PART 1
I will never say never… I will
fight
I will fight till forever… make
it right
Whenever you knock me down
I will not stay on the ground
Pick it up… pick it up… pick it
up… up… up…
And never say never…
Terdengar alunan musik yang bersumber dari kamar
seberang yang berada tepat di samping kamarku. Aku
hanya bisa mendengus kesal mendengarkan setiap hari semua lagu Justin Bieber
mengalun di dalam rumahku. Padahal pagi ini begitu indah, namun menurutku
berubah menjadi suram gara- gara setiap hari aku harus mendengarkan hanya lagu-
lagu itu saja yang diputar.
Perkenalkan, namaku Carista Callary Hawkins.
Aku adalah anak kembar bungsu dari dua bersaudara. Saudara kembarku, akhhh…
maksudku kakakku adalah Aurista Callary Hawkins. Dia merupakan salah satu belieber
yang begitu memuja seorang JUSTIN DREW BIEBER. Setiap hari, setiap jam, setiap
menit, dan setiap detik, dia selalu saja mendengarkan dan menyanyikan lagu-
lagu Justin Bieber. Huhhh,,, tampaknya dia sudah terjangkit demam bieberfever. Kami
lahir di Jakarta pada tanggal 14 February 1995. Kami
merupakan kembar saudara yang dilahirkan dari dua orang tua yang beda
kewarganegaraan. Papaku, Bryan Tyler Hawkins merupakan pria berkebangsaan
Amerika yang saat ini memilih menetap di Amerika, lebih tepatnya di Atlanta
yang merupakan kota kelahirannya, untuk mengurusi bisnisnya. Sementara Mamaku,
Vanessa Arinby merupakan wanita berkewarganegaraan Indonesia asli. Mamaku berasal
dari Surabaya, namun sayang saat ini dia telah meninggalkan kami untuk
selamanya akibat kecelakaan mobil saat aku dan Aurista berumur 3 tahun. Aku dan
Auris sangat merindukannya. Adanya beda kewarganegaraan orang tua kami membuat
kami berperawakan campuran (indo).
Ehhh… kalian jangan salah dulu, walaupun pada
hakikatnya kami kembar, tetapi antara aku dan Auris banyak juga lho
perbedaannya baik dari segi fisik maupun sifat. Secara fisik memang wajahku hampir
mirip dengan kakakku, tetapi kalau diperhatikan secara detail, warna rambut,
warna bola mata, serta tinggi badan kami berbeda. Auris mempunyai warna rambut
blonde, warna bola mata hitam, serta tinggi badan 174 cm. Sedangkan Aku
memiliki warna rambut coklat keemasan, bola mata coklat keemasan juga, dan
tinggi badan 179 cm. Heran… padahal yang jadi kakak kan si Auris, kenapa tinggi
badanku bisa melebihinya? Itulah pertanyaan yang selalu menghantui benakku.
Sementara kalau dilihat dari segi sifat, kami berbeda 180 derajat. Auris lebih
rajin dibanding denganku terbukti sekarang dia duduk dalam kelas unggulan di
SMA Persada. Dan dalam hal penampilan, Auris lebih peduli akan penampilan dan
lebih terlihat feminim dibandingkan aku. Aku lebih acuh terhadap penampilan.
Menurutku selama pakaian yang aku pakai nyaman digunakan why not aku pakai.
Sementara dalam hal pelajaran aku cenderung malas. Daripada belajar, aku lebih
baik dihukum lari keliling lapangan basket sebanyak 20 kali dah. Tapi untungnya
setiap guru menyuruhku mengerjakan soal di papan, aku dapat menyelesaikannya
dengan sempurna.
Sekarang kami mengenyam pendidikan di SMA
Persada, Jakarta. Auris menempati salah satu bangku di kelas unggulan, yaitu
kelas XI IPA-1. Sementara aku duduk di kelas XI IPA-4. Umur kami yang baru
beranjak 15 tahun tak menjadi kendala buat kami dalam menangkap pelajaran.
Yeah… umur kami terlalu cepat untuk mengenyam pendidikan di
SMA. Ini terjadi karena semasa SMP kami mengikuti kelas akselerasi. Untung saja
aku lulus,,, hehehe…
PART 2
“Are you ready, Cupcake?” sebuah suara yang
ternyata adalah suara papa mengagetkanku yang saat itu sedang mengomel sendiri
di dalam kamar sembari merapikan beberapa pakaian ke dalam koper. Maklum hari
ini aku akan pergi berlibur bersama Papa dan Aurista. Cupcake adalah panggilan
kesayangan papa untukku.
Saat ini papa sedang ada bisnis di Jakarta,
makanya dia berada di tengah- tengah kami. Apabila papa kembali ke Atlanta, aku
dan Auris hanya tinggal seorang diri di Jakarta ditemani Bi Aya dan suaminya,
Pak Duta yang sudah mengabdi cukup lama di keluarga kami.
“Of course, Dad! I’m ready now,” jawabku
tersenyum tipis.
“Good! Cepatlah, aku akan menunggu kalian di
bawah. Pesawat kita akan take on satu jam lagi!” kemudian terdengar bunyi tapak
kaki papa menjauhi kamarku.
Aku pun segera mengecek perlengkapan yang
akan aku bawa, memastikan semua barang telah masuk.
“Beres!” ucapku yakin akan perlengkapan yang
aku bawa.
Aku segera beranjak dari kamar dan
menyambangi kamar seberang yang merupakan kamar kembaranku. Auris masih sibuk
dengan acara menyanyikan lagu idolanya.
“Auris… hurry up! Pesawat kita akan take on
sejam lagi!” aku mengetuk pintu kamar Auris yang tak lama Aurispun ke luar
setelah mematikan alunan lagu sang idola.
Kami berdua turun ke lantai bawah menemui
papa yang saat itu telah siap untuk berangkat menuju bandara. Sebelum masuk ke
dalam mobil, kami berdua berpamitan pada bi Aya.
“Caris pasti akan sangat merindukan Bibi!”
“So do I,” celetuk Auris yang secara bersama
memeluk bi Aya.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
sampai ke Atlanta walaupun menggunakan pesawat terbang. Sepanjang perjalanan
aku hanya bisa terlelap dan tidak mengindahkan pemandangan di luar.
Sesampainya di Atlanta, kami dijemput oleh
Mr. Jake dengan mengendarai mobil Lamborgini. Mr. Jake adalah supir pribadi
keluarga Hawkins, itu adalah nama keluarga papaku. Saat aku kecil, aku sering
sekali dibawa jalan- jalan olehnya mengelilingi kota Atlanta. Dia begitu sayang
kepadaku dan Auris karena dia telah menganggap kami seperti anaknya sendiri.
Apakah Mr. Jake tidak mempunyai keluarga? Tidak… dia mempunyai keluarga. Hanya
saja 10 tahun yang lalu anak tunggal dan istrinya meninggal dalam kebakaran di
apartemennya waktu itu. Aku benar- benar iba terhadapnya.
“Dad, I want to go to toilet. Give me a
minutes, ok!” lagi- lagi penyakit beserku kambuh. Begitulah aku. Kupercepat
langkahku menuju toilet, tapi tiba- tiba… BUKKK… aku bertabrakan dengan seorang
cowo berjaket kulit hitam dengan topi NY hitam dan kacamata hitam.
“I’m so sorry about this!” ujarnya dan
mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
“Lain kali kalau jalan hati- hati donk! Sakit
tau!” ujarku sinis kepada cowo itu dan segera berlari menuju toilet.
“Wait…,” tampaknya cowok itu hendak
memanggilku, tetapi aku sudah terlanjur meninggalkannya.
“Fuih… lega!!!” aku menghela napas setelah
buang air kecil.
“Hy!” sapa seseorang ketika aku ke luar dari
toilet.
“Kau lagi? Apa yang kau lakukan di sini?”
tanyaku setelah mengenali suara yang menyapaku. Yuph…suara itu adalah suara
dari cowo yang tadi sempat menabrakku.
“Aku di sini hanya mau minta maaf padamu atas
tabrakan tadi.” Aku masih terdiam dan tidak merespon ucapannya. “My name is
Drew!” lanjutnya mengulurkan tangannya ke arahku. “Your name?”
“Carista Callary Hawkins. Sorry, I must go
now!” aku pun melanjutkan langkahku menuju tempat di mana papa, Auris, dan Mr.
Jake menungguku.
“Carista… hmphhh… beautiful name!” gumam cowo
misterius itu.
*****
PART 3
Memakan waktu sejam untuk sampai di kediaman
keluarga Hawkins. Setelah menempuh waktu itu, kami pun tiba di sebuah rumah
mewah bercat tembok coklat soft klasik dihiasi dengan berbagai macam tanaman di
sekelilingnya, membuat rumah itu terlihat semakin indah dan asri. Dari pintu
utama, tampak seorang wanita paruh baya berdiri menyambut kedatangan kami.
Wanita itu adalah Omaku, Mrs. Laurent Tyler Hawkins.
“Welcome to my house, Princess!” sambut Oma
sembari merentangkan kedua tangannya ketika melihat aku dan Auris turun dari
mobil. “Come on, give me a hug!” kami pun segera memeluknya. “Kalian sudah
tumbuh dewasa! Aku sangat merindukan kalian,” oma tidak dapat membendung lagi
air matanya.
“Owhhh… please Oma! Don’t cry! Aku dan Caris
sekarang datang ke sini untuk menemani Oma! Don’t sad again, ok!” Auris
menghapus air mata oma yang membasahi pipinya.
“Wajah kalian berdua mengingatkanku kepada mendiang
mama kalian,” ucap oma mencoba untuk tegar.
“Mom… mereka ku bawa ke sini untuk berlibur
bukan untuk bersedih seperti ini! Lebih baik kita lanjutkan obrolannya di dalam
rumah!” papa menengahi.
Setelah itu oma mengantar kami menuju lantai
dua, lantai di mana kamar kami berada. “This is your room, Honey!” langkah kami
berhenti tepat di depan sebuah kamar yang berwarna serba pink.
Senyum mulai terkembang di wajah Auris. “It’s
a great, Grandma!” Auris memeluk oma dengan cepat dan langsung masuk ke dalam
kamar itu untuk merapikan barang bawaannya.
Kemudian aku dan oma meneruskan langkah
menuju kamar sebelah yang letaknya bersebelahan dengan kamar milik Auris.
Ketika oma membuka pintu kamar itu, aku benar- benar dibuat takjub. Bagaimana
tidak, jika kamar itu tak banyak berubah. Yeah… itu adalah kamarku semasa
kecil. Kamar bernuansa ungu sesuai dengan warna favoritku yang dipadu padankan
dengan warna putih masih menyimpan begitu banyak kenangan. Mulai dari satu set
drum yang masih bertengger di sudut ruangan, hingga selimut kesukaanku.
“Aku menyiapkan semua ini hanya untukmu,
Cupcake!” oma menepuk pundakku yang membuatku tersadar dari ketakjubanku. “Ini
adalah set drum pertama yang aku belikan untukmu. Apakah kamu ingat, waktu itu
kau menangis meronta- ronta agar aku membelikannya untukkmu?” pertanyaan oma
membuatku tersenyum karena mengingatkan kejadian itu.
“Yeah, I remember it! Thanks, Grandma!”
“I’m missing you so much, my Cupcake! Lebih
baik sekarang kau berbenah dahulu. Setelah itu, aku menunggumu di ruang makan.
Mrs. Mitchi membuatkan hidangan lezat untuk kalian,” oma mencium keningku dan
langsung pergi ke luar kamar.
BUKKK…sejenak aku merebahkan tubuhku di atas
kasur untuk melepas penat.
PART 4
Namun tak lama kemudian, terdengar suara
gaduh dari kamar Auris.
“Oh My… di mana aku menaruhnya? Jangan-
jangan… owh Shit!” Auris tampak kelabakan dan segera menuju kamarku.
“CARISSSS…..!!!” teriaknya yang membuatku terlonjak kaget.
“Bisakah sehari saja kau tidak membuat
hidupku bising karena suaramu??” kataku kesal.
“Iya… maaf kalau aku sudah membuatmu kaget.
Aku butuh bantuanmu saat ini. Come on Caris, help me! Please…” Auris
mengeluarkan tampang puppy facenya.
“Jangan pernah memasang wajah puppy facemu di
hadapanku! Itu tidak mempan, Auris!” sergahku. “Jangan samakan aku dengan Dad
yang langsung luluh dengan tampang puppy facemu itu. To the point saja, apa
yang terjadi?”
“CD Justin Bieberku ketinggalan di atas meja
belajar.” Kata Auris lirih.
“So… what must I do? Mengantarmu kembali ke
rumah hanya untuk mengambil CD idolamu? Owhhh… maaf aku tidak bisa!” tolakku
cepat.
“Bukan itu maksudku. Aku butuh bantuanmu
untuk menemaniku ke toko CD. Kau kan tau sendiri kalau aku tak bisa hidup tanpa
lagu- lagu Justin. Ayolah Car!” Auris masih saja merengek, membuatku tak tahan
akan rengekannya.
“Ok, aku ikut denganmu!” jawabku pasti. “Asal
selesai acara membeli CD itu kau mentraktirku di kafe Mrs. Emily. Aku sudah tak
sabar ingin bertemu dengannya.” Aku pun mengajukan persyaratan. Auris pun
menyetujuinya. Kami pun berangkat dengan mengendarai mobil ford putih milik
papa. Untung saja papa mengijinkanku mengendarai mobilnya, biasanya papa selalu
melarangku untuk membawa mobil. Alasannya karena umurku yang masih belum genap
17 tahun. Padahal sejak umur 12 tahun aku sudah mahir mengemudikan mobil.
Hebatnya ketika usiaku baru beranjak 14 tahun, aku telah mempunyai SIM. Nah,
masalah proses pembuatan SIM itu, aku sama sekali tidak tau- menahu. Hehehe…
hanya saja papa berpesan agar mengemudikan mobil itu dengan benar. Apabila
nanti mobil itu kenapa-napa, itu semua tanggung jawabku. Huh,,,sungguh
menegangkan jika mengemudikan sebuah mobil menggunakan persyaratan.
Begitu sampai di toko CD, Auris langsung
menuju tempat di mana CD Justin diletakkan. Dengan cepat dia mengambil album My
world and My World 2 milik Justin dan bergegas membayarnya di kasir. Sementara
aku hanya mengawasi gerak- gerik kakakku dari luar toko CD itu.
“Yeee… I get it!” Auris tertawa senang begitu
ke luar dari toko CD dan memperoleh CD yang dimaksud. “Ohh… My… Caris… look!”
wajah Auris berubah saat melihat benda yang terpampang dalam toko seberang.
PART 5
Pandangan Auris tak beralih dari jumper merah
dan sepatu merk supra bewarna putih yang terpampang di dalam kaca toko seberang.
“Aku harus mendapatkannya. Wait me a minute,
ok!” dengan cepat dia berlari menyeberangi jalan setelah memberikan tas kertas
yang berisi CD Bieber ke arahku. Ini tandanya aku harus menjaga CD itu.
Sesaat pandanganku tertuju pada sebuah kafe
yang terletak di sebelah toko CD. “Daripada menunggu Auris di sini seperti
orang bodoh, lebih baik aku menunggu di kafe itu sembari mengisi perutku yang
keroncongan.” Aku merogoh saku jaket mencari BB milikku untuk mengirim BBM pada
kakakku.
Aku menunggumu di kafe sebelah
toko CD. Jangan terlalu lama berbelanja! Jika kau terlalu lama, aku akan
meninggalkanmu!
“Send!” ujarku dan berjalan menuju kafe setelah
memasukkan kembali BB milikku ke dalam saku jaket. Namun tiba- tiba…
BUKKK… aku kembali bertabrakan dengan
seseorang yang tak ku kenal. Yeayyy… hari ini sudah kali keduanya aku
bertabrakan dengan orang misterius. Parahnya salah satu CD Bieber yang Auris
titipkan padaku patah.
“Ohhh… No… you broke this CD!” keluhku
melihat kepingan CD yang terbagi dua.
“Aku… aku benar- benar tak sengaja! Hanya
saja aku tadi…” kalimat orang misterius itu terpotong setelah mengenali
wajahku. “Are you Carista?” aku terkejut saat orang yang berdiri di hadapanku
menyebut namaku. “Carista Hawkins, right?” tanyanya lagi memastikan.
“Dari mana kau tau nama lengkapku? Kita tidak
pernah kenal sebelumnya.”
“Heyy… it’s me! Drew… are you remember me?
Tadi pagi kita bertemu di bandara.”
Arghhh… ternyata aku hari ini bertabrakan
dengan orang yang sama.
“Are you belieber?” lanjut Drew saat melihat
kepingan CD Bieber yang patah akibat tabrakan tadi.
“No, I’m not a belieber. CD ini milik
kakakku. Karena kau telah merusaknya, maka kau harus
menggantinya dengan yang baru. Hurry up, sebelum kakakku tau semua ini.”
“It doesn’t matter with me. Kau tunggu di
sini, ok!” Drew pun masuk ke dalam toko CD dan tak lama dia kembali menemuiku
dengan CD Bieber yang baru di tangannya. “This for you! Sekali lagi aku minta
maaf karena merusak CD milikmu.”
“Good job Drew! Thanks sudah menggantinya
dengan yang baru.” Kali ini aku harus berterima kasih dengannya. Kalau saja dia tak mengganti CD yang rusak
itu, alamakkk… bisa- bisa kupingku pecah karena mendengar suara tangisan Auris.
“Sekarang giliranku untuk pergi. Bye, Caris!”
lanjut Drew sembari melambaikan tangannya. Sementara aku hanya membalas dengan
sebuah senyuman tipis yang tersungging di wajahku.
Ketika aku akan melangkahkan kaki menuju kafe
tadi,
“Carisss…!” Drew kembali memanggilku. “Nice
to meet you! I hope we can meet again. See ya!” Drew kembali meneruskan
langkahnya.
Aku kembali menunggu Auris di kafe sembari
memesan segelas milkshake.
*****
PART 6
Malam harinya kami sekeluarga makan malam di
restaurant. Sudah lama aku merindukan suasana kebersamaan keluarga ini.
“Dad… setelah makan malam ini, bolehkah aku datang
dalam acara press conference Justin Bieber? Tempat acaranya tak jauh dari sini
kok!” lagi- lagi Auris merengek sembari mengeluarkan jurus andalannya, yaitu
tampang puppy facenya. “Tak perlu khawatir, Dad! Aku akan pergi bersama Caris
juga kok.” Lanjutnya sembari tersenyum penuh kemenangan ke arahku. Sementara
aku hanya bisa menatapnya tajam dan berdoa dalam hati semoga saja papa tak
mengijinkannya.
Lagipula aku sangat malas untuk menghadiri
acara itu. Pasti sangat membosankan.
“Baiklah, kau boleh pergi ke acara itu. Mr.
Jake juga akan ikut dengan kalian. Nanti oma dan papa akan pulang terlebih
dahulu.” Jawaban papa sangat- sangat membuatku geram.
“Kenapa aku harus ikut dengan Auris? Ayolah
Pa, yang sangat memuja- muja seorang Justin Bieber itu Auris, bukan diriku!”
protesku.
“I know that, Cupcake! Tapi, kalian itu
saudara kembar yang harus saling menjaga satu dengan yang lain. Kalian itu…”
Aku memotong kalimat Papa sebelum semuanya
jadi tambah panjang. “Alright… I know what do you mean, Dad!”
Kutatap wajah Auris yang tersenyum penuh
kemenangan. “Puas kau!!!” sungutku kesal.
*****
Kini aku, Auris, dan Mr. Jake telah berada di
depan gedung Atlanta Centre (ngarang.com :’D) mengantre hanya untuk mendapatkan
tiket confrencenya Justin. Dan tak lama, kami pun mendapatkan tiga buah tiket.
“Kalian berdua masuk saja terlebih dahulu!
Aku nanti menyusul.” Ujarku yang menimbulkan tatapan kecurigaan di wajah Auris.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Ini bukan alasanmu untuk kabur kan?”
tanyanya curiga seakan sudah paham apa yang ada di otakku.
“Kau tenang saja, aku tidak akan kabur! Hanya
saja aku ingin pergi ke toilet sekarang. Oh ya, Mr. Jake, bolehkah aku meminta
kunci mobil? Aku ingin mengambil barangku yang tertinggal di dalam mobil.”
Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Auris dan Mr. Jake masuk ke
dalam gedung itu. Ternyata penyakit beserku dapat dijadikan alasan yang ampuh
untuk mengelabuhi Auris. Hehehe…
Malam itu terasa sangat dingin. Sesekali aku
mengusap- usap kedua telapak tanganku agar hangat. Tiba- tiba sebuah tangan
seseorang mendarat di pundakku. Aku pun refleks menangkap tangan itu dan
membuatnya beralih posisi hingga membelakangi punggung sang pemilik.
“Heyyy… apa- apaan kau ini! Lepaskan aku,
Caris! Kau bisa membuat tanganku terkilir!” rintih orang itu yang ternyata
adalah seorang pemuda. “Ini aku, Drew! Lepaskan tanganku, Caris!” pemuda yang
ternyata adalah Drew itu memohon sekali lagi kepadaku.
“Lagian, siapa suruh kau datang tiba- tiba
dan langsung menepuk pundakku!” sungutku kesal sembari melepaskan tangannya.
“Wait… what are you doing here? Kenapa aku selalu saja bertemu denganmu?
Jangan- jangan kau sengaja mengikutiku, ya? Cepat katakan, sebenarnya apa
maumu???” aku mengarahkan kepalan tanganku ke arahnya. Tapi bukannya takut, ia
malah tertawa cekikikan. “Kenapa kau tertawa? Apa menurutmu ini lucu? I’m
seriously!” aku kembali memasang wajah serius.
“Hmphhh… okay… I’m serious now!” Drew mencoba
menahan tawanya. “Caris, listen to me! Aku tidak ada niatan untuk mengikutimu
apalagi mencelakaimu. Kau terlalu lugu untukku sakiti!” ucapnya sambil
tersenyum ke arahku. “Ini semua hanya kebetulan saja kita bisa bertemu tiga
kali dalam sehari. Bukankah ini hebat! Mmm… kenapa sekarang kau berada di sini?
Bukankah kau tadi mengatakan jika kau bukanlah seorang Belieber? Sementara malam
ini, di gedung ini sedang berlangsung press conference Justin. Kau berbohong
padaku?”
Pertanyaannya sempat membuatku bergidik malu.
“Sudah berkali- kali aku katakan yang menjadi salah satu beliebers itu adalah
kakakku. Dan apa perdulimu? Kenapa kau terus bertanya hal ini padaku?” jawabku
sedikit kesal sembari menatap ke arah Drew yang saat itu masih setia mengenakan
kacamata hitamnya dengan topi NY ungu yang menutupi rambutnya. Benar- benar
pria aneh! Itulah penilaianku terhadapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar