Minggu, 13 Oktober 2013

"I Really Love You" PART 61 - 66 (ENDING)

PART 61
“RYAN!!!” pekik Carol begitu mendapati sosok Ryan. “Ba... bagaimana keadaan kakimu? Biarkan aku mengobatinya!” dengan paksa Carol membuat Ryan terduduk di pondok kecil yang terletak di taman, lalu dia melipat celana jeans Ryan sampai batas lutut. Begitu dia melihat lutut Ryan, matanya melotot. “Hey, bu... bukannya lututmu terluka?” tanyanya bingung.
“Lututku terluka? Siapa yang bilang?” tanya Ryan balik tak kalah bingungnya.
“Lho... tadi Caris menga....... owh crap!!!” ehehehee... tampaknya Carol menyadari sesuatu.
“Sebegitu khawatirkah dirimu jika aku terluka?” ayeee... pertanyaan Ryan kali ini benar- benar membuat Carol salah tingkah.
“Eng... ng... no... no... no... hanya saja tadi aku... aku...” jawab Carol gagap.
“Ehemmmm...” Justin berdeham dan muncul dari balik semak tempat persembunyiannya.  Aku dan Chaz juga ikut di belakangnya. “Sudahlah Carol, katakan saja padanya jika kau khawatir dan tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Dan kau man, sebaiknya kau juga katakan tentang perasaanmu. Jangan jadi seorang loser, ok!”  Justin menatap Ryan dan Carol secara bergantian.
“Jika kau mengatakannya detik ini juga, malam ini restaurant Mr. Donald menjadi milikmu, Dude!” tambah Chaz. Sebenarnya aku tak mengerti maksud perkataan Chaz ini. Mr. Donald? Who is he?
Setelah mengatakan itu Justin dan Chaz berjalan meninggalkan Carol dan Ryan. Melihat mereka berdua melangkah menjauh, aku pun mengikuti langkah mereka untuk masuk ke dalam rumah.
“Benarkah kau khawatir padaku?” Ryan mengulangi pertanyaannya.
“Ng... ng... ng...” Carol tetap saja gugup menjawab pertanyaan Ryan.
Ryan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Carol. Dia memegang kedua tangan Carol. “Jawab pertanyaanku, Carol!”
Dengan tersipu malu Carol mengangguk pelan menjawabnya. “Dan bagaimana dengan perkataan Justin barusan? Memangnya bagaimana perasaanmu terhadapku?”
Dag... dig... dug... jantung Ryan berdegup kencang. Peluh mengalir deras membasahi wajahnya. Bibirnya bergetar dan begitu sangat berat untuk mengeluarkan satu patah katapun.
“Ryan,,, kau baik- baik saja kan?” Carol memastikan keadaan Ryan yang mendadak kaku di hadapannya.
Ryan mengangguk lemah. “So...???” Carol masih menunggu jawaban Ryan.
“Ok, Carol... ak... aku akan mengatakannya dengan cepat!” hah... Ryan masih saja bersikap kaku. Aku sedikit geram melihat tingkahnya dari balik jendela. “Ak... aku mencintaimu Carol sejak pertama kita bertemu di Stratford park. Kau ingat, saat itu Caris memperkenalkanmu kepada kami hingga akhirnya kau menceritakan semua tentang kehidupanmu.”
“Tapi kau tau sendiri Ryan, aku itu bukan wanita suci lagi. Ak... aku telah menyerahkan semuanya pada Joey. Aku tak pantas mendapatkan cintamu yang tulus itu,” tanpa terasa bulir- bulir air mata mengalir dari sudut mata Carol.
Ryan menarik tubuh Carol untuk masuk ke dalam pelukannya. Dia mengusap lembut rambut dan mengecup puncak kepala Carol.
“Aku tak perduli dengan semua masa lalumu. Kesucian tidak bisa diukur dari itu Carol. Hanya Tuhan yang berhak menilai tingkat kesucian tiap orang. Aku janji, mulai dari sekarang aku akan menjagamu! Sudah, jangan menangis lagi di depanku. Aku tak bisa melihat wanita yang kucintai menangis dan sedih,” ujar Ryan panjang lebar.
“Benarkah kau tidak mempermasalahkan masa laluku?” tanya Carol yang berhasil melepaskan diri dari pelukan Ryan.
“Yuph!” angguk Ryan mantap. Carol tersenyum. “Jadi, apa kau menerima pernyataan perasaanku?”
“Kelihatannya bagaimana?” tanpa disadari Carol semakin merapatkan tubuh mungilnya dan segera mendaratkan sebuah ciuman kilat pada pipi Ryan.
“Ye... yeay... aku rasa kau menerimaku. Benar, kan?” tanya Ryan dengan tampang tak berdosanya. Carol hanya membalas dengan senyuman termanisnya. “YESSSS... AKHIRNYA KAU MENJADI KEKASIHKU!!!” teriak Ryan girang sembari memeluk dan memutar tubuh Carol.
“Yesss... Berhasil!!!” decak Chaz riang melihat Ryan dan Carol yang telah sah menjadi sepasang kekasih. Sementara aku dan Justin hanya bisa tersenyum dan ikut merasakan kebahagiaan Carol dan Ryan.
*****

PART 62
Saat makan malam, aku memasukkan suapan bubur buatan oma sembari menatap lekat Carol. Tak sedetikpun aku melepaskan pandanganku padanya. Kau tau, malam ini penampilannya sangat anggun dengan dress putih tanpa lengan yang dikenakan dan make up yang soft. Aku heran, sebenarnya dia akan pergi kemana sich?
Terdengar suara bel dari arah pintu utama.
“Biar aku saja yang membukanya!!!” aku segera beranjak dari ruang makan menuju pintu utama rumah.
Begitu aku membuka pintu, tampak sosok pria tampan mengenakan kemeja biru bermotif kotak- kotak tengah berdiri di depan pintu rumah. Pria itu mencengkram sebuket mawar merah. Hmmm... rasanya aku tau tujuan dia kemari.
“Carolll... ada yang mencarimu!!! Cepatlah ke luar!!!” seruku memanggil Carol.
Tak lama Carol ke luar. Ryan, pria yang tengah berdiri di depanku itu tampak terkagum- kagum melihat penampilan Carol. Dia tak berkedip sedikitpun menatap kekasihnya itu. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Maklumlah... pasangan baru. :’D
Ryan membawa Carol melesat bersama mobil swift biru miliknya setelah mengantongi ijin dari oma. Senangnya dapat melihat mereka berdua bersatu. Tapi, mereka berdua akan kemana? Entahlah,tapi aku yakin Ryan akan menjaga Carol dengan baik. So, don’t panic, Caris! ;’)
Tok... tok... tok... kembali terdengar suara ketukan dari pintu utama. Padahal, aku baru saja menutupnya. Hah, siapa lagi yang datang? Untung saja saat ini aku masih berada di balik pintu utama. Jadi, aku dapat membuka pintu dengan cepat.
“Hy!” sapa seorang pria dengan senyuman khasnya. Belum sempat aku mengijinkannya masuk, ehhh... dia malah masuk terlebih dahulu. Pria ini benar- benar tak sopan!
Kuikuti langkahnya yang berhenti di ruang makan. Kurasa dia berniat untuk menemui oma. Dengan serius pria itu membicarakan sesuatu dengan oma. Pembicaraan mereka berdua terbilang sayup- sayup, karena jujur aku tak mendengarnya. Aku memilih melihat mereka berdua dari ruang tengah. Tak lama pria itu kembali menghampiriku. Tanpa permisi, seenaknya saja dia menarik tanganku untuk mengikutinya.
“Hey,,, wait! Kau akan membawaku ke mana?” tanyaku bingung. Ahhh sial... tetap saja pria ini tak menghiraukan perkataanku. Dia semakin menarik tubuhku dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobil range rover hitam yang terparkir di depan rumahku.
Selama di dalam mobil, aku hanya diam. Aku masih kesal terhadap pria tak sopan yang begitu saja memaksaku untuk mengikutinya. Sedari tadi aku hanya melihat pemandangan di luar melalui kaca mobil.
“Kenapa diam saja? Kau marah?” tanya pria tak sopan dan menyebalkan itu.
Okay Caris, ini saatnya...
“Sebenarnya kau akan membawaku kemana, Mr. Bieb???” kini aku mengalihkan pandanganku terhadap pria yang tengah mengemudikan mobil. Justin... yeay... saat ini aku tengah berada di dalam mobilnya. Dia yang membawaku pergi entah ke mana tujuannya akupun tak tau. Pria ini benar- benar tak sopan dan sangat menyebalkan bukan?
“Nanti juga kau tau!” jawabnya misterius.
“Hahhh... terserah kau sajalah!” dengusku kesal dan kembali melemparkan pandanganku pada pemandangan yang tengah kulalui.
Selang beberapa menit, Justin menghentikan mobilnya.
“Kenapa berhenti?” bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah ke luar dari mobil dan membukakan pintu mobil untukku. “Ini di mana?” lanjutku mengamati sekitar.

PART 63
Justin mengeluarkan sebuah kain hitam dari saku celananya. Ia mendekatkan kain itu padaku.
“Kau mau apa?” aku sedikit menampis tangan justin.
“Kau harus menutup matamu dengan kain ini jika ingin tau ke mana aku akan mengajakmu sebenarnya. Sudahlah, jangan cerewet!” dengan cepat Justin menutup mataku dengan kain hitam itu.
Justin menuntunku berjalan menyusuri jalan yang tak ku tau tempatnya. Tak lama dia berhenti. Kurasakan hembusan angin menerpa wajahku.
“Kau siap melihatnya?” bisik Justin yang berdiri di belakangku. Perlahan dia membuka ikatan kain hitam yang menutupi pandanganku. “Open your eyes!” titahnya.
Sedikit demi sedikit kubuka mataku. Kukerjap- kerjapkan mataku sejenak. Kini aku dapat melihat hamparan pasir halus nan luas berpadu dengan suara deburan ombak yang berkejar- kejaran. Ya... pemandangan pantai di malam hari terpampang jelas di hadapanku. Bukan hanya itu, sebuah pondok kecil beratap jerami terlihat kokoh dengan dua tiang penyangga. Pondok itu dikelilingi beberapa lampu lilin. Sebuah meja yang di atasnya tersaji beberapa makanan juga ikut meramaikan pondok itu. That’s cool!
Sebuah genggaman merengkuh telapak tanganku untuk menghampiri pondok kecil buatan itu. Justin mempersilahkanku duduk bak seorang putri. Dia merapikan letak makanan yang terhidang. Lalu dia mengambil posisi duduk yang berhadapan denganku. Aku hanya bisa menatap heran ke arahnya.
“Kau yang menyiapkan ini semua?” tanyaku. Dia hanya mengangguk. “Untuk apa?”
“Aku menyiapkan ini semua untuk merayakan kesembuhanmu.”
Aku menggelengkan kepala. “Why? Kau tak suka dengan desain tempatnya?” kulihat raut wajahnya berubah kecewa. “Maaf!” lanjutnya lirih.
“Tidak... tidak...! desainnya sangat bagus, sungguh!” jawabku yakin.
“Benar?”
“Yeah, trust me!” aku mencoba meyakinkan Justin.
“Thanks, My Baby! Sebaiknya cepatlah makan beef steak itu sebelum dingin!”
Daripada dia kecewa, sebaiknya aku menuruti perkataannya. Segera kusambar pisau dan garpu yang terletak di samping piring. Aku menyantap beef steak itu dengan lahap. Maklum, sejak dirawat di Rumah Sakit aku tak pernah menyantap makanan lezat selain bubur. :’{
Dari lahap dan khusyuknya, aku sampai tak menyadari jika Justin berpindah posisi dan duduk di sebelahku.
“Kau itu terlalu lahap, My baby!” dia mengambil sebuah tissue di atas meja kemudian menyapu sisa sauce yang menempel di sudut bibirku.
“Aku bisa sendiri, Mr. Bieb!” aku mencoba merebut tissue dari tangannya, tapi dia malah menahan tanganku.
“Apakah telah ada ruang di hatimu?” keningku mengerut mendengar pertanyaan konyolnya. “Apakah sekarang telah ada ruang di hatimu untukku?” dia semakin memperjelas maksud perkataannya.
Bodoh... kenapa dia harus menanyakan hal ini lagi? Membuatku pusing saja.
Aku beranjak dari dudukku. Berjalan menuju bibir pantai. Justin mengikuti dari belakang. Aku melakukan itu untuk menghindari pertanyaan Justin. Jujur saja, sampai sekarang aku bingung harus menjawab apa.

PART 64
Kurasakan tangan seseorang menyusup memeluk perutku. Justin... itu pasti dia. Aku mencoba melepasnya.
“Don’t My Baby!” dia semakin merapatkan tubuhnya dan mempererat pelukannya. “Biarkan aku memelukmu seperti ini walaupun hanya sebentar.” Ditopangkan dagunya ke pundakku.
Aku ingin sekali berontak, tapi lagi- lagi suaranya yang parau membuatku kasihan padanya. Caris... Caris... sejak kapan kau menghadapi sesuatu menggunakan perasaan seperti ini?
“Aku tau, kau pasti bingung untuk menjawab pertanyaanku.” Justin semakin menenggelamkan wajahnya di pundakku. “Maaf jika aku terlalu memaksakan perasaanku ini. Kau tak perlu menjawabnya sekarang jika memang kau tak mempunyai jawabannya. Aku mencintaimu, My baby!” sekali lagi Justin mengungkapkan perasaanya.
Huhhh... aku hanya bisa membuang nafas. Kurasa aku harus segera mengakhiri ini semua. Aku tak bisa selamanya menggantung perasaannya. Secepatnya aku harus memberikan jawaban atas perasaannya itu.
Perlahan Justin merenggangkan pelukannya. Dia membalikkan tubuhku sehingga posisiku kini berhadapan dengannya. Ditempelkan kedua telapak tangannya di atas pipiku.
“Ada sesuatu yang inginku tunjukkan padamu!” ujarnya tersenyum.
Sesuatu? Apa lagi yang dia siapkan?
Tiba- tiba saja... Jgerrr... Jgerrr... Dhuarrr... Dhuarrr... Dhuarrr... (benar kagak sich bunyinya kembang api seperti itu??? ;’D) terdengar suara gemuruh kembang api bergema menyelimuti seluruh pantai. Kutengadahkan kepalaku menatap ke atas langit yang awalnya bewarna hitam kini berubah dihiasi dengan berbagai warna. Wow... it’s so amazin! Aku terkagum- kagum melihat setiap efek letupan kembang api itu.
Pertama muncul kembang api bewarna ungu dengan bunyi yang menggelegar. Setiap letupannya memancar membentuk lingkaran besar. Sungguh menakjubkan. Aku menikmati kembang api raksasa ini selama 10 menit.
Kupikir lepas kembang api raksasa itu berhenti, maka semuanya berakhir. Tapi ternyata sebaliknya. Kembang api kedua muncul dimana saat mencapai puncaknya membentuk kata “Love”. Tunggu dulu... tadi Justin mengatakan akan menunjukkan sesuatu padaku. Jangan- jangan...
“Inikah yang ingin kau tunjukkan padaku?” Justin tersenyum ke arahku.
“Ini belum selesai, My baby!” ungkapnya. “Lihatlah!” kini jari telunjuknya menuntunku untuk kembali menatap ke atas langit.
Lagi- lagi kembang api dengan bentuk lain kembali muncul. Kembang api ketiga ini membentuk sebuah hati ketika mencapai puncaknya. Seketika itu pula langit dihiasi warna merah karena pancaran letupan kembang api itu.
“That’s my heart to you!” sela Justin di tengah gemuruh suara letusan kembang api yang ia siapkan. “Ruang hatiku yang dulu pernah kosong saat ini telah terisi olehmu. Dan aku ingin kau tau itu.” Justin memandangku penuh keseriusan. “Saat ini tempatmu berada di sini, My Baby!” Justin mengamit telapak tanganku dan menuntunnya tepat di bagian dada kanannya.
Saat aku ingin merespon perkataannya...

PART 65
tiba- tiba saja hidungku terasa gatal dan... hatchiii... upsss... aku bersin di hadapannya.
Melihat keadaanku, wajahnya berubah panik. “Kau baik- baik saja kan? Ahhh... bodoh, tak seharusnya aku mengajakmu ke sini. Kau itu belum sembuh total.” Justin melepaskan jaket yang dipakai kemudian menyelimutkannya pada tubuhku. “Sebaiknya kita pulang. Aku tak mau kau sakit lagi!” direngkuhnya tubuhku untuk berjalan meninggalkan bibir pantai dan pertunjukkan kembang api yang masih berlangsung.
“Hey... hey... aku baik- baik saja, Bieb! itu hanya bersin biasa. Bukankah pertunjukkan kembang apinya belum selesai? Kurasa ak....”
“Sudahlah, kau tak perlu memikirkan kembang api itu! Lain kali aku pasti akan menyiapkan lagi untukkmu. Sekarang ini kesehatanmu yang lebih penting!”
Ughhh... sikapnya yang terlalu berlebihan mencemaskanku membuatku kesal! Begitu sampai di mobil, dia membukakan pintu mobil untukku. Ketika dia ingin memasangkan sitbealtku, langsung saja kutepis tangannya.
“I can do that, Bieb!” ujarku dengan wajah yang ditekuk. “Jangan memperlakukanku seperti anak kecil! Aku baik- baik saja!”
“Baiklah!” ucapnya mengalah.
Setelah Justin menempati posisinya dikursi kemudi, ia langsung melajukan mobilnya.
Di tengah perjalanan pulang menuju rumah, aku memilih diam. Jujur saja aku masih kesal akan sikap berlebihan Justin yang terlalu mengkhawatirkanku. Kami berdua melewati pusat perbelanjaan kota Stratford. Hingga akhirnya mataku tertuju pada satu toko yang memampangkan sebuah benda unik.
“Mr. Bieb... stop... stop!!!” titahku pada Justin. Spontan Justin menginjak rem secara mendadak.
“Ada apa? Kau tau, ini bisa membuat kita celaka jika kau menyuruhku berhenti mendadak seperti ini!” protesnya.
“Aku ingin mengunjungi toko itu!” Justin mengikuti arah jari telunjukku. “Sebentar saja!” lirihku memohon.
“Ok, tapi hanya sebentar karena ini sudah terlalu larut malam!” Justin berniat turun dari mobil, namun tentu saja ku cegah.
“Eh... kau mau ke mana?”
“Tentu saja menemanimu masuk ke dalam toko itu!”
Aku menggeleng keras. “Tidak, Mr. Bieb! kau tak bisa mengikutiku masuk ke dalam sana!” tunjukku pada toko yang kumaksud. “Kau gila ya, jika kau masuk ke dalam sana, semua orang pasti akan mengepungmu. Dan itu akan membuat kita semakin lama untuk sampai ke rumah. Sebaiknya kau tunggu di sini saja. Aku hanya sebentar!” kemudian aku bergegas menuju ke dalam toko yang ku maksud. Sementara Justin tetap duduk manis di dalam mobil.
Aku harus mendapatkan benda yang terpampang di etalase toko itu. Karena benda itu bisa membantuku untuk mengakhiri semuanya.
*****

“Begitu kau sampai di Kanada, ku harap kau bisa mengatasi semuanya. Oma menunggu kedatanganmu. Maaf jika aku telah merepotkanmu!” tak lama aku mengakhiri percakapan di telepon dengan seseorang.
Baiklah Caris... saatnya meluruskan semua masalah! Dan besok... aku harus menyelesaikan semuanya!!!
Aku sudah memikirkan matang- matang tentang semua ini. Tekadku sudah bulat. Aku harus melakukannya besok.
Dengan keyakinan penuh, ku langkahkan kakiku menuju tempat tidur. Aku harus istirahat agar besok aku bisa melakukannya dengan kondisi segar. Kutarik selimut hingga batas leherku. Kupejamkan mataku dan mencoba menjelajahi dunia mimpi.
*****

PART 66
“Kau yakin dengan keputusanmu ini?” tersirat rasa sedih dari nada bicara Carol.
“Aku sangat yakin. Jika nanti dia ke sini mencariku, tolong berikan ini padanya! Aku tak bisa menunda lagi kepulanganku karena lusa masa ajaran baru telah dimulai. Terima kasih atas semuanya, Carol!”
“Aku pasti akan sangat merindukanmu, Caris!” Carol mendekap tubuhku.
Hari ini aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku memilih jam penerbangan yang sangat pagi. Ini aku lakukan untuk menghindari Justin. Aku takut jika nantinya dia tau kepulanganku ke Indonesia.
Selepas berpamitan pada Carol dan oma, aku langsung masuk ke dalam taxi yang sedari tadi telah menunggu di depan rumah. Di dalam taxi, aku sempat melihat ke arah jendela kamar Justin yang masih gelap. Kurasa pria itu masih terlelap.
Selamat tinggal, Mr. Bieb! Terima kasih untuk semuanya!
*****

“Morning, Carol! Caris di mana?” raut wajah Carol berubah saat Justin menanyakan keberadaanku.
Tanpa menjawab pertanyaannya, Carol langsung masuk ke dalam rumah dan tak lama kembali lagi menemui Justin dengan sebuah kotak bewarna ungu di tangannya. Dia menyodorkan kotak itu ke arah Justin.
“Untukku?” tanyanya polos. Sementara Carol hanya mengangguk. “Dari siapa kotak ini?” lanjutnya.
“Kotak itu dari Caris,” ujar Carol singkat.
Mendengar nama ‘Caris’, Justin langsung antusias untuk membuka kotak bewarna ungu itu. Dia terheran- heran begitu mengetahui isi di dalamnya. Scraf, di dalam kotak itu terdapat scraf ungu pemberian Justin saat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Pada scraf itu terselip sebuah amplop bewarna purple. Dengan cepat, Justin pun segera membuka isi surat itu.

Dear Justin,
Morning, Mr. Bieb! Aku rasa ketika kau membaca surat ini, aku tak lagi berada di Stratford. Pagi- pagi sekali aku memutuskan kembali ke Indonesia. Maaf jika aku tak bepamitan padamu dan keluargamu sebelumnya. Sampaikan rasa terima kasihku kepada keluargamu, ya!
Sengaja aku mengembalikan scraf ini padamu, bukan berarti aku tak menyukai benda itu. Tapi, aku rasa aku tak pantas menerima dan memiliki benda itu. Simpanlah scraf itu, dan berikan pada gadis yang nantinya akan mencintaimu dengan tulus.
Maaf, aku tak bisa membalas perasaanmu, Bieb! Sampai hari ini aku tak bisa membohongi diriku sendiri untuk memaksakan diri mencintaimu. Kau pikir aku tak mencoba membuka hati untukkmu? Kau salah jika berpikiran seperti itu. Selama ini aku sudah mencoba sebisa mungkin membuka hatiku dan belajar mencintaimu. Tapi nyatanya, I can’t do that!
Aku tak bisa membohongi dirimu dengan berpura- pura mencintaimu. Kau tau, akan lebih menyakitkan jika aku membohongi diriku sendiri dan berpura- pura mencintaimu. Itu benar- benar menyakitkan dan aku tak sanggup untuk melakukannya padamu.
Kau pria baik walaupun sedikit menyebalkan. Simpanlah scraf ini dan berikan kepada wanita yang nantinya akan mencintaimu dengan tulus. Kuharap kau mendapatkan wanita yang tepat dan benar- benar mencintaimu.
Jaga dirimu baik- baik, Mr. Bieb! Senang bisa bertemu denganmu! Terima kasih untuk semuanya! Aku pergi...
                                                                                                                    By Caris

Selesai membaca surat itu, gumpalan air mata mulai menggenang di kantung mata Justin.
“Jam be... berapa dia berangkat ke bandara?” tanyanya parau.
“Jam lima pagi, sementara pesawatnya take on sejam yang lalu.”
Justin melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul tujuh. Dia hanya menghela nafas.
“Terlambat!” lirihnya.
“Aku tau kau sedih Justin, tapi kau tak bisa berlarut- larut dalam kesedihanmu. Kau harus melanjutkan kehidupanmu dengan ada ataupun tanpa Caris,” nasehat Carol.
“Aku tau itu. Aku tau cinta memang tak bisa dipaksakan. Dan aku cukup senang dengan kejujuran Caris. Aku pamit pulang Carol, terima kasih untuk semuanya!” ujarnya sembari tersenyum lemah. Diapun melangkah menjauhi pekarangan rumahku.
*****

Setelah melalui perjalanan yang lumayan lama, akhirnya aku sampai juga di tanah kelahiranku. Ahhh... senangnya! Aku benar- benar merindukan suasana kota Jakarta.
Drrrr... drrrrrr... BB yang berada di saku jaketku kembali bergetar. Kutatap layar Bbku, di sana tertera nama ‘Mr. Bieb incoming call’. Maaf Justin, aku tak bisa menerima teleponmu. Aku kembali melangkahkan kakiku menuju pintu utama bandara Soekarno- Hatta di mana di sana telah ada pak Duta yang menunggu kedatanganku.
*****

Drrrr... drrrr... drrrrr...  BB yang kuletakkan di atas meja belajar kembali bergetar.
“Bieb... Bieb... kenapa kau masih saja menghubungiku?” gerutuku begitu menatap layar BB dan melihat nama yang sama.
Lagi- lagi Justin meneleponku. Sudah 38 kali dia menghubungiku. Fuhhh...  dengan terpaksa aku menjawab teleponnya.
“Halo My Baby! Syukurlah akhirnya kau menjawab teleponku! Bagaimana keadaanmu? Kau baik- baik saja kan? Kau sampai ke Indonesia dengan selamat kan?” Justin menyerangku dengan pertanyaan yang bertubi- tubi. Aku memilih diam tak bergeming sedikitpun. “My Baby, are you there?” suara Justin kembali terdengar karena tak mendapatkan respon dariku.
Aku menghela nafas panjang. “Aku baik- baik saja, Mr. Bieb! Kau tak perlu cemas memikirkan keadaanku. Carol sudah memberikan kotak itu padamu?”
“Ya, aku sudah menerima kotak ungu pemberianmu. Kenapa kau mengembalikan scraf itu?”
“Ku rasa alasannya sudah ku tulis dalam surat itu. Mr. Bieb, dengarkan aku, kau harus melanjutkan hidupmu! Dunia kita berdua berbeda. Yang harus kau ingat saat ini kau adalah seorang Justin Drew Bieber sang superstar. Kau bukan lagi Justin Drew Bieber yang hanya seorang bocah Sratford. Aku mohon Bieb, berhenti menghubungiku! Yakinlah jika nantinya akan datang seorang gadis sesuai impianmu. Jika gadis itu datang, kau harus benar- benar menjaganya!” aku mencoba memberi pengertian pada Justin. Maaf Mr. Bieb, aku benar- benar tak bisa membalas perasaanmu.
“Baiklah jika itu maumu! Aku senang karena kau telah jujur atas perasaanmu, walaupun itu kau ungkapkan hanya lewat secarik surat. Kau boleh saja meminta aku untuk tak lagi menghubungimu, tapi aku mohon jangan kau paksa aku untuk melupakan perasaan ini padamu. I can’t, My baby! Perasaanku begitu besar terhadapmu. Aku tak tau sampai kapan perasaan ini akan terus melekat padaku. Jaga dirimu baik- baik, My baby! Aku mencintaimu, Carista Callary Hawkins...”
Tut... tut... tut... Justin langsung mengakhiri percakapan, padahal aku belum sempat membalas perkataannya. Sudahlah, semoga saja dia bisa menemukan gadis yang tepat.
Kuletakkan kembali BB ku di atas meja belajar. Aku berjalan ke luar kamar menuju ruang tengah untuk menemui keluargaku yang tengah berkumpul. Perasaan lega menyelimutiku karena aku telah menyatakan semuanya pada Justin.



~ END ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar