Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 25 - 30

PART 25
Sesuai rencana, acara mengajari Jazzy kulalui dengan sempurna. Sekitar pukul 10.00 AM aku membantu Jazzy merapikan beberapa buku literatul yang Mrs. Pattie sediakan untuknya. Langkahku terhenti tepat di sebuah foto berfigura yang tertempel di gedung ruang tengah saat hendak menaruh buku di rak yang berjarak sekitar 2 meter dari tungku perapian.
Di dalam foto itu tampak seorang anak laki- laki berusia sekitar 13 tahun mengenakan kaos kuning panjang, celana jeans, serta sebuah topi bisbol di atas kepalanya tengah duduk memetik senar gitar di sebuah tangga beton.
“Itu foto Justin ketika berumur 13 tahun!” suara Jazzy menyadarkanku. “Mommy mengatakan jika saat itu Justin mengamen di depan gedung AVON Theatre untuk membantu mommy. My Bieber is amazing, right? I’m proud of him!” dari wajah Jazzy tergurat kebanggan terhadap Justin. “Aku bosan berada di rumah. Maukah kau menemaniku mengitari beberapa tempat di kota ini?” Jazzy menarik- narik cardigan hitamku.
“Memangnya kita akan pergi ke mana?” tanyaku.
“Ikuti saja langkahku! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat!”
Aku hanya bisa pasrah dan mengikuti Jazzy yang masih menarik tanganku.
Langkahku terhenti tepat di sudut sebuah gedung besar. Di depan gedung itu tampak Justin diikuti beberapa pria tengah bernyanyi diiringi dengan gesekan biola dari seorang gadis cilik di sampingnya.
“So we fight,,, trough the hurt! And we cry… and cry… and cry… and cry…” Justin menyayikan lagu yang semalam ia nyanyikan.
Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Kenapa akhir- akhir ini dia selalu bersedih? Dasar Superstar! Semuanya sama saja, sama- sama menjaga image di depan semua orang padahal yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang tampak dari luar.
Aku dan Jazzy sengaja berdiri di samping gedung untuk mengamati Justin dan tak berusaha menghampirinya. Sesaat kulirik Jazzy yang berada dalam dekapanku. Ahhh… TIDAK! Masa iya aku menanyakan masalah Justin pada bocah sekecil Jazzy?
Kualihkan pandanganku pada Justin yang saat itu telah mengakhiri pertunjukkan.
“Thanks, Justin!” ujar violin cilik di samping Justin. “Kau telah membantuku!” lanjutnya.
“No, prob! Jangan pernah menyerah untuk menggapai mimpimu, Ok!” nasehat Justin pada violin cilik itu sembari mengusap puncak kepalanya. Justin dan beberapa pria di belakangnya pergi meninggalkan violin cilik itu setelah menaruh beberapa lembar uang ke kotak biola.
“Di tempat itulah Justin bernyanyi untuk membantu mom!” Jazzy menunjuk ke tangga beton yang tadi diduduki Justin. Ya… tangga beton itu bahkan gedung ini sama seperti yang kulihat di foto tadi. Terselip sedikit kekaguman dalam diriku atas usaha Justin untuk membantu ibunya. “Princess...! Hello…!!!” Jazzy mengibas- ngibaskan telapak tangannya ke depan wajahku. Akupun tersadar jika sedari tadi aku memandangi tangga beton di depan gedung itu. “Kau baik- baik saja, kan?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk mantap. “Ayo kita ke taman! Kurasa Justin sedang bermain basket dengan Ryan dan Chaz!” ajak Jazzy untuk kedua kalinya.
Benar saja, sesampainya di taman aku mendapati Justin tengah bermain basket bersama dua pria yang sejak tadi bersamanya.
“Boooo!!” Jazzy turun dari gendonganku dan berlari menuju Justin.
Melihat Jazzy berlari ke arahnya, Justin langsung menyambut Jazzy dengan pelukan hangat dan segera membawa ke dalam gendongannya. Aku suka keakraban kedua saudara itu!
“Kemarilah! Akan ku kenalkan kau dengan sahabat- sahabatku!” Justin mengibaskan rambutnya kepadaku seakan memberi arahan untuk mendekatinya. “Guys, kenalin ini Caris, teman baru sekaligus tetangga sementaraku di sini!” Justin memperkenalkan diriku kepada kedua temannya. “Caris, kenalkan ini Ryan dan itu Chaz!” Justin menunjuk Ryan dan Chaz secara bergantian.
“Ryan Buttler!” pria berambut plontos menjabat tanganku.
“Chaz Somers!” kini giliran pria bertubuh jangkung yang menjabat tanganku. “Heiii… kau bisa bermain basket kan? Bagaimana jika kau bergabung dengan kami? Kebetulan kami membutuhkan tambahan pemain satu orang lagi!” lanjut Chaz mencoba akrab denganku.
“Ide bagus, Chaz! Caris, bagaimana jika kau satu tim denganku?” tawar Ryan.
“Terserah kalian saja!” jawabku.
Permainan basketpun dimulai. Peraturan dari permainan ini adalah, tim yang berhasil mencetak skor 10 point tercepat itulah pemenangnya. Saat aku dan yang lainnya bertanding basket, Jazzy duduk di bangku pinggir lapangan sembari menyemangati kami berempat yang sedang bertanding.
Bola langsung ku over ke Ryan dan dengan jeli Ryan langsung melempar bola basket itu ke arah ring di luar garis three point. BLUSHHH… bola melesat masuk ke dalam ring.
Justin pun tak mau kalah… dengan cepat dia merebut bola dari tangan Ryan dan melakukan tindakan yang sama. Bola pun melesat melalui ring tanpa perlawanan.
Kini giliranku yang menguasai lapangan. “Ayooo… Princess!!!” seru Jazzy dari pinggir lapangan.
Ku drible bola basket melewati Chaz, dan sekarang aku berhadapan dengan Justin. Justin menatap tajam ke arahku, akupun balik menatapnya tajam. Kuakui, diffent Justin sangat ketat jadi harus memutar otak untuk bisa melewatinya. Awalnya ku drible bola menuju ke arah kiri Justin begitu Justin mengikuti langkahku, langsung saja ku berbalik dan segera melewati Justin dari arah sebaliknya.
“Yesss!” seruku ketika berhasil melakukan lay- up dan menambah skor timku. “Kau terkecoh, Mr. Bieb!” bisikku saat berjalan melewati Justin.
Tak lama petandingan selesai dan dimenangkan olehku dan Ryan.
“Kalian berdua kalah!” ujar Ryan masih dengan nafas tak beraturan. “Sekarang, saatnya kalian menjalankan hukumannya! Ayoo!”
Hah? Hukuman? Di awal pertandingan mereka tidak menjelaskan kepadaku jika tim yang kalah akan mendapat hukuman.
“Caris… tunggu apa lagi!” Ku lihat Ryan telah menaiki punggung Chaz. “Cepat kau naik ke atas punggung Justin! Mereka akan berjalan mengitari lapangan ini sebanyak lima kali sesuai perjanjian!”
“Perjanjian? Perjanjian apa maksudmu?” tanyaku tak paham.
“Ini memang sudah hukuman yang biasa kami bertiga mainkan jika kalah dalam bertanding basket. Cepatlah naik ke atas punggung Justin!” pinta Ryan.
“Ahh,,, aku pikir tidak usah,” tolakku halus.
“Cepatlah naik ke atas punggungku! Jangan buang- buang waktu!” Justin membungkukkan badannya sembari membelakangiku. Aku menurut saja daripada nanti harus mendengarkan ocehan Ryan. “Ughhhh… ternyata kau berat sekali!” complaint Justin.
“Sudahlah… lebih baik kau lakukan saja hukuman ini! Tak perlu banyak protes!” sungutku.

PART 26
Setelah lima kali Justin dan Chaz mengitari lapangan basket, kami berlima memutuskan untuk menuju danau dekat taman.
Sesampainya di danau, ehhh… malah Chaz dan Ryan pamit untuk pergi sebentar. Ada sesuatu hal yang akan mereka beli. Justin hanya mengiyakan omongan kedua sahabatnya. Dan sekarang, tinggalah kami bertiga.
“Pemandangannya sangat indah ya!” ucap Jazzy yang berada dipangkuan Justin. Aku hanya tersenyum simpul merespon ucapan Jazzy.
Sesaat Jazzy memandangku dan Justin secara bergantian. Mengetahui hal itu Justin mengerutkan keningnya. “What?” tanyanya pada Jazzy.
Jazzy tersenyum. “Nothing. Hanya saja aku pikir kita bertiga sekarang seperti sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia ya!”
Keluarga kecil? Apa maksud perkataan Jazzy?
“Kau ini…” Justin mencubit pipi Jazzy lembut. “Yeah, aku pikir juga begitu!” mendengar jawaban Justin, aku pun langsung menyikut lengannya. “Awww…” ringisnya sembari menatap ke arahku yang saat itu hanya bisa melotot ke arahnya. “Umphhh… I mean… kau ini masih kecil Cupcake. Tak sepantasnya kau memikirkan hal itu!”
“Kenapa? Kulihat kalian berdua itu serasi menjadi pasangan,” lanjut Jazzy polos.
Ahhh… makin lama perkataan Jazzy makin ngelantur. Aku? Berpasangan dengan Justin? TIDAK AKAN… mana mungkin aku tahan jika harus menjalin hubungan dengan orang menyebalkan seperti dia?
Aku hanya diam sembari mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tak lama kurasakan cardigan yang ku kenakan basah. Hemphhh… tampaknya ada seseorang di belakang yang sengaja menyemprotkan air ke arah ku!
“Heyyy… apa yang kalian lakukan? Berhenti menyerangku dengan pistol air itu!” Justin menyilangkan kedua tangannya yang menutupi wajahnya untuk menepis serangan air dari pistol mainan milik Chaz dan Ryan.
“Sudah cukup lama aku tidak menyerangmu Bieber!” ucap Ryan senang.
“Jazz, bergabunglah dengan kami! Kita serang Justin dan Caris bersama- sama!” Jazzy menuruti perintah Chaz untuk bergabung. Ryan memberikan sebuah pistol air yang berukuran lebih kecil pada Jazzy. Kemudian mereka bertiga (Chaz, Ryan, Jazzy) menghujani aku dan Justin dengan tembakan air. Secara otomatis bajuku dan Justin basah kuyup karena tembakan air itu.
“Kalian sangat jahil!!! Awasss ya!!!” Justin berlari ke arah Chaz dan Ryan dan segera merebut pistol mainan dari tangan kedua sahabatnya. “Saatnya pembalasan!” serunya ketika dua pistol mainan berada dalam genggamannya. “Ini untukmu!” Justin melempar salah satu pistol itu ke arahku.
Huphhh… dengan sigap ku tangkap pistol itu dan segera melakukan hal yang sama seperti yang Chaz dan Ryan lakukan. Keadaan berbalik, kini aku dan Justin yang menghujani Ryan dan Chaz dengan pistol air itu hingga baju mereka basah kuyup. Jazzy juga ikut- ikutan mengarahkan pistol mainannya ke arah Chaz dan Ryan. Akhirnya kami berlima perang pistol air. Tingkah kami berlima cukup menarik perhatian beberapa orang yang mengunjungi danau itu.
*****

Aku, Justin, dan Jazzy pulang ke rumah keluarga Dale dalam keadaan basah kuyup. Aku menyempatkan diri mampir ke rumah keluarga Dale untuk mengambil tas ku yang tadi tertinggal di kamar Jazzy.
Setelah mengambil tas, lagi- lagi penyakit beserku kambuh ketika aku akan pergi meninggalkan kediaman keluarga Dale. Aku pun menuju kamar mandi yang terletak di sebelah dapur. Ahhh…rupanya saat itu Mr. Bruce tengah berada di dalam kamar mandi itu.
“Kau bisa menggunakan kamar mandi di lantai atas, Caris!” kata Mrs. Diana yang saat itu tengah memasak di dapur. “Kamar mandinya tepat berada di samping kamar Justin!”
Tanpa berpikir panjang lagi aku pun berjalan cepat menuju lantai atas. Tak sulit menemukan kamar mandi itu, karena letaknya berhadapan dengan anak tangga lantai atas.
Beberapa menit kemudian aku pun telah selesai dan ke luar dari kamar mandi. Namun, saat ingin turun ku dengar suara Justin sedang berbicara dengan sang ibu di kamarnya.
“Apa yang Usher katakan?” tanya Mrs. Pattie begitu Justin menutup pembicaraan dengan seseorang di telepon.
“Dia hanya mengingatkanku untuk tetap menjaga stamina,” jawab Justin datar.
“Ooo…” Mrs. Pattie hanya meng- o. “Oh ya, kau tau aku sudah meminta Caris untuk menjadi guru privat Jazzy sesuai permintaanmu!” kalimat Mrs. Pattie membuatku membulatkan kedua bola mataku. Apa maksud dari perkataannya?
“Thanks, Mom!”
“You’re welcome, My Boy! Ku rasa Caris memang orang yang tepat untuk menjaga dan mengajari Jazzy sebelum Jazzy masuk ke dalam pendidikan yang lebih tinggi.” Kata Mrs. Pattie.
Lagi- lagi Justin membantuku untuk memperoleh pekerjaan. Kenapa dia selalu ikut campur dalam kehidupanku? Aku hanya bisa mendengus kesal dan berjalan meninggalkan kamar Justin sebelum sepasang ibu dan anak itu mengetahui keberadaanku.
*****

PART 27
Sore harinya aku kembali menuju kediaman keluarga Dale. Kali ini adalah jadwalku untuk mengajarkan Jazzy berhitung, bahasa kerennya lebih dikenal dengan pelajaran matematika. Dengan sabar aku mengajari gadis mungil itu di teras depan.
“Good, Jazzy! You’re smart girl!” sanjungku karena Jazzy berhasil menangkap apa yang ku ajarkan dengan cepat.
“Booo… mau kemana?” tanya Jazzy begitu melihat Justin ke luar rumah dengan dua kail pancing dan ember di kedua tangannya.
“Cupcake,,, bagaimana jika sore ini kita pergi memancing ke Star Lake? Sudah cukup lama aku tidak memancing di sana!” spontan Jazzy langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Justin. Ya…ya…aku tau itu artinya Jazzy mengiyakan ajakan Justin dan mengabaikan apa yang aku ajarkan.
“Tapi, aku belum selesai berhitung, Booo!” kata Jazzy yang melihat ke arahku.
“Aku rasa pelajaran berhitungmu bisa kau lanjutkan besok! Ayo… kita pergi!” Justin mengajak Jazzy sekali lagi. “hehhh… kau!” Justin menatap ke arahku. “Kenapa kau masih duduk di situ? Ayo… kita berangkat ke danau! Kau itu lupa ya kalau sekarang ini Jazzy adalah tanggung jawabmu. Mom kan membayar…”
Belum sempat Justin melengkapi kalimatnya, aku sudah beranjak dari dudukku dan berjalan meninggakannya setelah menggendong Jazzy ke dalam pelukanku. “Tunggu apa lagi? Ayo… berangkat!” sahutku saat menyadari jika Justin masih berdiri mematung.
Beberapa menit kemudian kami bertiga sampai di danau yang Justin maksud. Danau ini sama seperti danau yang tadi aku, Justin, Jazzy, Ryan, dan Chaz kunjungi.
Aku mengikuti Justin dan Jazzy yang telah mengambil posisi duduk di dekat danau.
“Ini untukmu!” Justin menyodorkan sebuah kail pancing ke arahku.
“Untuk apa kail ini?”
“Jelas saja untuk memancing. Memangnya kau pikir untuk apa lagi?” jawab Justin dingin. Hahh… aku rasa dia masih kesal akan perkataanku kemarin.
“Bagaimana jika kalian berdua berlomba? Siapa yang mendapatkan ikan terlebih dahulu, dialah pemenangnya!” usul Jazzy.
“Aku setuju dengan idemu, Cupcake!” seru Justin. “Bagaimana denganmu?” lanjutnya dengan tatapan meremehkan ke arahku.
Aku paling benci jika seseorang meremehkan diriku. “Kau pikir aku takut? Kita lihat saja siapa yang akan ke luar sebagai pemenang!” ku balas tatapan Justin dengan senyuman licik.
“Baiklah…kita mulai!” Jazzy memberikan aba- aba. “ Satu… dua… tiga…!”
Tepat pada hitungan ketiga, kail milikku dan Justin masuk ke dalam danau secara bersamaan.
Kami bertiga menghabiskan waktu dalam diam sembari menunggu umpan dari kedua kail milikku dan Justin dimakan oleh ikan yang ada di danau itu.
“Ahhh… lama sekali ikan- ikan itu memakan umpanku!” suara Justin memecahkan keheningan. “Cupcake, kemarilah! Lihat apa yang baruku temukan!”Jazzy menurut saja menghampiri Justin.
“Itu sangat indah Booo…” seru Jazzy tekagum- kagum melihat apa yang ditemukan Justin di dasar danau. “Princess… kemarilah! Kau harus melihat ini!” ajak Jazzy. Dengan malas ku hampiri Jazzy dan Justin. “Indah, kan?” Jazzy menunjuk sebuah bintang laut di dasar danau. Aku menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya.
“Car, coba kau lihat itu!” Justin menunjuk ke arah langit.
“Apa?” aku pun mengikuti arah telunjuk Justin. Dan… BYURRR… tanpa ku sadari ternyata Justin mendorong tubuhku ke dalam danau. Tubuhku tercebur ke dalam danau dan tak sempat memberikan perlawanan pada Justin.
“Hwahahahaaa… kau tertipu olehku, Car!” tawa Justin membludak melihat diriku basah kuyup. Izzz… si Jazzy juga ikut- ikutan menertawaiku! Lihat saja apa yang akan ku lakukan. Aku akan membalasnya!
Ku tenggelamkan diriku ke dasar danau hingga tak tampak lagi. Menyadari hal itu, tawa Justin dan Jazzy berhenti sekaligus.
“Carissss……!!! Jangan becanda denganku! It’s not funny!” Justin memanggilku. Tetapi, masih tak ada tanda- tanda jika aku muncul dan berenang ke permukaan.
“Justin… Princess tenggelam! Kau harus menolongnya!” ucap Jazzy.
“Entahlah! Kau tau dia bisa berenang?” pertanyaan Justin dibalas dengan gelengan kepala dari Jazzy. “Ough… Shit!” seketika itu Justin meletakkan Jazzy di tepi danau dan,,, BYURRR… dia langsung menyusul tubuhku yang semakin tenggelam ke dasar danau.
Setelah mendapati tubuhku yang terkulai lemas di dalam danau, Justin langsung menarik dan membawa kembali ke permukaan.
“Carrr… wake up!!!” berkali- kali Justin mengguncang- guncang tubuhku, tetapi tubuhku enggan meresponnya.
“Princess… sadarlah!” suara Jazzy bergetar sambil mengelus pipiku lembut. “Boo… bagaimana jika Princess tidak tertolong? Kau harus melakukan sesuatu, Boo!” lanjut Jazzy menatap Justin.
Tergurat kesedihan dalam wajah Jazzy, dan itu membuat Justin tak tega. Justin tampak tau apa yang harus ia lakukan. Dengan cepat dia membuka bibirku yang masih terkatup. Ia pun mendekatkan wajahnya ke arahku… dekat… semakin dekat… semakinnn dekatttt… CRUTTT… air di dalam mulutku tampak menyembur wajah Justin.
Seketika itu mataku yang awalnya terpejam langsung terjaga. “Kau gampang sekali tertipu, Mr. Bieb! Ckckckkk…” ucapku yang menahan tawa melihat raut wajah Justin yang masih terbengong- bengong di depan wajahku. “Aku terlalu pintar untuk kau tipu!” aku menepuk pipi Justin sembari memamerkan senyum licikku.
“Jadi ini semuanya bohong?” aku mengagguk menjawab pertanyaan Justin.
“Jangan pernah mempermainkanku, karena aku jauh lebih baik jika bermain dalam permainan seseorang, Mr, Bieb!” aku bangkit dari posisi tidurku setelah berhasil menjauhkan wajah Justin yang menghalangi tubuhku.
“Syukurlah jika kau tak apa!” senyum lega terlihat pada raut wajah Jazzy.
Semakin lama sinar matahari semakin berkurang. Saat itu matahari akan tenggelam karena tak lama tugasnya akan diambil alih oleh bulan untuk menerangi kegelapan di muka bumi.
“Very beautiful!” seru Jazzy terkagum- kagum melihat proses matahari menenggelamkan diri.
Aku, Jazzy, dan Justin menyaksikan sunset bersama- sama masih dengan keadaan basah kuyup. Proses pergantian dari pagi menuju malam itu sangat indah. Aku terkagum- kagum menyaksikannya.
“Booo… Grandma pernah mengatakan padaku jika kau akan menyatakan cinta terhadap wanita yang kau sayangi di danau ini. Benarkah begitu?” Jazzy memecahkan keheningan.
“Yeay… sangat romantis bukan?” Justin menatapku. Tatapannya tak dapat ku artikan. Aku hanya memandang heran ke arahnya. “Bukan hanya wanita yang kucintai yang akan ku ajak ke Star Lake ini, tetapi semua anak dan cucuku nantinya akan aku ajak ke sini. Mereka harus tau keindahan dari danau ini! Apa kau akan melakukan hal yang sama denganku?” kali ini Justin menatap Jazzy.
“Tentu! Itu akan menjadi masa yang tak terlupakan. Bagaimana jika keluarga kita berdua pergi bersama- sama untuk menghabiskan waktu di danau ini?”
Aihhh… lama- lama obrolan kakak beradik ini semakin tidak masuk akal. Bisa- bisanya Justin membiarkan Jazzy berpikir terlalu jauh. Padahal anak seumur Jazzy belum saatnya mengkhayalkan masa- masa itu.
*****

PART 28
Seperti biasa, malam harinya insomnia terus menemaniku. Aku hanya bisa mondar- mandir di dalam kamar sembari mendrible bola basketku. Dari arah kendela kulihat Justin tengah berdiri di samping jendela kamarnya sembari menatap lurus ke arah langit.
Hmphhh… pasti malam ini dia bersedih lagi! Apa iya aku harus mencari tau masalahnya? Ahhh… tapi ku rasa aku tak pantas mencampuri urusan pribadi Justin. Tapi… tak dapat kupungkiri Justin telah membantuku. Karena dia sekarang aku menjadi guru privat Jazzy. Ini jelas- jelas membantuku untuk memperbaiki kerusakan mobil milik oma.
Arghhhh… kenapa si Bieber terus- terusan membantuku? Ini membuatku semakin berhutang budi padanya. Aku harus membalas bantuannya. Tapi bagaimana caranya? Lagi- lagi Justin menambah daftar pertanyaan di dalam otakku. Benar- benar menyebalkan.
*****

Pagi- pagi sekali jauh sebelum sang surya menampakkan dirinya, aku telah rapi mengenakan jumper kuning bergambar spongebob dan celana putih selutut. Kuambil sepatu cats putih di rak sepatu. Kutulis sebuah memo yang berisi, “Oma, aku lari pagi mengitari kota ini. Maaf karena aku tak berpamitan langsung kepadamu. Itu aku lakukan karena aku tak mau mengganggu waktu istirahatmu. Tenang saja, aku pergi tak akan lama. Love You! By Carista.” Lalu ku tempel memo itu di lemari es.
Aku ke luar rumah dengan mengendap- endap agar oma tidak terjaga dari tidurnya. Ku lihat lampu kamar Justin tak menyala. Ini tandanya Justin masih asyik dengan dunia mimpinya. Ku ambil beberapa batu kerikil dan ku arahkan tepat pada kaca jendela kamar Justin.
Dughhh… satu batu mengenai kaca jendela kamar Justin. Tapi, tak ada tanda- tanda jika penghuni kamar itu telah bangun.
Dughhh… dughhh… dughhh… kulemparkan tiga batu sekaligus ke arah jendela itu. Alhasil, lampu kamar menyala.
Kerja yang bagus Caris! Batinku.
Justin membuka jendela kamarnya sembari mengucek- ngucek kedua matanya untuk mencari tau sumber suara yang membuat kaca jendelanya berbunyi.
“Hey…!!!” aku mencoba menjaga volume suaraku. “Ku beri kau waktu lima menit untuk bersiap- siap! Setelah itu kau temui aku di sini!” lanjutku tanpa berbasa- basi.
Masih dengan wajah setengah sadar, Justin masih berdiri di samping jendelanya sembari menatap heran ke arahku.
“Tunggu apalagi? Cepat bersiap- siap!” suruhku untuk kedua kalinya.
“Baiklah!” jawab Justin dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Kurang dari waktu yang kutentukan, Justin telah menghampiriku dengan mengenakan jaket bewarna hijau, dipadu padankan dengan celana putih selutut, sepatu supra hijaunya, dan topi hoodie putih yang melekat di kepalanya.
Begitu Justin datang, aku langsung berjalan pergi meninggalkannya. Dia hanya mengikuti langkahku.
“Sebenarnya kita akan pergi ke mana? Kau tau kan ini masih terlalu pagi!” ucap Justin dan mencoba mensejajarkan langkahnya denganku. Aku terus berjalan tanpa bergeming sedikitpun.
Gepphhh… tiba- tiba Justin telah berada di depan dan menghalangi jalanku. “Kau baik- baik saja kan?” wajah Justin tampak sedikit cemas. Lalu kurasakan telapak tangannya menyentuh pipiku.
“Yang kau lakukan hanyalah mengikuti ke mana aku akan pergi tanpa harus bertanya ini- itu!” ku singkirkan telapak tangan Justin dan kembali berjalan.
Langkahku terhenti tepat di danau yang dua hari ini aku kunjungi. Danau yang Justin sebut dengan “Star Lake”. Ya… aku mengajak Justin ke danau itu.
“Star Lake?” Justin memposisikan dirinya tepat di hadapanku. Aku paling benci jika dia memposisikan dirinya seperti ini. “Untuk apa kau mengajakku ke sini? Umphhh… jangan kau katakan jika kau akan menyatakan cintamu kepadaku di tempat ini!” lanjutnya asal.
PLETAKKK… ku daratkan telapak tanganku ke pipi kanan Justin.
“Auwww… sakit, My Baby!” ringis Justin.
“Jaga ucapanmu! Aku tidak mungkin jatuh cinta padamu!” aku maju beberapa langkah darinya.
“Jadi kau mengajakku ke sini hanya karena ingin menamparku?”
“Teriaklah!” suruhku padanya. Ku alihkan pandanganku untuk menatapnya. “Teriaklah sekeras- kerasnya! Dengan berteriak ku rasa akan mengurangi beban pikiranmu!” Justin masih menatap heran ke arahku. “Mr. Bieb… Mr. Bieb… aku tau jika saat ini kau sedang mempunyai masalah. Tapi, aku tak tau dan tak ingin tau apa masalahmu itu.” Kini tatapanku lurus menatap genangan air danau.
Justin masih diam terpaku. Hahhh… aku rasa aku harus memulainya terlebih dahulu.
“MR. BIEBBBB… KENAPA KAU HANYA BERDIRI SEPERTI ORANG BODOHHH??? BERTERIAKLAHHH!!! DENGAN BERTERIAK AKAN MENGURANGI BEBAN MASALAHMUUUUU…!!!” aku berteriak sekencang- kencangnya. “Sekarang giliranmu!” ucapku pada Justin.
Justin menempelkan kedua telapak tangannya dan membentuknya seperti corong pengeras suara. “MY BABYYYY… BENARKAH INI AKAN MENGURANGI BEBAN MASALAHKUUUU??? JIKA BENAR, MAKA AKU AKAN MELAKUKANNYAAAAAA… AKU INGIN BEBAN INI PERGIIII… PERGI DARI HIDUPKU DAN TIDAK LAGI MENGGANGGU PIKIRANKUUUU!!!” kudiamkan saja suara Justin yang bergema di seluruh danau itu. “TERIMA KASIHHHH TELAH MEMBAWAKU KE SINIIII… MY BABYYYYYYYYYYYYYYYYYY!!!” serunya sekali lagi.
Setelah mengatakan hal itu, entah apa yang ada di pikirannya Justin langsung berbalik dan mendekap tubuhku. Dia menenggelamkan wajahnya dibahuku. Dapat kurasakan degup jantungnya yang bergebu- gebu karena emosi. Seberat itukah masalahnya? Sesaat ku rasakan bibir Justin mulai bergetar. Tentu saja dapat kurasakan karena bibir Justin menempel dibahuku. Kurasa saat itu Justin menangis. Justin semakin mempererat pelukannya. Namun, kubiarkan saja. Yeahhh… untuk kali ini saja aku membiarkannya memelukku. Ini aku lakukan untuk membalas budinya karena telah mencari sekaligus memberikanku pekerjaan. Kubalas pelukan Justin dan menepuk- nepuk punggungnya.

PART 29
Cukup lama Justin memelukku. Itu sempat membuatku sesak nafas. Tak lama setelah itu Justin melonggarkan pelukannya.
“Thanks, My Baby!” Justin menyentuh pipiku dengan kedua telapak tangannya. Kulihat matanya yang sembab. Ternyata benar dugaanku jika Justin menangis. “Sebenarnya aku…”
“Don’t, Justin! aku tak ingin mengetahui masalahmu. Aku melakukan ini untuk membalas apa yang telah kau lakukan untukku,” aku menepis kedua telapak tangan Justin dan memilih duduk di dekat danau.
“Maksudmu?” tanya Justin tak paham dan mengikutiku duduk di dekat danau.
“Aku tau jika kau yang mengatakan jika aku membutuhkan pekerjaan kepada ibumu. Dan kuharap ini terakhir kalinya kau membantuku. Asal kau tau saja, aku paling tidak suka berhutang budi pada orang lain!” tegasku.
“Aku tidak merasa membantumu. Kebetulan waktu itu mom sedang membutuhkan guru privat untuk Jazzy. Jadi, kuusulkan saja dirimu dan ternyata mom menyetujuinya.” Justin menjelaskan. “My Baby, lihatlah!” Justin tersenyum begitu melihat sang surya yang akan menerbitkan dirinya untuk menyapa dunia.
Melihat sunrise mengingatkanku pada mendiang mama. Dulu saat aku dan Auris masih kecil, mama sering sekali mengajakku menatap sang surya yang terbit dari ufuk timur dari balkon kamar.
“My Baby!” panggil Justin.
“Hemmm?” sahutku masih menatap proses terbitnya matahari.
“My Baby…” panggil Justin sekali lagi.
“Apa?” Ini membuatku kesal dan… Deghhh… wajah Justin tepat berada di depan wajahku saat aku mencoba mengalihkan pandanganku kepadanya.
“Wajahmu benar- benar seperti bayi yang tak berdosa ketika di bawah sinar matahari yang baru terbit!” Justin tersenyum menatapku.
PLETAKKK… kudaratkan tamparan sekali lagi pada pipi Justin. Tapi, kali ini pipi sebelah kiri Justin yang menjadi korbannya.
“Jangan kau keluarkan rayuan gombalmu di hadapanku! Itu tidak mempan, Mr. Bieb!” kataku penuh penekanan.
“Kau itu… bisakah kau itu bersikap lembut kepadaku sebentar saja?” Justin masih mengusap- usap pipi kirinya.
“Tidak akan!” ujarku menjulurkan lidahku dan berlari meninggalkannya.
Ku hampiri penjual balon terbang yang tak jauh dari tempat ku dan Justin duduk. Kini danau itu tampak dipenuhi beberapa anggota keluarga yang ingin menghirup segarnya udara di pagi hari dan menikmati keindahan danau.
Aku membeli dua ikat balon, dimana dalam satu ikat terdapat enam buah balon. Seikat balon terbang itu seharga 5 dollar. Aku pun segera membayarnya. Lalu kulihat sebuah kertas dan pena pada motor si penjual balon terbang itu.
“Excusme, Sir! Bisakah aku meminta dua lembar kertas itu dan meminjam penamu? Hanya sebentar saja dan akan segera ku kembalikan!” pintaku pada si penjual balon.
Penjual balon itu dengan dermawannya memberikan apa yang kumau. Aku kembali menghampiri Justin dengan dua ikat balon dan dua lembar kertas beserta pena. Kemudian aku menyodorkan seikat balon, secarik kertas, dan sebuah pena ke arahnya. Namun Justin hanya diam tak paham maksudku.
“Tulislah permohonanmu di kertas itu! Setelah itu, kau ikat kertas itu dengan balonnya dan terbangkanlah!” suruhku untuk kesekian kalinya.
“Apakah ini membantu?” tanyanya.
“Mmmm… mungkin saja!” jawabku singkat.
Justin segera menggoreskan pena di atas secarik kertas itu hingga membentuk rangkaian tulisan. Kulirik tulisan tangan Justin cukup rapi untuk seseorang pengguna left hand sepertinya. Lalu Justin menggulung kertas itu dan mengaitkannya pada enam balon yang kuberikan.
Kini giliranku yang menulis suatu harapan dan permohonan di atas kertas dalam genggamanku. Tak lama aku pun melakukan hal yang sama, mengaitkan gulungan kertas itu pada keenam balon yang baru saja kubeli.
Sesaat Justin menatapku, ku anggukan kepalaku menandakan jika balon kami berdua siap untuk diterbangkan bersama- sama.
WUSHHH… ikatan balon- balon kami terbang mengikuti semilir angin yang berhembus. Senyum tersungging di wajah Justin.
“Semoga Tuhan mengabulkan permohonanku! Amien…” ucapnya sembari memejamkan matanya.
Sementara aku masih menatap ke atas langit mengikuti arah ke mana balon- balon itu terbang.
“Aku harus pulang! Sekarang Jazzy pasti sudah menungguku!” ucapku sembari melirik ke arah jam tangan kuningku.
Ketika aku hendak melangkahkan kakiku, tiba- tiba SYETTT… (idihhh bunyi apaan yakkk???) kakiku tersandung dengan beberapa batu kerikil. Dengan sigap Justin langsung menangkap tubuhku yang hampir jatuh sehingga membuatku dan Justin bertatapan secara dekat.
Tatapan Justin benar- benar memuakkan. Justin semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Apa yang akan dia lakukan? Jangan- jangan dia akan… AHHH…TIDAK… tak akan kubiarkan jika dia menciumku. Secara refleks ku tutupi wajahku dengan telapak kiriku. Melihat hal itu Justin berhenti memajukan wajahnya.
“Tak akan kubiarkan jika kau mencoba menciumku lagi!” kataku masih dengan telapak tangan yang menutupi wajahku.
Kemudian Justin membantu tubuhku untuk kembali berdiri tegak. “Siapa juga yang akan menciummu? Hanya saja barusan aku melihat beberapa kotoran di sekitar matamu!” ujarnya berlalu dan pergi meninggalkanku.
Apa? Kotoran mata? Benarkah perkataan Justin? Ohhh… My… benar- benar memalukan jika itu benar terjadi. Dengan cepat ku bersihkan daerah sekitar mataku dengan telapak tangan agar kotoran yang masih menempel itu dapat hilang.
*****

PART 30
 Tepat pukul 09.00 AM aku telah selesai mengajari Jazzy pelajaran berhitung. Begitu selesai berhitung, Jazzy langsung berlari menuju dapur.
“Mom,,, I’m so hungry!” seru Jazzy menghampiri sang ibu yang tengah memasak di dapur.
“Duduklah di kursi itu, Cupcake! Sebentar lagi makananmu akan siap!” suruh Mrs. Pattie.
“Aku ingin makan bersama Teddy yang semalam grandpa berikan untukku!” rengek Jazzy.
“Mom akan mengambilkan bonekamu tapi setelah mom menyelesaikan pekerjaan ini.” Mrs. Pattie tampak sibuk dengan acara memasaknya.
“Biar aku saja yang mengambilnya, Mrs. Pattie!” sahutku yang muncul dari arah kamar Jazzy.
“Tidak, Caris! Aku terlalu banyak mereporkanmu!” tolak Mrs. Pattie halus.
“Aku sama sekali tidak merasa kau repotkan!” jawabku tersenyum. “My little Angel, di mana kau letakkan boneka teddymu?” tanyaku pada Jazzy.
“Boneka itu ada di kamar Justin, Princess!”
“Baiklah, aku akan segera mengambilnya. Kau tunggu di sini, ok!” ucapku seraya mencubit pipi Jazzy yang sangat menggemaskan.
“Caris…!” suara Mrs. Pattie membuatku membalikkan badan. “Thanks!” lanjutnya yang dibalas senyuman olehku.
Aku bergegas menuju kamar Justin yang terletak di lantai atas.
“Kau merindukannya?” suara Mr. Bruce terdengar dari dalam kamar Justin. tampaknya saat itu Mr. Bruce tengah berbincang dengan Justin. “Justin… kau tak perlu merahasiakan hal ini padaku. Come on, tell me! Aku tau akhir- akhir ini kau murung karena kau merindukannya, kan?” Mr. Bruce kembali mengulang kata merindukannya. Sebenarnya Justin sedang merindukan siapa? Tak ada tanda- tanda Justin akan menjawab pertanyaan sang kakek. “Justin, I know who you are!” Mr. Bruce masih berusaha memaksa Justin untuk mengatakan sesuatu.
“Grandpa… aku tidak merindukannya!” jawab Justin datar.
“Kau bohong! Aku tau jika saat ini kau sangat merindukan Jeremy, right?” lagi- lagi Mr. Bruce mengulangi kata merindukan tapi diikuti dengan nama Jeremy.
Jeremy? Siapakah Jeremy? Good job, Mr. Bieb! Lagi- lagi kau menambah daftar pertanyaan di dalam otakku. Ughhh.. come on! Aku tak mau terjerumus terlalu jauh ke dalam masalahmu!
CKREKKK… tiba- tiba saja pintu kamar Justin terbuka. Sementara aku saat itu masih dalam posisi daun telinga didekatkan pada pintu kamar Justin.
“E..eh… Hy, Mr. Bruce!” ujarku gugup begitu mengetahui Mr. Bruce telah ada di hadapanku.
“Hy, Caris!” balas Mr. Bruce ramah. Justin menghampiriku yang berdiri di ambang pintu. “Mau bertemu Justin?” tanyanya yang ku balas dengan anggukan. “Silahkan! aku telah selesai berbicara dengannya!” Mr. Bruce berlalu meninggalkanku dengan Justin.
“Aku ke sini hanya ingin mengambil boneka Teddy milik Jazzy yang semalam tertinggal di kamarmu.” Jelasku tanpa berbasa- basi.
“Owhhh…” Justin meng- o. “Masuklah!  Boneka teddy itu ada di atas kasurku.” Dengan santainya Justin berjalan meninggalkanku masuk ke dalam kamarnya. “Kenapa kau masih berdiri di sana? Ambilah!” suruhnya.
Aishhh… pria ini benar- benar menyebalkan. Seharusnya dia yang mengambil dan memberikannya padaku. Kenapa jadi aku yang harus mengambilnya?
Dengan berat hati ku langkahkan kakiku masuk ke dalam kamarnya dan segera mengambil boneka teddy bewarna pink milik Jazzy.
“Kau mendengarnya?” tanya Justin tiba- tiba yang sudah berada di belakangku.
“Bisakah kau tak mengagetkanku?” protesku.
“Apakah kau mendengar percakapanku dengan kakek?” tanya Justin sekali lagi tanpa menghiraukan perkataanku.
“Percakapan? A… ahhh… tidak. Mana mungkin aku mendegarnya.”
“Benarkah?” tanyanya memastikan.
“Benar.”
“Sungguh?” tanyanya sekali lagi dan ini membuatku kesal sampai akhirnya…
BUGHHH… kuhantam wajah Justin yang menyebalkan dengan boneka teddy milik Jazzy. Justin hanya bisa meringis.
“Jika aku bilang tidak mendengar,,, ya berarti aku benar- benar tidak mendengar!!! Kau sungguh menyebalkan!” sungutku kesal dan segera berlalu meninggalkannya.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar