PART 25
Sesuai rencana, acara mengajari Jazzy kulalui
dengan sempurna. Sekitar pukul 10.00 AM aku membantu Jazzy merapikan beberapa
buku literatul yang Mrs. Pattie sediakan untuknya. Langkahku terhenti tepat di
sebuah foto berfigura yang tertempel di gedung ruang tengah saat hendak menaruh
buku di rak yang berjarak sekitar 2 meter dari tungku perapian.
Di dalam foto itu tampak seorang anak laki-
laki berusia sekitar 13 tahun mengenakan kaos kuning panjang, celana jeans,
serta sebuah topi bisbol di atas kepalanya tengah duduk memetik senar gitar di
sebuah tangga beton.
“Itu foto Justin ketika berumur 13 tahun!”
suara Jazzy menyadarkanku. “Mommy mengatakan jika saat itu Justin mengamen di
depan gedung AVON Theatre untuk membantu mommy. My Bieber is amazing, right?
I’m proud of him!” dari wajah Jazzy tergurat kebanggan terhadap Justin. “Aku
bosan berada di rumah. Maukah kau menemaniku mengitari beberapa tempat di kota
ini?” Jazzy menarik- narik cardigan hitamku.
“Memangnya kita akan pergi ke mana?” tanyaku.
“Ikuti saja langkahku! Aku akan mengajakmu ke
suatu tempat!”
Aku hanya bisa pasrah dan mengikuti Jazzy
yang masih menarik tanganku.
Langkahku terhenti tepat di sudut sebuah
gedung besar. Di depan gedung itu tampak Justin diikuti beberapa pria tengah
bernyanyi diiringi dengan gesekan biola dari seorang gadis cilik di sampingnya.
“So we fight,,, trough the hurt! And we cry…
and cry… and cry… and cry…” Justin menyayikan lagu yang semalam ia nyanyikan.
Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi
dengannya? Kenapa akhir- akhir ini dia selalu bersedih? Dasar Superstar!
Semuanya sama saja, sama- sama menjaga image di depan semua orang padahal yang
terjadi sebenarnya tidak seperti yang tampak dari luar.
Aku dan Jazzy sengaja berdiri di samping
gedung untuk mengamati Justin dan tak berusaha menghampirinya. Sesaat kulirik
Jazzy yang berada dalam dekapanku. Ahhh… TIDAK! Masa iya aku menanyakan masalah
Justin pada bocah sekecil Jazzy?
Kualihkan pandanganku pada Justin yang saat
itu telah mengakhiri pertunjukkan.
“Thanks, Justin!” ujar violin cilik di
samping Justin. “Kau telah membantuku!” lanjutnya.
“No, prob! Jangan pernah menyerah untuk
menggapai mimpimu, Ok!” nasehat Justin pada violin cilik itu sembari mengusap
puncak kepalanya. Justin dan beberapa pria di belakangnya pergi meninggalkan
violin cilik itu setelah menaruh beberapa lembar uang ke kotak biola.
“Di tempat itulah Justin bernyanyi untuk
membantu mom!” Jazzy menunjuk ke tangga beton yang tadi diduduki Justin. Ya…
tangga beton itu bahkan gedung ini sama seperti yang kulihat di foto tadi.
Terselip sedikit kekaguman dalam diriku atas usaha Justin untuk membantu
ibunya. “Princess...! Hello…!!!” Jazzy mengibas- ngibaskan telapak tangannya ke
depan wajahku. Akupun tersadar jika sedari tadi aku memandangi tangga beton di
depan gedung itu. “Kau baik- baik saja, kan?” tanyanya memastikan. Aku
mengangguk mantap. “Ayo kita ke taman! Kurasa Justin sedang bermain basket
dengan Ryan dan Chaz!” ajak Jazzy untuk kedua kalinya.
Benar saja, sesampainya di taman aku
mendapati Justin tengah bermain basket bersama dua pria yang sejak tadi
bersamanya.
“Boooo!!” Jazzy turun dari gendonganku dan
berlari menuju Justin.
Melihat Jazzy berlari ke arahnya, Justin
langsung menyambut Jazzy dengan pelukan hangat dan segera membawa ke dalam
gendongannya. Aku suka keakraban kedua saudara itu!
“Kemarilah! Akan ku kenalkan kau dengan
sahabat- sahabatku!” Justin mengibaskan rambutnya kepadaku seakan memberi
arahan untuk mendekatinya. “Guys, kenalin ini Caris, teman baru sekaligus
tetangga sementaraku di sini!” Justin memperkenalkan diriku kepada kedua
temannya. “Caris, kenalkan ini Ryan dan itu Chaz!” Justin menunjuk Ryan dan
Chaz secara bergantian.
“Ryan Buttler!” pria berambut plontos
menjabat tanganku.
“Chaz Somers!” kini giliran pria bertubuh
jangkung yang menjabat tanganku. “Heiii… kau bisa bermain basket kan? Bagaimana
jika kau bergabung dengan kami? Kebetulan kami membutuhkan tambahan pemain satu
orang lagi!” lanjut Chaz mencoba akrab denganku.
“Ide bagus, Chaz! Caris, bagaimana jika kau
satu tim denganku?” tawar Ryan.
“Terserah kalian saja!” jawabku.
Permainan basketpun dimulai. Peraturan dari
permainan ini adalah, tim yang berhasil mencetak skor 10 point tercepat itulah
pemenangnya. Saat aku dan yang lainnya bertanding basket, Jazzy duduk di bangku
pinggir lapangan sembari menyemangati kami berempat yang sedang bertanding.
Bola langsung ku over ke Ryan dan dengan jeli
Ryan langsung melempar bola basket itu ke arah ring di luar garis three point.
BLUSHHH… bola melesat masuk ke dalam ring.
Justin pun tak mau kalah… dengan cepat dia
merebut bola dari tangan Ryan dan melakukan tindakan yang sama. Bola pun
melesat melalui ring tanpa perlawanan.
Kini giliranku yang menguasai lapangan.
“Ayooo… Princess!!!” seru Jazzy dari pinggir lapangan.
Ku drible bola basket melewati Chaz, dan
sekarang aku berhadapan dengan Justin. Justin menatap tajam ke arahku, akupun
balik menatapnya tajam. Kuakui, diffent Justin sangat ketat jadi harus memutar
otak untuk bisa melewatinya. Awalnya ku drible bola menuju ke arah kiri Justin
begitu Justin mengikuti langkahku, langsung saja ku berbalik dan segera melewati
Justin dari arah sebaliknya.
“Yesss!” seruku ketika berhasil melakukan
lay- up dan menambah skor timku. “Kau terkecoh, Mr. Bieb!” bisikku saat
berjalan melewati Justin.
Tak lama petandingan selesai dan dimenangkan
olehku dan Ryan.
“Kalian berdua kalah!” ujar Ryan masih dengan
nafas tak beraturan. “Sekarang, saatnya kalian menjalankan hukumannya! Ayoo!”
Hah? Hukuman? Di awal pertandingan mereka
tidak menjelaskan kepadaku jika tim yang kalah akan mendapat hukuman.
“Caris… tunggu apa lagi!” Ku lihat Ryan telah
menaiki punggung Chaz. “Cepat kau naik ke atas punggung Justin! Mereka akan
berjalan mengitari lapangan ini sebanyak lima kali sesuai perjanjian!”
“Perjanjian? Perjanjian apa maksudmu?”
tanyaku tak paham.
“Ini memang sudah hukuman yang biasa kami
bertiga mainkan jika kalah dalam bertanding basket. Cepatlah naik ke atas
punggung Justin!” pinta Ryan.
“Ahh,,, aku pikir tidak usah,” tolakku halus.
“Cepatlah naik ke atas punggungku! Jangan
buang- buang waktu!” Justin membungkukkan badannya sembari membelakangiku. Aku
menurut saja daripada nanti harus mendengarkan ocehan Ryan. “Ughhhh… ternyata
kau berat sekali!” complaint Justin.
“Sudahlah… lebih baik kau lakukan saja
hukuman ini! Tak perlu banyak protes!” sungutku.
PART 26
Setelah lima kali Justin dan Chaz mengitari
lapangan basket, kami berlima memutuskan untuk menuju danau dekat taman.
Sesampainya di danau, ehhh… malah Chaz dan
Ryan pamit untuk pergi sebentar. Ada sesuatu hal yang akan mereka beli. Justin
hanya mengiyakan omongan kedua sahabatnya. Dan sekarang, tinggalah kami
bertiga.
“Pemandangannya sangat indah ya!” ucap Jazzy
yang berada dipangkuan Justin. Aku hanya tersenyum simpul merespon ucapan
Jazzy.
Sesaat Jazzy memandangku dan Justin secara
bergantian. Mengetahui hal itu Justin mengerutkan keningnya. “What?” tanyanya
pada Jazzy.
Jazzy tersenyum. “Nothing. Hanya saja aku
pikir kita bertiga sekarang seperti sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia
ya!”
Keluarga kecil? Apa maksud perkataan Jazzy?
“Kau ini…” Justin mencubit pipi Jazzy lembut.
“Yeah, aku pikir juga begitu!” mendengar jawaban Justin, aku pun langsung
menyikut lengannya. “Awww…” ringisnya sembari menatap ke arahku yang saat itu
hanya bisa melotot ke arahnya. “Umphhh… I mean… kau ini masih kecil Cupcake.
Tak sepantasnya kau memikirkan hal itu!”
“Kenapa? Kulihat kalian berdua itu serasi
menjadi pasangan,” lanjut Jazzy polos.
Ahhh… makin lama perkataan Jazzy makin
ngelantur. Aku? Berpasangan dengan Justin? TIDAK AKAN… mana mungkin aku tahan
jika harus menjalin hubungan dengan orang menyebalkan seperti dia?
Aku hanya diam sembari mengalihkan
pandanganku ke arah lain. Tak lama kurasakan cardigan yang ku kenakan basah.
Hemphhh… tampaknya ada seseorang di belakang yang sengaja menyemprotkan air ke
arah ku!
“Heyyy… apa yang kalian lakukan? Berhenti
menyerangku dengan pistol air itu!” Justin menyilangkan kedua tangannya yang
menutupi wajahnya untuk menepis serangan air dari pistol mainan milik Chaz dan
Ryan.
“Sudah cukup lama aku tidak menyerangmu
Bieber!” ucap Ryan senang.
“Jazz, bergabunglah dengan kami! Kita serang
Justin dan Caris bersama- sama!” Jazzy menuruti perintah Chaz untuk bergabung.
Ryan memberikan sebuah pistol air yang berukuran lebih kecil pada Jazzy.
Kemudian mereka bertiga (Chaz, Ryan, Jazzy) menghujani aku dan Justin dengan
tembakan air. Secara otomatis bajuku dan Justin basah kuyup karena tembakan air
itu.
“Kalian sangat jahil!!! Awasss ya!!!” Justin
berlari ke arah Chaz dan Ryan dan segera merebut pistol mainan dari tangan
kedua sahabatnya. “Saatnya pembalasan!” serunya ketika dua pistol mainan berada
dalam genggamannya. “Ini untukmu!” Justin melempar salah satu pistol itu ke
arahku.
Huphhh… dengan sigap ku tangkap pistol itu
dan segera melakukan hal yang sama seperti yang Chaz dan Ryan lakukan. Keadaan
berbalik, kini aku dan Justin yang menghujani Ryan dan Chaz dengan pistol air
itu hingga baju mereka basah kuyup. Jazzy juga ikut- ikutan mengarahkan pistol
mainannya ke arah Chaz dan Ryan. Akhirnya kami berlima perang pistol air.
Tingkah kami berlima cukup menarik perhatian beberapa orang yang mengunjungi
danau itu.
*****
Aku, Justin, dan Jazzy pulang ke rumah
keluarga Dale dalam keadaan basah kuyup. Aku menyempatkan diri mampir ke rumah
keluarga Dale untuk mengambil tas ku yang tadi tertinggal di kamar Jazzy.
Setelah mengambil tas, lagi- lagi penyakit
beserku kambuh ketika aku akan pergi meninggalkan kediaman keluarga Dale. Aku
pun menuju kamar mandi yang terletak di sebelah dapur. Ahhh…rupanya saat itu
Mr. Bruce tengah berada di dalam kamar mandi itu.
“Kau bisa menggunakan kamar mandi di lantai
atas, Caris!” kata Mrs. Diana yang saat itu tengah memasak di dapur. “Kamar
mandinya tepat berada di samping kamar Justin!”
Tanpa berpikir panjang lagi aku pun berjalan
cepat menuju lantai atas. Tak sulit menemukan kamar mandi itu, karena letaknya
berhadapan dengan anak tangga lantai atas.
Beberapa menit kemudian aku pun telah selesai
dan ke luar dari kamar mandi. Namun, saat ingin turun ku dengar suara Justin
sedang berbicara dengan sang ibu di kamarnya.
“Apa yang Usher katakan?” tanya Mrs. Pattie
begitu Justin menutup pembicaraan dengan seseorang di telepon.
“Dia hanya mengingatkanku untuk tetap menjaga
stamina,” jawab Justin datar.
“Ooo…” Mrs. Pattie hanya meng- o. “Oh ya, kau
tau aku sudah meminta Caris untuk menjadi guru privat Jazzy sesuai
permintaanmu!” kalimat Mrs. Pattie membuatku membulatkan kedua bola mataku. Apa
maksud dari perkataannya?
“Thanks, Mom!”
“You’re welcome, My Boy! Ku rasa Caris memang
orang yang tepat untuk menjaga dan mengajari Jazzy sebelum Jazzy masuk ke dalam
pendidikan yang lebih tinggi.” Kata Mrs. Pattie.
Lagi- lagi Justin membantuku untuk memperoleh
pekerjaan. Kenapa dia selalu ikut campur dalam kehidupanku? Aku hanya bisa
mendengus kesal dan berjalan meninggalkan kamar Justin sebelum sepasang ibu dan
anak itu mengetahui keberadaanku.
*****
PART 27
Sore harinya aku kembali menuju kediaman
keluarga Dale. Kali ini adalah jadwalku untuk mengajarkan Jazzy berhitung,
bahasa kerennya lebih dikenal dengan pelajaran matematika. Dengan sabar aku
mengajari gadis mungil itu di teras depan.
“Good, Jazzy! You’re smart girl!” sanjungku
karena Jazzy berhasil menangkap apa yang ku ajarkan dengan cepat.
“Booo… mau kemana?” tanya Jazzy begitu
melihat Justin ke luar rumah dengan dua kail pancing dan ember di kedua
tangannya.
“Cupcake,,, bagaimana jika sore ini kita
pergi memancing ke Star Lake? Sudah cukup lama aku tidak memancing di sana!”
spontan Jazzy langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Justin.
Ya…ya…aku tau itu artinya Jazzy mengiyakan ajakan Justin dan mengabaikan apa
yang aku ajarkan.
“Tapi, aku belum selesai berhitung, Booo!”
kata Jazzy yang melihat ke arahku.
“Aku rasa pelajaran berhitungmu bisa kau
lanjutkan besok! Ayo… kita pergi!” Justin mengajak Jazzy sekali lagi. “hehhh…
kau!” Justin menatap ke arahku. “Kenapa kau masih duduk di situ? Ayo… kita
berangkat ke danau! Kau itu lupa ya kalau sekarang ini Jazzy adalah tanggung
jawabmu. Mom kan membayar…”
Belum sempat Justin melengkapi kalimatnya,
aku sudah beranjak dari dudukku dan berjalan meninggakannya setelah menggendong
Jazzy ke dalam pelukanku. “Tunggu apa lagi? Ayo… berangkat!” sahutku saat
menyadari jika Justin masih berdiri mematung.
Beberapa menit kemudian kami bertiga sampai
di danau yang Justin maksud. Danau ini sama seperti danau yang tadi aku, Justin, Jazzy, Ryan, dan Chaz kunjungi.
Aku mengikuti Justin dan Jazzy yang telah
mengambil posisi duduk di dekat danau.
“Ini untukmu!” Justin menyodorkan sebuah kail
pancing ke arahku.
“Untuk apa kail ini?”
“Jelas saja untuk memancing. Memangnya kau
pikir untuk apa lagi?” jawab Justin dingin. Hahh… aku rasa dia masih kesal akan
perkataanku kemarin.
“Bagaimana jika kalian berdua berlomba? Siapa
yang mendapatkan ikan terlebih dahulu, dialah pemenangnya!” usul Jazzy.
“Aku setuju dengan idemu, Cupcake!” seru
Justin. “Bagaimana denganmu?” lanjutnya dengan tatapan meremehkan ke arahku.
Aku paling benci jika seseorang meremehkan
diriku. “Kau pikir aku takut? Kita lihat saja siapa yang akan ke luar sebagai
pemenang!” ku balas tatapan Justin dengan senyuman licik.
“Baiklah…kita mulai!” Jazzy memberikan aba-
aba. “ Satu… dua… tiga…!”
Tepat pada hitungan ketiga, kail milikku dan
Justin masuk ke dalam danau secara bersamaan.
Kami bertiga menghabiskan waktu dalam diam
sembari menunggu umpan dari kedua kail milikku dan Justin dimakan oleh ikan
yang ada di danau itu.
“Ahhh… lama sekali ikan- ikan itu memakan
umpanku!” suara Justin memecahkan keheningan. “Cupcake, kemarilah! Lihat apa
yang baruku temukan!”Jazzy menurut saja menghampiri Justin.
“Itu sangat indah Booo…” seru Jazzy tekagum-
kagum melihat apa yang ditemukan Justin di dasar danau. “Princess… kemarilah!
Kau harus melihat ini!” ajak Jazzy. Dengan malas ku hampiri Jazzy dan Justin.
“Indah, kan?” Jazzy menunjuk sebuah bintang laut di dasar danau. Aku
menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya.
“Car, coba kau lihat itu!” Justin menunjuk ke
arah langit.
“Apa?” aku pun mengikuti arah telunjuk
Justin. Dan… BYURRR… tanpa ku sadari ternyata Justin mendorong tubuhku ke dalam
danau. Tubuhku tercebur ke dalam danau dan tak sempat memberikan perlawanan
pada Justin.
“Hwahahahaaa… kau tertipu olehku, Car!” tawa
Justin membludak melihat diriku basah kuyup. Izzz… si Jazzy juga ikut- ikutan
menertawaiku! Lihat saja apa yang akan ku lakukan. Aku akan membalasnya!
Ku tenggelamkan diriku ke dasar danau hingga
tak tampak lagi. Menyadari hal itu, tawa Justin dan Jazzy berhenti sekaligus.
“Carissss……!!! Jangan becanda denganku! It’s
not funny!” Justin memanggilku. Tetapi, masih tak ada tanda- tanda jika aku
muncul dan berenang ke permukaan.
“Justin… Princess tenggelam! Kau harus
menolongnya!” ucap Jazzy.
“Entahlah! Kau tau dia bisa berenang?”
pertanyaan Justin dibalas dengan gelengan kepala dari Jazzy. “Ough… Shit!”
seketika itu Justin meletakkan Jazzy di tepi danau dan,,, BYURRR… dia langsung
menyusul tubuhku yang semakin tenggelam ke dasar danau.
Setelah mendapati tubuhku yang terkulai lemas
di dalam danau, Justin langsung menarik dan membawa kembali ke permukaan.
“Carrr… wake up!!!” berkali- kali Justin
mengguncang- guncang tubuhku, tetapi tubuhku enggan meresponnya.
“Princess… sadarlah!” suara Jazzy bergetar
sambil mengelus pipiku lembut. “Boo… bagaimana jika Princess tidak tertolong?
Kau harus melakukan sesuatu, Boo!” lanjut Jazzy menatap Justin.
Tergurat kesedihan dalam wajah Jazzy, dan itu
membuat Justin tak tega. Justin tampak tau apa yang harus ia lakukan. Dengan
cepat dia membuka bibirku yang masih terkatup. Ia pun mendekatkan wajahnya ke
arahku… dekat… semakin dekat… semakinnn dekatttt… CRUTTT… air di dalam mulutku
tampak menyembur wajah Justin.
Seketika itu mataku yang awalnya terpejam
langsung terjaga. “Kau gampang sekali tertipu, Mr. Bieb! Ckckckkk…” ucapku yang
menahan tawa melihat raut wajah Justin yang masih terbengong- bengong di depan
wajahku. “Aku terlalu pintar untuk kau tipu!” aku menepuk pipi Justin sembari
memamerkan senyum licikku.
“Jadi ini semuanya bohong?” aku mengagguk
menjawab pertanyaan Justin.
“Jangan pernah mempermainkanku, karena aku
jauh lebih baik jika bermain dalam permainan seseorang, Mr, Bieb!” aku bangkit
dari posisi tidurku setelah berhasil menjauhkan wajah Justin yang menghalangi
tubuhku.
“Syukurlah jika kau tak apa!” senyum lega
terlihat pada raut wajah Jazzy.
Semakin lama sinar matahari semakin
berkurang. Saat itu matahari akan tenggelam karena tak lama tugasnya akan
diambil alih oleh bulan untuk menerangi kegelapan di muka bumi.
“Very beautiful!” seru Jazzy terkagum- kagum
melihat proses matahari menenggelamkan diri.
Aku, Jazzy, dan Justin menyaksikan sunset
bersama- sama masih dengan keadaan basah kuyup. Proses pergantian dari pagi
menuju malam itu sangat indah. Aku terkagum- kagum menyaksikannya.
“Booo… Grandma pernah mengatakan padaku jika
kau akan menyatakan cinta terhadap wanita yang kau sayangi di danau ini.
Benarkah begitu?” Jazzy memecahkan keheningan.
“Yeay… sangat romantis bukan?” Justin
menatapku. Tatapannya tak dapat ku artikan. Aku hanya memandang heran ke
arahnya. “Bukan hanya wanita yang kucintai yang akan ku ajak ke Star Lake ini,
tetapi semua anak dan cucuku nantinya akan aku ajak ke sini. Mereka harus tau
keindahan dari danau ini! Apa kau akan melakukan hal yang sama denganku?” kali
ini Justin menatap Jazzy.
“Tentu! Itu akan menjadi masa yang tak
terlupakan. Bagaimana jika keluarga kita berdua pergi bersama- sama untuk
menghabiskan waktu di danau ini?”
Aihhh… lama- lama obrolan kakak beradik ini
semakin tidak masuk akal. Bisa- bisanya Justin membiarkan Jazzy berpikir
terlalu jauh. Padahal anak seumur Jazzy belum saatnya mengkhayalkan masa- masa
itu.
*****
PART 28
Seperti biasa, malam harinya insomnia terus
menemaniku. Aku hanya bisa mondar- mandir di dalam kamar sembari mendrible bola
basketku. Dari arah kendela kulihat Justin tengah berdiri di samping jendela
kamarnya sembari menatap lurus ke arah langit.
Hmphhh… pasti malam ini dia bersedih lagi!
Apa iya aku harus mencari tau masalahnya? Ahhh… tapi ku rasa aku tak pantas
mencampuri urusan pribadi Justin. Tapi… tak dapat kupungkiri Justin telah
membantuku. Karena dia sekarang aku menjadi guru privat Jazzy. Ini jelas- jelas
membantuku untuk memperbaiki kerusakan mobil milik oma.
Arghhhh… kenapa si Bieber terus- terusan
membantuku? Ini membuatku semakin berhutang budi padanya. Aku harus membalas
bantuannya. Tapi bagaimana caranya? Lagi- lagi Justin menambah daftar
pertanyaan di dalam otakku. Benar- benar menyebalkan.
*****
Pagi- pagi sekali jauh sebelum sang surya
menampakkan dirinya, aku telah rapi mengenakan jumper kuning bergambar
spongebob dan celana putih selutut. Kuambil sepatu cats putih di rak sepatu.
Kutulis sebuah memo yang berisi, “Oma, aku lari pagi mengitari kota ini. Maaf
karena aku tak berpamitan langsung kepadamu. Itu aku lakukan karena aku tak mau
mengganggu waktu istirahatmu. Tenang saja, aku pergi tak akan lama. Love You!
By Carista.” Lalu ku tempel memo itu di lemari es.
Aku ke luar rumah dengan mengendap- endap
agar oma tidak terjaga dari tidurnya. Ku lihat lampu kamar Justin tak menyala.
Ini tandanya Justin masih asyik dengan dunia mimpinya. Ku ambil beberapa batu
kerikil dan ku arahkan tepat pada kaca jendela kamar Justin.
Dughhh… satu batu mengenai kaca jendela kamar Justin.
Tapi, tak ada tanda- tanda jika penghuni kamar itu telah bangun.
Dughhh… dughhh… dughhh… kulemparkan tiga batu sekaligus ke arah
jendela itu. Alhasil, lampu kamar menyala.
Kerja yang bagus Caris! Batinku.
Justin membuka jendela kamarnya sembari
mengucek- ngucek kedua matanya untuk mencari tau sumber suara yang membuat kaca
jendelanya berbunyi.
“Hey…!!!” aku mencoba menjaga volume suaraku.
“Ku beri kau waktu lima menit untuk bersiap- siap! Setelah itu kau temui aku di
sini!” lanjutku tanpa berbasa- basi.
Masih dengan wajah setengah sadar, Justin
masih berdiri di samping jendelanya sembari menatap heran ke arahku.
“Tunggu apalagi? Cepat bersiap- siap!”
suruhku untuk kedua kalinya.
“Baiklah!” jawab Justin dan segera masuk ke
dalam kamarnya.
Kurang dari waktu yang kutentukan, Justin
telah menghampiriku dengan mengenakan jaket bewarna hijau, dipadu padankan
dengan celana putih selutut, sepatu supra hijaunya, dan topi hoodie putih yang
melekat di kepalanya.
Begitu Justin datang, aku langsung berjalan
pergi meninggalkannya. Dia hanya mengikuti langkahku.
“Sebenarnya kita akan pergi ke mana? Kau tau kan
ini masih terlalu pagi!” ucap Justin dan mencoba mensejajarkan langkahnya
denganku. Aku terus berjalan tanpa bergeming sedikitpun.
Gepphhh… tiba- tiba Justin telah berada di
depan dan menghalangi jalanku. “Kau baik- baik saja kan?” wajah Justin tampak
sedikit cemas. Lalu kurasakan telapak tangannya menyentuh pipiku.
“Yang kau lakukan hanyalah mengikuti ke mana
aku akan pergi tanpa harus bertanya ini- itu!” ku singkirkan telapak tangan
Justin dan kembali berjalan.
Langkahku terhenti tepat di danau yang dua
hari ini aku kunjungi. Danau yang Justin sebut dengan “Star Lake”. Ya… aku
mengajak Justin ke danau itu.
“Star Lake?” Justin memposisikan dirinya
tepat di hadapanku. Aku paling benci jika dia memposisikan dirinya seperti ini.
“Untuk apa kau mengajakku ke sini? Umphhh… jangan kau katakan jika kau akan
menyatakan cintamu kepadaku di tempat ini!” lanjutnya asal.
PLETAKKK… ku daratkan telapak tanganku ke
pipi kanan Justin.
“Auwww… sakit, My Baby!” ringis Justin.
“Jaga ucapanmu! Aku tidak mungkin jatuh cinta
padamu!” aku maju beberapa langkah darinya.
“Jadi kau mengajakku ke sini hanya karena
ingin menamparku?”
“Teriaklah!” suruhku padanya. Ku alihkan
pandanganku untuk menatapnya. “Teriaklah sekeras- kerasnya! Dengan berteriak ku
rasa akan mengurangi beban pikiranmu!” Justin masih menatap heran ke arahku.
“Mr. Bieb… Mr. Bieb… aku tau jika saat ini kau sedang mempunyai masalah. Tapi,
aku tak tau dan tak ingin tau apa masalahmu itu.” Kini tatapanku lurus menatap
genangan air danau.
Justin masih diam terpaku. Hahhh… aku rasa
aku harus memulainya terlebih dahulu.
“MR. BIEBBBB… KENAPA KAU HANYA BERDIRI
SEPERTI ORANG BODOHHH??? BERTERIAKLAHHH!!! DENGAN BERTERIAK AKAN MENGURANGI
BEBAN MASALAHMUUUUU…!!!” aku berteriak sekencang- kencangnya. “Sekarang
giliranmu!” ucapku pada Justin.
Justin menempelkan kedua telapak tangannya
dan membentuknya seperti corong pengeras suara. “MY BABYYYY… BENARKAH INI AKAN
MENGURANGI BEBAN MASALAHKUUUU??? JIKA BENAR, MAKA AKU AKAN MELAKUKANNYAAAAAA…
AKU INGIN BEBAN INI PERGIIII… PERGI DARI HIDUPKU DAN TIDAK LAGI MENGGANGGU
PIKIRANKUUUU!!!” kudiamkan saja suara Justin yang bergema di seluruh danau itu.
“TERIMA KASIHHHH TELAH MEMBAWAKU KE SINIIII… MY BABYYYYYYYYYYYYYYYYYY!!!”
serunya sekali lagi.
Setelah mengatakan hal itu, entah apa yang
ada di pikirannya Justin langsung berbalik dan mendekap tubuhku. Dia
menenggelamkan wajahnya dibahuku. Dapat kurasakan degup jantungnya yang
bergebu- gebu karena emosi. Seberat itukah masalahnya? Sesaat ku rasakan bibir
Justin mulai bergetar. Tentu saja dapat kurasakan karena bibir Justin menempel
dibahuku. Kurasa saat itu Justin menangis. Justin semakin mempererat
pelukannya. Namun, kubiarkan saja. Yeahhh… untuk kali ini saja aku
membiarkannya memelukku. Ini aku lakukan untuk membalas budinya karena telah
mencari sekaligus memberikanku pekerjaan. Kubalas pelukan Justin dan menepuk-
nepuk punggungnya.
PART 29
Cukup lama Justin memelukku. Itu sempat
membuatku sesak nafas. Tak lama setelah itu Justin melonggarkan pelukannya.
“Thanks, My Baby!” Justin menyentuh pipiku
dengan kedua telapak tangannya. Kulihat matanya yang sembab. Ternyata benar
dugaanku jika Justin menangis. “Sebenarnya aku…”
“Don’t, Justin! aku tak ingin mengetahui
masalahmu. Aku melakukan ini untuk membalas apa yang telah kau lakukan
untukku,” aku menepis kedua telapak tangan Justin dan memilih duduk di dekat
danau.
“Maksudmu?” tanya Justin tak paham dan
mengikutiku duduk di dekat danau.
“Aku tau jika kau yang mengatakan jika aku
membutuhkan pekerjaan kepada ibumu. Dan kuharap ini terakhir kalinya kau
membantuku. Asal kau tau saja, aku paling tidak suka berhutang budi pada orang
lain!” tegasku.
“Aku tidak merasa membantumu. Kebetulan waktu
itu mom sedang membutuhkan guru privat untuk Jazzy. Jadi, kuusulkan saja dirimu
dan ternyata mom menyetujuinya.” Justin menjelaskan. “My Baby, lihatlah!”
Justin tersenyum begitu melihat sang surya yang akan menerbitkan dirinya untuk
menyapa dunia.
Melihat sunrise mengingatkanku pada mendiang
mama. Dulu saat aku dan Auris masih kecil, mama sering sekali mengajakku
menatap sang surya yang terbit dari ufuk timur dari balkon kamar.
“My Baby!” panggil Justin.
“Hemmm?” sahutku masih menatap proses
terbitnya matahari.
“My Baby…” panggil Justin sekali lagi.
“Apa?” Ini membuatku kesal dan… Deghhh… wajah
Justin tepat berada di depan wajahku saat aku mencoba mengalihkan pandanganku
kepadanya.
“Wajahmu benar- benar seperti bayi yang tak
berdosa ketika di bawah sinar matahari yang baru terbit!” Justin tersenyum
menatapku.
PLETAKKK… kudaratkan tamparan sekali lagi
pada pipi Justin. Tapi, kali ini pipi sebelah kiri Justin yang menjadi
korbannya.
“Jangan kau keluarkan rayuan gombalmu di
hadapanku! Itu tidak mempan, Mr. Bieb!” kataku penuh penekanan.
“Kau itu… bisakah kau itu bersikap lembut
kepadaku sebentar saja?” Justin masih mengusap- usap pipi kirinya.
“Tidak akan!” ujarku menjulurkan lidahku dan
berlari meninggalkannya.
Ku hampiri penjual balon terbang yang tak
jauh dari tempat ku dan Justin duduk. Kini danau itu tampak dipenuhi beberapa
anggota keluarga yang ingin menghirup segarnya udara di pagi hari dan menikmati
keindahan danau.
Aku membeli dua ikat balon, dimana dalam satu
ikat terdapat enam buah balon. Seikat balon terbang itu seharga 5 dollar. Aku
pun segera membayarnya. Lalu kulihat sebuah kertas dan pena pada motor si
penjual balon terbang itu.
“Excusme, Sir! Bisakah aku meminta dua lembar
kertas itu dan meminjam penamu? Hanya sebentar saja dan akan segera ku
kembalikan!” pintaku pada si penjual balon.
Penjual balon itu dengan dermawannya
memberikan apa yang kumau. Aku kembali menghampiri Justin dengan dua ikat balon
dan dua lembar kertas beserta pena. Kemudian aku menyodorkan seikat balon, secarik
kertas, dan sebuah pena ke arahnya. Namun Justin hanya diam tak paham maksudku.
“Tulislah permohonanmu di kertas itu! Setelah
itu, kau ikat kertas itu dengan balonnya dan terbangkanlah!” suruhku untuk
kesekian kalinya.
“Apakah ini membantu?” tanyanya.
“Mmmm… mungkin saja!” jawabku singkat.
Justin segera menggoreskan pena di atas
secarik kertas itu hingga membentuk rangkaian tulisan. Kulirik tulisan tangan
Justin cukup rapi untuk seseorang pengguna left hand sepertinya. Lalu Justin
menggulung kertas itu dan mengaitkannya pada enam balon yang kuberikan.
Kini giliranku yang menulis suatu harapan dan
permohonan di atas kertas dalam genggamanku. Tak lama aku pun melakukan hal
yang sama, mengaitkan gulungan kertas itu pada keenam balon yang baru saja
kubeli.
Sesaat Justin menatapku, ku anggukan kepalaku
menandakan jika balon kami berdua siap untuk diterbangkan bersama- sama.
WUSHHH… ikatan balon- balon kami terbang
mengikuti semilir angin yang berhembus. Senyum tersungging di wajah Justin.
“Semoga Tuhan mengabulkan permohonanku!
Amien…” ucapnya sembari memejamkan matanya.
Sementara aku masih menatap ke atas langit
mengikuti arah ke mana balon- balon itu terbang.
“Aku harus pulang! Sekarang Jazzy pasti sudah
menungguku!” ucapku sembari melirik ke arah jam tangan kuningku.
Ketika aku hendak melangkahkan kakiku, tiba-
tiba SYETTT… (idihhh bunyi apaan yakkk???) kakiku tersandung dengan beberapa
batu kerikil. Dengan sigap Justin langsung menangkap tubuhku yang hampir jatuh
sehingga membuatku dan Justin bertatapan secara dekat.
Tatapan Justin benar- benar memuakkan. Justin
semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Apa yang akan dia lakukan? Jangan-
jangan dia akan… AHHH…TIDAK… tak akan kubiarkan jika dia menciumku. Secara
refleks ku tutupi wajahku dengan telapak kiriku. Melihat hal itu Justin
berhenti memajukan wajahnya.
“Tak akan kubiarkan jika kau mencoba
menciumku lagi!” kataku masih dengan telapak tangan yang menutupi wajahku.
Kemudian Justin membantu tubuhku untuk
kembali berdiri tegak. “Siapa juga yang akan menciummu? Hanya saja barusan aku melihat
beberapa kotoran di sekitar matamu!” ujarnya berlalu dan pergi meninggalkanku.
Apa? Kotoran mata? Benarkah perkataan Justin?
Ohhh… My… benar- benar memalukan jika itu benar terjadi. Dengan cepat ku
bersihkan daerah sekitar mataku dengan telapak tangan agar kotoran yang masih
menempel itu dapat hilang.
*****
PART 30
Tepat
pukul 09.00 AM aku telah selesai mengajari Jazzy pelajaran berhitung. Begitu
selesai berhitung, Jazzy langsung berlari menuju dapur.
“Mom,,, I’m so hungry!” seru Jazzy
menghampiri sang ibu yang tengah memasak di dapur.
“Duduklah di kursi itu, Cupcake! Sebentar
lagi makananmu akan siap!” suruh Mrs. Pattie.
“Aku ingin makan bersama Teddy yang semalam
grandpa berikan untukku!” rengek Jazzy.
“Mom akan mengambilkan bonekamu tapi setelah
mom menyelesaikan pekerjaan ini.” Mrs. Pattie tampak sibuk dengan acara
memasaknya.
“Biar aku saja yang mengambilnya, Mrs.
Pattie!” sahutku yang muncul dari arah kamar Jazzy.
“Tidak, Caris! Aku terlalu banyak
mereporkanmu!” tolak Mrs. Pattie halus.
“Aku sama sekali tidak merasa kau repotkan!”
jawabku tersenyum. “My little Angel, di mana kau letakkan boneka teddymu?”
tanyaku pada Jazzy.
“Boneka itu ada di kamar Justin, Princess!”
“Baiklah, aku akan segera mengambilnya. Kau
tunggu di sini, ok!” ucapku seraya mencubit pipi Jazzy yang sangat
menggemaskan.
“Caris…!” suara Mrs. Pattie membuatku
membalikkan badan. “Thanks!” lanjutnya yang dibalas senyuman olehku.
Aku bergegas menuju kamar Justin yang
terletak di lantai atas.
“Kau merindukannya?” suara Mr. Bruce
terdengar dari dalam kamar Justin. tampaknya saat itu Mr. Bruce tengah
berbincang dengan Justin. “Justin… kau tak perlu merahasiakan hal ini padaku.
Come on, tell me! Aku tau akhir- akhir ini kau murung karena kau merindukannya,
kan?” Mr. Bruce kembali mengulang kata merindukannya.
Sebenarnya Justin sedang merindukan siapa? Tak ada tanda- tanda Justin akan
menjawab pertanyaan sang kakek. “Justin, I know who you are!” Mr. Bruce masih
berusaha memaksa Justin untuk mengatakan sesuatu.
“Grandpa… aku tidak merindukannya!” jawab
Justin datar.
“Kau bohong! Aku tau jika saat ini kau sangat
merindukan Jeremy, right?” lagi- lagi Mr. Bruce mengulangi kata merindukan tapi diikuti dengan nama
Jeremy.
Jeremy? Siapakah Jeremy? Good job, Mr. Bieb!
Lagi- lagi kau menambah daftar pertanyaan di dalam otakku. Ughhh.. come on! Aku
tak mau terjerumus terlalu jauh ke dalam masalahmu!
CKREKKK… tiba- tiba saja pintu kamar Justin
terbuka. Sementara aku saat itu masih dalam posisi daun telinga didekatkan pada pintu kamar Justin.
“E..eh… Hy, Mr. Bruce!” ujarku gugup begitu
mengetahui Mr. Bruce telah ada di hadapanku.
“Hy, Caris!” balas Mr. Bruce ramah. Justin
menghampiriku yang berdiri di ambang pintu. “Mau bertemu Justin?” tanyanya yang
ku balas dengan anggukan. “Silahkan! aku telah selesai berbicara dengannya!”
Mr. Bruce berlalu meninggalkanku dengan Justin.
“Aku ke sini hanya ingin mengambil boneka
Teddy milik Jazzy yang semalam tertinggal di kamarmu.” Jelasku tanpa berbasa-
basi.
“Owhhh…” Justin meng- o. “Masuklah! Boneka teddy itu ada di atas kasurku.” Dengan
santainya Justin berjalan meninggalkanku masuk ke dalam kamarnya. “Kenapa kau
masih berdiri di sana? Ambilah!” suruhnya.
Aishhh… pria ini benar- benar menyebalkan.
Seharusnya dia yang mengambil dan memberikannya padaku. Kenapa jadi aku yang
harus mengambilnya?
Dengan berat hati ku langkahkan kakiku masuk
ke dalam kamarnya dan segera mengambil boneka teddy bewarna pink milik Jazzy.
“Kau mendengarnya?” tanya Justin tiba- tiba
yang sudah berada di belakangku.
“Bisakah kau tak mengagetkanku?” protesku.
“Apakah kau mendengar percakapanku dengan
kakek?” tanya Justin sekali lagi tanpa menghiraukan perkataanku.
“Percakapan? A… ahhh… tidak. Mana mungkin aku
mendegarnya.”
“Benarkah?” tanyanya memastikan.
“Benar.”
“Sungguh?” tanyanya sekali lagi dan ini
membuatku kesal sampai akhirnya…
BUGHHH… kuhantam wajah Justin yang menyebalkan
dengan boneka teddy milik Jazzy. Justin hanya bisa meringis.
“Jika aku bilang tidak mendengar,,, ya
berarti aku benar- benar tidak mendengar!!! Kau sungguh menyebalkan!” sungutku
kesal dan segera berlalu meninggalkannya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar