PART 61
“RYAN!!!” pekik Carol begitu mendapati sosok Ryan. “Ba... bagaimana keadaan
kakimu? Biarkan aku mengobatinya!” dengan paksa Carol membuat Ryan terduduk di
pondok kecil yang terletak di taman, lalu dia melipat celana jeans Ryan sampai
batas lutut. Begitu dia melihat lutut Ryan, matanya melotot. “Hey, bu...
bukannya lututmu terluka?” tanyanya bingung.
“Lututku terluka? Siapa yang bilang?” tanya Ryan balik tak kalah
bingungnya.
“Lho... tadi Caris menga....... owh crap!!!” ehehehee... tampaknya Carol
menyadari sesuatu.
“Sebegitu khawatirkah dirimu jika aku terluka?” ayeee... pertanyaan Ryan
kali ini benar- benar membuat Carol salah tingkah.
“Eng... ng... no... no... no... hanya saja tadi aku... aku...” jawab Carol
gagap.
“Ehemmmm...” Justin berdeham dan muncul dari balik semak tempat
persembunyiannya. Aku dan Chaz juga ikut
di belakangnya. “Sudahlah Carol, katakan saja padanya jika kau khawatir dan
tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Dan kau man, sebaiknya kau juga katakan tentang perasaanmu. Jangan jadi
seorang loser, ok!” Justin menatap Ryan
dan Carol secara bergantian.
“Jika kau mengatakannya detik ini juga, malam ini restaurant Mr. Donald menjadi
milikmu, Dude!” tambah Chaz.
Sebenarnya aku tak mengerti maksud perkataan Chaz ini. Mr. Donald? Who is he?
Setelah mengatakan itu Justin dan Chaz berjalan meninggalkan Carol dan Ryan.
Melihat mereka berdua melangkah menjauh, aku pun mengikuti langkah mereka untuk
masuk ke dalam rumah.
“Benarkah kau khawatir padaku?” Ryan mengulangi pertanyaannya.
“Ng... ng... ng...” Carol tetap saja gugup menjawab pertanyaan Ryan.
Ryan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Carol. Dia memegang kedua tangan
Carol. “Jawab pertanyaanku, Carol!”
Dengan tersipu malu Carol mengangguk pelan menjawabnya. “Dan bagaimana
dengan perkataan Justin barusan? Memangnya bagaimana perasaanmu terhadapku?”
Dag... dig... dug... jantung Ryan berdegup
kencang. Peluh mengalir deras membasahi wajahnya. Bibirnya bergetar dan begitu
sangat berat untuk mengeluarkan satu patah katapun.
“Ryan,,, kau baik- baik saja kan?” Carol memastikan keadaan Ryan yang
mendadak kaku di hadapannya.
Ryan mengangguk lemah. “So...???” Carol masih menunggu jawaban Ryan.
“Ok, Carol... ak... aku akan mengatakannya dengan cepat!” hah... Ryan masih
saja bersikap kaku. Aku sedikit geram melihat tingkahnya dari balik jendela.
“Ak... aku mencintaimu Carol sejak pertama kita bertemu di Stratford park. Kau
ingat, saat itu Caris memperkenalkanmu kepada kami hingga akhirnya kau menceritakan
semua tentang kehidupanmu.”
“Tapi kau tau sendiri Ryan, aku itu bukan wanita suci lagi. Ak... aku telah
menyerahkan semuanya pada Joey. Aku tak pantas mendapatkan cintamu yang tulus
itu,” tanpa terasa bulir- bulir air mata mengalir dari sudut mata Carol.
Ryan menarik tubuh Carol untuk masuk ke dalam pelukannya. Dia mengusap
lembut rambut dan mengecup puncak kepala Carol.
“Aku tak perduli dengan semua masa lalumu. Kesucian tidak bisa diukur dari
itu Carol. Hanya Tuhan yang berhak menilai tingkat kesucian tiap orang. Aku
janji, mulai dari sekarang aku akan menjagamu! Sudah, jangan menangis lagi di
depanku. Aku tak bisa melihat wanita yang kucintai menangis dan sedih,” ujar
Ryan panjang lebar.
“Benarkah kau tidak mempermasalahkan masa laluku?” tanya Carol yang
berhasil melepaskan diri dari pelukan Ryan.
“Yuph!” angguk Ryan mantap. Carol tersenyum. “Jadi, apa kau menerima
pernyataan perasaanku?”
“Kelihatannya bagaimana?” tanpa disadari Carol semakin merapatkan tubuh
mungilnya dan segera mendaratkan sebuah ciuman kilat pada pipi Ryan.
“Ye... yeay... aku rasa kau menerimaku. Benar, kan?” tanya Ryan dengan
tampang tak berdosanya. Carol hanya membalas dengan senyuman termanisnya.
“YESSSS... AKHIRNYA KAU MENJADI KEKASIHKU!!!” teriak Ryan girang sembari
memeluk dan memutar tubuh Carol.
“Yesss... Berhasil!!!” decak Chaz riang melihat Ryan dan Carol yang telah
sah menjadi sepasang kekasih. Sementara aku dan Justin hanya bisa tersenyum dan
ikut merasakan kebahagiaan Carol dan Ryan.
*****
PART 62
Saat makan malam, aku memasukkan suapan bubur buatan oma sembari menatap
lekat Carol. Tak sedetikpun aku melepaskan pandanganku padanya. Kau tau, malam
ini penampilannya sangat anggun dengan dress putih tanpa lengan yang dikenakan dan
make up yang soft. Aku heran, sebenarnya dia akan pergi kemana sich?
Terdengar suara bel dari arah pintu utama.
“Biar aku saja yang membukanya!!!” aku segera beranjak dari ruang makan
menuju pintu utama rumah.
Begitu aku membuka pintu, tampak sosok pria tampan mengenakan kemeja biru
bermotif kotak- kotak tengah berdiri di depan pintu rumah. Pria itu mencengkram
sebuket mawar merah. Hmmm... rasanya aku tau tujuan dia kemari.
“Carolll... ada yang mencarimu!!! Cepatlah ke luar!!!” seruku memanggil
Carol.
Tak lama Carol ke luar. Ryan, pria yang tengah berdiri di depanku itu
tampak terkagum- kagum melihat penampilan Carol. Dia tak berkedip sedikitpun
menatap kekasihnya itu. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Maklumlah... pasangan baru. :’D
Ryan membawa Carol melesat bersama mobil swift biru miliknya setelah
mengantongi ijin dari oma. Senangnya dapat melihat mereka berdua bersatu. Tapi,
mereka berdua akan kemana? Entahlah,tapi aku yakin Ryan akan menjaga Carol
dengan baik. So, don’t panic, Caris! ;’)
Tok... tok... tok... kembali terdengar suara
ketukan dari pintu utama. Padahal, aku baru saja menutupnya. Hah, siapa lagi
yang datang? Untung saja saat ini aku masih berada di balik pintu utama. Jadi,
aku dapat membuka pintu dengan cepat.
“Hy!” sapa seorang pria dengan senyuman khasnya. Belum sempat aku
mengijinkannya masuk, ehhh... dia malah masuk terlebih dahulu. Pria ini benar-
benar tak sopan!
Kuikuti langkahnya yang berhenti di ruang makan. Kurasa dia berniat untuk
menemui oma. Dengan serius pria itu membicarakan sesuatu dengan oma.
Pembicaraan mereka berdua terbilang sayup- sayup, karena jujur aku tak
mendengarnya. Aku memilih melihat mereka berdua dari ruang tengah. Tak lama
pria itu kembali menghampiriku. Tanpa permisi, seenaknya saja dia menarik
tanganku untuk mengikutinya.
“Hey,,, wait! Kau akan membawaku ke mana?” tanyaku bingung. Ahhh sial...
tetap saja pria ini tak menghiraukan perkataanku. Dia semakin menarik tubuhku
dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobil range rover hitam yang terparkir di
depan rumahku.
Selama di dalam mobil, aku hanya diam. Aku masih kesal terhadap pria tak
sopan yang begitu saja memaksaku untuk mengikutinya. Sedari tadi aku hanya
melihat pemandangan di luar melalui kaca mobil.
“Kenapa diam saja? Kau marah?” tanya pria tak sopan dan menyebalkan itu.
Okay Caris, ini saatnya...
“Sebenarnya kau akan membawaku kemana, Mr. Bieb???” kini aku mengalihkan
pandanganku terhadap pria yang tengah mengemudikan mobil. Justin... yeay...
saat ini aku tengah berada di dalam mobilnya. Dia yang membawaku pergi entah ke
mana tujuannya akupun tak tau. Pria ini benar- benar tak sopan dan sangat
menyebalkan bukan?
“Nanti juga kau tau!” jawabnya misterius.
“Hahhh... terserah kau sajalah!” dengusku kesal dan kembali melemparkan
pandanganku pada pemandangan yang tengah kulalui.
Selang beberapa menit, Justin menghentikan mobilnya.
“Kenapa berhenti?” bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah ke luar dari
mobil dan membukakan pintu mobil untukku. “Ini di mana?” lanjutku mengamati
sekitar.
PART 63
Justin mengeluarkan sebuah kain hitam dari saku celananya. Ia mendekatkan
kain itu padaku.
“Kau mau apa?” aku sedikit menampis tangan justin.
“Kau harus menutup matamu dengan kain ini jika ingin tau ke mana aku akan
mengajakmu sebenarnya. Sudahlah, jangan cerewet!” dengan cepat Justin menutup
mataku dengan kain hitam itu.
Justin menuntunku berjalan menyusuri jalan yang tak ku tau tempatnya. Tak
lama dia berhenti. Kurasakan hembusan angin menerpa wajahku.
“Kau siap melihatnya?” bisik Justin yang berdiri di belakangku. Perlahan
dia membuka ikatan kain hitam yang menutupi pandanganku. “Open your eyes!”
titahnya.
Sedikit demi sedikit kubuka mataku. Kukerjap- kerjapkan mataku sejenak.
Kini aku dapat melihat hamparan pasir halus nan luas berpadu dengan suara
deburan ombak yang berkejar- kejaran. Ya... pemandangan pantai di malam hari
terpampang jelas di hadapanku. Bukan hanya itu, sebuah pondok kecil beratap
jerami terlihat kokoh dengan dua tiang penyangga. Pondok itu dikelilingi
beberapa lampu lilin. Sebuah meja yang di atasnya tersaji beberapa makanan juga
ikut meramaikan pondok itu. That’s cool!
Sebuah genggaman merengkuh telapak tanganku untuk menghampiri pondok kecil
buatan itu. Justin mempersilahkanku duduk bak seorang putri. Dia merapikan
letak makanan yang terhidang. Lalu dia mengambil posisi duduk yang berhadapan
denganku. Aku hanya bisa menatap heran ke arahnya.
“Kau yang menyiapkan ini semua?” tanyaku. Dia hanya mengangguk. “Untuk
apa?”
“Aku menyiapkan ini semua untuk merayakan kesembuhanmu.”
Aku menggelengkan kepala. “Why? Kau tak suka dengan desain tempatnya?”
kulihat raut wajahnya berubah kecewa. “Maaf!” lanjutnya lirih.
“Tidak... tidak...! desainnya sangat bagus, sungguh!” jawabku yakin.
“Benar?”
“Yeah, trust me!” aku mencoba meyakinkan Justin.
“Thanks, My Baby! Sebaiknya cepatlah makan beef steak itu sebelum dingin!”
Daripada dia kecewa, sebaiknya aku menuruti perkataannya. Segera kusambar
pisau dan garpu yang terletak di samping piring. Aku menyantap beef steak itu
dengan lahap. Maklum, sejak dirawat di Rumah Sakit aku tak pernah menyantap
makanan lezat selain bubur. :’{
Dari lahap dan khusyuknya, aku sampai tak menyadari jika Justin berpindah
posisi dan duduk di sebelahku.
“Kau itu terlalu lahap, My baby!” dia mengambil sebuah tissue di atas meja
kemudian menyapu sisa sauce yang menempel di sudut bibirku.
“Aku bisa sendiri, Mr. Bieb!” aku mencoba merebut tissue dari tangannya,
tapi dia malah menahan tanganku.
“Apakah telah ada ruang di hatimu?” keningku mengerut mendengar pertanyaan
konyolnya. “Apakah sekarang telah ada ruang di hatimu untukku?” dia semakin
memperjelas maksud perkataannya.
Bodoh... kenapa dia harus menanyakan hal ini lagi? Membuatku pusing saja.
Aku beranjak dari dudukku. Berjalan menuju bibir pantai. Justin mengikuti
dari belakang. Aku melakukan itu untuk menghindari pertanyaan Justin. Jujur
saja, sampai sekarang aku bingung harus menjawab apa.
PART 64
Kurasakan tangan seseorang menyusup memeluk perutku. Justin... itu pasti
dia. Aku mencoba melepasnya.
“Don’t My Baby!” dia semakin merapatkan tubuhnya dan mempererat pelukannya.
“Biarkan aku memelukmu seperti ini walaupun hanya sebentar.” Ditopangkan
dagunya ke pundakku.
Aku ingin sekali berontak, tapi lagi- lagi suaranya yang parau membuatku
kasihan padanya. Caris... Caris... sejak kapan kau menghadapi sesuatu
menggunakan perasaan seperti ini?
“Aku tau, kau pasti bingung untuk menjawab pertanyaanku.” Justin semakin
menenggelamkan wajahnya di pundakku. “Maaf jika aku terlalu memaksakan
perasaanku ini. Kau tak perlu menjawabnya sekarang jika memang kau tak
mempunyai jawabannya. Aku mencintaimu, My baby!” sekali lagi Justin
mengungkapkan perasaanya.
Huhhh... aku hanya bisa membuang nafas. Kurasa aku harus segera mengakhiri
ini semua. Aku tak bisa selamanya menggantung perasaannya. Secepatnya aku harus
memberikan jawaban atas perasaannya itu.
Perlahan Justin merenggangkan pelukannya. Dia membalikkan tubuhku sehingga
posisiku kini berhadapan dengannya. Ditempelkan kedua telapak tangannya di atas
pipiku.
“Ada sesuatu yang inginku tunjukkan padamu!” ujarnya tersenyum.
Sesuatu? Apa lagi yang dia siapkan?
Tiba- tiba saja... Jgerrr...
Jgerrr... Dhuarrr... Dhuarrr... Dhuarrr... (benar kagak sich bunyinya
kembang api seperti itu??? ;’D) terdengar suara gemuruh kembang api bergema
menyelimuti seluruh pantai. Kutengadahkan kepalaku menatap ke atas langit yang
awalnya bewarna hitam kini berubah dihiasi dengan berbagai warna. Wow... it’s so amazin! Aku terkagum-
kagum melihat setiap efek letupan kembang api itu.
Pertama muncul kembang api bewarna ungu dengan bunyi yang menggelegar. Setiap
letupannya memancar membentuk lingkaran besar. Sungguh menakjubkan. Aku
menikmati kembang api raksasa ini selama 10 menit.
Kupikir lepas kembang api raksasa itu berhenti, maka semuanya berakhir.
Tapi ternyata sebaliknya. Kembang api kedua muncul dimana saat mencapai
puncaknya membentuk kata “Love”.
Tunggu dulu... tadi Justin mengatakan akan menunjukkan sesuatu padaku. Jangan-
jangan...
“Inikah yang ingin kau tunjukkan padaku?” Justin tersenyum ke arahku.
“Ini belum selesai, My baby!” ungkapnya. “Lihatlah!” kini jari telunjuknya
menuntunku untuk kembali menatap ke atas langit.
Lagi- lagi kembang api dengan bentuk lain kembali muncul. Kembang api ketiga
ini membentuk sebuah hati ketika mencapai puncaknya. Seketika itu pula langit
dihiasi warna merah karena pancaran letupan kembang api itu.
“That’s my heart to you!” sela Justin di tengah gemuruh suara letusan
kembang api yang ia siapkan. “Ruang hatiku yang dulu pernah kosong saat ini
telah terisi olehmu. Dan aku ingin kau tau itu.” Justin memandangku penuh
keseriusan. “Saat ini tempatmu berada di sini, My Baby!” Justin mengamit
telapak tanganku dan menuntunnya tepat di bagian dada kanannya.
Saat aku ingin merespon perkataannya...
PART 65
tiba- tiba saja hidungku terasa gatal dan... hatchiii... upsss... aku bersin di hadapannya.
Melihat keadaanku, wajahnya berubah panik. “Kau baik- baik saja kan?
Ahhh... bodoh, tak seharusnya aku mengajakmu ke sini. Kau itu belum sembuh
total.” Justin melepaskan jaket yang dipakai kemudian menyelimutkannya pada
tubuhku. “Sebaiknya kita pulang. Aku tak mau kau sakit lagi!” direngkuhnya
tubuhku untuk berjalan meninggalkan bibir pantai dan pertunjukkan kembang api
yang masih berlangsung.
“Hey... hey... aku baik- baik saja, Bieb! itu hanya bersin biasa. Bukankah
pertunjukkan kembang apinya belum selesai? Kurasa ak....”
“Sudahlah, kau tak perlu memikirkan kembang api itu! Lain kali aku pasti
akan menyiapkan lagi untukkmu. Sekarang ini kesehatanmu yang lebih penting!”
Ughhh... sikapnya yang terlalu berlebihan mencemaskanku membuatku kesal!
Begitu sampai di mobil, dia membukakan pintu mobil untukku. Ketika dia ingin
memasangkan sitbealtku, langsung saja kutepis tangannya.
“I can do that, Bieb!” ujarku dengan wajah yang ditekuk. “Jangan
memperlakukanku seperti anak kecil! Aku baik- baik saja!”
“Baiklah!” ucapnya mengalah.
Setelah Justin menempati posisinya dikursi kemudi, ia langsung melajukan
mobilnya.
Di tengah perjalanan pulang menuju rumah, aku memilih diam. Jujur saja aku
masih kesal akan sikap berlebihan Justin yang terlalu mengkhawatirkanku. Kami
berdua melewati pusat perbelanjaan kota Stratford. Hingga akhirnya mataku
tertuju pada satu toko yang memampangkan sebuah benda unik.
“Mr. Bieb... stop... stop!!!” titahku pada Justin. Spontan Justin menginjak
rem secara mendadak.
“Ada apa? Kau tau, ini bisa membuat kita celaka jika kau menyuruhku
berhenti mendadak seperti ini!” protesnya.
“Aku ingin mengunjungi toko itu!” Justin mengikuti arah jari telunjukku.
“Sebentar saja!” lirihku memohon.
“Ok, tapi hanya sebentar karena ini sudah terlalu larut malam!” Justin
berniat turun dari mobil, namun tentu saja ku cegah.
“Eh... kau mau ke mana?”
“Tentu saja menemanimu masuk ke dalam toko itu!”
Aku menggeleng keras. “Tidak, Mr. Bieb! kau tak bisa mengikutiku masuk ke
dalam sana!” tunjukku pada toko yang kumaksud. “Kau gila ya, jika kau masuk ke
dalam sana, semua orang pasti akan mengepungmu. Dan itu akan membuat kita
semakin lama untuk sampai ke rumah. Sebaiknya kau tunggu di sini saja. Aku
hanya sebentar!” kemudian aku bergegas menuju ke dalam toko yang ku maksud.
Sementara Justin tetap duduk manis di dalam mobil.
Aku harus mendapatkan benda yang terpampang di etalase toko itu. Karena benda
itu bisa membantuku untuk mengakhiri semuanya.
*****
“Begitu kau sampai di Kanada, ku harap kau bisa mengatasi semuanya. Oma
menunggu kedatanganmu. Maaf jika aku telah merepotkanmu!” tak lama aku
mengakhiri percakapan di telepon dengan seseorang.
Baiklah Caris... saatnya meluruskan semua masalah! Dan besok... aku harus
menyelesaikan semuanya!!!
Aku sudah memikirkan matang- matang tentang semua ini. Tekadku sudah bulat.
Aku harus melakukannya besok.
Dengan keyakinan penuh, ku langkahkan kakiku menuju tempat tidur. Aku harus
istirahat agar besok aku bisa melakukannya dengan kondisi segar. Kutarik
selimut hingga batas leherku. Kupejamkan mataku dan mencoba menjelajahi dunia
mimpi.
*****
PART 66
“Kau yakin dengan keputusanmu ini?” tersirat
rasa sedih dari nada bicara Carol.
“Aku sangat yakin. Jika nanti dia ke sini
mencariku, tolong berikan ini padanya! Aku tak bisa menunda lagi kepulanganku
karena lusa masa ajaran baru telah dimulai. Terima kasih atas semuanya, Carol!”
“Aku pasti akan sangat merindukanmu, Caris!”
Carol mendekap tubuhku.
Hari ini aku memutuskan untuk kembali ke
Indonesia. Aku memilih jam penerbangan yang sangat pagi. Ini aku lakukan untuk
menghindari Justin. Aku takut jika nantinya dia tau kepulanganku ke Indonesia.
Selepas berpamitan pada Carol dan oma, aku
langsung masuk ke dalam taxi yang sedari tadi telah menunggu di depan rumah. Di
dalam taxi, aku sempat melihat ke arah jendela kamar Justin yang masih gelap.
Kurasa pria itu masih terlelap.
Selamat tinggal, Mr. Bieb! Terima kasih untuk
semuanya!
*****
“Morning, Carol! Caris di mana?” raut wajah
Carol berubah saat Justin menanyakan keberadaanku.
Tanpa menjawab pertanyaannya, Carol langsung
masuk ke dalam rumah dan tak lama kembali lagi menemui Justin dengan sebuah kotak bewarna ungu di
tangannya. Dia menyodorkan kotak itu ke arah Justin.
“Untukku?” tanyanya polos. Sementara Carol hanya mengangguk. “Dari siapa
kotak ini?” lanjutnya.
“Kotak itu dari Caris,” ujar Carol singkat.
Mendengar nama ‘Caris’, Justin langsung antusias untuk membuka kotak bewarna
ungu itu. Dia terheran- heran begitu mengetahui isi di dalamnya. Scraf, di
dalam kotak itu terdapat scraf ungu pemberian Justin saat di rumah sakit
beberapa hari yang lalu. Pada scraf itu terselip sebuah amplop bewarna purple.
Dengan cepat, Justin pun segera membuka isi surat itu.
Dear Justin,
Morning, Mr. Bieb! Aku
rasa ketika kau membaca surat ini, aku tak lagi berada di Stratford. Pagi- pagi
sekali aku memutuskan kembali ke Indonesia. Maaf jika aku tak bepamitan padamu
dan keluargamu sebelumnya. Sampaikan rasa terima kasihku kepada keluargamu, ya!
Sengaja aku
mengembalikan scraf ini padamu, bukan berarti aku tak menyukai benda itu. Tapi,
aku rasa aku tak pantas menerima dan memiliki benda itu. Simpanlah scraf itu,
dan berikan pada gadis yang nantinya akan mencintaimu dengan tulus.
Maaf, aku tak bisa
membalas perasaanmu, Bieb! Sampai hari ini aku tak bisa membohongi diriku
sendiri untuk memaksakan diri mencintaimu. Kau pikir aku tak mencoba membuka
hati untukkmu? Kau salah jika berpikiran seperti itu. Selama ini aku sudah
mencoba sebisa mungkin membuka hatiku dan belajar mencintaimu. Tapi nyatanya, I
can’t do that!
Aku tak bisa membohongi
dirimu dengan berpura- pura mencintaimu. Kau tau, akan lebih menyakitkan jika
aku membohongi diriku sendiri dan berpura- pura mencintaimu. Itu benar- benar
menyakitkan dan aku tak sanggup untuk melakukannya padamu.
Kau pria baik walaupun
sedikit menyebalkan. Simpanlah scraf ini dan berikan kepada wanita yang
nantinya akan mencintaimu dengan tulus. Kuharap kau mendapatkan wanita yang
tepat dan benar- benar mencintaimu.
Jaga dirimu baik- baik,
Mr. Bieb! Senang bisa bertemu denganmu! Terima kasih untuk semuanya! Aku
pergi...
By
Caris
Selesai membaca surat itu, gumpalan air mata mulai menggenang di kantung
mata Justin.
“Jam be... berapa dia berangkat ke bandara?” tanyanya parau.
“Jam lima pagi, sementara pesawatnya take on sejam yang lalu.”
Justin melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangan kirinya. Waktu
menunjukkan pukul tujuh. Dia hanya menghela nafas.
“Terlambat!” lirihnya.
“Aku tau kau sedih Justin, tapi kau tak bisa berlarut- larut dalam
kesedihanmu. Kau harus melanjutkan kehidupanmu dengan ada ataupun tanpa Caris,”
nasehat Carol.
“Aku tau itu. Aku tau cinta memang tak bisa dipaksakan. Dan aku cukup senang
dengan kejujuran Caris. Aku pamit pulang Carol, terima kasih untuk semuanya!” ujarnya
sembari tersenyum lemah. Diapun melangkah menjauhi pekarangan rumahku.
*****
Setelah melalui perjalanan yang lumayan lama, akhirnya aku sampai juga di
tanah kelahiranku. Ahhh... senangnya! Aku benar- benar merindukan suasana kota
Jakarta.
Drrrr... drrrrrr... BB yang berada di saku
jaketku kembali bergetar. Kutatap layar Bbku, di sana tertera nama ‘Mr. Bieb
incoming call’. Maaf Justin, aku tak bisa menerima teleponmu. Aku kembali
melangkahkan kakiku menuju pintu utama bandara Soekarno- Hatta di mana di sana
telah ada pak Duta yang menunggu kedatanganku.
*****
Drrrr... drrrr...
drrrrr... BB yang kuletakkan di atas meja belajar
kembali bergetar.
“Bieb... Bieb... kenapa kau masih saja menghubungiku?” gerutuku begitu
menatap layar BB dan melihat nama yang sama.
Lagi- lagi Justin meneleponku. Sudah 38 kali dia menghubungiku.
Fuhhh... dengan terpaksa aku menjawab
teleponnya.
“Halo My Baby! Syukurlah akhirnya kau menjawab teleponku! Bagaimana keadaanmu?
Kau baik- baik saja kan? Kau sampai ke Indonesia dengan selamat kan?” Justin
menyerangku dengan pertanyaan yang bertubi- tubi. Aku memilih diam tak
bergeming sedikitpun. “My Baby, are you there?” suara Justin kembali terdengar
karena tak mendapatkan respon dariku.
Aku menghela nafas panjang. “Aku baik- baik saja, Mr. Bieb! Kau tak perlu
cemas memikirkan keadaanku. Carol sudah memberikan kotak itu padamu?”
“Ya, aku sudah menerima kotak ungu pemberianmu. Kenapa kau mengembalikan
scraf itu?”
“Ku rasa alasannya sudah ku tulis dalam surat itu. Mr. Bieb, dengarkan aku,
kau harus melanjutkan hidupmu! Dunia kita berdua berbeda. Yang harus kau ingat
saat ini kau adalah seorang Justin Drew Bieber sang superstar. Kau bukan lagi
Justin Drew Bieber yang hanya seorang bocah Sratford. Aku mohon Bieb, berhenti
menghubungiku! Yakinlah jika nantinya akan datang seorang gadis sesuai
impianmu. Jika gadis itu datang, kau harus benar- benar menjaganya!” aku
mencoba memberi pengertian pada Justin. Maaf Mr. Bieb, aku benar- benar tak
bisa membalas perasaanmu.
“Baiklah jika itu maumu! Aku senang karena kau telah jujur atas perasaanmu,
walaupun itu kau ungkapkan hanya lewat secarik surat. Kau boleh saja meminta
aku untuk tak lagi menghubungimu, tapi aku mohon jangan kau paksa aku untuk
melupakan perasaan ini padamu. I can’t, My baby! Perasaanku begitu besar
terhadapmu. Aku tak tau sampai kapan perasaan ini akan terus melekat padaku.
Jaga dirimu baik- baik, My baby! Aku mencintaimu, Carista Callary Hawkins...”
Tut... tut... tut... Justin langsung
mengakhiri percakapan, padahal aku belum sempat membalas perkataannya.
Sudahlah, semoga saja dia bisa menemukan gadis yang tepat.
Kuletakkan kembali BB ku di atas meja belajar. Aku berjalan ke luar kamar
menuju ruang tengah untuk menemui keluargaku yang tengah berkumpul. Perasaan
lega menyelimutiku karena aku telah menyatakan semuanya pada Justin.
~ END ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar