Beth,
aku harus bekerja. Memangnya pesta kemenangan itu akan mendatangkan uang dan
menghidupi keluargaku, huh?”
“Umm...masalah
itu, aku sudah memikirkannya. Percaya padaku, upahmu tak akan berkurang karena
hari ini kau ijin tak bekerja part time.”
Annabeth memberikan senyuman tulusnya. Dan senyuman itu sukses membuat Justin
tertegun sejenak. Senyuman itu sedikit memberikan keteduhan dalam hatinya.
“Justin...” suara lembut gadis si pemilik senyuman tulus itu menyadarkan
Justin. “Sudah sampai. Satu jam lagi aku akan menjemputmu. Tunjukkan penampilan
terbaikmu. Kurasa malam ini kau akan menjadi orang yang paling dicari di pesta
nanti.” Sesaat Annabet mengerlingkan kelopak matanya. Sedikit membuat Justin
terkejut dengan sikapnya. Tingkah Annabeth Parker sungguh tak dapat ditebak.
----------------------------------------------------------
Pesta untuk
kemenangan tim basket sekolah berlangsung di sebuah klub ternama di kota
Toronto. Sejak Justin menapakkan kaki di klub itu, jerit histeris dari setiap
wanita menyeruak menyebut namanya. Rasanya, prediksi Annabeth tepat. Prediksi
tentang Justin yang akan menjadi orang yang paling dicari di pesta ini, itu
prediksi yang tak meleset. Buktinya, sejak tadi beberapa wanita dalam klub itu
saling berebut untuk berdansa dengan Justin. juastin yang malam itu hanya
mengenakan kemeja putih bermotif garis vertikal hitam memberikan kesan maskulin
tersendiri bagi Annabeth. Annabeth begitu menyukai penampilan Justin.
Sederhana, tapi mengesankan. Oh tidak, mungkin saja Annabeth menyukai setiap
penampilan Justin. karena gadis itu tengah menyukai pria yang selalu ada untuk
membalut lukanya dengan plester luka.
“Catch you, Beth! Sekarang giliranku
bertanya padamu.” Sidney berhambur gembira saat permainan yang tengah
berlangsung berpihak padanya. Arah botol vodka yang diputarnya kini mengarah
tepat dihadapan Annabeth. “Sejauh ini siapa pria yang berhasil mencuri
perhatianmu? Bukankah kau pernah mengatakan padaku jika kau telah menyukai
seorang pria. Ya walaupun rasa sukamu belum bisa dikatakan menjurus dengan hal
yang namanya cinta.” Pertanyaan sekaligus pernyataan Sidney membuat yang
lainnya bersorak dan tak sabar menunggu jawaban Annabeth. Annabeth sesekali
memegangi keningnya yang terasa pening. Maklum saja, gadis itu hampir
menghabiskan satu botol vodka. Bisa dikatakan Annabeth tengah di bawah pengaruh
alkohol sekarang. Namun, gadis itu masih sadar dan paham akan pertanyaan
Sidney. Sesaat, diliriknya Justin yang tengah menatap datar ke arahnya.
“Beth...
waktunya menjawab!”
“Haruskah?”
pertanyaan Beth mengundang decak kesal dari teman-temannya.
“Yeah, tentu
saja, Beth!”
“Ba-baiklah.
Aku akan menjawab.” Sesaat dikulumnya bibirnya hingga membentuk kerucut. “Saat
ini aku menyukai...” Beth menggantungkan kalimatnya. Diliriknya kembali sosok
Justin yang masih menatapi dirinya. “Justin Bieber.” Well, jawaban Beth membuat
semua orang di klub itu sedikit terkejut. Tak terlebih para gadis yang sedari
tadi berebut untuk mencuri perhatian Justin. “Ah ya, aku tau kalian semua pasti
terkejut. Jangan tanyakan alasannya padaku. Aku sendiripun tak dapat
menjelaskan alasannya.” Sesekali Annabeth cegukan. Gadis ini terlalu banyak
meminum vodka. Mendengar jawaban Annabeth membuat Justin sedikit kikuk. Gosh...
seharusnya gadis itu tak mengutarakan semuanya di sini.
“Ikut aku!”
dengan cepat, Justin menarik asal tangan Annabeth untuk keluar dari klub itu.
membiarkan semua mata tertuju padanya. Justin mencoba menopang tubuh Annabeth
agar tidak terjerembab ke tanah. “Kau terlalu banyak meminum vodka, Beth.
Lihatlah, dirimu sungguh menyedihkan sekarang.” Justin mendudukkan Annabeth di
sebuah bangku taman kota yang tak jauh dari klub tempat pesta kemenangan
mereka. “Dan apa baru saja yang kau katakan? Hah, pengaruh alkohol sungguh
hebat hingga membuat dirimu tak sadar akan apa yang baru saja kau katakan.”
“Justin...
aku-” belum sempat meneruskan kalimatnya, Beth terlebih dulu memuntahkan semua
isi perutnya.
“Stupid Girl! Kurasa kau juga peminum
yang buruk.” Sebuah sapu tangan bewarna biru gelap disodorkan Justin untuk
menghapus sisa-sisa muntahan Beth pada bibir mungilnya. “Jika tak terbiasa,
kenapa kau meminum vodka, huh?” Justin membantu Beth yang masih memuntahkan isi
perutnya. Disampirkannya rambut panjang Beth ke beakang punggung agar tak
ternoda. Selesai dengan itu semua, Justin menyampirkan jaketnya ke tubuh
Annabeth yang masih tergolek lemas.
“Aku sadar
dengan apa yang kukatakan tadi, Justin. Aku-” mata Beth mulai terpejam.
Kepalanya jatuh tepat di pundak Justin yang tengah duduk di sampingnya. “Aku
benar-benar menyukaimu, Barber!” senyap. Selesai dengan kalimat itu, Annabeth
tak berceloteh. Gadis itu memilih memejamkan matanya di pundak hangat Justin.
----------------------------------------------------------
Jam makan
siang digunakan Annabeth untuk mencari Justin. gadis ini berniat mengembalikan
sapu tangan yang semalam sudah digunakannya. Langkahnya terhenti disaat melihat
sosok yang dicarinya tengah berdiri di depan papan mading sekolah. Justin
Bieber, tampak serius mengamati selembar kertas yang tertempel pada papan
mading.
“Tertarik
mengikutinya, huh?” selembar penguguman untuk mengikuti audisi di Julliard
University telah terpampang di papan besar itu. “Kurasa tak ada salahnya
mencoba.” Annabeth kembali menampakkan wajah polosnya. “Sudah saatnya kau
menunjukkan bakatmu, Mr. Bieber!” imbuhnya sembari menatap ke arah Justin.
“Kenapa kau
yakin sekali?”
“Karena aku
tau bakat-bakatmu.” Jawab Annabeth kelewat cepat. “Sepintar apapun kau
menyembunyikan bakatmu, kurasa lambat laun orang lain akan mengetahuinya.
Berhenti menutup diri, bisakah kau?” Bukannya menjawab, Justin malah
meninggalkan Annabeth. “Hey, kau belum menjawab pertanyaannku!”
“Berhenti
mencampuri kehidupanku, Beth! Bisakah kau?”
“Tidak.”
Tandas Beth. “Kau bilang ingin membahagiakan keluargamu. Kurasa ini saatnya.
Seharusnya kau tunjukkan pada keluargamu siapa dirimu sebenarnya. Kau adalah
Justin Bieber yang ditakdirkan memiliki segudang bakat yang tertutup. Dan itu
semua karena ulahmu!” kening Justin berkerut mendengar alasan Beth. “Karena
ulahmu yang berusaha untuk terus menutupi bakatmu lah yang menjadikan semua
orang tak mengenal siapa dirimu.”
“Aku tak
butuh itu.” Justin kembali melanjutkan langkahnya. Sayangnya, tangan mungil
Beth terlebih dulu mencengkram tangannya. Membuat pria itu menatap datar pada
Annabeth. “Katakan apa maumu, sekarang?” nada suara Justin sarat akan
penekanan.
“Mauku?”
masih dengan ekspresi tak bersalah, Annabeth merogoh saku celananya. “Awalnya
aku hanya ingin mengembalikan ini padamu!” diletakkannya sapu tangan bewarna
biru tua yang semalam digunakannya. “Terima kasih atas pinjamannya.” Beth
melepaskan cengkraman tangannya. “Tapi, sekarang aku menginginkan hal lain.”
Imbuhnya. “Aku hanya berharap jika nantinya seorang Justin Bieber bisa
mengikuti audisi itu. ah tapi sepertinya tak mungkin. I know who you are. Jika kau mengatakan TIDAK, sepertinya itu akan
berlaku untuk selamanya.” Beth berjalan dan menempatkan posisinya tepat
dihadapan Justin. “Hah, selamat menenggelamkan dirimu kembali, Barber. Kurasa
jika tak dimulai dari dirimu sendiri, percuma saja walaupun aku bersikukuh
meyakinkanmu untuk menunjukkan bakatmu.”
----------------------------------------------------------
“Sore!”
suara lembut itu menyeruak begitu Justin mulai memasuki pantry rumah makan
tempatnya bekerja.
“Beth? Apa
yang kau lakukan di sini?” arah pandang Justin menyipit. “Dan kenapa kau
menggunakan baju itu?” heran melihat Annabeth mengenakan baju yang sama dengan
baju yang dipakainya.
“Aku? Tentu
saja untuk bekerja, Barber. Memangnya untuk apa lagi aku berada di sini?”
Annabeth sibuk menyiapkan menu makanan yang dipesan oleh pengunjung.
"Bukankah sudah kukatakan jika kau tak akan kehilangan upahmu karena
kemarin kau ijin bekerja?” senyum Beth kembali merekah. “Segera lakukan
pekerjaanmu, Barber jika kau tak ingin kehilangan upahmu hari ini.” Beth
beranjak dengan ampan berisi menu pesanan pengunjung.
Stupid girl! Jadi ini yang dimaksud aku tak
akan kehilangan upah? Kenapa dia melakukan sejauh seperti ini?
----------------------------------------------------------
“Kau
memanggilku, Sir?” tanya Justin sopan
begitu memasuki ruangan Professor Payne.
“Ah ya,
masuklah Bieber!” Payne Blacworm, pria yang menduduki profesi sebagai kepala
sekolah mempersilahkan Justin. tanpa basa-basi, Professor Payne mengutarakan
maksudnya. “Aku melihatmu di ruang musik beberapa hari yang lalu. Dan aku
berniat agar kau bisa mengikuti audisi di Julliard University.”
“Aku masih
belum ada niatan untuk mengikutinya, Sir!”
“Tapi kau
memiliki bakat sesuai kriteria universitas itu, Justin. setidaknya kau dapat
mewakili sekolah ini.”
“Akan aku
pertimbangkan, Sir!”
----------------------------------------------------------
“Untuk apa
kau mengajakku ke sini lagi?” gerutu Justin setelah tau Annabeth kembali
membawanya ke Castil Casa Loma.
“Tentu saja
untuk melihat perkembangan benih mawar yang kutanam beberapa minggu yang lalu.
Aku sangat berharap jika nantinya kaulah pria yang akan menerima bunga mawar
itu.” jawab Annabeth ringan. “Woaaa... lihatlah Justin, sudah sedikit tumbuh!”
seru Annabeth histeris.
Justin terus
menatapi gadis di depannya. Senang melihat Annabeth sedemikian rupa bahagianya
akan benih mawar yang ditanamnya. “Ng... Beth!” bibir seksi pria itu lantas
angkat bicara. “Kurasa aku akan mengikuti audisi itu.” Annabeth menolehkan
kepalanya. Tatapannya seakan meminta penjelasan lebih dari Justin. “Aku akan mengikuti
audisi yang diadakan Juilliard University.”
Kedua bola
mata Annabeth terbuka pada kebukaan maksimal. Detik berikutnya, gadis itu
berhambur memeluk tubuh tegap Justin. “Aku senang mendengarnya. Sudah ku
katakan, ini saatnya kau menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, Barber.” Pelukan
Beth semakin erat.
“Baiklah...
baiklah... bersikaplah biasa. Aku tak dapat bernafas, Beth!” Justin melepas
pelukan Annabeth. “Terima kasih karena telah yakin padaku.” Untuk pertama
kalinya, senyuman lebar nan tulus itu mengembang pada wajah tampannya. “Tapi
dalam beberapa hari ini aku harus mempersiapkan diri sebelum bulan depan aku
akan terbang ke New York.”
“Hey, kenapa
wajahmu lesu seperti itu?”
“Tentunya
aku harus menghabiskan waktu banyak untuk mempersiapkan audisi itu.”
“Bukankah
seorang Justin Bieber pantang menyerah, huh?”
“Yeah. Untuk
itu, bisakah kau tak menggangguku terlebih dulu selama aku mempersiapkan
diriku?”
Ingin
rasanya Annabeth menanyakan alasan Justin mengapa ia harus menjauhinya selama
Justin mempersiapkan audisi itu. tapi niat itu diurungkannya. Apapun alasan
Justin, sudah sepantasnya jika dia memberikan waktu pada Justin untuk fokus
pada audisi itu. “Tentu saja. akan kulakukan apa saja agar kau bisa memenangkan
audisi itu.”
----------------------------------------------------------
Sejak
percakapan terakhirnya dengan Justin di Castil Casa Loma, Annabeth berusaha
untuk terus berpegang pada janjinya. Janji untuk sementara ini tak mengganggu
Justin. setiap bertemu Justin, gadis ini berusaha agar terus menghindari pria
itu. ia sungguh tak ingin memecah konsentrasi Justin.
Salad bagus
untuk kesehatanmu. Sungguh tak bermaksud mengganggumu. Tapi, kupikir tak ada
salahnya membantumu untuk tetap menjaga pola makanmu. Huh, ketahuilah Barber,
kurasa aku mulai merindukanmu. “Annabeth”
Justin
menghembuskan nafasnya membaca note kecil yang tertempel di atas sebuah kotak
makanan berisikan salad.
Selalu saja seperti ini. Bisakah gadis ini
tak memberikan perhatian penuh untukku? Jika seperti ini, akan semakin sulit
bagiku untuk terbiasa jauh dari dirinya.
----------------------------------------------------------
Sebulan
penuh Annabeth tak bertegur sapa dengan Justin. walaupun bertatap muka, mereka
hanya saling tatap dan melemparkan senyum. Dan tiba waktunya bagi Justin untuk
pergi ke New York. Bahkan hingga keberangkatan Justinpun, Beth tak menyusul
pria itu ke bandara hanya untuk mengucapkan salam perpisahan. Gadis itu tak
ingin mengingkari janjinya sendiri pada Justin.
“Arghhh!!!”
erangan yang histeris keluar dari bibir mungil seorang Annabeth Parker.
Ditatapnya luka gesekan pada lututnya. Melihat sedikit darah yang keluar,
membuat mata gadis itu memanas. Entah kenapa luka dilututnya mengingatkannya
pada Justin Bieber. “Sial! Tak seharusnya seperti ini!” gadis itu merutuki
dirinya sendiri. Perlahan bulir air mata keluar dari sudut matanya. Sedikit
tersaruk, Beth memaksakan dirinya menuju samping lapangan. Tangannya mengaduk
isi tasnya. “Idiot! Mulailah tak
menggantungkan hidupmu pada Justin, Beth.” Serunya terisak. Gadis ini merutuki
kembali dirinya saat menyadari jika tak ada plester luka di dalam tasnya.
“Kau
merindukannya?” suara bass putra sulung keluarga Parker mengejutkan Annabeth
yang tengah terisak di pinggir lapangan. “Kenapa harus menyesali kepergiannya?
Bukankah ini semua yang kau inginkan, hmm?” Luke Parker, membawa adiknya ke
dalam pelukannya. “Aku tau ini berat untukmu. Tapi kau harus bisa menerimanya,
Baby Girl. Dia harus memenagnkan audisi untuk mewujudkan mimpinya.” Telapak
tangan Luke bergerilya di sepanjang rambut coklat Annabeth. “Dengar, jika Tuhan
telah menakdirkan kalian untuk bersatu, sampai kapanpun kalian pasti akan
dipertemukan kembali.” Direngkuhnya kedua pipi mulus Annabeth. Perlahan ibu
jari Luke menyeka sisa-sisa air mata di kedua sudut mata Annabeth.
----------------------------------------------------------
Back to ‘ANNABETH POV’
Toronto, Ontario
“Ow crapp,
kau tau senyumannya begitu memukau. Apalagi suaranya. Ughhh... itu benar-benar
membuatku jatuh cinta pada Justin Bieber.” Sayup-sayup kudengar penuturan
beberapa gadis yang juga berdiri di luar pintu masuk kastil ini. Sesaat
kupejamkan mataku. Kembali mengingat satu nama itu.
Justin Barber.
Kedua sudut
bibirku terangkat mengingat nama itu. nama yang hingga detik ini begitu
kuharapkan. Nama yang telah membuatku bangga akan pencapaiannya saat ini.
Bagaimana tidak, Justin Bieber kini menjadi penyanyi bersuara emas. Pendidikan
musik di Juilliard hanya ditempuh dalam kurun 1,5 tahun. Bukankah itu
membanggakan. Getaran I-phone pada tas kecilku membuyarkan lamunanku akan
Justin.
“Ah ya Luke,
sebentar lagi aku akan ke sana.” Yang benar saja, aku telah melewatkan waktu
dua jam untuk merenungi tentang Justin. dua jam saja kurasa masih belum cukup
bagiku untuk berhenti dan mengakhiri semua kenanganku akan pria yang selama ini
masih kuharapkan. Ah, tapi untuk sekarang aku memang tak bisa berharap lebih
untuk bertemu dengannya. Kabarnya, Justin sedang melakukan tour concertnya.
Kemungkinan pria itu berada di Negara yang berbeda denganku.
Sedikit
tergesa, ku langkahkan kakiku untuk beranjak dari pintu masuk kastil. Membelah
rinai air hujan yang masih setia menyelimuti kota Toronto. Diluar prediksi, heels
yang kugunakan tersandung batu dan membuatku untuk seperseribu kalinya
terjerembab ke tanah. Membiarkan permukaan kulit lututku tergesek pada aspal
jalanan. Dan itu... sungguh sakit. alhasil, tubuhku basah akan guyuran air
hujan.
“Oh ayolah,
bukan saatnya untuk tak dapat menggerakkan kaki!” kupaksakan untuk bangkit,
sayangnya kakiku terkilir dan tak dapat menopang tubuhku. Detik berikutnya,
kurasakan air hujan tak lagi menghujani tubuhku. Kudongakkan kepalaku. Rupanya
telah berdiri sosok budiman yang rela menutupi tubuhku dengan payung putih di
tangannya.
“Stupid Girl! Sampai kapan kau akan
membiarkan tubuhmu terluka seperti ini, huh?” mataku tertegun menatap sosok
pria yang sekarang tengah membungkukkan badannya. Kedua lengannya dengan sigap
membopong tubuhku ke dalam pelukannya. Aroma maskulin tercium dari penciumanku.
Dan bodohnya, aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Bibirku pun terasa
kelu hanya sekedar mengucapkan kalimat sapa untuknya.
Justin
Bieber. Pria yang sudah tiga tahun ini kurindukan tengah membopong tubuhku ke
arah kafe yang letaknya tak jauh dari Castil Casa Loma. Mataku beberapa kali
mengerjapkan. Memastikan jika penglihatanku tak salah akan sosok pria yang kini
duduk di sampingku. Disampirkannya jaket yang sedikit basah pada tubuhku.
Tangannya memberikan isyarat kepada pelayan kafe untuk membawakan segelas air
dingin. Perlahan, pria itu membersihkan luka di lututku. Ditutupnya luka itu
dengan kain kasa kecil dan plester luka yang diperoleh dari saku celananya.
Selesai
membalut lukaku, pria itu mengalihkan padangannya padaku. “Sampai kapan kau
akan menatapku seperti ini?”
“Ak-aku...” Holly Shit, kenapa susah sekali
mengatakan sesuatu padanya! Oh ayolah Beth, bukankah selama 3 tahun kau
merindukannya?
Tak lama,
datanglah seorang pelayan kafe membawakan dua porsi salad dan sandwich serta
dua gelas orange juice. Senyumnya mengembang seiring hadirnya menu-menu itu di
atas meja yang tengah kami duduki. “Bukankah menu ini begitu sehat untuk tubuh?
Tak ad salahnya kan aku memintamu untuk memakan menu yang begitu menyehatkan
bagi tubuh?” dilahapnya potongan sadwich pertama di hadapannya. “Aku ingin kau
merasakan menu makanan yang dulu selalu kau siapkan untukku. Aku-”
Belum
selesai kalimat Justin, aku langsung berhambur memeluk tubuh tegapnya. Buliran
air mata terjun dari kedua sudut mataku seiring dengan pelukanku yang semakin
erat ditubuh Justin. aku semakin terisak disaat merasakan Justin juga membalas pelukanku.
“Ak- aku merindukanmu, Barber!” ujarku sedikit terbata. “Kupikir kau sudah
melupakanku.” Imbuhku masih terisak.
“Bagaimana
mungkin aku melupakanmu, Stupid Girl!
Gadis bodoh yang selalu terluka dan membutuhkan persediaan plester lukaku.
Gadis bodoh yang salama ini mendukungku untuk meraih mimpiku. Gadis bodoh yang
diam-diam berjuang untuk memperkenalkan diriku pada orang lain. Gadis bodoh
yang dengan gigihnya membantuku untuk membuka diri. Bagaimana bisa aku
melupakan itu semua, huh?” baiklah, baru kali ini aku melihat kedua mata hazel
itu berkaca-kaca. Apakah Justin akan menangis sebentar lagi? “Bahkan selama ini
aku selalu menyempatkan diri mengunjungi kota ini hanya untuk melihatmu, Stupid Girl!” telapak tangan Justin
menyeka air mata yang mengalir di pipiku.
Aihhh... aku
sungguh kehabisan kata-kata untuk menjawab semua perkataan Justin. “Dan dapat
kau bayangkan bagaimana senangnya diriku saat Luke memberiku kabar akan
kedatanganmu hari ini dari London. Aku tak ingin melewatkan waktu untuk bertemu
dengan gadis yang berada di balik kesuksesanku saat ini. Kau adalah salah satu
selain mom dan Jazzy yang menjadi alasanku untuk terus meraih mimpiku. Kau
adalah salah satu yang menjadi alasan dibalik kesuksesanku. Kau adalah...”
Justin menggantungkan kalimatnya. “Kau adalah perisaiku untuk berteduh dibalik
badai hujan yang datang. Kau adalah perisai yang dapat meneduhkanku dari semua
masalah kuhadapi, Annabeth Parker!”
Benarkah ini
Justin Bieber? Seakan diriku tak percaya jika seorang Justin Bieber mengatakan
semua ini padaku.
“Bisakah kau
terus menjadi perisaiku yang selalu ada untuk meneduhkanku dari badai hujan
yang datang?” aku kembali berhambur memeluknya. Tak ada parameter satupun yang
dapat mengukur kebahagiaanku saat ini. “Beth, kau belum menjawab pertanyaanku!”
“Tentu saja
akan kulakukan, Stupid boy! Kau pikir selama tiga tahun ini apa yang kuharapkan
selain ingin bertemu denganmu?”
“Stupid
boy?”
“Yeah,
seharusnya kau tak menanyakan pertanyaan bodoh itu Justin. bahkan kaupun tau
akan apa jawabanku.” Aku sedikit terkekeh melihat ekpresi beku Justin akan
sebutan yang kulontarkan. Disaat aku akan membuka kembali kedua bibirku,
tiba-tiba saja kurasakan sesuatu yang lembab membungkam bibirku. Kubuka kedua
mataku. Gosh... mimpi apa aku semalam! Bagaimana mungkin seorang Justin Bieber
menciumku di depan umum seperti ini?
“Merasa
ketagihan akan perlakuanku eh, Stupid Girl?” dan perlakuan Justin, sukses
membuat kedua pipiku merona. Tak dihiraukan semua mata tertuju pada kami.
Aku
mengerucutkan bibir lembabku yang baru saja merasakan bibir seksi seorang
Justin Bieber. “Umm... kurasa permohonanku dikabulkan oleh Tuhan. Akhirnya
Tuhan menjawab semua permohonanku beberapa tahun yang lalu. Kurasa kau memang
pria yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menerima bunga mawar yang kutanam di
kebun depan kastil.” Justin tersenyum mendengar celotehanku. “Dan sekarang,
waktunya memetik hasil tanamku!” kugenggam erat pergelangan tangan Justin. tak
kuhiraukan gerimis yang masih turun menyelimuti kota Toronto.
Sesampainya
di kebun, lagi-lagi kakiku tersandung. “Beth, bisakah kau lebih memperhatikan
langkahmu lagi, huh?” ujar Justin sedikit cemas. “Kau baru saja membuat luka
baru pada lututmu. Akankah kau membuatnya lagi, huh?” sedikit senang akan perhatian
yang diberikan Justin.
“Tentu saja.
apapun akan kulakukan untukmu, Barber!”
“Bieber, not
Barber!” pandangannya menyipit seiring dengan seringaian usil yang kuberikan.
“Dan kurasa
aku benar-benar menyukaimu, Bieber. Suka yang benar-benar mengarah pada hal
yang dinamakan cinta.” Well, nada suaraku terdengar sedikit serius mengatakan
ini.
“Kurasa tak
ada salahnya membalas cinta seorang gadis yang tulus sepertimu.” Justin
merapatkan tubuhnya padaku. Dilingkarkannya lengan di sekitar punggungku.
Dipetiknya bunga mawar merah hasil tanamku. “Bukankah aku akan menjadi salah
satu pria beruntung karena memiliki gadis setulus sepertimu, huh?” diberikannya
setangkai bunga mawar itu padaku. Uh... benar-benar romantis bukan? “Dan kurasa
aku benar-benar menyukaimu, Stupid Girl. Suka yang benar-benar mengarah pada
hal yang dinamakan cinta.” Sesaat dikecupnya keningku.
Inilah akhir
dari penantianku. Tak perlu menjadi sempurna untuk mencintai seseorang. Hanya
dengan ketulusanlah maka kau akan mendapatkan cinta itu. menjadi perisai bagi
seorang yang kita cintai merupakan kekuatan yang sungguh luar biasa.


hmmmmm,,
BalasHapusmeskipun aku beda aliran sama si Cie Bieb ini, aku selalu suka dengan gaya bahasa yang di tuangkan dalam setiap tulisan JD ini. hampir keseluruhan memakai aksen dan budaya ke barat-baratan. yaah,, mungkin karena tokoh yang dimunculkan memang dr golongan barat.
but, dont forget your culture guys!
masukkan sedikit-sedikit laah..
;)
sssssttt,,
anggap gk kenal yaa..
masukan yg super sekali dr mbak Sholihah ini ;) terima kasih udh nyempetin memberi masukan utk cerita saya yg masih abal2 ini :* big hug for u ;)
Hapusokay...insyallah diusahain menulis sesuai kultur ketimuran saya ;) tp ttp, saya pribadi tak melupakan kultur saya kok mbak Aniy ;)